My Presdir

My Presdir
Sedikit Kecewa


__ADS_3

"Za, kamu takut?"


Aza menggeleng, matanya masih terpejam. Tubuhnya semakin menegang, ia sudah seperti patung saat ini. Tak berani bergerak sedikitpun.


"Aza?" Aksa kembali bertanya, tangannya mengusap air mata istrinya.


"Enggak kok, lakukan saja. Aku siap." Aza menjawabnya tapi matanya tetap terpejam.


Aksa mengecup kening istrinya dan berkata, "cepat pakai bajumu, jangan biarkan aku melakukannya sekarang. Aku tahu kamu belum siap."


Lelaki itu lalu bangkit dan keluar dari kamar. Meskipun sudah sangat berhasrat untuk menyalurkan segala rasa terpendam selama ini, ia tak tega memaksakannya. Ia harus mengingatnya jika ia tak akan menyentuh Aza sebelum ia mencintainya.


Aza lalu bangun dan segera memakai bajunya. Sedikit lega karena Aksa tak jadi melakukannya, tapi rasa bersalah menyelimutinya. Aksa pasti kecewa berat dengannya, ia juga harusnya tidak takut tadi supaya suaminya tetap melakukannya karena itu sudah haknya.


"Hubby..." Aza menusuk- nusuk lengan Aksa dengan jarinya.


"Keluarlah, aku ingin melanjutkan pekerjaanku. Bukankah kamu juga masih ada pekerjaan?" ucap Aksa tanpa menoleh ke istrinya. Wajah kecewa masih terlihat jelas, lelaki itu benar- benar kecewa.


"Kamu marah?"


"Aza...keluarlah dari ruanganku dan biarkan aku melanjutkan pekerjaanku!"


"Iy- iya, maafkan aku..."


"Semangat kerjanya." Aza terbirit- birit keluar dari ruangan suaminya, ia tak mau membuat Aksa marah.


Aza menuju ke ruangannya dengan langkah gontai, suaminya marah karena tak jadi melakukannya. Tak biasanya Aksa mengusir dirinya seperti tadi, Aksa malah senang jika ada dirinya, tapi tadi? Ah, apa yang harus dilakukan Aza sekarang?


"Kenapa, Za?" tanya Clara sembari meletakkan dokumen di atas meja kerja Aza.


"Eh, nggak papa kok."


"Kemana aja tadi, Za? Ke pantry kok sampai berjam- jam, enak- enak dulu ya sama Pak Presdir?" tanya Sarah.


Aza hanya tersenyum menanggapinya, ia ingin berteriak jika mereka belum pernah melakukannya sama sekali selama ini. Aza adalah istri yang buruk, harusnya ia menyerahkan semuanya secepatnya. Aksa berhak untuk setiap inchi tubuhnya.


...*****...


Sudah saatnya pulang, Aza sengaja menunggu suaminya menghampiri dirinya. Tapi sepertinya Aksa tak mau pulang bersama dengannya karena sudah lewat lima belas menit Aksa tak kunjung datang.


Tring


Suara pesan masuk membuyarkan lamunan Aza. Wanita itu segera membaca pesan itu.


"Pesanlah taksi online, pulanglah terlebih dahulu. Aku akan lembur malam ini, maaf."


Aza kembali sendu setelah membaca pesan itu, Aksa pasti mau menghindarinya sehingga dirinya lebih memilih untuk lembur. Aza memastikan jika suaminya masih berada di kantor, ia mengintip dari luar ruangan. Dan ternyata suaminya masih berada di sana, menghadap laptop dan sesekali memijat pelipisnya setelah membaca berkas- berkas. Mungkin pekerjaannya terlalu sulit.

__ADS_1


"Za, kenapa belum pulang? Hari ini kita akan lembur, pulanglah dulu jangan menunggu Aksa," seru Devano yang kala itu hendak masuk ke ruangan Aksa.


"Ah, iya. Ini aku akan segera pulang..."


Aza lalu pergi dari sana, tapi bukan untuk pulang melainkan menuju ke pantry. Ia ingin membuatkan coklat panas untuk suaminya supaya lebih tenang.


"Loh, Pak Kis belum pulang?" Aza melihat Pak Kis yang sedang membereskan pantry.


"Belum, Mbak. Masih harus ngepel dulu," jawab Pak Kis.


"Oh gitu, semangat ya, Pak. Ehm, saya mau buat coklat panas dulu."


"Buat Pak Presdir ya, Mbak?"


"Iya, Pak Kis. Pak Presdir lembur malam ini..."


Coklat panas sudah siap di cangkir dengan cawan di bawahnya. Aza kemudian kembali ke ruangan Aksa, tapi ia ragu untuk memberikannya sendiri. Ia pun mengirimkan pesan kepada Devano untuk mengambilnya.


"Za, kenapa belum pulang sih? Sudah berapa kali kubilang jangan menunggu Aksa," seru Devano.


