My Presdir

My Presdir
Satu Kecupan


__ADS_3

Aza dan Aksa telah sampai di rumah Anandhi, tapi orang yang dicari tak ada di rumah. Sepertinya memang sengaja untuk menghilang karena dia pasti yakin jika Aksa dan Aza akan menemuinya.


"Aku sudah menyuruh orang untuk melacak asal- usul Tante Anandhi, kita tunggu saja anak buahku bekerja," ucap Aksa.


"Baiklah..."


Aksa melajukan mobilnya kembali ke rumah karena tak ada tempat yang ingin dikunjungi lagi. Tak perlu waktu lama untuk sampai di rumah, karena jarak rumah Anandhi ternyata cukup dekat dengan rumah Aksa.


*****


Aksa merasa lega karena Opa dan Oma berlipstik tebal sudah tak ada di rumahnya. Ia merasa lebih bebas sekarang.


"Oma sama Opa sudah pulang kan, Mah?" tanya Aksa kepada Mamanya yang kala itu tengah membaca tabloid di depan kolam renang.


"Terus suamimu mana, Mah? Kok nggak kelihatan?" tambah Aksa lagi.


"Sudah, kenapa memangnya? Papa ke perusahaan sebentar. Oh ya, sayang, sini duduk samping Mama." Aira menyuruh menantunya duduk di ayunan samping dirinya.


"Terus aku duduk dimana?" Aksa kebingungan karena ayunan sudah penuh.


"Ish kamu ini, pergi sana ke dalam. Mama mau ngobrol berdua aja sama Aza."


"Nggak mau, aku mau berenang aja." Aksa langsung melepas kaosnya menyisakan kaos dalam saja dan langsung menceburkan dirinya ke kolam renang.


Sedangkan Aira dan Aza mengobrol ke sana kemari, bercanda lalu menertawakan apa yang mereka bicarakan. Ternyata Mama Aira enak juga kalau diajak ngegosip, pikir Aza.


"Aduh, Mama lupa. Mama ada janji sama temen, Mama pergi dulu ya..." pamit Aira.


"Iya, Mah. Hati- hati di jalan..."


"Aksa, Mama pergi dulu. Jangan nakalin menantu Mama!" teriak Aira karena takut Aksa tak mendengarnya.


"Iya..."


Aksa menyudahi berenangnya, ia duduk di tepi kolam dengan kaki yang tetap menjuntai di air. Aza mengulurkan handuk kecil untuk mengeringkan rambut suaminya.


"Makasih..." ucap Aksa mengambil handuk dari tangan Aza, tapi ia juga menarik tangan wanita itu dan menceburkannya ke kolam renang.


"Aksaaaaa !!!" Aza yang kesal pun memercikkan air ke wajah Aksa dan menarik kedua kaki lelaki itu hingga kembali tercebur ke kolam.


"Jahil banget sih, Za. Rambutku kan udah mulai kering, basah lagi deh!" gerutu Aksa.

__ADS_1


"Siapa yang jahil duluan?" Aza melototkan matanya dan berkacak pinggang. Mereka terus saja beradu pandang di tengah kolam renang.


"Dahlah males!" Aksa berlalu menuju ke tepi. Aksa memang seperti itu orangnya, jahil tapi jika dibalas tak mau. Menyebalkan!


"Heyyy tunggu, kita belum selesai!" Aza mencoba menghentikan langkah Aksa, tapi ia kepleset.


"Aww sakit..." pekiknya, ia gelagapan karena tenggelam dan tak bisa bangun.


"Zaa..."


Aksa langsung mengajak wanita itu berdiri, ia sangat panik melihat Aza yang menahan sakitnya. "Makanya hati- hati! Kakimu pasti terkilir!"


"Huhuhu, sakit sekali kakiku..." ucap Aza berpura- pura. Ia sebenarnya hanya pura- pura terpleset saja.


"Ayo ke tepi, aku akan memanggilkan tukang urut untukmu," Aksa menuntun istrinya berjalan, tapi Aza pura- pura terjatuh lagi dan mengaduh.


"A- aku nggak bisa jalan lagi, kakiku sakit sekali huhuhu..."


"Gendong..." Aza mengulurkan tangannya bersiap naik ke punggung Aksa. Lelaki itu hanya menurut, ia menggendong istrinya.


"Kakiku sebenarnya nggak sakit, aku membohongimu," bisik Aza tertawa renyah. Aksa langsung berhenti dan bersiap menurunkan istrinya.


"Nggak mau turun, ayo gendong aku sampai ke sana!" Aza tertawa puas karena Aksa menurut dengannya, jarang- jarang kan Aksa seperti itu.


