My Presdir

My Presdir
Sangat Memalukan


__ADS_3

Debaran jantungnya begitu cepat, rasanya benda yang hanya sebesar kepalan tangan itu hendak keluar dari tempatnya. Ia merutuki dirinya sendiri karena telah mencampurkan racun ke dalam makanan Aza. Ia begitu bodoh, niat liciknya tentu saja akan mudah diketahui.


Ia berada di kamarnya, terus berjalan mondar- mandir mengitari ranjangnya yang berukuran queen size itu. Dan sesekali duduk, cemas dan bingung. Hendak bagaimanakah sekarang. Yang pasti, keluarga Sanjaya tak akan melepaskannya dengan mudah.


"Arghhh, aku nggak mau dipenjara," pekiknya. Ya, itu yang sedari tadi dia pikirkan. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, bagaimana nasibnya nanti jika dirinya dipenjara.


"Nggak! Pokoknga nggak mau dipenjara." Tania menggeleng- gelengkan kepalanya. Sebuah ide terbesit di pikirannya. Ia segera membuka ponselnya memesan tiket pesawat online menuju ke Singapore.


Usai tiket siap, ia segera mengemas barang- barangnya. Asal memasukkan apa saja ke dalam koper yang tak begitu besar. Paspor dan Uang, itu yang terpenting saat ini. Usai semua barang yang ia perlukan untuk waktu yang belum bisa ditentukan telah dikemas di dalam koper, ia kembali membuka ponselnya. Memesan taksi online untuk mengantarkannya ke Bandara.


Suara mesin mobil berhenti di depan rumahnya terdengar, ia pun mengintipnya sejenak dari jendela kamarnya yang tertutup tirai tipis. Plat mobilnya bukan seperti plat mobil yang berada di status pemesanannya. Dan tak hanya satu mobil saja yang berada di halaman rumahnya itu, tetapi ada tiga mobil. Satu mobil sangat ia kenal. Ya, mobil ayahnya.


Ayahnya turun dari mobil dan masih mengenakan jas putih miliknya. Diikuti Keno dan lima orang lagi yang berpakaian serba hitam, postur tubuh tegap dan besar. Sudah bisa dipastikan jika mereka adalah bodyguard keluarga Sanjaya. Lima lelaki itu lalu berpencar menuju ke sudut rumah Alfa.


"Tuhan, tolong selamatkan aku," lirih Tania. Ia sangat kebingungan sekarang, kalaupun kabur pasti tetap akan tertangkap. Tapi kalau tidak, Ah dia pasti akan dipenjara.


Ceklek


Pintu kamarnya terbuka lebar, masuklah Alfa dan Keno dengan raut wajah yang datar. Bisa dipastikan jika mereka menyimpan amarah yang bertubi- tubi. Terutama Alfa, wajahnya yang merah, amarahnya akan meledak kapan saja.


Tania tak bisa berkutik, ia hanya bisa meremas tirai yang menutupi jendela kamarnya. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya bergetar hebat. Suasana yang mencekam membuatnya semakin takut.


"Kamu pasti sudah tahu kenapa saya mendatangimu secara tiba- tiba," seru Keno sembari melayangkan senyum devil menatap anak temannya itu ketakutan.


Tania mendekat dan berlutut di bawah kaki Keno. Mencengkram kedua kaki itu dengan kuat dan tangan yang masih gemeteran. "Om, maafkan Tania. Saya memang salah, dan saya mengakuinya. Saya janji tidak akan berbuat seperti itu lagi. Saya mohon jangan penjarakan saya, Om."

__ADS_1


Keno tak menggubrisnya, ia melepaskan tangan Tania yang mencengkram kakinya dengan paksa. Dilihatnya, Tania sudah berurai air mata.


"Kau pikir memaafkan semudah membalikkan telapak tangan?!"


"Coba kau pikir lebih dalam lagi, apakah perbuatanmu itu bisa dimaafkan?! Sangat sulit untuk dimaafkan!" Teriakan Keno itu membuat Tania tersentak, air matanya semakin mengalir deras.


