My Presdir

My Presdir
Bukan Atasanmu


__ADS_3

Pak Aryo yang mendengar kegaduhan pun segera menghampiri. Ia tertawa terbahak- bahak melihat Aksa dan Aza yang tengah melawan seekor kucing.


"Kucing manis, ayo lepaskan kakimu dari tubuh suamiku. Huhu...anak baik, ayo lepaskan ya..." Aza mencoba menarik tubuh kucing tapi tak bisa juga. Si kucing benar- benar menyukai Aksa. Eh, maksudnya jengkel.


Pak Aryo pun lama- lama kasihan melihatnya, ia baru ingat video yang tersebar di dunia maya jika seekor kucing takut dengan timun. Ia teringat jika memiliki satu buah timun sisa rujaknya tadi. Segeralah ia mengambilnya dan mendekati mereka.


"Hubby, bagaimana?"


"Nggak tau, Za!" Aksa mencoba menghentak- hentakkan tangannya supaya terlepas dari kucing.


Pletak!


Meooowwwww


Si kucing berlari terbirit- birit ketika mendapati timun di dekatnya. Ia sudah seperti kerasukan setan saat timun Pak Aryo terlempar ke tubuhnya.


"Dasar kucing nakal! Awas saja kalau ketangkep, aku kurung di atas pohon!" teriak Pak Aryo kepada si kucing.


"Hubby..." Aza meringis melihat kedua tangan suaminya yang merah dan berdarah karena cakaran kucing.


"Kucing badebah! Aku do'ain semoga nggak ada kucing betina yang mau kawin sama dia!" umpat Aksa.


Aksa dan Aza pun segera kembali ke kamar. Aza segera mengambil kotak obat dan membersihkan luka suaminya. Aksa terus saja meringis menahan perihnya luka ketika dibersihkan Aza.


Setelah itu, Aza segera mengoleskan obat merah menggunakan cotton bud dengan hati- hati. Ini adalah saat yang paling menakutkan, rasanya lebih sakit ketika obat merah itu bertemu dengan luka.


"Perih..."


"Tahan sebentar, Hubby."


Semua luka cakaran pun telah terobati tinggal menunggu kering. Aza pun meniup- niupnya supaya lebih cepat kering dan mereka bisa beristirahat.


"Oh ya, Hubby. Piringnya Mama gimana? Tadi kan pecah? Nanti kalau diomelin gimana?"


Aksa begitu kesal dengan istrinya, bagaimana bisa wanita itu malah memikirkan piring Mamanya. Eh, tapi Aza benar juga. Emak- emak kan kalau ada barangnya yang hilang sebiji pasti mulutnya tak akan berhenti mengomel. Sudahlah, itu bisa dipikirkan besok. Toh, dia juga bisa membelikannya yang baru. Bahkan satu toko pun bisa ia beli.


"Ayo tidur saja, sini peluk..."


Aksa merebahkan tubuhnya dan menepuk kasur di sampingnya. Aza pun mengangguk, ia lalu merebahkan tubuhnya di samping sang suami dan menarik selimut menyelimuti tubuh mereka.


Aza mengecup pipi suaminya dan berkata, "Selamat malam, Hubby. Tidur yang nyenyak cintaku, sayangku, kasihku."


"Harusnya aku yang mengucapkannya terlebih dahulu!"


"Aku dulu yang ngucapin, wleee!" Aza menjulurkan lidahnya meledek sang suami. Mereka memang seperti itu sebelum memejamkan mata, mengarungi mimpi. Berebut mengucapkan selamat malam, dan Aksa selalu tak terima jika didahului istrinya.


"Gemesh!" Aksa menangkup kedua pipi Aza dan mengecup bibirnya dalam- dalam sebelum tidur.


*****


Jarum jam terasa berputar lebih cepat. Tak terasa jika kini dirinya telah menunjuk angka lima. Aksa hampir saja melupakan dua rakaat. Biasanya tepat pukul empat sang istri selalu membangunkannya, tapi kali ini tidak. Aza yang sedang berhalangan pun menikmati waktu tidurnya. Apalagi semalam tak ada yang mengusiknya.


Dua rakaat telah tertunaikan, Aksa kembali ke ranjangnya memeluk istri tercinta. Mengecup wajahnya, membelai kepalanya lembut, serta mengucapkan selamat pagi.


"Euhhmmm..." Aza menggeliat merasakan sesuatu yang basah bergerilya di wajahnya.

