
Banyak foto telah terambil dan tersimpan di ponsel itu. Aza dan Anandhi terlihat sangat dekat meskipun baru saja bertemu.
"Ihh, lucu ya kita," ujar Anandhi ketika melihat foto mereka dengan berbagai macam pose.
"Iya, Tante. Yang ini sangat lucu," ucap Aza tertawa. "Ehh, kalau dilihat- lihat wajah kita kok hampir mirip ya. Hidung kita, bentuk mata kita, hampir sama," sambung Aza.
"Kamu itu mirip sekali dengan anakku sewaktu kecil. Anakku juga pasti sudah sebesar kamu sekarang." Wajah Anandhi kembali sendu, ia menyunggingkan senyum getir.
"Dimana anak tante?"
Anandhi tak menjawab, ia berhambur memeluk Aza. Wanita itu menangis saat memeluk Aza.
"Bolehkah aku menganggapmu anakku?" tanya Anandhi terisak.
"Tentu saja boleh. Justru aku sangat senang, aku tak punya Mama sejak aku bayi. Aku menginginkan kehadiran Mama, terima kasih Tante."
Sebuah belati seakan menusuk dada Anandhi. Wanita itu jadi yakin jika Aza adalah anaknya. "Sepertinya kamu memang anakku, aku akan mencari tahu tentangmu," batin Anandhi.
"Bolehkah aku memanggilmu Mama?"
"Tentu saja, aku Mamamu sekarang," jawab Anandhi tersenyum manis. "Sepertinya aku benar- benar Mamamu. Kamu sangat mirip denganku, namamu juga sama dengan nama yang aku berikan kepada bayi yang aku lahirkan dulu," tambah Anandhi dalam hatinya.
"Loh, kok kalian berpelukan gini sih?" tanya Aksa membuat Anandhi dan Aza melepas pelukan mereka.
"Eh, maaf Nak Aksa." Anandhi mengusap air mata yang sempat turun. Wanita itu segera berpamitan kepada Aksa dan Aza.
Tinggalah, mereka berdua saja di sana. Aksa duduk di samping wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
"Kalian kenapa sih tadi kok pelukan dan Tante Anandhi menangis? Kamu nakalin dia ya?" Aksa masih penasaran dengan adegan tadi.
"Enak aja! Aku tuh nggak nakal, nggak kaya kamu!" tukas Aza menyikut perut Aksa.
"Oh ya? Lalu kenapa Tante itu bisa menangis?"
"Inget anaknya. Mungkin anaknya telah meninggal atau apa, Mama Anandhi nggak jawab pertanyaan aku tadi."
"Mama?"
__ADS_1
"Dia Mamaku sekarang. Dia sangat senang saat aku memanggilnya Mama. Ah, andai saja Mamaku masih ada, mungkin dia akan secantik dan sebaik dia."
"Aku akan membantumu mencarinya. Berikan saja beberapa informasi tentangnya. Siapa tahu dia masih hidup," ucap Aksa penuh dengan kesungguhan.
"Nggak perlu. Tak ada informasi apapun tentang Mama, bahkan namanya saja aku tak tahu, karena Papa benar- benar tak pernah menceritakannya. Papa sangat sedih ketika aku mencoba bertanya, dan akhirnya aku mengalah tak bertanya lagi."
"Aku akan tetap mencari tahu keberadaan calon Mama mertuaku," ucap Aksa. Ia mengecup kening Aza dan pergi meninggalkannya. Aksa malu karena telah melakukan hal itu dengan Aza.
Aza pun sama, ia juga tersentak saat Aksa menciumnya tiba- tiba.
"Aksa!!!" Aza mengejar Aksa yang berlari meninggalkan ruangannya. Tapi Aksa malah semakin cepat berlari, untung saja Aza tak kehilangan jejaknya.
"Apa, Za?" tanya Aksa tergelak melihat calon istrinya itu terengah- engah.
Mereka sampai di atas gedung. Pemandangan terlihat sangat indah dari sana. Hemparan gedung- gedung tinggi terpampang jelas. Kendaraan berlalu lalang pun masih terlihat. Angin sepoi- sepoi menyibakkan rambut Aza yang kala itu terurai.
Aksa mendekat, ia melepas ikat rambut yang berada di pergelangan tangan Aza dan mencoba mengikat rambut wanita itu. Aza terkesiap, tapi ia membiarkan Aksa berbuat semaunya.
"Sudah, sekarang nggak akan terbang- terbang lagi," ucap Aksa.
"Kok kamu bisa ikat rambut sih?" Aza heran kenapa Aksa bisa mengikat rambut rapi bahkan tanpa sisir yang membantunya.
