My Presdir

My Presdir
Gadis Polos


__ADS_3

Hari demi hari terlewati, Aksa terus saja membujuk Aza untuk menikah dengannya. Tapi wanita itu kekeh dan tak mau menikah, ini membuat Aksa jengkel. Selama itu juga dirinya masih didiamkan sang Mama, ini membuat Aksa sedikit stress. Aira hanya menginginkan anaknya menikah dengan Aza, karena ia berpikir kalau Aza itu orang yang tepat untuk Aksa.


Hari ini, Aksa sudah mulai bekerja di perusahaan Papanya. Dia tak seperti Presdir pada umumnya, bagaimana bisa? Aksa tak berpakaian formal saat bekerja, ia berangkat ke kantor dengan berbalut kaos, jaket, celana pendek, dan sneakers putih andalannya. Tentu saja ini membuat Aira dan Keno menepok jidatnya, anaknya terlalu bar- bar.



"Sa, kalau ke kantor tuh pakai kemeja, jas, dan celana panjang! Lah ini apa- apaan nih, ke kantor kok kaya mau ke mall," gerutu Keno menepuk jidatnya.


"Biarin aja lah, Pah. Kalau papa gitu terus aku malah nggak mau ke kantor lagi loh," ucap Aksa. Ia langsung menyantap pancake buatan Mamanya.


"Anak kalau dibilangin susah! Sebenarnya kamu tuh anaknya siapa sih."


"Diam!" gertak Aksa. Ia merasa terganggu dengan ocehan Papanya. Ia sangat tak suka ketika makan ada yang mengajaknya berbicara.


"Berani kamu membentakku?!" Keno yang geram langsung menoyor kepala Aksa. Aksa pun tak mau kalah, ia juga ikut menoyor kepala Keno.


Aira yang berada di depan mereka hanya menggelengkan kepalanya, ia sudah tak kaget dengan kelakuan dua lelaki itu.


"Aksa, Keno!" Bentakan Aira ini mampu menghentikan keduanya.


"Papa duluan yang nakal, Mah."


"Anakmu duluan sayang!"


"Papa duluan!"


"Kamu duluan!"


Brakkkkk! Aira menggebrak meja hingga membuat Keno dan Aksa berjingkat karena kaget.


"Diam atau kucekik leher kalian!"


"Mamamu galak sekali," bisik Keno kepada Aksa.


"Istrimu kaya singa kelaparan," balas Aksa berbisik juga.


"Aku mendengarnya!"


*****

__ADS_1


Seperti biasa, Aksa selalu menjadi pusat perhatian para karyawan wanita di kantornya. Perfect body yang Aksa miliki tentu saja menjadi daya tarik tersendiri bagi para wanita. Aksa juga tak dingin orangnya, dia selalu genit malahan. Beda dengan Keno dulu yang sangat dingin melebihi kutub.


"Hai, cewek..." goda Aksa kepada salah satu karyawati yang berpapasan dengannya.


"Ya allah, aku sudah mati ya. Kok ada malaikat tampan menyapaku," ucap wanita itu dan hampir pingsan.


"Kamu kebiasaan deh, Sa. Karyawan di sini pada pingsan semua tiap kamu goda, klinik perusahaan tiap hari selalu penuh," seru Devano menggelengkan kepalanya.


Aksa langsung menuju ke ruangannya. Berkutat dengan dokumen- dokumen penting membuatnya pusing, untung saja tidak sampai sinting. Baru beberapa menit duduk di kursi kebesarannya, ia sudah tak nyaman. Ia pun memilih gelesotan di karpet menghadap meja depan sofa.


"Dev, hari ini ada meeting penting nggak sih?" tanya Aksa. Devano memang yang mengatur semua jadwalnya.


"Nggak ada, kenapa?"


"Nggak papa sih, aku mau nemenin cewek itu lagi. Susah banget tuh cewek dideketin."


"Eh kayanya kemarin pas lihat daftar karyawan baru ada nama Aza deh. Nama cewek kamu Aza, kan?"


"Mana kutahu, aku aja nggak pernah kenalan sama dia. Tapi sepertinya iya, Azalea atau siapa gitu," jawab Aksa dengan santainya.


"Kalau emang itu cewek yang aku deketin selama ini, mending langsung angkat jadi sekretaris aku aja. Siapa tahu dia bisa luluh," tambah Aksa.


"Kamu nggak mikirin Tania? Dia pacar kamu loh," ucap Devano membuat Aksa menoleh ke arahnya.


Aksa memang berpacaran dengan wanita yang bernama Tania. Tapi, dia tak memiliki perasaan apapun dengannya, hanya nyaman tak ada perasaan cinta atau sayang.


"Aku kemarin lihat orang mirip Tania, tapi sama cowok brewokan di Mall," celetuk Devano.


"Biarin aja, dia kayanya sih emang selingkuh dari aku."


*****


Hari ini Aza pulang jam empat sore, lebih awal dari biasanya. Ini adalah hari terakhir ia bekerja menjadi pelayan, karena mulai besok ia sudah bekerja di Sanjaya Group walaupun hanya menjadi staf saja. Tapi ia sangatlah bersyukur bisa mendapat pekerjaan itu karena untuk bekerja di sana sangatlah sulit dan hanya orang- orang tertentu saja yang bisa masuk.