Alfa saat itu hanya bisa diam. Malu. Ya, bagaimana tidak malu, anaknya benar- benar jahat. Bisa- bisanya dia melakukan hal itu, hal yang mampu membunuh seseorang. Dan, orang itu adalah anak dari teman dekatnya sendiri. Ia tak habis pikir dengan anaknya itu. Ia tak pernah mengajarinya untuk berbuat hal keji semacam itu.


"Kau tahu? Aku sudah menganggapmu seperti anak kandungku sendiri, tapi apa yang kau perbuat? Benar- benar mengecewakan!" Keno kembali berteriak. Bayangan anak dan menantunya yang pucat pasi berkeliaran di benaknya membuat amarahnya semakin menjadi- jadi.


"Apa maksudmu memberikan racun dalam makanan menantu dan anakku? Jawab !!!"


"Maafkan aku, Om. Maafkan aku, huu...huu...huu..." Tania terus saja mengatupkan kedua tangannya memohon. Ia masih bersimpuh di lantai dan tak berani pindah dari posisinya saat itu.


"Aku tidak akan mengulanginya lagi, Om. Aku janji, aku benar- benar khilaf."


"Ku harap kau bisa menjauhi Aksa dan Aza, sampai dirimu berusaha melukai mereka lagi aku tak akan segan- segan membunuhmu!" Keno lalu keluar dari kamar itu setelah mengucapkan ancaman yang begitu mengena di hati Tania.


Alfa mengikutinya di belakang. Ia merasa bersalah akan tindakan sang putri. "Ken, kejadian ini benar- benar tak terduga. Aku sendiri juga tak menyangka jika anakku akan berbuat seperti itu," ucap Alfa mengatupkan kedua tangannya.


Keno tersenyum tipis sembari menepuk bahu Alfa. "Kehilangan orang yang dicintai memang bisa membutakan seseorang. Hal licik dan keji seperti ini pun bisa terjadi. Harusnya aku yang minta maaf. Aksa harus meninggalkan Tania karena tak ada cinta yang ia miliki, dan itu sebabnya Tania melakukan hal ini."


"Aksa tak salah. Ini semua memang di luar dugaan. Kisahnya hampir sama seperti kita dulu. Aku tahu jika cinta memang tak bisa dipaksakan, Aksa benar. Dia memang lebih pantas dengan wanita lain, bukan dengan putriku yang begitu jahat," lirih Alfa tersenyum getir.


"Semoga ini yang pertama dan terakhir Tania lakukan, semoga kejadian tak akan terulang lagi. Maaf, aku tetap membiarkan beberapa bodyguardku untuk tinggal di sini mengawasi kemanapun putrimu hendak pergi."

__ADS_1


"Tak apa, aku mengerti. Semoga Aksa dan Aza lekas membaik. Aku berterima kasih kepadamu karena tak memperkarakan ini ke ranah hukum."


Sepeninggal Keno dari rumahnya, Alfa langsung menghampiri anaknya yang masih tersedu- sedu. Mungkin wanita itu menyesali perbuatannya, tapi Alfa tak mempercayainya.


Alfa menarik lengan anaknya secara paksa dan menyuruhnya berdiri. Ia lalu mendorong Tania hingga terjatuh di kasurnya. "Benar- benar memalukan!" Bentaknya membuat Tania kembali berurai air mata.


"Kau tahu jika keluarga mereka sangatlah berarti bagi keluarga kita! Mereka sangat baik! Tapi kenapa kau tega mencelakai Aksa dan istrinya? Apa yang berada di pikiranmu?!" bentak Alfa sembari mencengkram kuat rahang anaknya.


"Maafkan Tania, Pah. Tania hanya sakit hati, Tania khilaf. Aku tak akan melakukan hal seperti ini lagi."


"Aku tak akan semudah itu mempercayaimu lagi. Ponsel, kartu kredit, dan semua fasilitas dariku akan aku tarik! Kau juga tak boleh kemana- mana lagi!"


Alfa kemudian keluar setelah mengambil donpet, ponsel, dan barang- barang penting lainnya. Tak lupa ia mengunci pintu kamar Tania membuat anaknya itu kebingungan. Terus menggedor dan berteriak tapi tak ada yang menggubris.


.


.


.


.


.


Correct me if I have typo❤️

__ADS_1


__ADS_2