My Presdir

My Presdir
Nona Licik


__ADS_3

Mobil telah sampai di parkiran restoran yang menjadi tempat pertemuan dengan Vincent Group. Mobil Aksa terparkir tepat bersebelahan dengan mobil milik Bella. Langkahnya pun dipercepat memasuki restoran. Terlihat sudah dua orang wanita telah duduk manis di ruangan yang telah di reservasi sebelumnya. Bella dan juga sekretaris pribadinya, sama- sama menyeringai jahat.


"Selamat sore Nyonya Bella, pemilik Ganesha Group yang terhormat," sapa Aksa berpura- pura baik dengan wanita licik itu. Ia dan Devano kemudian duduk tepat di sofa kosong yang berhadapan dengan dua wanita itu.


"Selamat sore, Tuan Aksa yang lebih terhormat daripada saya," sahut Bella. Terlihat jelas senyum licik dan tak bersahabatnya. Benar- benar wanita busuk.


"Apa Anda sudah menyiapkan desain gedung yang akan Anda ajukan kepada Tuan Yohan?" tanya Aksa. "Ah, Maaf, saya lupa. Desain gedung Anda bahkan sudah tersebar di jagad maya ya? Dan diminati para masyarakat pula," tambahnya pura- pura melupakan hal itu.


"Iya, Sa. Desain gedungnya sangat bagus, sepertinya Tuan Yohan akan lebih tertarik dengan desain gedung milik Nyonya Bella daripada desain gedung milik kita. Kita harus bersiap- siap mencari partner kerjasama perusahaan lain, Sa," ujar Devano pura- pura sedih.


"Aku sudah bersiap untuk hal itu. Nyonya Bella memang bukan saingan kita. Dia jauh lebih unggul dari segalanya, termasuk dalam hal PENCURIAN," sahut Aksa menegaskan kalimat akhirnya. Matanya melirik ke arah Bella yang sudah mulai cemas, ia lengkungkan pula senyum devil andalannya.


"Ehem...Maaf sebelumnya mengganggu obrolan kalian, tapi apa maksudnya dengan kata pencurian ya?" tanya Bella menyela, suaranya terdengar gemetar dan takut, tapi wajahnya tetap bisa menyembunyikan ketakutan itu.


"Aduuhhh, lupa!" Aksa menepuk keningnya. "Kita kan nggak punya bukti yang kuat. Mending jangan nuduh orang dulu ya, Dev," tambahnya dengan senyum menyeringai.


Ruangan kembali senyap. Semua sama- sama diam dan berkutat dengan pikiran masing-masing. Tuan Yohan belum juga datang padahal sudah melewati jam yang telah ditentukan sebelumnya. Bella terlihat gelisah, ia yakin jika Aksa sudah mengetahui semuanya. Tapi dirinya terus menenangkan hatinya jika tak akan terjadi hal buruk ke depannya, karena tak ada bukti yang kuat dari Aksa.


Satu jam berlalu, Tuan Yohan dan asistennya tak kunjung datang. Sang asisten memberitahu jika pertemuan akan diundur dikarenakan Tuan Yohan harus pergi ke Singapore untuk menyelesaikan urusannya terlebih dahulu.


"Saya akan pamit terlebih dahulu, sampai bertemu di pertemuan yang entah kapan akan diadakan," ujar Bella dengan mengulas senyum tipis. Ia bangkit dari duduknya diikuti sekretaris pribadinya.


"Ehm, apa Anda terburu- buru? Sayang sekali, padahal saya ingin bermain sejenak dengan Anda," ujar Aksa. Ia pun ikut berdiri, melangkah menghampiri Bella. Tubuhnya semakin dekat dengan wanita itu, Bella gemetar hebat ia pun terduduk kembali di sofa itu.


"Kenapa dingin sekali? Aih, kenapa terlihat ketakutan seperti ini? Ayolah...kenapa kamu takut? Aku tak akan berbuat apapun terhadap kamu..." bisik Aksa, nafasnya terasa sekali di telinga Bella.


"Ap- apa yang Anda inginkan?" tanya Bella terbata- bata.

__ADS_1


"Jangan berbicara formal lagi. Sudah tak ada siapa- siapa di sini. Hanya ada aku dan wanita licik sepertimu," ujar Aksa. Sebelumnya, Devano telah menyeret sekretaris pribadi Bella untuk keluar bersamanya hingga pada akhirnya ruangan yang cukup luas itu menyisakan Aksa dan Bella saja.


"Ap- apa kamu sudah tahu semuanya?" tanya Bella lagi.


"Tentu saja! Kamu sangatlah hebat, hingga aku tak bisa membalas perbuatanmu karena tak ada bukti yang kuat meskipun kekuasaanku cukup berpengaruh tapi itu tetap tak akan bisa menjebloskanmu ke penjara."