Aza sudah tak sabar untuk bekerja di sana. Semenjak mendapatkan informasi jika dirinya diterima, ia sudah membayangkan bagaimana kerja di perusahaan besar. Aza juga sudah tak sabar untuk menerima gajinya yang berkali- kali lipat dari gaji yang diterima sebagai pelayan. Senyum terus saja menghiasi wajahnya, ia benar- benar senang akhirnya bisa bekerja di perusahaan dengan gaji yang bisa mencukupi dirinya.


Saat membuka pintu rumahnya, ia terkejut tatkala mendapati lelaki yang berdiri di belakang pintu dan menampilkan senyum khas playboynya.

__ADS_1


"Kok kamu bisa masuk ke rumahku sih?" tanya Aza terheran- heran.


Aksa tadi meminta kunci cadangan kepada pemilik rumah kontrakan yang Aza tempati. Dengan susah payah ia meyakinkan ibu itu, ia mengatakan kalau dirinya adalah calon suami Aza tapi ibu itu tetap tak yakin dan tak memperbolehkannya untuk masuk. Lalu, bagaimana Aksa tetap bisa masuk? Tentu saja dengan uang, Ibu mana sih yang akan menolak jika diberi uang.


"Bisa dong, Aksa gitu loh." Aksa berlalu, mendudukkan tubuhnya dan menyalakan televisi yang bergambar buram milik Aza. Meskipun membuat mata Aksa sedikit sakit melihatnya, ia tetap menikmati acara di televisi tabung itu.


"Kamu kok makin hari makin nggak ada sopan santunnya sih, ihhh nyebelin!" Aza berlalu menuju ke kamarnya untuk mandi dan mengganti baju kerjanya.


Usai berganti baju santai, ia pun segera menuju ke meja makan mencari makanan karena biasanya Aksa selalu datang membawakan banyak sekali makanan untuknya. Mereka juga sering makan bersama di sana.


"Hey, cewek egois. Kamu cari makanan ya?" tanya Aksa.


Aza pun mengangguk polos, "Biasanya kan kamu selalu bawain makanan, tapi kok kali ini nggak ada apa- apa?"


"Emang sengaja, nanti kita makan malam di rumahku saja. Papa sama Mama ngajak kamu ke sana," ucap Aksa.


Aza hanya terdiam, ia ikut bergabung dengan Aksa. Entah kenapa semakin lama ia bisa menerima kehadiran lelaki itu, tapi hanya menganggap sebagai teman di kala sepi melanda.


Aksa mengamati arloji yang tersemat di pergelangan tangannya, "udah jam segini, mending kamu siap- siap dulu gih! Nih, tadi Mama memberikan ini untukmu!" ucap Aksa menyodorkan paper bag ke tangan Aza.


Aza pun melirik isinya, sebuah gaun berwarna putih dan flat shoes terdapat di sana. Wanita itu menjereng gaunnya dan menempelkan di tubuhnya. Gaun yang bagus dan sepertinya mahal, apa dia pantas memakainya?


"Hanya makan saja harus memakai gaun ini?"


"Jangan banyak tanya, pakai saja. Jangan membuat Mamaku kecewa."


Aza pun mengangguk, ia segera berganti baju dan bersiap- siap. Entah kenapa dirinya menjadi gugup, padahal hanya makan malam biasa saja. Tak butuh waktu lama untuk wanita itu bersiap. Wajahnya tampak lebih segar, hanya memakai bedak bayi dan lipbalm untuk bibirnya. Rambutnya tetap dikepang, dengan tambahan bandana di kepalanya, wanita itu terlihat sangat sederhana dan polos tapi tetap terpancar aura kecantikannya.



"Aku sudah siap, tapi maaf ya aku enggak bisa dandan," ucap Aza lirih di akhir kalimatnya.


Aksa mengamati wanita itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lelaki itu terpesona dengan kesederhanaan wanita di depannya. Aza memang beda dengan para wanita di luaran sana. Polos, lugu, sederhana, baik, dan tak neko- neko. Itu yang Aksa cari selama ini, ia selalu bermimpi untuk mendapatkan wanita seperti Mamanya. Dan itu semua ada di dalam diri Aza, apakah Aza memang jodoh yang Tuhan kirimkan untuknya?


"Heyy! Kenapa malah bengong sih?" Aza melambaikan tangannya ke Aksa yang terdiam dan mengangahkan mulutnya.


"Ahh, enggak. Ayo berangkat sekarang." Aksa menjadi salah tingkah.


"Aku jelek ya? Kalau gitu aku nggak usah ikut aja."

__ADS_1


"Kamu tuh cantik, meskipun nggak make up tapi malah terlihat lebih cantik. Aku menyukai wanita seperti itu," ucap Aksa tanpa sadar mengatakannya.


"Ahh, sudahlah, ayo berangkat!" Aksa menjadi gugup dibuatnya.


__ADS_2