My Presdir

My Presdir
Supermarket


__ADS_3

Treatment cukup membuat Aksa kelelahan. Dokter pun selalu memberikan Aksa waktu untuk istirahat, treatment akan dilakukan seminggu dua atau tiga kali. Dan kini, Aksa sudah bisa menopang tubuhnya tapi belum bisa berjalan seperti dulu. Baru satu atau dua langkah saja. Maka dari itu Dokter masih menyarankan untuk tetap memakai kursi roda.


Saat tak ada jadwal treatment, Aksa selalu menyempatkan dirinya untuk pergi ke kantor mengurus pekerjaan yang terbengkalai karena keadaannya yang tak memungkinkan. Aza melarangnya, tapi Aksa terus bersikeras.


"Hubby, istirahatlah dulu sebentar. Kamu dari tadi pagi belum istirahat sama sekali loh," seru Aza. Wanita itu selalu menemani suaminya pergi kemana pun. Aza sendiri juga bingung harus berbuat apa, ia rindu untuk bekerja. Tapi tak apa, dia tetap bisa menginjakkan kakinya di kantor dan bertemu dengan teman- temannya.


"Tunggu sebentar lagi ya, aku harus menyelesaikan PPT nya sekarang juga. Soalnya dua jam lagi harus sudsh dipresentasikan," jawab Aksa sembari mengecup pipi istrinya.


"Hubby, bolehkah aku menemui Sarah? Aku juga harus membeli makanan untuk makan siang kita."


"Tentu saja boleh, tapi kamu harus berhati- hati. Jangan sampai anakku kenapa- kenapa." Aksa mengusap perut Aza yang mulai membuncit. Ia begitu senang, tak lama lagi ia akan segera menggendong bayi kecil yang pasti akan menggemaskan.


"Anakmu saja? Ini kan juga anakku." Aza mencebikkan bibirnya kesal karena Aksa selalu menganggap jika itu hanyalah anaknya saja.


"Muachhh, tunggu aku beberapa menit lagi, Hubby..." pamit Aza yang kemudian berlalu meninggalkan ruangan suaminya.


*****


Aza memang sedang hamil muda, tapi dirinya tak manja. Ngidam pun sesuatu yang mudah, tak terlalu aneh. Sepertinya calon anaknya itu mengerti keadaan sang papa, maka dari itu tak menyusahkan orangtuanya.


"Halo, Sarah," sapa Aza sembari merangkul Sarah yang tengah duduk.


"Hm..." Sarah selalu takut jika Aza sudah menghampiri dirinya. Pasalnya, sudah beberapa kali dalam sebulan ini dirinya menjadi sasaran ngidam Aza.


Aza selalu menyuruh Sarah melakukan hal yang aneh, seperti kemarin dirinya diminta Aza untuk mencari mangga muda dan Sarah yang harus memetiknya sendiri. Sarah memang jago memanjat pohon, tapi kemarin dirinya hampir saja jatuh. Wanita itu jadi trauma dengan yang namanya memanjat.


"Aku mau telur gulung, Sar," rengek Aza.


"Tinggal beli, mana duitnya? Aku beliin."


"Ehm, baby, kamu mau telur gulungnya beli atau dibuatin Tante Sarah?" Aza mengusap perutnya dan mengajak calon anaknya berbicara.


Dalam hatinya, Sarah terus berdo'a supaya anak Aza menginginkan telur gulung yang dibeli bukan buatannya.

__ADS_1


"Ehm, Tante Sarah, baby menginginkan telur gulung buatanmu. Seratus tusuk ya!"


Sarah langsung lemas tak berdaya, dirinya tak bisa memasak dan Aza malah menyuruhnya untuk membuatkan telur gulung.


"Nanti dikasih bonus sama Papa Aksa kok, tenang saja," tambah Aza.


Sarah yang tadinya lemas pun kembali semangat, demi gaji plus ia akan melakukan apapun yang diinginkan Aza.


"Besok aku tunggu di rumah ya, Tante. Sampai jumpa besok, papay tante cantik..." Aza mencubit pipi Sarah sebelum dirinya kembali ke ruangan Aksa.


"Hehehe, byeee. Sampai bertemu besok."


Sarah berjoget ria dan melompat- lompat. Belum juga membuatkan telur gulung untuk Aza, tapi sudah ada notifikasi kiriman uang ke rekeningnya.


