
Meskipun letih, kata mengeluh tak pernah terlontar dari bibirnya. Ia dengan senang hati merawat suaminya yang sedang tak berdaya.
"Aku bisa memakainya sendiri, Sayang," ucap Aksa ketika Aza hendak memakaikan baju.
"Baiklah, aku akan pergi bersiap dulu kalau begitu," sahut Aza. Ia kemudian duduk di kursi depan meja riasnya untuk menyisir rambut, menatanya, dan tak lupa memoles wajahnya dengan make up tipis.
"Kamu mau ke mana?" tanya Aksa. Lelaki itu duduk di tepi ranjang dan berusaha memakai kaosnya sendiri.
"Tentu saja pergi ke kantor, Hubby. Tapi setelah kamu selesai treatment."
"Kamu nggak tahu ya kalau di Sanjaya Group melarang keras karyawannya yang sedang hamil untuk bekerja?"
Aza langsung menoleh ke arah suaminya, "Maksudnya?"
Aksa pun menjelaskan jika perusahaan selalu memberhentikan karyawannya yang tengah hamil untuk sementara, supaya tak terjadi apa- apa dengan kandungannya. Tapi di sisi lain, tetap ada tunjangan untuk karyawan itu sampai dia melahirkan. Aksa sangat tak tega melihat ibu hamil bekerja, oleh karena itu dia membuat peraturan semacam itu.
"Jadi, aku nggak boleh kerja lagi?" Aza terlihat sedih, ia teringin untuk tetap bekerja.
"Jika anak kita sudah cukup besar, kamu bisa bekerja lagi. Kamu nggak mau kan kalau anak kita kenapa- kenapa?"
Aza menggeleng, "Tapi, aku tetap boleh pergi ke kantor menemanimu, kan?"
"Tentu saja."
"Ayo aku bantu ke kursi roda, Hubby." Aza lalu merangkul suaminya. Saat seperti itu, Aksa selalu memaksakan kakinya untuk menopang tubuhnya, rasanya sangat sakit sekali.
Setelah Aksa duduk di kursi roda, Aza lalu merapikan baju dan rambut Aksa yang sedikit berantakan. "Selalu tampan, setiap hari aku jatuh cinta denganmu."
Aksa terkekeh, ia lalu menggenggam tangan Aza dan mengecupnya. "Kamu juga cantik, setiap hari pun kadar cintaku selalu bertambah. Aku mencintaimu, Mama dari anakku."
"Terima kasih Papa, kami juga mencintaimu," jawab Aza dan tak lupa melengkungkan bibirnya membentuk senyuman.
*****
Seperti biasanya, pancake dengan saus coklat sudah siap disantap sang suami. Sedangkan dirinya memilih untuk makan nasi goreng saja sama seperti Papa dan Mama mertuanya.
Akhir- akhir ini Aza jadi orang yang pemilih dalam hal makanan. Acapkali ia memuntahkan makanan yang baru saja ditelan dengan dalih rasanya yang tak enak, padahal rasanya sama seperti biasanya.
Dan kali ini pun sama, nasi goreng buatan Mama mertuanya terasa hambar di lidahnya. Tapi sebisa mungkin ia menelannya.
"Ini jus jeruknya, Nak Aza," ujar Bi Mona sembari meletakkan segelas jus jeruk di hadapan Aza.
"Terima kasih, Bi Mona." Aza sumringah tatkala menerima jusnya, ia langsung meminumnya tanpa tersisa.
"Sayang, ini masih pagi loh. Masa kamu udah minum jus jeruk sih." Aksa bergidik ngeri melihatnya, jus jeruk itu terlihat masam apalagi diminum saat pagi, itu tidak cocok.
"Sangat enak, Hubby. Aku jadi ingin meminumnya lagi. Tunggu sebentar ya, aku akan menyuruh Bi Mona membuatkannya lagi." Aza lalu menuju ke dapur dan tak lupa membawa gelasnya tadi supaya diisikan jus jeruk.
"Jangan pakai es ya, Sayang," seru Aira.
__ADS_1
"Baik, Mah."
"Mah, harusnya Mama melarang Aza bukannya malah membiarkannya. Ini masih pagi loh."
"Sudah kamu tuh diam saja. Itu sama kaya Mamamu dulu pas ngandung kamu. Pagi, siang, malam minumnya jus jeruk terus," tutur Keno. Ia jadi teringat dengan masa- masa kehamilan istrinya dulu yang cukup menjengkelkan, tapi ia sangat senang menuruti semua keinginan sang istri.
"Iya, Sayang. Mama dulu juga gitu."
"Berarti benar- benar keturunan Keluarga Sanjaya," gumam Aksa menggelengkan kepalanya.
"Yaiyalah! Dia kan anak kamu," sembur Keno.
"Yaiyalah, masa iya anak kucing!" sahut Aksa tak terima.
"Kalian tuh ada- ada saja!" Aira menggelengkan kepalanya.
*****
Mobil Aksa telah sampai di halaman parkir Rumah Sakit Sanjaya. Ditemani istri dan kedua orangtuanya, Aksa siap untuk menjalani treatment pemulihan kakinya.
Dokter Bryan, spesialis syaraf, telah menunggu kedatangan Aksa di ruang treatment.
"SURPRISEEE!" teriak Oma Maria, Oma Mira, Opa Andi, Opa Bram, dan Anandhi saat pintu ruang treatment terbuka.
Aksa, Keno, Aza, dan Aira tersentak memegang dada mereka. Terkejut karena mendapati keluarga yang lain berada di sana juga.
