
Malam hari di puncak sangatlah dingin. Angin berembus menyapa tulang. Jaket tebal telah melekat di tubuh mereka. Mang Ikin dan Bi Maryam sedang menyiapkan tungku pembakaran untuk membakar jagung dan juga ayam. Ailee antusias menunggu.
"Mang Ikin, Bi Ayam, kenapa lama sekali?" tanya Ailee. Aksa terkekeh mendengarnya, baru saja Mang Ikin akan menyalakan arang tapi Ailee sudah bertanya kapan matangnya.
"Nggak akan matang kalau kamu ngajak Mang Ikin bicara terus. Sini ikut Papa," sahut Aksa yang duduk di depan vila.
"Ailee mau membakarnya sendiri!" Anak itu menunjukkan satu tusuk jagung dan juga ayam kepada Aksa, ia tak mau berpindah dari kursi kecil yang langsung menghadap tungku pembakaran.
"Nah, sudah menyala, ayo oleskan margarin dulu baru letakkan di sini," ucap Bi Maryam yang kemudian langsung mengajarkan Ailee bagaimana caranya.
Aksa masih berkutat dengan iPadnya. Urusannya hari ini terbengkalai karena tak ke kantor. Tapi tak apa, kebahagiaan Ailee jauh lebih penting.
Dari kejauhan terlihat ada mobil menuju vila mereka. Lampu mobil itu menyala terang, menyoroti kawasan sekitar vila. Setelah berhenti tepat di depannya, orang yang berada di mobil pun turun. Pandangan Aksa, Ailee, Mang Ikin, dan juga Bi Maryam teralihkan.
"Selamat malam semuanya!" seru dua orang yang baru saja turun dari mobil. Ailee langsung berhambur memeluk Aksa karena takut dengan kedatangan Mama dan juga kakaknya.
Ya, Aza memutuskan untuk menyusul Aksa dan juga Ailee. Tapi ia sedih karena Ailee malah terlihat takut dengan kedatangannya.
"Kenapa nggak bilang dulu?" tanya Aksa menghampiri Aza yang menuntun Aiden. Ailee masih melingkarkan tangannya di lehernya, ia menyembunyikan wajahnya dari Aza.
"Biar surprise! Hey, sayang, kenapa kamu sembunyi? Yuk ikut Mama..." Aza mengusap punggung Ailee, tapi anak itu tak bergeming dan malah semakin memperkuat pelukannya.
"Papa aku sudah mengantuk..." lirih Ailee.
Hati kecil Aza kembali sedih ketika mendengar penuturan anaknya. Ailee kecewa dengannya, hingga ia membuat alasan supaya bisa jauh dan tak bertemu dengannya lagi.
"Itu jagung sama ayamnya sudah mau matang loh, kita makan dulu ya. Kalau sudah kenyang baru kita tidur," bujuk Aksa. Ia memberi isyarat kepada Aza supaya tak sedih, karena semuanya pasti akan membaik. Ailee akan memaafkan dirinya.
"Simpan keperluanmu di kamar dulu, setelah itu bergabunglah dengan kami," ucap Aksa.
"Iya, Hubby..."
"Mari saya antar, Neng Aza," ujar Bi Maryam, ia lalu mengambil koper kecil dari tangan Aza dan mengajaknya ke kamar.
Banyak jagung dan juga ayam yang telah matang. Aromanya begitu sedap, mungkin para tetangga akan menciumnya juga. Setalah Aza masuk, Ailee baru mau turun dari gendongan Aksa. Ia kembali duduk di kursi kecil samping Mang Ikin yang masih asyik meneruskan jagung yang belum dibakar.
"Nih, jagungnya sudah matang, mau mencicipinya dulu?" tanya Mang Ikin menyodorkan jagung ke tangan Ailee, anak itu lalu mengangguk dan menerimanya.
"Hey, Bos kecil! Mang Ikin pikir kamu nggak ke sini. Nih, Mang Ikin kasih jagung juga," ucap Mang Ikin kepada Aiden yang baru saja menghampiri mereka.
__ADS_1
Aiden menatap Ailee sejenak sebelum akhirnya ikut duduk di kursi yang masih menyisakan tempat sedikit.
"Kamu marah sama aku?" tanya Aiden, hanya diberikan gelengan oleh Ailee.
"Kalau sama Mama kamu marah?" Aiden kembali bertanya dan hanya diberi gelengan lagi tanpa ada sepatah kata yang terucap.
"Kalau kamu nggak marah kenapa kamu diam dan hanya menggeleng saja?"
"Sariawan!" jawab Ailee ketus.
Aksa dan Aza yang sedari tadi memperhatikan mereka pun terkekeh melihat dua anak yang sedang duduk bersama.
"Kalau sariawan kenapa masih bisa makan jagung?"
