My Presdir

My Presdir
Surprise Mengharukan


__ADS_3

Wanita itu tengah sibuk menata restoran yang akan menjadi tempat surprise ulang tahun sang kekasih. Meskipun semuanya sudah ada yang mengatur, namun tak lega jika tak ada campur tangannya. Siapa lagi kalau bukan Clara. Wanita itu begitu antusias menyiapkannya. Restoran telah direservasi untuk pesta ulang tahun Devano hanya akan ada dia, Devano, Aza dan Aksa saja yang akan datang.


Aza dan Aksa hampir saja melupakan acara itu, mereka datang lima menit sebelum jam yang ditentukan Clara.


Kue ulang tahun berdesain simple dengan angka dua dan empat sesuai umur Devano telah tertancap dan menyala di tengah- tengah kue bundar berlumuran coklat. Clara sudah tak sabar melihat ekspresi kekasihnya, apalagi seharian itu dirinya mengacuhkan Devano pastilah lelaki itu akan sangat terkejut dengan surprise Clara.


*****


Di sisi lain, Devano telah sampai di parkiran restoran itu. Ia heran, karena di parkiran itu sepi tak seperti biasanya dan hanya ada beberapa kendaraan saja. Tak sengaja menatap mobil yang sangat ia kenal, mobil Aksa.


"Ngapain anak itu? Tumben bisa barengan sama aku?" Devano bermonolog. Ia lalu melangkah memasuki restoran, sedikit tegang dan takut karena tadi kekasihnya itu tengah marah dengannya. Ia juga deg- degan karena akan menyampaikan sesuatu sebagai kejutan untuk Clara.


Ruangan reservasi atas nama Clara tertutup rapat, Devano menatapnya dengan penuh selidik. Pasalnya, Clara tak pernah mereservasi tempat seperti ini jika tak ada acara khusus.


Ceklek


Pintu terbuka, gelap, tak ada penerangan dan hanya ada kesunyian. Devano mencoba mencari saklar hendak menyalakan lampunya.


"Clara? Where are you now?" serunya sembari berjalan meraba mencari saklar. Tak kunjung ketemu juga, ia pun mengambil ponsel dari sakunya. Baru saja mau menyalakan senter, tiba- tiba lampu menyala dan ada suara mengejutkannya.


"SURPRISEEEEE!!!!" Teriak Aksa, Aza, dan Clara sembari meniupkan terompet yang begitu memekakkan telinga Devano.


Devano terdiam menatap tiga orang yang dikenalnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak mendengar suara tadi. Ruangan telah didekor layaknya ulang tahun anak kecil, balon dan dekorasi lainnya terdapat di ruangan itu.


"Happy birthday, Sayang," ucap Clara. Wanita itu berjalan mendekat kekasihnya yang terdiam di depan pintu dan membawakan kue ulang tahun.


"Apa- apaan ini?" tanya Devano sinis. Lelaki itu terlihat tak suka dengan kejutan yang telah disiapkan kekasihnya.


"It's your birthday party!"


"Birthday party macam apa? Yang ada kamu akan membunuhku dengan kejutanmu yang tak bermutu ini! Aku tak suka!" teriak Devano yang mengejutkan semuanya.


Aksa dan Aza terdiam dan saling pandang. Mereka tak menyangka jika Devano akan semarah itu.


"Tapi ini sama seperti tahun- tahun sebelumnya bukan? Aku selalu memberikan kejutan untukmu, dan kamu selalu menyukainya." Air mata Clara hampir saja menetes saat mengucapkannya, ia terkejut akan sentakan Devano tadi.


"Jantungku hampir saja berhenti berdetak mendengar suara terompet tadi! Aku nggak suka suara berisik! Dan apa ini! Pake balon segala, kaya anak kecil saja. Sangat menjijikkan!" Devano lagi- lagi berbicara dengan suara meninggi. Kejutan dari Clara kali ini memang berbeda dari tahun- tahun sebelumnya, yang biasanya cuma berpura- pura melupakan ulang tahunnya, mengerjainya dengan jebakan- jebakan kecil, dan tak pernah menggunakan terompet dan dekorasi pesta di restoran sepert ini.