"Baru satu kali, belum sepuluh kali. Jangan cerewet. Tolong berikan coklat panas ini ke Aksa, bilang jangan terlalu lelah dan cepat pulang. Aku menunggunya," ucap Aza malu- malu.


"Tunggu di rumah, jangan di sini!"


"Iya- iya!"


"From your pretty wife," seru Devano menyodorkan coklat panas di samping Aksa.


"Dia belum pulang?"


"Sekarang udah. Kalian lagi berantem ya? Kok Aza kaya ketakutan gitu sampai nggak berani ngasih ke kamu sendiri."


"Enggak kok."


...*****...


Malam pun menjelang, telah menunjukkan pukul delapan. Aksa sudah mulai lelah dengan pekerjaannya, ia pun terpaksa menghentikannya dan akan segera pulang.


"Aku akan membawa ke rumah, siapa tahu nanti bisa ngerjain di rumah," ucap Devano.


"Hm, terserah. Aku ingin segera tidur malam ini..." Aksa meregangkan otot- ototnya yang kaku.


Ia mematikan lampu ruangan dan menguncinya. Ia tak sengaja melihat ruangan Divisi Keuangan yang belum terkunci dan kertas yang menempel di depan pintu.


...Pak Kis, jangan dikunci dulu ruangannya. ...


...Aza masih ada di dalam....

__ADS_1


Tulisan yang berada di kertas itu. Aza memang sengaja melakukannya, Pak Kis akan selalu mengunci semua ruangan dan Aza takut jika ia terkunci di dalam.


Sontak, Aksa pun terkejut dan ia segera masuk. Gelap, Aza lupa menyalakan lampunya. Ketika lampu menyala, terlihatlah Aza yang tengah tertidur pulas di sofa. Aksa menggelengkan kepalanya, istrinya sangatlah bandel.


"Udah dibilangin pulang dulu kenapa harus menungguku sih," gerutu Aksa. Lelaki itu lalu menggendong istrinya.


Ia begitu kesulitan menekan tombol lift, dengan susah payah ia pun berhasil menekannya menggunakan kaki. Aza tak terbangun juga meskipun kakinya terbentur saat Aksa masuk lift tadi. Ia sudah seperti mayat ketika tidur.


"Hufft, kalau udah tidur semuanya lupa." Aksa segera melajukan mobilnya setelah mendudukkan Aza di sampingnya.


Mobil telah sampai rumah, tapi Aza masih tidur dan malah semakin nyenyak. Baiklah, Aksa harus kembali menggendongnya sampai ke kamar, menaiki tangga dengan menggendong Aza bukanlah hal yang sulit.


"Hey, habis kamu apain Aza?" tanya Keno saat dirinta berpapasan dengan Aksa.


"Nggak diapa- apain. Keburu berat nih, permisi, Pah."


Aksa melemparkan Aza ke kasur bermaksud supaya istrinya itu bangun, namun yang ada malah Aza menarik selimut menyelimuti dirinya. Aksa benar- benar tak habis pikir dengan istrinya.


"Kamu itu pura- pura tidur atau tidur beneran sih," bisik Aksa.


Aza menggeliat, tangannya dikalungkan di leher Aksa. "Aku mencintaimu, Hubby..."


Aksa tertegun mendengarnya, ia sangat senang. Akhirnya Aza mencintainya. Tapi tunggu, Aza masih terpejam, wanita itu berada di bawah alam sadar. Ah, dia hanya ngelindur saja mengucapkannya.


"Sudah- sudah, jangan ngelindur. Tidur yang nyenyak istriku," ucap Aksa mengecup kening Aza. Ia ikut berbaring di samping Aza dan memeluknya erat.


.


.


.


.


.


Aksa : "Ya ampun thorrrrr! Kapan gue enak- enak sama Aza?😭suka banget nyiksa gue."


Author : "Dihh nyalahin author! Nah itu pas Aza tidur kenapa nggak langsung enak- enak? Dia kan nggak akan tahu soalnya kalau tidur udah kek mayat🥴"


Aksa : "Aku nggak mau enak- enak sendiri😭maunya Aza juga ikut enak- enak😭😭😭"


Author : "Yaudah sabar! Tunggu aja, ntar juga kalian enak- enak😄Enak- enak makan buburnya Bang Jono maksudnya, bukan enak- enak itu wkwkwkk"


Aksa : "Bodoamat! Sampe episode selanjutnya gue nggak enak- enak sama Aza, gue bakal do'ain Author jomlo terus!"


Author : "Dahlah, lo tidur sana! Kasihan pembacaku malah nyimak obrolan kita yang gajelas ini🥴"

__ADS_1


Aksa : "Iya- iya! Btw, para readers jangan lupa vote koin yak buat bayar wifi author biar update ceritanya terus🤣🤣🤣"


__ADS_2