"Kalau untuk makan nggak sakit, hanya akan sakit ketika berbicara," tukas Ailee menggelakkan tawa.
Aiden mulai jengkel dengan penuturan adiknya, ia merampas jagung yang hendak digigit Ailee lagi. Ia menyembunyikannya di punggung.
"Kembalikan jagungku!"
"Nggak, maafkan aku dulu. Jangan marah denganku, aku nggak suka kalau ada yang marah!" ujar Aiden, ia tetap berusaha menyembunyikan jagung itu.
"Benarkah?"
"Aku merindukanmu, Aiden..."
"Aku juga merindukanmu, Ailee..."
"Padahal aku tadi bercanda, kenapa kamu serius!" sahut Ailee tertawa renyah, Aiden jadi kesal.
Aza dan Aksa terkikik melihat tingkah kedua anaknya. Selalu saja begitu, bercanda namun tak terlewat batas. Aza melangkahkan kakinya mendekati kedua anaknya, ia lalu merangkul mereka.
"Apa di sini nggak ada yang merindukan Mama?" tanya Aza menatap Ailee yang mengalihkan pandangannya.
"Nggak ada," jawab Ailee singkat.
"Uhm, benarkah? Tapi kok Mama merindukanmu ya?"
Aza mengecup wajah Ailee tiada ampun. Dirinya benar- benar merindukan anak itu. Rasa bersalah karena sempat mengabaikannya pun masih menyelimuti.
__ADS_1
"Mama janji nggak akan marah lagi. Kalian harus tahu kalau Mama itu tak pernah membeda- bedakan, sayangnya Mama ke kalian itu sama rata. Semua Mama sayang," ujar Aza berharap kedua anaknya itu mengerti. Tapi anak kembar itu hanya mengerjapkan mata, seolah berpikir tentang kebenaran ucapan itu.
"Jangan kabur lagi ya biar semua nggak mengkhawatirkanmu," tambah Aza.
"Sini peluk Mama..." Wanita itu merentangkan kedua tangannya bersiap mendekap Aiden dan juga Ailee.
Kedua anak itu lantas berhambur dalam dekapan mamanya. Mereka memeluk erat seakan tak mau melepasnya.
"Maafkan aku, Mah. Ailee janji nggak akan nakal lagi..."
"Aiden juga nggak akan nakal..."
Udara dingin tergantikan dengan kehangatan dari pelukan mereka bertiga. Bintang yang menghiasi langit pun seakan ikut memeluk mereka. Mang Ikin dan juga Bi Maryam terharu. Sedangkan Aksa cemberut karena tak ada yang memeluknya.
"Ehem...Ada yang terlupakan di sini," seru Aksa tetap diam di tempatnya. Raut wajahnya terlihat sedih karena dilupakan.
Aza, Aiden, dan Ailee saling tatap sebelum pergi menghampiri dan memeluk lelaki itu. Aza tersenyum gemas, ia lupa jika suaminya jauh menggemaskan dari Aiden maupun Ailee.
Malam itu dilewatkan dengan bercanda ria menikmati jagung dan juga ayam bakar. Cerita tak ada habisnya, gelak tawa pun selalu tercipta.
*****
Langit tak berwarna biru cerah, awan hitam menutupnya sebagian. Udara semakin dingin. Embun pagi masih menetes dari dedaunan. Para warga sudah berlalu lalang pergi ke kebun mereka.
Teh hijau di meja sudah diteguk dan menyisakan setengah cangkir, pisang goreng baru saja matang dan disajikan di depannya. Tangannya belum melepas iPad, pekerjaannya masih banyak. Ia harus segera menyelesaikannya.
"Hubby, apa kamu mau sarapan sekarang? Sepertinya anak- anak akan bangun siang, jadi lebih baik kamu sarapan terlebih dahulu," ujar Aza yang kemudian duduk di kursi kosong yang menghadap suaminya.
"Nanti saja nunggu mereka bangun."
"Baiklah..."
Aksa terlihat sibuk sekali, apalagi proyek barunya belum juga selesai. Design gedung masih ia simpan di komputer kantor. Ia pun segera menyuruh Devano untuk ke kantor memindah design itu dan mengirimkan kepadanya untuk dilanjutkan.
Akan ada Mall baru yang harus segera diselesaikan. Tapi design-nya saja belum selesai dan disetujui oleh Vincent Group, di mana perusahaan itu yang akan bekerja sama dengannya.
"Apa? Siapa yang mencurinya? Apa kamu belum melihat CCTV-nya?" Aksa panik ketika mendapat kabar dari Devano jika ada orang yang mencuri data dan meretas komputer kantornya.
Ia lemas seketika saat Devano memberitahu dirinya jika CCTV kantor tiba- tiba mati semua.
__ADS_1