
Puas berkeliling di daerah Kintamani, mereka pun kembali ke Denpasar sore harinya. Lelah tapi menyenangkan, kesan yang mereka berdua rasakan. Aksa dan Aza kembali ke hotel terlebih dahulu untuk membersihkan diri mereka sejenak.
"Hubby, hari ini sudah selesai?" tanya Aza lesu. Ia enggan sekali untuk mengakhirinya, ia menginginkan hal yang lebih dari ini.
"Belum, kita akan berwisata malam nanti. Istirahat dulu sebentar."
"Benarkah, Hubby?" Aza sangat girang, ia mendekati suaminya yang berusaha melepas bajunya.
"Bener dong!"
Aza memendekap suaminya, "Terima kasih, Hubby. Kamu memang yang terbaik," ucapnya sembari menggesekkan hidung di dada suaminya.
"Za, harus berapa kali aku bilang kalau meluk itu nggak usah gesekin hidung. Dedeknya jadi bangun..."
"Nggak bisa, Hubby. Aku suka begini..." Aza semakin gencar menggesekkan hidungnya di dada bidang lelaki itu. Aksa hanya mendengus kesal, sesuatu di bawah sana semakin sesak.
*****
Usai membersihkan diri dan dibumbui adegan panas sedikit, kini Aksa dan Aza sudah bersiap untuk mengelilingi Bali lagi. Berkeliling di malam hari, menikmati suasana yang pasti akan jauh berbeda dari Ibukota.
"Hubby, aku sudah siap. Ayo berangkat!" ajak Aza kepada suaminya yang masih berbaring di ranjang. Aza menggelitik kaki Aksa supaya lelaki itu bangun.
"Mau ke mana?" Aku ngantuk sayang..." jawab Aksa dengan suara yang menahan kantuk.
"Hubby, katanya mau pergi jalan- jalan lagi?"
"Kita istirahat saja ya, aku lelah sekali." Aksa lalu kembali menutup matanya, menarik selimutnya setinggi dada, berusaha untuk kembali tidur lagi.
Sontak saja ini membuat Aza sedikit kecewa. Tapi ia juga tak bisa memaksakan suaminya, Aksa memang terlihat lelah hari ini. Apalagi lelaki itu menggendong dirinya berkeliling ke tempat- tempat yang menakjubkan.
"Baiklah, Hubby. Tidurlah..." Aza menjadi sendu, ia ikut membaringkan tubuhnya membelakangi suaminya. Ia terus saja menekankan pada dirinya jika ini bulan madu bukan liburan, jadi tak melulu untuk pergi jalan- jalan saja.
Aksa ingin tertawa saat itu juga, ia membalikkan tubuhnya melirik sang istri yang ternyata ikut tidur di sampingnya.
"Za, kamu marah?" tanya Aksa sembari menggoyang- goyangkan tubuh kecil istrinya.
"Enggak, Hubby."
"Jadi, kamu mau tidur nih? Yakin nggak mau keluar malam ini?"
Aza membalikkan tubuhnya menatap sang suami. "Kamu kan lelah, jadi lebih baik istirahat saja. Ayo tidurlah, aku akan menemanimu."
"Yahhh...padahal aku sudah berubah pikiran. Aku mau keluar, tapi kamu malah ngajak tidur. Ya sudah aku akan tidur lagi."
Aza langsung bangun mendengarnya, ia buru- buru merapikan rambutnya.
"Hubby, jangan tidur. Ayo kita keluar," ucap Aza kegirangan. Ia menarik suaminya supaya terbangun. Aksa terkekeh melihat tingkah istrinya yang seperti anak kecil, sangat menggemaskan.
__ADS_1
"Gemesin banget sih kamu itu!" Aksa mengacak- acak rambut istrinya saking gemasnya.
Mereka segera melaju ke suatu tempat. Aza hanya diam, terserah suaminya itu mau membawanya ke mana. Yang terpenting baginya adalah jalan- jalan. Beberapa saat kemudian mobil terhenti di Tirtha Dining Pecatu.
"Kita makan malam dulu ya," ucap Aksa. Lelaki itu lantas membuka sabuk pengamannya dan juga milik istrinya. Mata Aza masih menyapu tempat itu.
"Kenapa di sini? Padahal aku mau kulineran, keliling di pinggir jalan."
"Kita dinner di sini saja, suasananya sangat romantis. Kamu pasti suka, ayo turun."
Aksa menggandeng tangan Aza dan segera berjalan menyusuri tempat itu.
"Ah, aku melupakan sesuatu." Aksa lalu mengambil sesuatu dari celananya. Sebuah kain hitam panjang berada di sana.
"Kamu tutup mata ya, aku punya kejutan buat kamu." Aksa lalu mengikatkan kain itu menutupi mata istrinya.
"Hubby, kenapa harus ditutup segala sih? Kalau aku jatuh bagaimana?"
"Nggak akan, ayo jalan pelan- pelan aku akan menuntunmu."
"Hubby, aku takut gelap..."
"Sebentar saja sayang..."
Aza meremas tangan suaminya erat, takut jatuh. Ia juga mulai merasa pening karena gelap. Sungguh, Aza ingin mencabik- cabik suaminya saat itu juga. Sudah tahu istrinya itu takut gelap, masih saja menyuruhnya menutup mata.
"Dua langkah lagi."
Ya, benar dua langkah. Aksa menyuruh istrinya untuk berhenti. Dengan perlahan, ia mulai membuka penutup mata Aza tapi tetap menyuruhnya memejamkan mata.
"Nah, sekarang buka pelan- pelan."
Sesuai perintah, Aza membuka matanya perlahan. Yang ia temui hanya laki- laki menyebalkan yang tak lain Aksa. Lalu, apa kejutannya? Aksa lalu mengarahkan tangannya ke samping kiri. Aza langsung mengedarkan pandangannya di sana.
