
Hari- hari melelahkan telah terlewati, weekend yang dinantikan pun akhirnya tiba juga. Meskipun hanya sesaat tapi cukup untuk merefresh otak serta pikiran dari pekerjaan yang melelahkan.
Meskipun weekend, wanita itu tetap bangun seperti biasanya dan melakukan pekerjaan rumah sama seperti hari- hari biasanya. Berbeda dengan suaminya, lelaki itu masih meringkuk di bawah selimut sembari memeluk guling.
"Hubby, ayo bangun. Mentang- mentang weekend malas- malasan gini," seru Aza menggelengkan kepalanya. Ia menarik selimut yang menutupi tubuh suaminya dengan paksa, membuat lelaki itu mendengus kesal.
"Istriku, sayangku, cintaku, kasihku, biarkan aku tidur lima menit lagi. Aku ingin menikmati hari liburku." Aksa kembali menarik selimut tadi tapi Aza tak memberikannya.
"Hubby, aku ingin bersepeda. Kamu nggak mau ikut nih? Devano dan mbak Clara juga akan bersepeda keliling kota loh," bujuk Aza.
Aksa melirik istrinya sekejap, masih tak percaya dengan ucapan istrinya tadi. Ia langsung bangun tatkala melihat istrinya yang tengah mengikat rambut dan sudah bersiap memakai kaos dan celana training.
Lelaki yang hanya memakai kaos dalam dan celana boxer itu langsung berlari ke kamar mandi untuk bersiap pula. "Tunggu sebentar, Za. Jangan pergi dulu!" teriaknya sebelum masuk ke kamar mandi.
*****
Aksa dan Aza sudah bersiap, mereka segera menuju ke garasi untuk mengambil sepeda. Dilihatnya, Aira dan Keno sedang yoga di taman depan. Dengan posisi Keno yang tak bisa diam mengikuti arahan sang istri. Aksa pun tertawa terbahak- bahak melihat Papanya yang menggerutu di belakang Mamanya.
"Mah, itu papa ngatain Mama terus," adunya kepada sang Mama. Sontak saja Aira langsung menoleh ke belakang menatap suaminta yang jadi salah tingkah dan berpura- pura mengikuti gerakannya tadi.
"Kamu mengataiku? Dasar nakal," seru Aira menjewer telinga Keno.
"Enggak sayang, mana ada aku ngatain kamu. Aksa tuh mulutnya nggak bisa diem," sahut Keno tak terima. Dalam hatinya ia terus saja merutuki anaknya yang telah mengadukannya kepada Aira.
Aksa dan Aza segera memakai helm dan mengayuh sepedanya meninggalkan kompleks perumahan secara beriringan. Mereka juga sesekali berceloteh dan kejar- kejaran.
"Hubby, dimana Devano dan Clara? Kenapa mereka nggak kelihatan?" tanya Aza dan menoleh mencari dua orang yang sedari tadi tak ditemukan.
"Entahlah, kita lanjut saja." Aksa tampak acuh, sebenarnya ia lebih suka bersepeda dengan Aza saja. Karena jika ada Clara dan Devano yang ada malah jadi kacau.
"Hubby, kita ke kontrakanku dulu yuk. Aku kangen Bang Jono."
"Siapa Bang Jono? Pacarmu? Kekasih gelapmu? Selingkuhanmu?" Aksa langsung menghentikan sepedanya membuat Aza ikut berhenti juga. Wanita itu hanya mendengus kesal, suaminya terlalu berlebihan.
"Tukang Bubur! Aku merindukan buburnya, sudah lama nggak makan."
Aksa pun tersenyum kecil, lega rasanya mendengar jika Bang Jono itu hanya tukang bubur. Jalanan ibukota cukup ramai, namun bukan ramai karena kendaraan bermotor ataupun mobil melainkan sepeda. Weekend seperti ini banyak sekali orang- orang yang memanfaatkan waktunya untuk berolahraga, salah satunya adalah bersepeda.
Puluhan sepeda dengan berbagai model dan warna memadati jalan raya. Tua, muda, bahkan anak kecil pun tampak antusias bersepeda mengelilingi ibukota.
