My Presdir

My Presdir
Naik Sepeda


__ADS_3

"Azaaaaa!!!!!" teriak Aksa sembari menggedor- gedor pintu kamar mandi dimana istrinya sedang mandi di dalam.


"Apa, Hubby?" sahut Aza ikut berteriak juga.


"Bukain pintunya! Aku harus mandi, ada rapat mendadak!" ucap Aksa berbohong, lelaki itu hanya ingin mandi bersama dengan istrinya. Ah, Aksa terlalu pandai jika mencari alasan.


"Tapi aku belum selesai, tunggu sebentar!"


"Kamu nggak kasihan sama aku? Bukain dong, Za!"


Suara kunci yang sedang membuka pintu terdengar, Aksa langsung beryes- yes dalam hatinya. Akhirnya dirinya bisa mandi juga sama Aza.


Ceklek


Pintu terbuka sempurna, tapi wajah Aksa langsung sendu. Aza telah selesai mandi dan malah sudah memakai baju. Hilang sudah harapannya untuk enak- enak bersama istrinya.


"Sudah selesai, buruan mandi sana," ucap Aza.


"Hancur sudah harapanku!" Aksa masuk ke kamar mandi dan membanting pintunya sebagai ungkapan rasa kesal.


Aza tersentak, ia menatap heran dengan suaminya. "Kesambet apaan tuh orang? Kok makin nggak waras?"


"Hubby, kamu kenapa? Apa aku punya salah?" tanya Aza sedikit berteriak takut suaminya itu tak mendengar.


"Nggak papa, aku baik- baik aja kok."


Aza menunggu suaminya itu keluar, tak lupa mempersiapkan semua keperluannya. Tak lama kemudian, Aksa keluar dengan handuk melilit di pinggangnya. Tak ada senyuman seperti biasanya, yang ada hanya raut wajah frustasi.


"Ada apa sih sebenarnya? Kamu punya masalah ya, Hubby?"


"Enggak kok." Aksa segera memakai bajunya. Tak ada semangat seperti biasa, yang ada hanya rasa kecewa.


Aza mengahalangi langkah suaminya yang hendak mengambil parfum, wanita itu berjinjit menangkup pipi suaminya dan mengecup keningnya. "Ceritakan denganku jika kamu ada masalah, bukankah aku istrimu, Hubby?"


Aksa tersenyum, ia begitu senang dengan kelakuan Aza yang tiba- tiba seperti itu. "Iya kamu istriku."


"Aku menyayangimu..." lirih Aza di dekapan sang suami.


Aksa langsung melepas pelukannya dan menatap lekat wajah istrinya, "benarkah?"


"Aku tuh bohong," Aza tergelak dan langsung berlari meninggalkan kamar. Aksa mendengus kesal, ia tadi sudah beriyes- iyes dalam hatinya. Tapi ternyata Aza cuma bercanda.


*****


Wanita itu pergi ke dapur, selain untuk menghindari Aksa dan pertanyaan- pertanyaannya, ia juga harus menyiapkan sarapan untuk suaminya itu. Aza menghampiri Sandra yang tengah meyeduh susu. "Hai, Sandra. Bagaimana tidurmu semalam?"


"Halo, mbak. Ya begitu, aku bergadang lagi, tugas kuliah semakin banyak. Aku pun banyak yang nggak paham sama materinya," ucap Sandra.


"Kamu kan bisa menanyakannya padaku, aku juga jurusan akuntansi dulunya. Ehm, atau nggak kamu juga bisa bertanya dengan Aksa. Dia lulusan luar negeri, pasti lebih tahu."


"Wahh iya juga ya, nanti deh kalau ada tugas lagi," seru Sandra.


Aza yang tahu jika suaminya itu hendak menghampiri dirinya, ia berpura- pura acuh. Tapi, lelaki itu semakin usil. Ia menggelitik perut Aza dan mengecupi tengkuknya.

__ADS_1


"Geli..."


"Salah sendiri mengacuhkanku."


Aza kembali berkutat dengan urusannya, tapi Aksa selalu saja mengganggunya. "Biar dilanjutkan Sandra saja, ayo istirahatlah," ucap Aksa.


"Tinggal sebentar saja kenapa harus dilanjutkan orang lain."


"Terserah kamu saja. Kamu masih inget perkataan aku awal nikah dulu?" Bisikan Aksa terdengar menggelitik, tapi wanita itu juga bersemu merah. Pasalnya, ia ingat betul apa yang dikatakan suaminya waktu itu.


"Aku nggak ingat tuh, sudahlah duduk saja di sana."


"Hiks, kok gitu sih kamu..."


"Gitu kenapa?" Aza membelai pipi suaminya dan tersenyum nakal.


"Bodoamat, Maemunah!"


"Azalea bukan Maemunah!" tukas Aza yang tak digubris lelaki itu karena dia telah duduk di meja makan.


