My Presdir

My Presdir
Rumah Sakit


__ADS_3

Anak itu terlihat pucat dan lesu. Tak ada semangat seperti biasanya. Sepertinya dia memang kelelahan setelah seharian bermain dan juga sekolah.


"Kak, apa kamu baik- baik saja?" tanya Ailee kepada kakaknya yang sedari tadi diam tak bergeming. Aiden terlihat berbeda malam itu.


"Aku baik- baik saja. Aku akan tidur lebih awal malam ini," jawab Aiden lemah. Ia kemudian meninggalkan meja belajarnya dan menuju ke ranjang.


"Apa kamu sakit?" Ailee kembali bertanya dan mengikuti kakaknya yang terlebih dahulu berbaring di ranjang mereka.


"Diam saja jangan menggangguku!"


"Okay..."


Ailee ikut berbaring di samping kakaknya dan berusaha terlelap. Entah sudah berapa lama dirinya berbaring tapi matanya belum juga terpejam. Sedangkan Kakaknya sudah tidur, tapi terus saja merintih.


"Kak? Kenapa wajahmu pucat sekali?" Ailee memekik saat tak sengaja melihat wajah Aiden yang memucat. Ia pun menyentuh kening saudara kembarnya itu sama seperti yang Mama ataupun Papanya lakukan ketika dirinya sakit.


"Kamu sakit!"


Aiden yang belum sepenuhnya tertidur pun hanya terdiam. Badannya menggigil menahan sakit.


"Aku akan memanggil Papa dan Mama, tunggu sebentar."


Anak itu berlari menuju ke kamar Papa dan Mamanya. Tak lama kemudian, ia telah kembali ke kamar bersama Mama dan Papanya. Aza langsung panik melihat anaknya yang pucat pasi seakan tak ada aliran darah di tubuhnya.


"Aiden..."


"Mah..." Aiden menyaut lemah, ia masih menggigil.


"Aku akan mengambil kompresan dan obat penurun demam," ucap Aksa sebelum dirinya pergi meninggalkan kamar itu. Berlari secepat mungkin karena keadaan benar- benar darurat.


"Sayang, suhu badanmu tinggi sekali," lirih Aza ketika melihat termometer yang baru saja ia gunakan untuk mengukur suhu tubuh Aiden. Tingginya melebihi batas normal. Aza sangat takut, ia pun menempelkan tangannya di dada Aiden supaya panasnya meresap ke tubuhnya.


"Ini, Za! Cepat tempelkan!" seru Aksa menyodorkan satu lembar plester penurun panas anak tak lupa dengan obat dan juga air minum.


Kening Aiden telah ditempeli plester penurun panas, setengah jam berlalu tapi tak kunjung menurun juga. Aiden malah semakin panas dan pucat. Ia juga terus merintih menahan kepalanya yang pening.


"Hubby, ayo ke rumah sakit..." ajak Aza, dirinya sudah tak bisa menahan diri lagi. Tangis pun pecah, suhu tubuh anaknya semakin meninggi. Ia takut terjadi apa- apa jika terus didiamkan.


"Gendong Aiden, aku akan segera menyiapkan mobil."

__ADS_1


"Mah, jangan khawatir. Kak Aiden akan baik- baik saja..." ucap Ailee yang ikut terjaga, tapi Aza tak menghiraukannya ia benar- benar takut.


Dan mereka pun bertolak ke rumah sakit lupa mengajak Ailee.


*****


"Suhunya sangat tinggi sekali, beruntung dia tidak kejang," ucap Dokter yang menangani Aiden.


"Iya, Dok. Apa dia baik- baik saja sekarang? Tak ada hal yang perlu dikhawatirkan lagi, kan?" tanya Aksa.


"Tidak ada, anak seusianya memang sering mengalami panas tinggi, sakit kepala, mual, dan muntah. Tak perlu khawatir, dia hanya kelelahan saja," jawab Dokter.


"Syukurlah kalau begitu..." Aksa bisa bernapas lega tapi tidak dengan Aza. Wanita itu masih sedih melihat anaknya terbaring dengan selang infus di tangannya.


"Panas seperti ini bisa bertahan sampai seminggu, tapi semoga suhu tubuh Aiden segera membaik dua atau tiga hari ke depan. Saya permisi dulu..." ujar Dokter lalu pergi meninggalkan ruang perawatan bersama asistennya.