Suara cempreng terdengar begitu jelas di pendengaran Aksa dan Aza. Dua orang yang tadinya dicari akhirnya pun datang. Aksa dan Aza menepi sejenak karena lelah mulai menghampiri, diikuti Devano dan kekasihnya yang ikut menepi pula.
"Kalian ini romantis banget sih, sepedaan saja bajunya couplean," ucap Aza memandang sepasang kekasih yang tengah memakai baju couple berwarna abu muda.
"Yang ada tuh Alay, bukan romantis," sahut Aksa yang kemudian mendapatkan toyoran dari Devano.
"Tadi aku juga mau bilang gitu, Hubby. Tapi nggak enak." Aza terkekeh mengucapkannya.
"Ah, dasar pasangan nggak bener. Bisanya cuma ngeledekin orang aja," ucap Clara melipat tangannya di dada, wanita itu jadi kesal.
"Bukannya ngeledek, tapi ngepasin."
Mereka berempat pun saling beradu mulut hingga membuat orang yang berlalu lalang di sekitar mereka terheran- heran. Ketika lelah telah sirna, mereka pun kembali melanjutkan mengayuh sepeda masing- masing.
Menuju ke kawasan yang tak seramai jalan raya tadi. Ya, mereka berkeliling di kawasan kontrakan Aza dulu. Wanita itu tampak senang, akhirnya bisa kembali ke tempat yang penuh dengan kenangan.
__ADS_1
Aza masuk sebentar ke rumah kontrakannya untuk melepas rindu. Kontrakan telah dibayar lunas oleh Aksa selama dua tahun, jadi Aza bisa keluar masuk kapan saja. Entah kenapa Aksa melakukannya, padahal kontrakan juga tak dihuni lagi.
Bernostalgia dengan rumah kontrakan yang penuh dengan kenangan bersama sang Papa membuat Aza kembali sendu. Sejak kecil hingga Papanya tiada mereka selalu bersama di rumah minimalis itu. Suka duka pun selalu dirasakan.
"Aku nggak akan ngijinin kamu ke sini lagi kalau malah membuatmu bersedih. Jangan sedih, jangan nangis," seru Aksa mengusap air mata istrinya yang hampir jatuh.
Aza menggeleng dan tersenyum getir, "Nggak kok, makasih sudah mengizinkanku ke sini lagi."
"Za, buburnya udah siap nih," seru Clara. Wanita itu sudah menyantap bubur ayam favorit di daerah itu.
Aza dan Aksa pun segera menghampiri mereka dan ikut bergabung duduk lesehan di atas tikar yang digelar oleh Bang Jono. Bubur ayam disajikan di mangkuk bergambar ayam jago khas indonesia itu masih mengepulkan uap panas.
Aza meniupnya sesekali sebelum memasukkannya ke dalam mulut. Begitu pula dengan Aksa, lelaki itu mengaduk dan mencampur seluruh bahan yang ada.
"Hubby, jangan diaduk! Nggak enak kalau diaduk gitu," seru Aza. Ia sangat tak suka melihat bubur Aksa yang telah bercampur rata.
"Justru kalau nggak diaduk tuh nggak enak, sini aku adukin punya kamu." Aksa merebut mangkuk Aza tapi wanita itu menolak, ia tak suka memakan bubur ayam jika diaduk.
"Aku setuju sama Aksa sih, coba deh Za diaduk buburnya. Lebih nikmat kok," timpal Devano.
"Enakan nggak diaduk dong," kini Clara menimpali, ia berpihak pada Aza. Bubur yang diaduk menjadi tak sedap baginya. Tampilannya juga jadi tak menarik.
Bang Jono yang melayani pembeli lain dan mendengar perdebatan mereka antara tim diaduk dan tak diaduk pun terkekeh. Sudah sering ia mendengarkan pembelinya berargumen seperti itu. Padahal, diaduk ataupun tidak rasanya tetaplah sama.
"Sudah- sudah, kalian itu ribut saja dari tadi. Diaduk atau enggak itu kan sama aja," seru Bang Jono.
"Beda!" Jawab empat sekawan itu serempak. Bang Jono pun mendelik, ia melanjutkan melayani para pembelinya.
Bubur nikmat yang tadi sempat menjadi perdebatan pun akhirnya tandas. Mereka menghabiskannya dengan mulut yang tak bisa berhenti berdebat. Air mineral yang mereka bawa masing- masing menjadi penetral mulut.