"Surpriseee !!!"
Sebuah meja yang siap dijadikan untuk dinner. Dengan taburan kelopak mawar merah menghiasi tempat itu. Lilin- lilin juga ikut menghiasi, membuat suasana tambah romantis. Pemandangan laut pun terlihat jelas dari sana. Alunan musik romantis membuat Aza semakin terkagum- kagum, ia menutup mulutnya dengan tangan karena masih tak percaya suaminya bisa se-romantis ini.
"Hubby..."
"Suka?"
Aza mengangguk antusias, "Sangat suka! Terima kasih, Hubby..."
Aksa kembali menggandeng tangan istrinya, mengajaknya untuk duduk di sana. Deburan ombak terdengar jelas di indra pendengaran. Aza menatap ke bawah, lilin- lilin di bawahnya sangatlah lucu.
__ADS_1
"Hubby..." lirih Aza ketika menyadari jika tempat yang ia pijaki itu terbuat dari kaca. Ia langsung berlari berhambur memeluk sang suami.
"Hubby aku takut, kenapa tempatnya seperti ini. Kalau nanti kacanya pecah bagaimana? Aaa aku nggak mau jatuh, aku nggak mau mati dulu, aku belum punya baby..." Aza seperti orang kesetanan saat ketakutan. Aksa hanya bisa tertawa terbahak- bahak melihat istrinya yang semakin lucu.
"Heyy, heyy...tenanglah! Ini aman, kita nggak akan jatuh kok."
"Aza, Sayang, ini tuh nggak papa!"
Aza terus menggeleng menutup matanya, ia tak mau membukanya karena takut menatap tempat itu. Ya, tempat yang Aksa pilih merupakan glass stage. Lokasi bersantap dinner romantis bersama orang tercinta yang menawarkan suasana ekstrim dan mempesona. Glass stage yang berada di Tirtha dining pecatu ini berada di pinggir tebing dan di desain menggunakan lantai kaca transparan. Terlihat ringkih, tetapi bangunan ini terjamin keamannya. Tentu saja ini membuat siapapun takut, begitu pula dengan Aza.
"Jadi nggak romantis deh kalau gini. Niatnya nyenengin tapi dia malah takut!" gumam Aksa.
Ia memang susah payah memesan tempat ini dan harus berdebat dengan seseorang tadinya. Karena tempat ini hanya menyiapkan satu meja saja saat malam hari agar menambah suasana romantis. Menikmati deburan ombak secara sempurna berpadu dengan pemandangan langit indah kawasan pecatu, Bali.
"Za, ayo buka matamu. Kita tuh nggak akan jatuh, lihat tuh pemandangannya bagus banget."
"Kita nggak akan jatuh beneran, kan? Tapi, Hubby...Lantainya ini kaca, dia bisa pecah apalagi badanmu kan besar dan berat. Dia malah akan lebih mudah pecah nantinya."
Aksa menggeleng- gelengkan kepalanya. "Kalau kamu nggak mau pecah berarti aku harus pergi dari sini dong? Baiklah, aku akan terjun ke laut saja biar kacanya nggak pecah."
"Jangan, Hubby!" Aza lalu membuka matanya. "Nggak boleh pergi pokoknya!"
"Ya sudah, kalau begitu kamu kembali ke tempat dudukmu. Kita nikmati makan malam di sini."
Aza enggan kembali ke tempat duduknya tadi, ia tetap ingin duduk berada di pangkuan sang suami. "Aku di sini saja boleh? A- aku takut, Hubby..."
"Baiklah."
Aksa benar- benar ingin terjun dari atas sana, niatnya romantis tapi gagal total! Padahal ia sudah membayangkan hal- hal romantis seperti di film- film. Tapi realitanya Aza malah takut dengan tempat ini. Tak masalah, dengan duduk memangku Aza seperti ini cukup romantis.
Aksa dengan susah payah menyuapi istrinya yang masih saja duduk di pangkuannya. "Ayo Aaaa..."
Aza menerima suapan dari suaminya. Ia melahapnya dengan mata yang masih tertutup, takut melihat ke bawah yang langsung menampakkan deburan ombak yang menari- nari. Pikirannya saat itu hanyalah bagaimana jika lantai kaca itu pecah, yang pasti akan langsung tercebur ke laut.
"Hubby, lain kali kalau mau mengajakku dinner romantis pilih yang lantainya biasa, jangan kaca seperti ini..."
"Tapi ini bagus loh."
"Iya bagus, tempatnya sangat romantis dan indah. Hanya lantainya saja yang tak bersahabat."
Aksa menghentak- hentakkan kakinya membuat Aza semakin ketakutan dan memeluknya erat.
"Hubby, jangan seperti itu! Nanti malah lebih cepat pecah lantainya!" teriak Aza. Aksa malah semakin gencar menghentak- hentakkan kakinya. Aza langsung berlari dari sana meninggalkan suaminya. Ia tak mau lagi ke sana.
Aksa pun mengikuti istrinya yang berlari seperti dikejar anjing, ia masih tertawa terpingkal- pingkal melihatnya.
Aza mengatur nafasnya tatkala memasuki mobil yang disusul suaminya. Ia memegang dadanya yang berdegup cepat seakan jantung yang ada di dalam sana hendak keluar dan ikut berlari.
__ADS_1
"Sudah- sudah, nggak akan ada apa- apa. Kamu sudah aman," ucap Aksa sembari memberikan satu botol air mineral ke tangan Aza. Lelaki itu lalu melajukan mobilnya meninggalkan Tirtha Dining Pecatu. Tempat dinner di Bali yang sangat romantis tapi tidak bagi Aksa dan Aza.