Air mata Clara tak bisa dibendung lagi. Ia tersenyum tapi air mata terus saja menetes. "Maaf, aku nggak tahu jika kamu nggak suka dengan kejutan ini."


Clara meletakkan kembali kue ulang tahun ke atas meja, ia mengusap air matanya dan melangkah keluar.


Tangannya tiba- tiba saja dicekal kekasihnya, membuatnya berhenti seketika. Ia semakin tersedu- sedu dibuatnya.


"It's surprise for you, my love," ucap Devano tertawa terpingkal- pingkal. Sontak saja, Clara langsung memukuli dada Devano dan meluapkan tangisannya. Wanita itu benar- benar takut jika hal tadi itu bukan surprise belaka.


"Jahat, jahat, jahat!" teriak Clara sembari tetap memukul dada bidang Devano.


Devano hanya terkekeh melihatnya, ia segera memeluk dan menenangkan wanita yang menangis itu. "Siapa yang jahat? Tak membalas chat, tak mengangkat telfon seharian ini? Lalu, tiba- tiba saja membuat orang kaget!"


"Yahhh, bikin kejutan tapi dianya malah terkejut nih ceritanya," sindir Aksa.


"Kasihan, surprisenya nggak jadi surprise deh," timpal Aza.


Clara langsung berbalik dan mencubit tangan Aksa serta Aza secara bergantian. Ia begitu malu dibuatnya.


"Ah, kalian tuh sama aja nyebelin! Dasar!" Pekiknya, namun tak dihiraukan Aksa ataupun Aza, mereka tetap saja tertawa.


Empat serangkai itu kemudian duduk di kursi menghadap meja bundar yang telah tersaji makan malam. Yang pertama kali mereka makan adalah baked salmon.


"Hubby, kita cuma makan ikan sepotong?" celetuk Aza menatap heran kepada sepotong salmon yang telah dimasak serta diberi garnish tersaji di piringnya.


"Kalau gini mah kita nggak kenyang, nanti pas pulang mampir angkringan aja dulu," sahut Aksa. Ia juga merasa tak suka dengan menu makan malamnya kali ini. Pasalnya mereka berdua itu adalah tipikal orang yang suka makan dan tak puas jika makanan hanya sedikit.


"Loh, kenapa nggak pesan di sini sekalian? Aku pesenin ya." Clara melambaikan tangan kepada salah satu waitres namun Aksa dan Aza berteriak mencegahnya.


"Di sini mahal, kita nggak mau bayar. Mending makan di angkringan, murah meriah, lebih enak lagi," seru Aksa yang diangguki Aza.

__ADS_1


"Kami aja kalau nggak gratis nggak akan makan di sini," timpal Aza sembari memasukkan satu potong salmon ke mulutnya.


Devano dan Clara menggelengkan kepalanya melihat pasangan yang aneh itu.


Berbagai makanan yang tersaji di meja telah tandas dan hanya menyisakan garnish sebagai pelengkapnya tadi. Orange squash di gelas pun telah habis.


Alunan musik romantis masih terdengar jelas, biola yang dimainkan pun terdengar semakin indah. Larut dalam suasana romantis, Devano tiba- tiba bertekuk lutut sembari memegang tangan Clara.


"Apa yang kamu lakuin? Ayo bangunlah," pinta Clara namun tak membuat Devano berpindah posisi.


Aksa dan Aza hanya menatap mereka, menerka apa yang hendak dilakukan Devano. Sok- sokan romantis, pikir mereka.


"Kamu tahu kan kalau aku mencintai dan menyayangimu?" Devano mulai berkata. Ucapannya terdengar lembut dan tulus.


Clara mengangguk.


"Aku tak mau jika cinta dan sayang yang kita miliki hanya terpaut dengan kata pacaran saja. Aku menginginkan hal yang lebih," sambung Devano.


Clara mengernyit belum tahu apa maksud kelasihnya itu. Ia hanya bisa memandang wajahnya yang penuh dengan keseriusan.


Devano mengeluarkan setangkai bunga mawar dari jasnya dan menyodorkannya kepada Clara.