__ADS_1


"Selamat pagi, Hubby," ucap Aza setelah matanya terbuka sempurna. Ia mengecup kening suaminya.


"Apakah tamu mu belum pulang? Aku merindukanmu," lirih Aksa.


"Baru juga datang, biasanya ia akan menginap selama tiga atau lima hari, terkadang juga hampir satu minggu. Bersabarlah, Hubby..."


"Tak sabar!"


Aza terkekeh melihat ekspresi memelas suaminya. "Orang sabar disayang Tuhan. Terus bonusnya nanti disayang Aza juga. Jadi, bersabarlah. Jika sudah selesai kamu bisa melakukan apapun kepadaku," ujar Aza sembari memainkan payudara suaminya.


"Harus berapa kali aku bilang jangan memainkan payudaraku, geli!"


"Tapi aku suka!"


"Dasar nakal!"


"Kamu lebih nakal, Hubby."


"Aza, kumohon hentikan tanganmu. Kamu membuat adik kecilku bangun," ucap Aksa dengan raut wajah yang tak bisa diartikan. Adik kecilnya tegak sempurna saat jari lentik istrinya bergerilya di tubuhnya.


"Ah, aku nggak tahan!" Aksa lalu pergi ke kamar mandi mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Istrinya sangatlah nakal.


Aksa dan Aza kini telah selesai mandi dan bersiap. Mereka tengah melakukan ritual setiap pagi, bergantian menyisir rambut pasangan, mendandaninya, dan masih banyai lagi.


Aza terkikik geli saat menata rambut suaminya, ia membuat belahan tengah hingga Aksa terlihat culun. "Hubby, seperti ini saja ya? Ini sangatlah lucu."


"Jangan, nanti yang ada malah jijik melihatku."


"Hubby, diamlah. Aku akan mengembalikan tatanan rambutmu, tenang saja. Aku hanya ingin bermain sebentar dengan suami tercinta."


"Za, mau sampai kapan kamu mainin rambut aku?" tanya Aksa. Lelaki itu hampir lelah karena istrinya sedari tadi terus saja memainkan kepalanya.


"Sebentar lagi."


"Bukankah kamu harus menyiapkan sarapan untukku? Ayo berhentilah, kita akan terlambat nanti."


"Sarapanmu sudah siap, Hubby."


Tak lama kemudian, Aza pun menghentikan jarinya. Ia kembali menata rambut suaminya seperti sedia kala. Lalu, tak lupa mengajaknya selfie dulu. Buat story whatsapp, instagram, facebook, dan sosial media lainnya.


*****


Usai perdebatan kecil mereka, akhirnya Aza dan Aksa pun telah sampai di kantor meskipun terlambat sedikit.


"Za, kamu tuh lucu banget sih. Kalau di kamar aja nguyel- nguyel aku, manja banget sama aku. Giliran di kantor dingin banget!" celetuk Aksa. Ia tak habis pikit dengan istrinya yang langsung berubah dalam sekejap. Aza yang manja sudah tak ada lagi ketika berada di kantor.


"Anda kan Presdir saya, jadi saya harus menghormati," sahut Aza layaknya karyawan seperti biasa yang hormat kepada atasannya.


"Ehm, Pak Presdir, saya izin ke ruangan hendak menyelesaikan pekerjaan saya yang terbengkalai," tambah Aza.


"Panggil 'Hubby' jangan Pak Presdir. Ihh, nggak suka, kesannya itu aku udah tua! Ganti- ganti!"


"Maaf, Pak Presdir, jika memanggil seperti itu malah kesannya saya kurang ajar," jawab Aza terkekeh. Ia sendiri geli mendengarnya.


"Dahlah! Dasar nyebelin! Awas saja kalau sampai rumah masih panggil Pak Presdir."

__ADS_1


"Memangnya apa yang akan Anda lakukan kepada saya, Pak?"


"Memakanmu hingga tak tersisa!"


"Wahh, saya jadi tak sabar untuk dimakan Presdir tampan seperti Anda."


Aksa tersenyum tipis melihat kelakuan istrinya, sangat menggemaskan. Ia pun memeluk Aza dan mengecupnya tanpa ampun.


"Pak, ini salah, Pak! Kenapa bapak mencium saya, ini sudah terlewat batas antara karyawan dengan atasan. Tolong, hentikan!" seru Aza pura- pura seperti sedang dicabuli Aksa. Wanita itu pandai sekali bermain drama.


