My Presdir

My Presdir
Empat Es Krim


__ADS_3

Hari itu merupakan hari yang sangat menggembirakan bagi Aksa dan juga Devano. Bagaimana tidak, mereka berhasil membuat Vincent Group bekerja sama dengan Sanjaya Group. Suatu hal yang dulunya dianggap sulit tapi akhirnya bisa ditaklukkan juga. Keuntungan besar akan segera mereka raih.


"Senang bisa bekerja sama denganmu, Tuan Aksa," seru Bella mengulurkan tangannya bermaksud memberinya selamat. Bella juga senang sekali akhirnya perusahaan miliknya bisa bekerja sama juga dengan Vincent Group.


Aksa yang awalnya enggan pun akhirnya membalasnya dan berkata, "Terima kasih, selamat juga ya. Semoga semakin sukses."


"Bagaimana jika kita merayakannya dulu? Kita bisa ke Mall atau nongkrong sebentar di kafe?" tawar Bella.


"Maaf, saya harus kembali ke kantor karena ada hal lain yang harus diurus." Aksa berpamitan dengan Bella dan segera mengajak Devano pergi dari ruang pertemuan itu. Ia sebisa mungkin menghindari mak lampir itu.


Sesampainya di kantor, Aksa berpapasan dengan istrinya yang hendak pergi ke kamar mandi. Mereka saling tatap, tapi tak ada sapaan atau senyum.


"Kalian beneran marahan nih?" tanya Devano terheran- heran melihat Aksa dan Aza yang tak seperti biasanya.


"Iya, biarin aja! Dia juga keterlaluan tadi, berani bentak sama ngelemparin dokumen tepat di wajah," sahut Aksa.


"Ya ampun! Udahlah jangan pada marahan lagi. Kalian lagi sama- sama kesel jadi wajar kalau kaya gitu."


"Hm..."


Sebagai ungkapan rasa syukurnya, Aksa memperbolehkan para karyawannya untuk pulang lebih cepat dari biasanya. Para karyawan pun bersorak senang.


Ia melihat istrinya yang sudah berbenah membereskan meja kerjanya. Aiden dan Ailee yang sepulang sekolah ke sana pun juga bersiap pulang mengikuti Mamanya.


"Sebentar ya, sayang. Mama beresin ini dulu," ucap Aza kepada Aiden dan Ailee yang setia menunggunya.


"Iya, Mah. Lagi pula kita juga harus menunggu Papa dulu, kan?" tanya Aiden.


"Hm, sepertinya Papa lagi sibuk dan dia akan pulang nanti."


"Baiklah, Mah. Nanti belikan es krim sama seperti kemarin ya?" Ailee memohon kepada Aza, ia sangat menggemaskan jika sudah seperti itu.


"Kak Aiden juga mau es krim?"


"Tentu saja mau, Mah. Ayo kita pulang!" seru Aiden dengan riangnya.


"Let's go!" Aza lalu menuntun anaknya keluar ruangan. Ternyata ada suaminya yang berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


"Itu ada papa." Aiden dan Ailee melepas genggaman Mamanya dan beralih memeluk Papanya. Sejak pulang sekolah tadi, mereka belum sempat bertemu dengan sang papa.


"Hey, anak- anak Papa. Gimana nih sekolahnya tadi?" tanya Aksa seperti biasanya. Ia berjongkok menyejajarkan tubuhnya dengan anak- anaknya.


"Sangat menyenangkan, Pah," jawab Ailee. "Tadi kami diajarkan berhitung," tambahnya.


"Itu sangat membosankan, Pah. Kami kan sudah pandai berhitung tapi kenapa tetap diajari berhitung? Bukankah itu hanya membuang waktu saja, seharusnya kami diajari yang lain," gerutu Aiden. Anak itu sama seperti Aksa dulunya.


"Aiden, Ailee, ayo pulang," ajak Aza.


"Ah iya, ayo pulang. Kalian mau es krim, kan? Ayo kita beli," seru Aksa. Ia menggendong Aiden di sebelah kanan dan Ailee di sebelah kiri. Mereka lalu masuk ke lift, Aksa tak melirik ataupun menatap Aza. Tapi Aza tetap mengikutinya di belakang.