"Yuhuuuu, Aza sering- sering ya kaya gini biar aku cepet jadi sultan!"


*****


Aza dan Aksa pun bersiap untuk pulang. Selama satu bulan ini, Pak Aryo selalu bersama mereka mengantar hendak pergi ke mana. Kali ini Aza memilih untuk berbelanja bulanan terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah.


Saat memasuki supermarket, banyak orang yang menatap mereka dengan penuh rasa kasihan melihat Aksa yang hanya bisa duduk di kursi roda.


Kasihan ya cantik- cantik suaminya cacat.


Halah, paling juga ceweknya mau gara- gara duit cowok itu banyak. Lihat aja tuh mobilnya aja mewah banget.


Kenapa masih betah ya mbaknya, apa nggak kesulitan ngurus suami seperti itu?


Apalagi mbaknya lagi hamil tuh kayaknya, perutnya buncit. Kasihan banget lagi hamil disuruh ngurus suami cacat.


Para pengunjung yang lain berbisik membicarakan dua orang yang baru saja masuk. Meski berbisik, tapi Aza dan Aksa mampu mendengar semuanya. Aksa semakin down, perkataan ibu- ibu itu juga ada benarnya. Aza sangat kasihan.


"Maaf, apa kalian tidak ada pekerjaan hingga harus membicarakan orang lain?" Ucapan Aza itu mampu membuat para ibu- ibu terdiam dan kembali melanjutkan belanja.

__ADS_1


Aza langsung mencari tempat yang sepi, ia mendorong kursi roda suaminya dengan perlahan sembari mengambil barang yang dibutuhkan. Pak Aryo berada di belakang mereka bertugas untuk membawa troli belanjaan.


"Aza..."


"Iya, Hubby?" Aza asyik memilih jeruk yang tertata rapi di sebuah meja. Akhir- akhir ini Aza suka sekali memakan jeruk, dia harus memiliki stok yang banyak di rumah.


"Maaf ya, aku benar- benar tak bisa diandalkan. Aku nggak pantes sama kamu," lirih Aksa dan menundukkan kepalanya.


Aza menghentikan aktifitasnya sejenak dan menyejajarkan tubuhnya dengan sang suami yang duduk di kursi roda. Ia membelai pipi Aksa dengan lembut.


"Siapa yang bilang kamu nggak pantas untukku? Kamu sangat pantas, Hubby. Kumohon jangan dengarkan perkataan buruk tentang kita, mereka hanya sebatas tahu makanya bicara seperti itu."


"Aku hanya takut kalau kakiku tak bisa pulih. Sudah satu bulan lebih menjalani treatment tapi hasilnya belum terlihat sama sekali." Aksa berucap dengan air mata yang hampir menetes, Aza dengan sigap menahannya.


"Kamu itu akan sembuh! Semangat menjalani treatment, satu bulan lagi pasti kakimu akan pulih total." Aza memarahi Aksa dengan nada yang tinggi dan menyakitkan. Ia sangat tak suka dengan suaminya yang selalu saja hampir putus asa.


"Awas aja kalau kamu sampai berkata seperti itu lagi! Akan ku remas- remas seperti ini!" Aza mengambil satu buah jeruk dan meremasnya hingga air- air jeruk itu mengalir mengotori lantai supermarket.


"Ayihh, mengerikan sekali," cicit Pak Aryo yang sedari tadi menyaksikan mereka berdebat.


"Tubuhku kan besar, sedangkan tanganmu kecil, mana bisa meremasku!" ujar Aksa.


"Berani menjawab?"


Aksa menelan ludahnya dengan susah payah saat Aza mendekatkan wajahnya di depannya dan melototkan matanya hingga hampir lepas.


"Eh itu pemilik supermarketnya mau ke sini, sepertinya dia akan memarahimu karena mengotori tempat ini," tutur Aksa sembari mengarahkan telunjuknya kepada seseorang, entah siapakah itu ia sendiri juga tak kenal.


Aza langsung berdiri dan menoleh ke arah yang ditunjuk Aksa. "Enggak ada, Hubby. Kamu mau membohongiku?"


"Ayihhh! Hubby, jangan pergi!" teriak Aza saat Aksa berjalan dengan susah payah meninggalkannya. Pak Aryo pun sama, ia selalu takut jika melihat wanita marah.


"Ah, awas saja kalian!"

__ADS_1


__ADS_2