Aksa menghela napasnya sejenak, lalu ia meneguk kembali minuman miliknya yang masih menyisakan setengah gelas. Gelas itu telah kosong, dengan sadisnya, ia melempar gelas itu ke sembarang arah hingga pecahannya bercecaran di lantai.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan ini? Mencoba membunuhku? Lakukan saja kalau kamu mau masuk penjara," tantang Bella.


"Jadi, kamu yang benar- benar meretas komputer kantorku dan mencuri semua data perusahaan serta rancangan gedung itu?"


"Ya! Seperti dugaan Anda, bukankah saya sangat hebat? Tidak menyangka ya jika seorang Aksa Arion Sanjaya ada yang mengalahkannya," ucap Bella. Senyum kemenangan menghiasi wajahnya. Ketakutannya pun berangsur menghilang.


"Sangat hebat! Tapi kamu lebih pantas disebut licik dan pengkhianat." Aksa melipat kakinya, ia menyandarkan tubuhnya di sofa. Sangat santai.


"Tapi tidak denganku. Aku tak pernah berbuat licik dan mengkhianati seseorang yang sudah kupercayai sepenuhnya."


Aksa kembali menghadap Bella, ia mencengkram rahang wanita itu dan membuatnya kembali ketakutan. "Nikmati kebebasanmu yang tak akan berlangsung lama ini..." ujarnya membuat Bella bertanya- tanya.


"Ap- apa maksud Anda?" Ia bertanya dengan susah payah karena cengkraman di rahangnya begitu kuat dan sangat menyakitkan.


"Karena polisi akan segera datang menjemputmu Nona Licik!" jawab Aksa dengan tawa jahatnya. Membuat mata wanita itu membulat sempurna.


"Anda tidak punya bukti yang kuat! Polisi tidak akan mempercayaimu meskipun kekuasaanmu sangat berpengaruh!" gertak Bella.


"Aku sudah merekam pengakuanmu tadi, apa itu belum cukup untuk diajukan ke polisi?" Aksa tersenyum menyeringai sembari menunjukkan ponselnya, ia lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Bella tetap mengikutinya di belakang dan mulutnya tak bisa diam.

__ADS_1


"Berikan ponselmu! Itu tak akan pernah cukup untuk menjebloskanku ke penjara!"


Langkah Aksa terhenti, ia lalu berbalik menatap Bella. "Kalau pengakuan dari sekretaris pribadimu bagaimana? Dia yang akan menjadi saksi di pengadilan nanti!" ujar Aksa.


Kemudian, Devano datang dengan meringkus sekretaris Bella yang sudah tak karuan lagi tampilannya. Sangat berantakan, make up tebal di wajahnya pun luntur, rambutnya berantakan, dan air mata terus saja mengalir dari pelupuk matanya.


"Apa yang terjadi denganmu? Kenapa bisa jadi seperti ini?" pekik Bella menghampiri sekretaris pribadinya yang dicekal Devano.


"Aku memberikannya sedikit pelajaran supaya dia tak berpihak kepada orang jahat sepertimu lagi," jawab Devano.


"Brengsek!"


"Maafkan saya nyonya, sebelumnya saya sudah memperingatkan Anda untuk tidak mencari masalah dengan Sanjaya Group karena mereka pasti tetap akan menang," ujar Sekretaris Bella terisak.


"Kau sudah mengkhianatiku!" bentak Bella membuat sekretarisnya menundukkan kepalanya.


"Sama seperti yang kamu lakukan bukan?" sahut Aksa tertawa renyah.


Bella menghentakkan kaki sebelum pergi dari sana. Ia sepertinya akan kabur dari kejaran polisi. Tapi, Aksa dan Devano membiarkannya karena diam- diam mereka sudah mengerahkan beberapa polisi untuk mengawasi rumah Bella dan juga perusahaannya.


"Tuan, mohon lepaskan saya..." pinta sekretaris itu dengan nada memelas dan putus asa.


"Aku memang akan melepasmu. Tapi perlu diingat jika kamu masih berhubungan dengan wanita itu akan ku pastikan jika hidupmu dan juga keluargamu tak akan berlangsung lama," ancam Aksa.


Devano pun segera melepas cekalannya pada wanita itu. Ia dorong kuat- kuat hingga tersungkur ke lantai.


"Carilah pekerjaan yang tak membuatmu dalam masalah seperti ini. Percayalah pada mereka yang bisa dipercaya, jangan bekerja dengan orang yang seperti Bella!" ucap Aksa memperingatkan.

__ADS_1


Wanita itu tersedu- sedu menatap kepergian Aksa dan juga Devano. Beruntung sekali karena hari ini Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk hidup di dunia ini. Ungkapan terima kasih karena dibebaskan oleh Aksa pun tak henti- hentinya keluar.


__ADS_2