*****


Sempat ada drama sedikit saat memasuki mobil tadi. Yang awalnya Aza ingin duduk di belakang bersama Aiden dan Ailee pun akhirnya ia duduk di depan karena Aksa marah- marah tadi.


Aiden dan Ailee bersorak gembira saat mobil terparkir mulus di kedai es krim langganan keluarga mereka.


"Aiden, Ailee, pelan- pelan," pinta Aza karena dua anaknya itu langsung berlari memasuki kedai es krim.


"Es krim strawberry dengan topping potongan strawberry, wafer, dan juga choco chips," jawab Ailee.


"Aunty...aunty..." teriak Aiden dan Ailee sembari melompat- lompat karena tempat pemesanan es krim itu tinggi dan mereka tak sampai.


"Auntyy...aunty... Kami mau beli es krim..."


Aza dan Aksa terkekeh gemas melihat anak- anaknya yang melompat- lompat berusaha memesan es krim. Sangat menggemaskan membuat pelanggan yang lain ikut gemas dengan mereka.


"Iya, adek manis?" ucap penjaga toko.


"Berikan kami es krim strawberry dan coklat dengan topping seperti biasanya," ucap Ailee.


"Masing- masing dua ya, Aunty? Buat Papa sama Mama juga," tambah Aiden.


"Mau di cone atau di cup? Sizenya besar atau kecil?" tanya penjaga toko.


"Di cone dengan big size!" jawab Aiden dan Ailee serempak.

__ADS_1


"Baiklah anak- anak manis, kalian cari tempat duduk dulu ya. Nanti es krimnya aunty antarkan."


"Siap, Aunty!" Aiden dan Ailee memberikan hormat, sama seperti biasanya yang mereka lakukan setelah memesan es krim yang diinginkan.


Aza selalu senang dengan kedua anaknya yang sangat pandai. Anak seumur mereka biasanya sangat pemalu dan tak berani memesan sesuatu sendiri, tapi Aiden dan Ailee berbeda.


Aksa pun segera membayar pesanan anak- anaknya tadi dan bergabung dengan mereka yang sudah duduk di kursi pojokan sama seperti biasanya.


"Pah, ayo duduk di samping Ailee," ucap Ailee. Ia menepuk kursi berwarna biru muda yang berada di sampingnya.


"Ailee, jangan berteriak! Kamu akan mengganggu pelanggan yang lain," ucap Aiden, ia sangat terganggu dengan suara saudara kembarnya yang sangat menggelegar.


"Kak Aiden yang sangat tampan tapi galak banget, diam saja ya jangan banyak bicara."


Aiden yang dikata galak pun tak terima, ia langsung menyentil kening Ailee.


"Pah...lihatlah dia nakal sekali!" Ailee mengadu dengan manja sekali.


"Abisnya kamu cerewet sih, kan bikin kesel!"


"Sssttt, sudah- sudah. Nanti kalau kalian ribut terus kita langsung pulang saja nggak usah makan es krim," ujar Aksa yang akhirnya mampu membuat dua anak itu diam dan patuh.


Tak lama kemudian, empat es krim cone sudah datang. Ailee dan Aiden langsung menyantapnya. Mereka selalu saja belepotan saat makan.


"Besok kita ke sini lagi ya, Mah?"


"Enggak boleh. Kalian nggak boleh makan es krim terus, nanti bisa sakit loh," tolak Aza. Wanita itu berusaha membersihkan lelehan es krim di tangan Aiden dengan tisu.


"Es krim itu nggak bikin sakit, Mah. Iya kan, Pah?" Ailee meminta persetujuan sang papa yang juga asyik menyantap es krim strawberry di tangannya. Aksa hanya mengangguk sebagai jawabannya.


Aksa dan Aza selalu memalingkan wajah mereka saat tak sengaja bertatapan. Mereka masih enggan untuk berbicara atau meminta maaf.


"Mama sama Papa masih marahan ya?" tanya Aiden, ia menyadari jika ada yang tak beres dengan Papa dan Mamanya sedari tadi.


"Enggak kok, memangnya kenapa?" jawab Aksa.


"Tak apa." Aiden lalu mengacuhkannya, ia kembali menggigit cone es krim yang renyah itu.

__ADS_1


__ADS_2