My Presdir

My Presdir
Spongebob Squarepants


__ADS_3

"Papah..."


"Mamah..."


Teriakan anak kembar itu menggelegar. Mereka berlarian memasuki kamar Papa dan Mamanya, lalu mengusik mereka yang masih nyenyak tertidur dengan berpelukan.


"Kenapa, Sayang?" tanya Aza, ia berusaha membuka matanya yang masih enggan dan menginginkan untuk kembali tidur.


"Kata Papa sama Mama kemarin mau tidur di kamar Aiden dan Ailee? Kenapa bohong?" Ailee merajuk, ia dan kakaknya ikut berbaring di tengah- tengah Aza dan Aksa.


"Iya, Mama sama Papa itu berdosa sekali bohongi kami," timpal Aiden.


"Huhu, Maafkan Mama ya...Janji deh nanti malem nemenin kalian tidur, nggak ditinggal lagi. Okay?" seru Aza membujuk anak- anaknya.


"Harus janji! Ohh ya, Papa kok nggak bangun- bangun sih?" Aiden dan Ailee terheran- heran, Papanya nyenyak sekali tidurnya. Hingga tak terganggu dengan suara teriakan mereka tadi.


"Gelitikin aja, Kak. Nanti Papa juga bangun," pinta Ailee.


"Eh, jangan dibangunin. Papa baru tidur sebentar, biarkan dia tidur lagi," ujar Aza yang tak digubris Aiden dan Ailee.


Mereka berdua langsung menggelitik Aksa, tak hanya itu mereka juga mencubitnya tapi dengan pelan. Aiden dan Ailee terkekeh melihat Papanya yang mulai terusik.


"Papa ayo bangun! Ini sudah siang," teriak Ailee sembari mendaratkan kecupan bertubi- tubi di wajah Aksa.


Aksa membuka matanya, ia menggelengkan kepalanya melihat dua anaknya yang menungganginya seperti kuda dan berusaha membangunkan dirinya.


Aksa yang gemas pun langsung mendekap tubuh mereka dan membalas gelitikannya. "Kalian itu nakal banget sih, berani- beraninya gangguin Papa tidur."


"Hhihi, disuruh sama Mama, Pah," seru Ailee.


"Loh, kok Mama sih? Tadi kan kalian sendiri yang mau ngebangunin Papa." Aza berpura- pura sedih karena dituduh anak- anaknya. Tapi Aiden dan Ailee malah merasa tak bersalah sama sekali, mereka menertawakan Mamanya.


"Mama lucu banget sih, kan Ailee sama kak Aiden cuma bercanda," ucap Ailee, ia mencubit kedua pipi Aza saking gemasnya.


"Karena kalian sudah ganggu Papa tidur, kalian Papa hukum. Sini cium Papa dulu," ucap Aksa menunjuk pipinya supaya anak- anaknya itu menciumnya.


"Hufftt, hanya cium saja, kan? Itu sangat mudah," seru Aiden. Ia lalu mengecup kedua pipi Aksa, begitu juga dengan Ailee.


"Terima kasih, baby twins." Aksa pun membalas ciuman anak- anaknya.


"Ehem...Ada yang belum cium Papa nih?" goda Aksa melirik Aza yang kala itu sedang mengecek ponselnya karena ada notifikasi pesan.

__ADS_1


"Ehem...Ada yang asyik sendiri nih," sahut Aiden mengikuti gaya Papanya.


"Apa?" Aza pura- pura tak tahu. Aksa, Aiden, dan Ailee menepuk kening mereka karena sang Mama sangatlah menggemaskan.


"Cium Papa, Mah. Ayooo..."


"Aduhh, bibir Mama sariawan nih nggak bisa cium Papah. Kalau cium kalian masih bisa...Muachh..." Aza lalu mencium Aiden dan Ailee.


"Kenapa cium kita bisa tapi cium Papa nggak bisa?' tanya Ailee terheran- heran, tapi Aza malah terkekeh.


"Kan tadi Mama udah bilang kalau lagi sariawan nggak bisa cium Papa," elak Aza diselingi tawa kecil.


"Kalau begitu aku yang menciummu." Aksa pun bangkit dan langsung menghujani wajah Aza dengan kecupan. Aiden dan Ailee pun bersorak melihat Papa dan Mamanya.


"Ihh curang!" pekik Aza.


"Aku juga akan mencium Mama."


Aza berada di bawah kungkungan suami dan kedua anaknya. Ia tak bisa berkutik, mereka bertiga semakin gencar menciuminya.


"Yeee kita menang, Mama kalah," sorak Aiden dan Ailee.