"Aku ingin membina keluarga bersamamu, aku ingin menjadi lelaki yang memilikimu seutuhnya. Aku ingin menjadi imam serta ayah dari anak- anak kita kelak. Will you marry me, Clara?"


Clara terkejut, ia menutup mulutnya tak menyangka jika Devano akan melamarnya malam ini. Satu butir air mata lolos dari pelupuk matanya, terharu dan bahagia kekasihnya melamarnya secara tak terduga.


"Aaaa so sweet," cicit Aza. Ia seakan sedang menonton drama thailand. Tak menyangka jika birthday party akan berakhir dengan acara lamaran Devano.


"So sweet apaan, masa cuma dikasih mawar merah doang. Setangkai lagi, harusnya tuh beliin cincin atau apa gitu. Devano tuh emang pelit banget orangnya," sahut Aksa.


Aza mencubit perut suaminya, merasa jengkel karena Aksa tak bisa menikmati acara romantis itu. "Kamu itu diam saja, Hubby. Devano itu romantis nggak kaya kamu, mending dia pake acara melamarnya baik- baik. Kalau kamu dulu? Maksa!" ujar Aza terkekeh.


Aksa langsung terdiam, perkataan istrinya cukup menohok. Ia lalu kembali mengingat sebelum menikah dengan Aza, dirinya memang tak pernah memperlakukan Aza dengan romantis. Lamarannya dulu pun sangat gamblang, tak ada basa basi dan seakan memaksa. Tak ada bunga atau cincin, apalagi suasana romantis. Semuanya terjadi begitu saja.


"Kamu serius?" tanya Clara tak percaya.


"Aku serius, sangat- sangat serius."


Devano bersenandung, lagu Aron Ashab yang berjudul Halalkanmu ia nyanyikan.


Ku suka pada wajahmu


Dan aku tak mau


Berlama-lama menunggu


Ku ingin nikahi kamu


Jadikan kau istriku


Ku ingin kau jadi ibu dari anak-anakku


Sebut namamu


Binti ayahmu


Dan semua wali 'kan berkata sah (sah)


Ini gila tapi ku mau


Halalkanmu


Halalkanmu


Halalkanmu


Clara semakin larut dalam suasana, bahagia yang tak bisa diungkapkan ia rasakan saat ini. Ia langsung menghambur dan memeluk tubuh kekasihnya. "Aku siap menjadi ibu dari anak- anakmu, calon imamku," lirihnya mengharukan.

__ADS_1


Devano pun berteriak kegirangan.


"Lalu, bagaimana dengan orang tua kita? Apa mereka menyetujui hubungan kita?" tanya Clara.


Devano tersenyum tipis. "Beberapa hari yang lalu, aku dan orang tuaku pergi ke rumahmu."


"Oh ya?"


"Iya, untuk melamarmu. Dan ternyata apa yang kita pikirkan selama ini itu salah. Mereka justru sangat mendukung hubungan kita untuk sampai ke jenjang pernikahan. Bahkan, mereka saat ini telah menyiapkan pesta pernikahan untuk kita."


Jawaban Devano itu sempat membuat Clara tak percaya. Ia mencoba mencari kebohongan dari lelaki yang berada di hadapannya itu, tapi nihil. Yang ia temukan hanyalah keseriusan, apakah ini benar- benar bisa dipercaya?


"Serius, kan?" pekik Clara. Ia melompat dan berputar- putar kegirangan. Ia tak menyangka jika keluarganya semudah itu memberikan restu.


"Besok kita prewedding ke Bali. Aku sudah membelikan tiket untuk kita," ucap Devano yang disambut pelukan oleh Clara.


Aksa langsung beranjak dari tempat duduknya menghampiri Devano, "Apa- apaan ini? Terus siapa yang mau ngurus kantor? Aku kan besok mau bulan madu sama Aza."


"Nggak bisa, nggak bisa. Pokoknya besok aku sama Clara bakal ngajuin cuti tiga hari buat foto pre-wed. Kan aku udah ngajuin surat cuti ke email kamu."


Aksa lalu membuka ponselnya, matanya terbelalak ternyata Devano benar- benar mengirimkan surat cuti selama tiga hari. Itu juga bertepatan dengan jadwal bulan madunya. Lalu, siapakah yang akan menggantikan tugasnya selama beberapa hari ke depan? Ia tak mungkin untuk mengundur jadwal bulan madu yang sudah tertunda sekian lamanya.