"Tentu saja menemani dan menyemangatimu!" jawab Opa Bram.
"Maaf sebelumnya, hanya Tuan Aksa yang akan berada di sini. Yang lain harus menunggu di luar," jelas Dokter Bryan.
"Tidak mau, Dok! Saya akan tetap menemani suami saya!" ujar Aza, ia lalu memeluk Aksa. Aza tak mau meninggalkan suaminya barang sejenak. Ia akan tetap di samping Aksa hingga treatment selesai.
"Maaf, Nona..."
"Hubby, aku nggak mau pergi. Aku akan tetap di sini."
*****
Drama kecil antara Aza dan Dokter pun usai. Dokter Bryan kali ini menang, ia mampu membuat Aza menurut. Semua keluarga pun menunggu Aksa di luar ruangan. Aza terus berdiri mengintip sang suami dari jendela kaca.
"Hubby, semangat!" serunya sembari melambaikan tangan. Aksa terkekeh melihatnya, Aza seperti anak kecil yang sangat menggemaskan.
"Sayang, ayo duduklah. Jangan berdiri terus, nanti kamu letih," ajak Anandhi.
Aza menggeleng, ia tetap menatap Aksa yang tengah membicarakan sesuatu dengan perawat dan Dokter Bryan.
"Di perutmu ada bayi, kan? Nanti kalau kenapa- kenapa bagaimana? Hamil muda itu nggak boleh kelelahan sedikitpun!"
"Iya, Mah." Aza pun duduk di samping Opa dan Oma.
__ADS_1
Di dalam, Aksa berteriak tak karuan ketika dokter menyuruhnya untuk mencoba berdiri. Kakinya yang mati rasa tak mampu menopang tubuhnya, ia pun terjatuh dan menangis. Rasanya sangat sakit, hingga Presdir yang selalu tampil ceria itu meneteskan air matanya.
"Hubby..." Aza ikut menangis dari luar. Ingin sekali dirinya masuk dan memeluk serta menyemangati suaminya lagi.
Melihat Aza, semangat Aksa kembali bergelora. Ia tersenyum mengisyaratkan tak ada yang perlu dikhawatirkan supaya istri dan para keluarganya tak terlalu mencemaskan dirinya.
Aksa lalu berdiri dengan tangan yang bertumpu pada suster dan dokter. Ia mulai mengikuti arahan dari Dokter Bryan. Sangat sakit ketika hal yang tak bisa ia lakukan tapi tetap harus dilakukan.
Treatment berlangsung selama kurang lebih dua jam lamanya. Di ruangan itu Aksa benar- benar tersiksa. Tak jarang dirinya membentak suster dan dokter, bahkan dirinya juga tak segan- segan menjambak rambut Dokter Bryan.
"Hubby..." lirih Aza. Ia berlari menghampiri suaminya yang didorong keluar dari ruang treatment.
"Pasti sangat sakit ya, Hubby."
"Enggak kok," elak Aksa. "Cium dulu sini, aku kan sudah menjalani treatment dengan baik."
Aza dibuat malu oleh suaminya, keluarganya sedang berkumpul di sana, ia tak mungkin melakukan hal yang diminta suaminya.
"Ehem..." Semuanya berdehem, lalu berpamitan menuju ke mobil terlebih dahulu dan bersiap untuk pulang.
"Sudah nggak ada orang," bisik Aksa terdengar menggelitik di telinga Aza.
Aza menggelengkan kepalanya, ia lalu mendorong kursi roda suaminya mengikuti para keluarga yang terlebih dahulu beranjak pergi.
"Cium sekarang, Sayang."
"Nggak mau, nanti saja di mobil."
*****
Aksa tak pernah lupa dengan ucapannya, ia menagih janjinya ketika mereka sudah berada di dalam mobil. Di mobil hanya ada dirinya, Aza, dan juga Pak Aryo. Keno dan Aira memilih untuk pergi bersama Opa dan Oma.
"Cium sekarang!" Aksa merajuk dan melipat tangannya di dada.
"Nanti kalau sudah sampai di kamar. Di sini ada Pak Aryo, nanti kalau dia pengen gimana? Kan bahaya, dia bisa langsung minta cuti dan menemui istrinya di kampung," jelas Aza, wanita itu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Bodo amat jika Aksa merajuk dengannya.
Aza mendongakkan kepalanya menatap suaminya yang ternyata benar- benar marah. Tak ada sepatah kata lagi yang terucap. Aza lalu mengambil bantal mobil untuk menutupi wajahnya dan wajah sang suami supaya tak terlihat Pak Aryo. Ia lalu mendaratkan satu kecupan di pipi Aksa.
"Satu dulu ya, nanti lanjut lagi," ucap Aza lirih.
Aksa terkekeh, harusnya Aza tak perlu menutupi wajah mereka dengan bantal mobil.
"Cium yang benar! Seperti ini..." Aksa mengecup wajah istrinya tanpa ampun. Aza memberontak karena Pak Aryo menatap mereka.
"Pak Aryo jangan lihat!" teriak Aza. Ia sungguh malu dibuatnya. Aksa tak kunjung melepas ciumannya juga.
"Eng- enggak kok, cuma ngintip doang, Nak Aza," sahut Pak Aryo terkekeh.
"Tarik sist! Semongkoooo!" Pak Aryo kemudian menyalakan musik mencoba untuk mengembalikan suasana yang tiba- tiba panas karena dua anak manusia itu.
__ADS_1