Lelaki itu pun semakin gemas dengan istrinya, bisa- bisanya dia menganggap ini pencabulan antara karyawan dengan atasannya. "Kamu itu istriku, bukan karyawanku! Jadi, wajar dong kalau aku melakukan ini." Aksa terus saja menciumi Aza hingga wanita itu kewalahan dibuatnya.


"Huffttt, Anda sudah keterlaluan dengan saya. Awas saja, saya akan melaporkan ini kepada pihak yang berwajib," ancam Aza ketika Aksa telah berhenti menciuminya.


"Ishh! Aku tuh suamimu bukan atasanmu. Dan kamu itu istriku, bukan karyawanku. Ingat itu," rengek Aksa.


Aza semakin gemas membuat Aksa emosi. Aksa memang tak suka jika dipanggil Aza Pak Presdir dan dianggap sebagai atasan.


"Baiklah, Pak Presdir. Terserah Anda saja, sudah saatnya saya bekerja. Permisi..." Aza menundukkan badannya sekejap sebelum pergi ke ruangannya.


Aksa pun hanya bisa menatapnya jengkel, Aza memang selalu bisa membuatnya hareudang. Setelah memastikan istrinya benar- benar masuk ke ruangannya dan duduk manis, ia pun pergi ke ruangannya sendiri.


Terkejutlah ia mendapati sahabatnya yang telah duduk di kursi kebesarannya dengan kaki yang terangkat satu.


"Heyy, kamu sudah pulang rupanya..." ucap Aksa menghampiri Devano.


"Sebenarnya sudah dari kemarin, tapi aku memang sengaja tak masuk kantor dulu," jawab Devano. "Ternyata liburan sangatlah enak, aku jadi ketagihan. Dan sepertinya aku akan sering- sering mengambil cuti," tambah lelaki yang tengah memakai setelah jas berwarna navy dengan kemeja berwarna merah muda.


Aksa langsung melepas jas yang berwarna coklat susu itu dan melemparkannya kepada Devano, "Nggak ada cuti- cuti!" serunya setelah berhasil melempar jasnya tepat mengenai wajah Devano.


"Dasar pelit, tau gitu aku nggak masuk hari ini. Biar kamu kewalahan ngerjain semuanya sendiri."


"Yaudah sana pulang, tapi gajimu bulan ini aku potong!"


"Jangan main potong- potong dong! Aku kan sebentar lagi mau nikah, butuh uang banyak," rengek Devano. Ia jadi takut dengan Aksa jika gajinya benar- benar dipotong.


"Potong sepuluh juta!" goda Aksa yang semakin membuat Devano kebingungan.


"Jangan, Bro! Kamu kan baik, harusnya itu ditambah bukan dipotong."


"Kali ini aku nggak baik, pokoknya potong sepuluh juta," ucap Aksa tegas.


"Yaudah kalau kamu tetep mau motong, nanti aku bakal provokasi Aza supaya nggak ngasih jatah ke kamu," tantang Devano. Ia lalu berpura- pura hendak menemui Aza.


"Kalau sampai itu terjadi, yang ada malah aku potong gajimu dua puluh juta! Gimana? Masih mau provokasi Aza?" Aksa mengerlingkan matanya menatap Devano yang semakin kesal.


Devano pun tak jadi menemui Aza dan memilih untuk dipotong sepuluh juta saja daripada dua kali lipatnya. Jika sudah masalah gaji, Devano pun hanya bisa patuh dengan Aksa. Presdir memang berkuasa di atas segalanya.


*****


Aza terlihat sangat pucat, perutnya terasa sakit. Tapi, ia tetap berusaha untuk melanjutkan pekerjaannya. Sepertinya ia mengalami Dismenorea.


"Sar, bawa obat pereda nyeri nggak? Perutku sakit banget nih," ucap Aza sembari meringis memegang perutnya.


Sarah pun jadi panik melihat Aza yang pucat pasi, ia tahu betul rasanya nyeri saat datang bulan itu sakit. "Tunggu, Za. Aduhh dimana sih..."

__ADS_1


"Nahh!" Sarah menyeringai ketika mendapati obat yang ia maksud. Tapi ia kembali sedih, ternyata tinggal bungkusnya saja. Ia baru ingat jika belum membeli lagi.


__ADS_2