Aza duduk di samping brankar Aiden, tangannya terus membelai wajah pucat anaknya. Hatinya teriris melihat buah hatinya seperti itu. Ia tak sanggup melihatnya terbaring lemah. Andai saja sakitnya bisa berpindah, maka ia memilih untuk dirinya saja yang merasakan sakit, jangan anaknya.


"Cepet sembuh sayang..." ucap Aza seraya mendaratkan kecupan di kening anaknya.


"Astaughfirullah! Kita meninggalkan Ailee!" pekik Aksa. Ia baru menyadari jika Ailee tak bersama mereka.


Aksa langsung membuka ponselnya dan menyuruh Mama serta Papanya menjaga Ailee. Ah, dia benar- benar tak menyangka bisa melupakan Ailee begitu saja. Pasti anak itu merasa sedih karena sudah terabaikan.


*****


Pagi itu terasa berbeda, dirinya tak mendapati saudara kembarnya. Hanya ada Oma Aira dan Opa Keno yang menemaninya sejak semalam. Papa serta Mamanya pun belum kembali dari rumah sakit.


"Kemarilah, Sayang, Oma akan mengikat rambutmu," ujar Aira menyuruh cucunya duduk di pangkuannya supaya ia lebih mudah mengikat rambut Ailee.


"Oma, apa Papa dan Mama belum pulang dari semalam? Apa Kak Aiden baik- baik saja?" tanya Ailee sendu. Ini adalah kali pertamanya ia tak bersama Papa, Mama, serta Kakaknya.


"Belum sayang. Kak Aiden harus dirawat di rumah sakit, oleh sebab itu Papa sama Mama menemaninya di sana."


"Dan mereka melupakanku, Oma."


"Bukan melupakan. Jadi begini, di rumah sakit itu kan banyak kuman kalau Ailee ke sana bisa- bisa ikutan sakit kaya kak Aiden. Nah, maka dari itu Papa sama Mama nggak ngajak kamu," ujar Aira panjang lebar meyakinkan cucunya.


"Hm..."

__ADS_1


"Nanti pulangnya Oma yang jemput ya sayang, jangan ke mana- mana kalau Oma belum sampai."


"Siap, Oma."


Omongan Omanya tadi ada benarnya juga, tapi ia tetao saja sedih dan masih tak bersemangat.


*****


Aroma rumah sakit tercium kuat. Aksa dan Aza baru saja bangun, mereka terlelap satu jam yang lalu. Suhu tubuh Aiden belum juga turun, Aza kembali sedih.


"Hello, Boy! Lekas membaik ya, Papa akan pulang sebentar. Nanti akan kembali menemuimu lagi," pamit Aksa. Ia mengecup anaknya yang masih lemas di brankar sebelum meninggalkan ruang perawatan itu.


"Hati- hati di jalan, Pah..." sahut Aiden lemah. Kepalanya terasa sakit sekali, tenggorokannya pun tercekat. Wajahnya masih pucat, belum ada perubahan dari semalam.


"Sekarang makan dulu ya, nanti baru minum obat dari Uncle Dokter." Aza mengambil makanan yang telah tersedia, ia lalu menyuapkannya kepada Aiden.


"Nggak enak..." keluh Aiden, ia pun langsung meminta air putih.


"Enak kok, ayo beberapa suap lagi," bujuk Aza.


Aiden menggeleng lemah, ia menutup mulutnya dengan tangan menghalangi makanan yang hendak disuapkan Mamanya.


"Kalau begitu minum susunya saja biar perutmu terisi ya?"


Aiden terus memaksakan dirinya supaya bisa meneguk segelas susu. Entah kenapa ia merasa kenyang sekali meskipun baru seperempat gelas.


Hoekk...


"Aiden!" Aza panik karena Aiden malah muntah- muntah. Ia membiarkan Aiden muntah di selimut, tak sempat jika harus mengambil wadah terlebih dahulu.


Anak itu langsung merebahkan tubuhnya setelah selimut yang kotor itu dipindahkan Mamanya. Tubuhnya semakin lemas.


"Apa sebelum muntah sudah meminum obatnya?" tanya Dokter memasuki ruang perawatan. Ia hendak memeriksa kondisi Aiden pagi itu.


"Baru selesai makan, belum minum obatnya tapi dia malah muntah, Dok."


"Tidak apa, ini wajar karena tubuhnya sedang dalam keadaan yang tidak baik. Semoga hari ini turun meskipun hanya sedikit."


"Semoga, Dok."

__ADS_1


__ADS_2