My Presdir

My Presdir
Tepi Kolam


__ADS_3

Suara music terdengar, Aksa benar- benar membuatkan pesta yang spesial untuk istrinya. Para karyawannya pun tampak bahagia mendapat makan gratis juga hiburan. Semuanya tampak menikmati band yang telah diundang Aksa. Bersorak sorai meluapkan segala rasa gundah di hati serta melepas penat setelah bekerja.


"Hubby, apa kamu udah nggak marah sama aku?" tanya Aza di sela makan mereka.


Lelaki itu membersihkan noda saus di bibir istrinya, "Enggak kok. Tapi kalau ada apa- apa tuh jangan disembunyiin."


"Enggak bermaksud menyembunyikan, tapi lupa aja mau bilang," sahut Aza yang semakin membuat suaminya kesal.


"Alasan saja kamu tuh!"


Aza terkekeh, ia lalu menyantap kembali hot dog yang masih menyisakan setengah itu.


"Oh ya, hampir lupa!" Aksa lalu mengambil kotak dan paper bag yang berisikan kado untuk istrinya.


"Semoga kamu suka ya, aku nggak tahu harus beliin apa. Itu aja aku sampe tanya ke Mama Aira," ucap Aksa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Aza lalu membuka kotak dan paper bag itu. Tas dan sebuah kalung berlian yang sangatlah indah dengan merk ternama.


"Hubby, cantik sekali kalungnya. Tapi, ini kan mahal. Kenapa kamu suka sekali sih buang- buang uang!"


"Harus berapa kali aku bilang, aku tuh nggak permasalahin uang. Lagipula itu nggak seberapa kok harganya, hanya beberapa ratus juta saja."


"Hubby..."


"Ya sudah kalau kamu nggak mau. Kamu bisa membuangnya," lirih Aksa. Lelaki itu terlihat sedih karena sepertinya Aza tak suka.


"Untuk apa dibuang? Aku akan menyimpannya, aku sangat suka. Terima kasih, Hubby." Aza mendaratkan satu kecupan di pipi suaminya.


"Sama- sama."



"Hubby, lain kali jangan beli lagi ya. Lebih baik belikan aku jajanan saja."


"Iya, nanti aku beliin sama gerobaknya sekalian. Kalau perlu suruh mereka mangkal di rumah."


"Boleh juga, Hubby," sahut Aza terkekeh.


*****


Aza begitu senang hari ini, meskipun tak ada sang papa sama seperti tahun sebelumnya, tapi kali ini masih ditemani dengan orang-orang yang menyayanginya. Usai ziarah ke makam papanya, ia dan sang suami tercinta kembali ke rumah sore harinya. Lelah, tapi sangat menyenangkan.


"Hubby, kok tumben pintunya ditutup?" tanya Aza tatkala menatap pintu yang tertutup rapat, padahal biasanya selalu terbuka lebar.


"Mana kutahu," jawab Aksa menaikkan bahunya.


Ceklek


Byuurrr


Pintu terbuka lebar, ada satu ember air dan tepung mengguyur mereka. Aksa dan Aza terdiam mengamati tubuh mereka yang basah berbaur dengan tepung terigu.

__ADS_1


"Hubby, kenapa kamu suka sekali mengerjai aku?! Dasar nakal!" Aza memukul dada Aksa, ia tahu betul ini ulah suaminya.


"Hey, tenanglah. Aku nggak ngerencanain ini. Aku cuma ngasih kejutan di kantor doang kok. Aku bener- bener nggak tahu!"


"Ah bohong! Aku tuh tahu kamu gimana! Kenapa suka banget ngerjain sih! Nah, rasakan ini!"


Aza menggerut kesal dan tetap mencubit serta memukuli tubuh suaminya. Aksa sendiri juga heran kenapa ada kejutan seperti ini.


Kemudian terdengar gelak tawa yang begitu keras. Keluarlah para keluarga mereka, Anandhi, Aira, Keno, opa, dan oma berlipstick tebal. Mereka lalu bersorak mengucapkan kata surprise dan menyanyikan lagu untuk Aza.


Aksa hanya mendengus kesal, gara- gara mereka semua dirinya jadi ambang kekesalan istrinya. Tubuhnya merah terkena cubitan Aza.


"Kalian tuh kalau ngasih kejutan buat yang ulang tahun aja jangan sama aku juga!" gertak Aksa yang kemudian berlalu meninggalkan mereka semua dan tak lupa mengajak istrinya.


Semuanya lantas terdiam mengamati Aksa dan Aza yang berlalu menuju ke kamar mereka. Kejutan serta pesta kecil- kecilan ternyata malah gagal.


"Yahhh, kok mereka langsung kabur sih," cicit Aira.


"Ini salah kita juga sih, harusnya tadi kita bilang sama Aksa dulu biar dia siap- siap," sahut Opa Bram yang diangguki oleh semuanya.


"Kita tunggu saja, mungkin mereka hendak membersihkan badan dulu," ucap Oma Mira.


Semuanya lalu menuju ke tepi kolam renang di mana tempat itu telah dihias dan bersiap untuk dijadikan tempat pesta ulang tahun Aza.


Balon, pita, dan perlengkapan pesta lainnya telah menghias tempat itu. Satu panggung kecil pun telah siap. Keno dan dua Opa mengecek alat music. Mereka bermaksud menghabiskan malam untuk bersenang- senang.


Untuk para wanita duduk di kursi yang telah ditata, menatap para pria yang masih asyik bermain music. Anandhi pun sudah bersiap dengan kue dan kado untuk anaknya.


Lama mereka menunggu Aksa dan Aza tapi tak kunjung datang juga. Semuanya jadi khawatir kalau mereka berdua benar- benar marah dengan kejutan tadi.