"Karena bubur buatan Bang Jono itu dibuat dengan cinta, iya kan, Bang?" ucap Aza meminta persetujuan Bang Jono.
Lelaki paruh baya yang duduk bersender di gerobaknya pun langsung berdiri dan mengangguk antusias. "Iya atuh, apalagi kalau buat neng Aza. Cintanya plus plus," ucap Bang Jono seraya menyilangkan jempol dan jari telunjuknya membentuk love ala opa- opa Korea.
Aza pun membalasnya, "Terima kasih, Bang Jono."
"Apa- apaan kalian ini? Bisa- bisanya begitu, nih ada suaminya." Ucapan Aksa ini menggelakkan tawa semuanya. Bang Jono pun juga terkekeh, ia semakin ingin menggoda Aza supaya Aksa semakin cemburu.
"Gitu aja kok cemburu sih Nak Aksa, saya sama neng Aza sudah biasa seperti ini."
"Lanjutin Bang, biar Aksa semakin terbakar," timpal Devano terkekeh.
Usai bercengkrama dan bercanda ria melepas rindu selama berbulan- bulan tak berjumpa, Aza sudah merasa cukup untuk hari ini. Rindunya dengan rumah dan kenangan sang ayah telah terobati. Ia dan yang lain pun kembali mengayuh sepeda pulang ke rumah masing- masing.
Dua pasangan itu berpisah di tengah jalan karena arah ke rumah berbeda. Aza dan Aksa mengayuh sepedanya pelan membelah jalanan yang sudah mulai padat dengan mobil dan kendaraan lain.
"Hubby..."
"Iya? Kenapa?"
"Dulu kamu bilang sama aku kalau akan mencari Mama kandungku bukan? Lalu, apakah kamu sudah menemukannya?" Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Aza, entah kenapa ia jadi penasaran dengan Mamanya.
Aksa terdiam sejenak, ia sudah berjanji untuk tidak memberitahukan hal ini kepada Aza terlebih dahulu dan menunggu waktu yang tepat. Tapi ia merasa ini sudah saatnya Aza mengetahui semuanya. Baiklah, sedikit demi sedikit Aksa akan menjelaskannya.
"Kalau aku menemukannya bagaimana? Apa kamu akan tetap menerimanya apapun alasan yang ia berikan?"
__ADS_1
Aza menoleh ke arah suaminya dan tetap mengayuh sepedanya. "Apa kamu benar- benar menemukannya? Apa dia masih hidup?" tanya Aza dengan mulut bergetar dan sebisa mungkin menahan tangisnya.
Aksa mengangguk dan tersenyum tipis.
"Siapa?"
"Mama Anandhi, dia itu sebenarnya Mama kandungmu."
Kayuhan Aza mulai pelan, wanita itu bahkan berhenti mengayuh seketika. Keseimbangannya hilang dan akhirnya dia terjatuh. Ia terduduk dengan tatapan kosong. Air mata mulai mengalir membasahi pipinya, bukan sakit karena luka di lututnya tapi mengetahui kenyataan yang memilukan. Kenapa harus Anandhi yang menjadi Mamanya Aza? Berbagai pertanyaan berputar dan berenang di kepala Aza.
Aksa langsung membanting sepedanya dan menghampiri istrinya. Ia mengusap debu yang yang mengotori kaki dan tangan Aza. Wanita itu tak bergeming meskipun Aksa tak sengaja menyentuh luka di kakinya.
"Kenapa harus wanita itu?" Aza terisak memeluk suaminya. "Kenapa sampai sekarang dia nggak bilang kalau dia Mama kandungku? Apa dia benar- benar tak menginginkanku?"
Jari telunjuk Aksa membungkam mulut wanita yang sedang menangis tersedu supaya tak berbicara yang tidak- tidak lagi.
"Ssttt, bukan seperti itu. Dia sangat menyayangimu, dia hanya membutuhkan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Mama Anandhi hanya takut jika kamu membencinya, dia nggak mau kehilangan kamu lagi."
"Hubby, sekarang aku benar-benar membenci wanita itu. Ibu yang buruk! Yang tega meninggalkan anaknya sejak bayi, dia tak menyayangiku, dia tak menginginkanku dan papa. Aku membencinya huu...huuu...huuu...."