"Huffttt, tiga lawan satu. Jelas kalian dong yang menang."


*****


"Hubby, di mana baby twins?" tanya Aza sembari menata makanan di meja makan.


"Loh, aku kira mereka sudah ke sini tadi. Akan kulihat sebentar ya," seru Aksa. Ia pun berbalik ke atas lagi menjemput anak- anaknya. Aza pun mengikutinya, takut jika terjadi sesuatu kepada anak- anaknya.


"Baby twins..." seru Aksa memasuki kamar Aiden dan Ailee.


"Kami di sini, Pah..." sahut mereka. Suaranya terdengar dari ruang televisi di kamar mereka. Aksa dan Aza pun menuju ke sana. Terkejutlah mereka mendapati Aiden dan Ailee yang masih memakai piyama dan asyik menonton Spongebob Squarepants. Mereka belum mandi dan bersiap pergi ke sekolah.



"Astaga! Kenapa belum mandi, Sayang?"


"Memangnya sudah jam berapa, Mah?" tanya Aiden.


"Sudah setengah tujuh, Sayang," jawab Aksa.

__ADS_1


Dua anak itu pun saling pandang mendengar jawaban sang Papa, mereka lalu berteriak dan berlari menuju ke kamar mandi.


"Aaaaaa kita bisa terlambat!"


"Ailee jangan berteriak lagi, itu malah akan memperlambatmu," seru Aiden sembari melepas piyamanya.


"Ini semua salah Kak Aiden, coba kalau tadi nggak ngajak nonton tv pasti kita tak akan terburu- buru begini."


"Kenapa jadi menyalahkan aku!"


Aiden dan Ailee berdebat kecil sama seperti biasanya, Aza menggelengkan kepalanya melihat mereka yang mandi dengan mulut yang tak berhenti menggerutu saling menyalahkan. Sedangkan Aksa tertawa lepas, ia tak lupa mengabadikannya melalui ponsel. Sangat lucu.


*****


Devano dan Clara ikut berbahagia akhirnya rumah tangga Aksa dan Aza kembali normal. Mereka berdua sudah seperti biasanya, berjalan menuju ke ruangan dengan tangan yang saling bertaut.


"Ehem, ada yang baru baikan nih..." goda Clara.


"Gitu terus dong, kan enak dilihatnya. Nggak kaya kemarin, wajah kalian masam nggak enak pandang. Apalagi si Aksa tuh, tambah jelek kalau lagi marah," celetuk Devano, Aksa langsung melototkan matanya mendengar dirinya dijelek- jelekkan sahabatnya sendiri.


"Mau marah apa enggak bukannya suamiku tetap jelek ya?" seru Aza menggoda sang suami.


"Wahh bener juga tuh."


"Sayang, kenapa kamu malah ikut- ikutan sih..." rengek Aksa, semuanya pun menggelengkan kepalanya. Pak Presdir seperti anak kecil.


Aza bersyukur, suaminya benar- benar bisa dipercaya dan menjaga hatinya. Suaminya itu bisa membuat Bella jauh dengannya, dan sekarang wanita itu tak mendekati Aksa lagi. Jika ada pekerjaan, Devano lah yang akan menghadapi si Bella.


*****


Waktu belum menunjukkan kepulangan Aiden dan Ailee, Aza pun masih santai menyelesaikan pekerjaannya. Tapi, suara ponselnya berdering. Bu Ajeng, wali kelas Aiden dan Ailee menelepon.


"Selamat siang, Bu. Ada apa ya?" tanya Aza sopan.


"Apa?!" Ia memekik mendengar informasi dari guru itu. Anak- anaknya sedang dalam masalah, ia pun diminta segera ke sana untuk menyelesaikannya.


"Iya, Bu. Saya akan segera ke sana!"


Aza langsung berlari meninggalkan ruangannya, ia pun lupa berpamitan kepada Aksa terlebih dahulu. Ia panik, anak- anaknya tak pernah membuat masalah selama ini, tapi kenapa Bu Ajeng berkata seperti itu.


Sesampainya di sana, Aza langsung masuk ke ruangan kepala sekolah. Di sana sudah ada Pak kepala sekolah dan wali kelas Aiden serta Ailee. Tak hanya itu, Bu Devi pun juga sudah ada di sana.

__ADS_1


"Silakan masuk, Bu!" seru Bu Ajeng mempersilakan Aza masuk dan duduk di dekat anak- anaknya.


"Langsung saja, Bu! Anak kembar itu sudah mencelakai putra saya, lebih baik segera dikeluarkan dari sekolah ini daripada anak- anak lain menjadi korban juga!" seru Bu Devi membuat Aza terkejut.


__ADS_2