"Mungkin sebentar lagi mereka datang," jawab Aira.


"Biar aku yang menghampiri mereka," ucap Oma Maria.


"Aku juga akan ikut denganmu. Mari kita paksa cucu- cucu kita," ujar Oma Mira. Mereka berdua lalu menuju ke kamar Aksa dan Aza.


Beberapa kali mengetuk pintu dan berteriak tapi tak dibukakan pintu juga oleh Aksa maupun Aza. Sepertinya mereka benar- benar marah.


"Aksa, Aza, buka pintunya, sayang. Ayo turun kita makan malam bersama," seru Oma Maria.


"Ayo, semuanya sudah menunggu kalian," tambah Oma Mira.


Sementara itu, di dalam kamar, Aksa dan Aza terkikik geli. Mereka memang sengaja untuk pura- pura ngambek.


"Hubby, lama- lama aku kasihan juga sama mereka. Kasihan loh mereka udah nunggu kita satu jam lebih," seru Aza sembari menyisir rambut suaminya.


"Biarkan saja, aku kesal sama mereka. Bisa- bisanya aku ikut dikerjain."


Ceklek


Pintu kamar terbuka, Aksa dan Aza terkejut dibuatnya. Mereka langsung berlari ke ranjang dan menutupi tubuh dengan selimut, berpura-pura tidur. Entah dari mana dua oma itu mendapatkan kunci kamar mereka.

__ADS_1


"Heh! Bangun!" seru Mira menarik selimut yang menutupi Aza dan Aksa.


"Kami tahu kok kalian itu cuma berpura- pura saja!"


Kali ini Oma Maria menggelitik kaki Aksa dan Aza. Mereka berusaha keras untuk tidak tertawa. Tapi lama kelamaan gelitikannya semakin menjadi dan membuat Aksa dan Aza langsung bangun.


"Ada apa Oma? Aksa dan Aza capek, mau tidur," ucap Aksa sembari menguap, pura- pura habis bangun tidur sungguhan.


Oma Maria dan Mira tak menggubris, mereka langsung menarik telinga Aksa dan Aza, mengajaknya untuk turun. Sangat kesal dengan dua anak itu karena telah membuat semuanya menunggu lama.


"Oma, jangan seperti anak kecil gini dong." Aksa terus memberontak berusaha melepas tangan Omanya yang menarik telinganya.


"Oma, telinga Aza sakit..." rintih Aza. Oma Maria pun langsung melepasnya.


"Aduh maaf sayang. Ayo kita ke bawah ya, kami membuatkan pesta kecil-kecilan untukmu." Oma Maria memeluk Aza dan mengajaknya berjalan dengan pelan.


"Mir, jangan lepaskan telinganya. Dia itu nakal, pasti sudah mengompor- ngompori Aza tadi," ujar Maria.


"Ayihh, kenapa jadi aku sih yang kena? Ayolah, Aza saja nggak dijewer lagi masa aku masih dijewer," gerutu Aksa.


Tak lama kemudian mereka sudah sampai, semuanya tertawa melihat Aksa yang dijewer Oma Mira.


Anandhi lalu mendekat ke arah Aza dengan kue yang telah diberi lilin yang sudah menyala. Kemudian diikuti oleh yang lain di belakangnya menyanyikan lagu ulang tahun. Aza tersenyum tipis melihat Anandhi, wanita itu terlihat senang sekali.


"Ayo tiup, Sayang. Jangan lupa make a wish ya," seru Anandhi. Aza pun menurut ia lalu meniup lilin yang tertancap di red velvet dengan tulisan Happy Birthday Azalea.


Semuanya lantas bertepuk tangan saat api di lilin itu padam. Aira lalu memberikan pisau kue dan cawan.


"Potong kuenya, dan berikan kepada orang yang paling kamu sayang di antara kami semua," ucap Aira.


Sepotong kue beserta garpu telah berada di tangannya, Aza terdiam sejenak menatap semua orang yang melingkar mengerubungi dirinya. Ia lalu menyuapi Anandhi membuat wanita itu menangis terharu tak menyangka jika potongan kue pertama diberikan kepadanya.


"Terima kasih..." cicit Anandhi dengan air mata yang hampir keluar.


Aza tersenyum, ia pun hampir meneteskan air matanya juga. Ia lalu memeluk erat Anandhi. Semuanya jadi terharu melihatnya.


"Maafkan Aza..."


"Aku menyayangimu Mama Anandhi, jangan pernah pergi meninggalkan aku lagi..." ucap Aza terisak pilu.


"Mama yang harus meminta maaf. Mama janji nggak akan ninggalin kamu lagi. Mama juga menyayangimu," ucap Anandhi. Ia sangat bahagia akhirnya Aza bisa menerimanya, Anandhi lalu mengecup wajah putrinya dengan penuh kasih sayang. Semuanya ikut meneteskan air mata menyaksikan anak dan ibu itu.


"Aaaaaa!" teriak Keno membuat suasana langsung kacau. Keno tercebur ke dalam kolam karena Aksa menyenggolnya.


"Aduh, Pah, Maaf!" ucap Aksa tergelak melihat Keno yang kesal dan berusaha keluar dari kolam.


"Aduh, itu merusak suasana aja sih!" ucap Opa Bram.


"Anak sama Papa sama aja! Isengnya nggak ketulungan!" seru Opa Andi menggelengkan kepalanya.


"Dasar anak kurang ajar!" Keno lalu mendorong tubuh anaknya hingga tercebur juga di kolam.

__ADS_1


"Pahhhh!"


Gelak tawa pecah begitu saja. Keriuhan keluarga itu membuat semuanya iri. Keluarga yang sempurna, keluarga cemara, siapapun menginginkannya, termasuk Author😭


__ADS_2