Aksa mendekap istrinya yang semakin tersedu- sedu. Ia merutuki dirinya sendiri karena telah mengatakannya. Harusnya ia tak mengatakan dan pasti Aza tak akan sesedih ini.
"Dia ibu yang buruk! Aku membencinya!"
"Tak ada ibu yang buruk, semua ibu di dunia ini sangatlah luar biasa."
"Dia sangat buruk! Apa dia mengerti penderitaan aku dan papa selama ini? Kami selalu menderita, kami sangat menginginkan sosok wanita di hidup kami. Tapi dia malah pergi dan tak pernah kembali barang sejenak. Dia begitu jahat!" Amarah Aza semakin menjadi- jadi. Ia langsung menaiki sepedanya dan melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan suaminya.
Aksa langsung mengikutinya di belakang, sulit mengejarnya karena Aza semakin mengayuh dengan cepat.
"Aza, pelan- pelan. Kamu bisa jatuh lagi nanti!"
Teriakan suaminya tak diindahkan. Hatinya masih dalam keadaan tak baik- baik saja. Ia tak tahu harus bagaimana, senang atau sedih karena mengetahui siapakan Ibu kandungnya. Aza semakin yakin jika selama ini Anandhi berbuat baik dengannya hanya ingin menebus kesalahannya. Tapi sayang, Aza tak akan bisa memaafkannya kali ini. Sudah cukup, tak akan lagi dirinya berbincang ataupun menemui Anandhi lagi.
Aza langsung memarkirkan sepedanya di garasi dan berlalu ke kamarnya. Aksa selalu mengikutinya di belakang namun tetap diacuhkan. Aza hanya ingin sendiri untuk saat ini.
"Kamu apain Aza? Kenapa dia terlihat marah?" tanya Aira menghentikan langkah anaknya yang hendak mengejar Aza.
"Sudah Mama bilang kan, kamu itu nggak boleh nyakitin hati wanita! Sekarang jelaskan sama Mama kenapa Aza sampai seperti itu?" Aira begitu marah dengan anaknya saat melihat Aza yang menangis dan terlihat marah.
"Aksaaa," teriak Aira karena anaknya itu malah berlalu tanpa sepatah kata pun yang terucap. Aksa sendiri bingung harus menjelaskannya darimana.
"Aza sayang, Aza cantik, Aza baik, Aza anak manis, bukain pintunya buat suamimu yang tampan ini dong," seru Aksa karena kamarnya terkunci dari dalam. Kunci cadangan pun ia letakkan di laci lemarinya jadi tak bisa membukanya.
"Pergilah, Hubby. Biarkan aku sendiri!" sahut Aza berteriak.
"Ini kan kamarku, kenapa kamu malah ngusir aku?"
Mendengarnya, Aza semakin tambah kesal. Ia lalu membukakan pintu untuk suaminya. Dilihatnya, lelaki itu tersenyum kemenangan membuat Aza ingin mencabik- cabiknya dengan garpu.
Aza langsung masuk ke kamar mandi, mencoba menenangkan pikirannya dengan air dingin yang mengalir. Ia berdiri dibawah shower yang mengalirkan air dan membiarkan tubuhnya yang masih terbalut bajunya tadi basah. Air mata bercampur dengan air yang mengalir dari shower, ia masih merasa sedih mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Tanpa disadari, suaminya itu berdiri di belakangnya dan ikut membasahi tubuhnya. Ia memeluk istrinya dari belakang dan mengecup lehernya. "Tak perlu sedih dan jangan membenci Mama Anandhi. Dia pergi karena suatu alasan, dengarkan dulu alasan darinya. Baru kamu boleh memutuskan untuk membenci atau tidak," bisik Aksa.
Lelaki itu perlahan membuka baju istrinya, mengecup setiap inchi tubuhnya dan menginginkan hal lebih.
__ADS_1
Aza begitu kesal dengan Aksa, bagaimana bisa di saat seperti ini lelaki itu tetap menginginkan enak- enak. Bukan Aksa namanya jika tak bisa melucuti pakaian istrinya dan mengajaknya enak- enak. Sungguh, Aza sangatlah kesal dengan suaminya. Sangat menyebalkan!