Jawaban Aksa membuat Aza iri. Aksa memiliki Mama sejak kecil, lelaki itu sangat beruntung mendapatkan kasih sayang yang sudah seharusnya didapatkan. Tak seperti dirinya.
"Enak ya jadi kamu. Keluargamu utuh, semuanya menyayangimu. Papa, Mama, Kakek, Nenek, semuanya kamu punya," seru Aza tersenyum getir.
"Sedangkan aku? Aku hanya punya Papa sejak kecil, dan sekarang tinggal aku sendiri saja di sini. Rasanya hampa..."
"Itu dulu, sekarang semua yang aku miliki akan kamu miliki juga. Mama, Papa, Opa, dan Oma berlipstik tebal juga akan menjadi keluargamu," ucap Aksa merangkul Aza.
"Oma berlipstik tebal?"
Aksa mengangguk, "Oma Maria dan Oma Mira kan kalau pake lipstik tebel. Satu lipstik mungkin akan habis selama dua hari saja saking tebelnya."
Aza tergelak mendengarnya, Aksa memang cucu yang menyebalkan.
"Dulu, aku pernah menyembunyikan lipstik mereka supaya tak memakainya dan tak berbekas ketika menciumku."
__ADS_1
"Lalu?"
"Ya aku dimarahin deh, mereka langsung beli lipstik banyak dan menyembunyikannya di tempat yang aku nggak tahu. Biar nggak aku sembunyiin lagi katanya," sambung Aksa tergelak.
"Dasar Nakal!"
Aza kembali tertawa, Aksa selalu bisa menghilangkan kesedihannya dengan canda tawa lelaki itu.
*****
Senja menyapa. Duduk melamun di kursi depan rumah kontrakannya, menatap langit yang sebentar lagi akan menggelap. Semilir angin menusuk pori- porinya. Teh hangat di tangannya, ia dekap supaya hangatnya menjalar ke tubuhnya.
Meskipun dalam keadaan santai dan menenangkan, hatinya tetap gundah dan resah. Pernikahan akan digelar besok pagi, meskipun belum mempunyai rasa dengan lelaki itu, tapi jantungnya berdegup cepat tatkala membayangkan pernikahan besok.
Apakah keputusannya menikah dengan Aksa sudah tepat? Lagi- lagi pertanyaan itu berkeliaran dibenaknya.
"Ahhh, jantungku..." Tangannya memegang dada, jantungnya semakin berdetak cepat.
Ia membuka ponselnya, membuka galeri dan mencari foto- foto yang masih tersimpan. Fotonya dengan sang Papa. Mereka terlihat bahagia, meskipun kesulitan selalu menghampiri. Aza selalu memeluk papanya ketika hatinya merasakan gelisah yang tak berujung.
"Papa gimana kabarnya? Maaf, Aza jarang ke makam papa sekarang. Tapi do'a tak pernah terhenti terucap, Pah..."
"Pah...Besok Aza akan menikah. Harusnya Papa yang menikahkan Aza. Calon suami Aza sangat baik, Pah. Papa pasti akan menyukai dirinya," lirih Aza menatap foto dirinya bersama sang Papa.
"Aza, Ayo segera masuk, sudah gelap!" ajak Rosni. Ibu dari temannya, Sarah. Aza tak tahu harus meminta tolong kepada siapa untuk menemaninya besok, hanya Sarah dan Ibunya lah yang bisa membantu.
"Iya, Bu. Sebentar lagi." Malam ini Aza tak akan tidur sendiri, melainkan dengan Sarah dan Bu Rosni. Mereka tak merasa direpotkan Aza sama sekali, justru mereka senang.
Udara semakin dingin, teh ditangannya pun telah tandas. Suara adzan maghrib telah menggema, ia segera mengambil air wudhu di keran depan rumahnya. Semoga perasaannya lebih tenang setelah bertemu Sang Ilahi. Meluapkan segala keresahan, berdo'a supaya semua akan baik- baik saja.
"Za, kamu deg- degan nggak sih mau nikah besok?" tanya Sarah antusias. Mereka bertiga berkumpul di depan televisi.
"Dikit," jawab Aza.
"Aduhh, kamu tuh beruntung banget deh bisa dapet Pak Presdir yang kece badai itu."
"Apaan sih, Sar."
__ADS_1
"Jodoh itu memang tak ada yang tahu, semoga Aza dan Nak Aksa langgeng terus ya sampai ajal menjemput," tutur Rosni.
"Amin." Entah kenapa Aza mengucap 'Amin' ia sangat menginginkan ucapan Rosni itu terkabul.