*****


Usai sarapan, Aksa segera menyiapkan mobil. Saat hendak memasuki mobilnya, ia tak sengaja menatap sepeda lipat miliknya. Aksa pun tersenyum menyeringai, ia akan pergi ke kantor dengan sepedanya saja biar bisa romantis dan dipeluk- peluk Aza.


"Heyy, kamu mau apakan sepedanya?" tanya Keno yang kala itu juga hendak menyiapkan mobilnya.


"Aku mau pergi ke kantor naik sepeda aja, biar bisa dipeluk- peluk Aza," jawab Aksa.


Keno menggelengkan kepalanya, "terserah, tapi rasakan jika kamu nanti kecapekan. Kamu pikir jarak rumah ke kantor deket apa? Sok- sokan mau naik sepeda segala!"


"Kamu mau mengataiku tua?" gertak Keno melototkan matanya.


"Bukan Papa, tapi Opa Andi sama Opa Bram."


"Ohh kirain Papa..."


"Tapi Papa kan juga sebentar lagi menyusul mereka, Tua. Tapi tetep ganteng kok," sambung Aksa tertawa terpingkal- pingkal.


Aza dan Aira sudah bersiap menunggu para suami mereka. Tapi juga ada Sandra yang akan nebeng ke kampus.


"Ayo, Za!" seru Aksa. Ia menyodorkan helm untuk Aza.


"Kita mau pakai sepeda ke kantornya?" tanya Aza terheran- heran.


"Udah cepetan, sini aku pakaiin helmnya." Aksa lalu memakaikam helm dengan benar di kepala istrinya.


"Lalu Sandra sama siapa ke kampusnya?"


"Sandra kan bisa sama Papa dan Mama," jawab Aksa. "Sudahlah jangan banyak bicara, ayo naik!" Aza pun naik di belakang dan memeluk tubuh Aksa dengan erat supaya tak jatuh.


"Hati- hati di jalan sayang!" seru Aira ketika Aksa mulai mengayuh sepedanya.


"Siap, Mah."

__ADS_1


Mereka menyusuri jalanan ibukota yang padat, mengayuh sepeda pelan sembari menikmati angin pagi. Canda tawa pecah begitu saja ketika mereka bersama.


Baru setengah perjalanan, Aksa mulai lambat mengayuh sepedanya. Kaosnya sudah basah karena keringat yang bercucuran, wajahnya pun sama. Lelaki itu sesekali minum air di tumblernya. Sudah hampir habis.


"Kamu capek, Hubby? Kalau capek istirahat dulu saja," seru Aza.


Aksa pun menurut, ia berhenti di pinggir jalan. Sudah hampir dekat dengan Sanjaya Group, tapi rasanya kaki lelaki itu sudah tak sanggup mengayuh sepeda lagi. Ia duduk di trotoar dan Aza mengusap keringat yang bercucuran di keningnya.


Tin- tin- tin!


Suara klakson mobil mengalihkan pandangan mereka. Ternyata itu adalah mobil Aira dan Keno.


"Capek, Sa?" ledek Keno dari dalam mobil. Aksa langsung melemparkan botol minumannya hingga masuk ke dalam mobil.


"Dasar anak kurang ajar!" seru Keno yang kemudian segera melajukan mobilnya.


"Enyah kau dari hadapanku!" gertak Aksa. Ia lalu mengambil sepedanya dan bersiap mengayuh lagi.


"Istirahat saja sebentar, Hubby..."


"Cepat naik, aku kuat kok."


Aza pun hanya bisa patuh, ia lalu kembali naik dan memeluk suaminya. Aksa mengayuh sepedanya dengan kecepatan sedang. Aza terus saja menyemangatinya hingga akhirnya mereka sampai di kantor.


"Huhh, akhirnya..." Aksa langsung membanting sepedanya setelah istrinya turun. Ia lalu terkapar di parkiran.


"Hubby bangun..." Aza menepuk- nepuk pipi Aksa tapi lelaki itu tak bangun juga. Aksa benar- benar kelelahan hingga akhirnya pingsan.


Aza segera meminta bantuan dua satpam di depan untuk membawa suaminya ke ruang kesehatan. Ia mengoleskan minyak kayu putih di hidung Aksa, berharap lelaki itu segera sadar.


"Hubby..."


"Pak Presdir kenapa sih?" tanya Sarah. Di sana ada Devano dan Clara juga. Mereka ikut panik saat tahu Aksa digotong dua satpam.


"Kecapekan, tadi kita berangkat naik sepeda."


"Lah, mobil di rumah banyak kenapa harus pake sepeda?" Devano tak habis pikir dengan lelaki yang masih terbaring itu. Aksa benar- benar bodoh.


"Aksa nggak bisa beli bensin ya sampai- sampai harus naik sepeda," celetuk Clara.


"Enak aja! Aku tuh cuma pengen romantisan sama Aza!" seru Aksa. Ia akhirnya tersadar juga.


"Dasar bucin!" seru Devano, Clara, dan Sarah serempak. Mereka lalu pergi meninggalkan ruang kesehatan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Correct me if I have typo❤️


__ADS_2