Aksa tak jadi marah mendengarnya, ia malah tersenyum senang.


"Maaf Mas Aksa, Mbak Aza, ini saya tadi diminta Nyonya Aira untuk membawakan jus jeruk dan camilan untuk kalian," seru Sandra sembari meletakkan nampan berisi jus jeruk dan camilan di samping Aza dan Aksa.


"Kamu siapa? Pembantu baru?" tanya Aksa karena dirinya memang tak tahu pembantunya itu.


"Saya Sandra, baru saja datang dari kampung cucunya Bi Ijah. Saya akan menggantikan nenek bekerja di sini sembari kuliah. ," ucap Sandra sopan.


"Hai Mbak Sandra, Salam kenal," sapa Aza dengan riangnya.


"Halo, Mbak Aza. Salam kenal juga hehe..."


"Ohh jadi kamu cucunya Bi Ijah, ya sudah semoga kamu betah ya," ucap Aksa.


Sandra mengangguk dan tersenyum, wanita seumuran dengan Aza itu lalu pergi.


"Sama kaya aku dulu, kuliah sambil kerja," celetuk Aza.

__ADS_1


"Aku juga nggak tahu kenapa dia bekerja, padahal uang kuliah anak cucunya Bi Ijah dan Mang Dadang itu ditanggung Opa Bram semua. Karena mereka itu sangat berjasa bagi keluarga Sanjaya."


"Mungkin dia pengen uang jajan lebih," jawab Aza.


"Ayihhh..." pekik Aza karena Aksa mengganggunya saat minum. Lelaki itu menggoyangkan gelasnya dan Jus jeruk pun tumpah membasahi tubuh Aza.


Aza mencubit perut Aksa, "Rasakan ini..."


Aksa malah tertawa lepas melihat istrinya yang sedan kesal itu. Aza tak hanya mencubit, tapi juga memukul dada suaminya.


"Menyebalkan! Menyebalkan! Menyebalkan !!!"


"Heyyy, heyyy, berhentilah memukuliku. Nanti kalau aku mati kamu mau jadi janda muda?"


Aza berhenti tapi tak menanggapi suaminya, ia melipat tangannya di dada, dan mencebikkan bibirnya. Aksa menangkup kedua pipinya hingga wanita itu menghadapnya.


Cup...


Satu kecupan mendarat di bibir Aza, cukup lama Aksa menciumnya. Wanita itu hanya diam karena tak bisa berbuat apa- apa. Tubuhnya dikunci rapat- rapat.


Aza memejamkan matanya menikmati sentuhan lidah suaminya yang gencar mengabsen bagian mulutnya. Aza terbuai akan permainan suaminya.


"Hattccihhhh..." Keno yang sedari tadi mengintip mereka tak sengaja bersin, ia jadi kelabakan karena gara- gara dirinya Aza dan Aksa melepas ciuman mereka.


"Eh, Papa nggak lihat kok tadi. Papa cuma mau cuci tangan hehe..." Keno mendekat ke arah kolam dan mencuci tangannya. Ia benar- benar gugup dan merasa bersalah, kemudian dirinya pergi membiarkan Aksa dan Aza berdua lagi.


"A- aku akan segera ganti baju, permisi..." Aza ikut gugup dibuatnya, ia langsung pergi ke kamar.


Aza sudah selesai mengganti bajunya ketika Aksa masuk ke kamar. Ia masih merasa malu akan kejadian tadi. Aksa semakin mendekatinya, ia menarik dagu Aza supaya menatap ke arahnya.


"Kenapa sih?" tanyanya mengernyitkan dahi.


"Ah enggak, oh iya aku belum menyiapkan bajumu. Tunggu sebentar ya..." Aza langsung masuk ke ruang ganti mengambilkan satu stel baju untuk suaminya.


Ia memekik kaget karena Aksa berdiri tepat di belakangnya, tersenyum jahil membuat Aza semakin dag dig dug.


"Ini bajumu!"


Aksa langsung menutup jalannya supaya istrinya tak bisa lewat. "Jangan malu, kamu harus terbiasa dengan adegan tadi. Karena aku akan selalu ketagihan dengan bibirmu ini..." bisik Aksa sembari mengusap bibir Aza dengan ibu jarinya. Lelaki itu tertawa puas melihat istrinya yang semakin pucat mendengar ucapannya.


"Lucu sekali, aku kan jadi semakin tertarik untuk menggodamu!" Hidung Aza selalu menjadi sasaran Aksa. Entah apa yang membuat lelaki itu begitu suka dengan hidung istrinya.

__ADS_1


"Apaan sih!" gertak Aza sembari menepis tangan Aksa yang mencubit hidungnya.


__ADS_2