*****


Aksa dan Aza telah sampai di rumah mereka. Langkah Aksa terlihat lesu, bermacam pikiran memenuhi kepalanya. Ia tak mungkin menyuruh Devano untuk tetap tinggal dan mengurus perusahaan. Devano juga memiliki kehidupan di luar kantor, Aksa tak boleh terlalu membatasinya. Lalu, dirinya bagaimana?


"Hubby, kenapa kamu sedih?" tanya Aza mengusap tangan suaminya, lalu mengecupnya.


"Masa kita harus menunda bulan madu lagi, Za?"


"Nggak papa dong, kita kan bisa melakukannya lain waktu."


Aksa semakin sedih dan bingung, ia hanya ingin membuat istrinya bahagia namun waktu tak bisa dikendalikan. Begitu sulit, sampai dua atau tiga hari meluangkan waktu untuk berbulan madu setelah berbulan- bulan menikah tak bisa dilakukan.


"Aku akan menemui Papa sebentar," ucap Aksa yang kemudian langsung beranjak menuju kamar Papanya yang hanya berjarak dua ruangan saja dari kamarnya.


"Mau ngapain, Hubby?"


"Urusan lelaki, Za."


Aza mengangkat kedua bahunya acuh, jika Aksa sudah berkata seperti itu berarti sedang ada urusan yang sangat penting.


Kebetulan sekali pintu kamar Keno dan Aira tak dikunci, pasangan itu memang selalu melupakan untuk mengunci pintu kamar. Tanpa ba-bi-bu, Aksa langsung membukanya.


Pemandangan tak terduga dilihatnya. Papa dan Mamanya kala itu tengah bergulat, melakukan adegan ranjang yang begitu panas. Aksa menelan ludahnya menatap dua insan yang bergumul di bawah selimut putih.


"Aksa..." lirih Aira terkejut.


"Heyy, ngapain kamu disitu!" teriak Keno yang lalu melemparkan guling ke arah Aksa.


"A- aku nggak tahu kalau Papa sama Mama lagi enak- enak. Maafin Aksa, Pah." Aksa jadi salah tingkah sendiri dibuatnya. Ia sebisa mungkin menahan tawanya karena melihat sang Papa dan Mama yang memerah karena ketahuan anaknya.


"Lanjutkan saja, aku akan keluar. Ehm, jika sudah selesai membuatkan adik untukku kabari ya, Pah. Ada sesuatu yang mau aku bicarakan," ucap Aksa terkekeh. Ia lalu berlari meninggalkan kamar orang tuanya karena Papanya itu bersiap melempar guling lagi ke arahnya.


Ia tak bisa berhenti tertawa mengingat kejadian itu. Papa dan Mamanya sangat menggemaskan, ia jadi ingin memergoki mereka terus.


"Hubby, kenapa kamu kaya orang gila gitu? Abis kesambet setan mana nih?" tanya Aza. Wanita itu tengah duduk di depan meja rias sembari membersihkan wajahnya dengan cairan pembersih yang dituangkan di kapas. Hal yang ia lakukan setiap malam sebelum tidur.


"Tadi aku tak sengaja memergoki Papa dan Mama lagi enak- enak. Tau nggak sih, mereka langsung malu gitu. Wajahnya merah banget," jawab Aksa tergelak.


Aksa lalu mendekati Aza dan memeluknya dari belakang. Wanita itu mendengus pelan, Aksa selalu saja mengganggunya ketika sedang asyik merawat wajahnya.


"Hubby, gantilah baju dulu. Sudah malam, ayo tidur."


"Kita bermain dulu sebentar, baru tidur."


"Kamu nggak capek? Sebelum berangkat makan malam saja kita sudah melakukannya, masa sekarang mau lagi," rengek Aza. Wanita itu memasang wajah memelas supaya Aksa tak memakannya lagi malam ini. Tapi bukan Aksa namanya jika tak bisa membuat istrinya tanpa sehelai benang sekalipun malam ini.

__ADS_1


__ADS_2