
"Aza, ayo ke ruang akad," ajak Aksa. Lelaki itu tiba- tiba memasuki ruangan make up Aza.
Aksa sudah siap, terlihat tampan seperti biasanya. Berbalut dengan kaos putih, setelan jas berwarna coklat, dan sneakers putih andalannya.
"Tampan sekali kamu, Nak," seru Anandhi.
"Tampan apanya sih, Mah? Biasa aja kok," tukas Aza.
"Ya ampun, Za. Mata kamu kayanya sakit ya, orang Pak Presdir ganteng gini kok dibilang enggak sih," sahut Sarah yang menggelakkan tawa.
Aksa membiarkan lengannya dipeluk Aza, mengajak wanita itu memasuki tempat acara. Sarah, Anandhi, dan Rosni mengikuti pengantin itu dari belakang.
Alunan lagu Bridal March- Richard Wagner mengiri langkah mereka menuju tempat acara. Tak di dalam, melainkan di luar gedung dengan tema outdoor party.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika Aza akan menikah dengan acara semewah dan semegah ini. Meskipun bagi para tamu dan keluarga Aksa ini adalah sederhana, tapi menurut Aza sangatlah luar biasa.
Para tamu undangan yang cukup banyak berdiri di pinggir karpet merah yang terbentang. Bertepuk tangan menyaksikan sang pengantin berjalan melewati mereka.
Acara tertutup publik, karyawan yang diundang pun hanya beberapa saja. Aksa juga tak mau terlalu mewah, yang penting kata 'Sah'.
Dan kata 'Sah' telah terucap dari para hadirin. Kelegaan tersendiri bagi Aksa karena telah mengucapkan ijab qabul hanya dengan satu tarikan nafas saja. Wajahnya terlihat pucat setelah mendengar kata 'Sah'. Kini, dirinya sudah menjadi seorang suami yang memiliki tanggung jawab penuh kepada wanita yang duduk di sampingnya.
Usai menandatangani buku nikah, menyematkan cincin pernikahan, Aksa mencium kening Aza cukup lama. Bulir air mata terlihat di ujung matanya.
"Kamu sudah sah menjadi istriku," bisiknya ketika mengecup kening Aza.
Aza sedikit kaku ketika diminta mencium tangan Aksa yang kini statusnya telah berganti menjadi suami.
Tepukan tangan terdengar kembali, semuanya nampak senang akhirnya dua insan manusia itu bersatu dan siap untuk menaungi bahtera rumah tangga.
"Terima kasih telah bersedia menerimaku menjadi pendamping hidupmu. Aku akan mencintai dan juga membuatmu jatuh cinta denganku. Aku akan selalu menghadirkan bahagia dalam hidupmu, menghapus duka menggantinya dengan suka," tutur Aksa membuat jiwa Aza bergetar hebat.
__ADS_1
Aza tersenyum lembut, "Terima kasih, aku akan berusaha membukakan hati untukmu. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu." Aksa memeluk erat tubuh istrinya, dan wanita itu juga membalas pelukan Aksa.
Aira dan Keno menghampiri pengantin yang tengah duduk di kursi pelaminan itu. Haru, senang, semuanya bercampur menjadi satu.
Tak terasa, bayi mungil yang ia lahirkan kini telah dewasa dan memiliki rumah tangga sendiri. Aira tersedu- sedu saat memeluk Aksa. Keno pun juga terlihat menitikkan air matanya. Anaknya sudah dewasa dan memiliki hidup sendiri.
"Mah..." Aksa ikut menangis melihat Aira.
"Kamu sudah besar, kamu bukan anak kecil lagi," lirih Aira di tengah isakannya.
"Aksa tetap menjadi anak kecil yang selalu manja dengan Mama. Aksa nggak akan berubah, Aksa tetap menyayangi Mama. Aksa juga nggak akan pergi dari Mama. Jangan menangis lagi, Mah."
Aksa mengusap air mata Mamanya, mengecup wajah wanita itu dengan penuh rasa sayang. Lalu, Aira memeluk menantunya. Sedangkan Keno, ia tetap berdiri menatap lelaki yang baru saja melangsungkan ijab qabul.
"Kenapa?" tanya Aksa sinis menatap papanya yang sedari tadi memandanginya.
Keno tersadar, ia lalu menghampiri istrinya. Malu karena anaknya tahu sedari tadi diperhatikan Papanya. Baru dua langkah, tangan Keno dicekal Aksa.
Aksa memeluk Keno erat, dan lelaki itu juga membalas pelukannya. Air mata tumpah begitu saja saat anaknya memeluk tubuhnya.
Keno semakin tersedu- sedu dibuatnya, ia juga sangat menyayangi anaknya meskipun anaknya itu nakal dan sulit diatur. Bahkan setiap hari yang ada hanya adu mulut dan pertengkaran kecil antara mereka.
"Papa juga menyayangimu..."
"Jangan cengeng, Tuan Keno. Kamu tak malu dilihat para rekan bisnismu?"
Ucapan Aksa membuat Keno langsung melepas pelukannya dan mengusap air matanya. Anaknya tetap saja menyebalkan.
"Papaku sangat menggemaskan, aku menyayangimu, Pah."
Aksa kembali memeluk erat tubuh Keno hingga keduanya terjatuh membuat semuanya memandang ke arah mereka.
__ADS_1
"Kamu tuh peluknya kekencengan, Sa! Jadi jatuh kan malu- maluin!" ucap Keno.
"Yaa maaf, Pah." Aksa lalu berdiri dan membenahkan jasnya lagi. Ia sendiri juga malu akan adegan tak sengaja itu.
Aza tertawa lepas melihat suami dan papa mertuanya, begitu juga dengan Aira, Mira, Maria, dan yang lainnya. Jangan lupakan Anandhi, wanita itu merasa wanita paling bahagia sekarang, akhirnya ia kembali dipertemukan dengan putri tercinta. Meski dirinya belum mengatakan yang sebenarnya kepada Aza, takut jika Aza tak menerimanya. Yang terpenting bagi Anandhi sekarang adalah dekat dengan anaknya, itu sudah lebih dari cukup.
"Selamat ya atas pernikahan kalian. Aku do'akan semoga kalian bahagia selalu dan tetap bersama baik suka maupun duka," ucap Anandhi memeluk Aza.
Semuanya tampak bersuka cita, mengucap do'a serta ucapan selamat atas pernikahan Aza dan Aksa.
Pesta pernikahan berlangsung hingga senja menyapa, Aza dan Aksa juga telah membersihkan diri mereka dan bersiap untuk kembali ke rumah. Rumah yang akan Aza tempati mulai saat ini hingga nanti.
Sarah dan Bu Rosni telah kembali dengan diantar salah satu sopir milik keluarga Sanjaya. Sedangkan Mama, Papa, Oma, dan Opa telah pulang terlebih dahulu.
"Sudah siap belum, Za?" tanya Aksa menatap istrinya yang tengah terduduk di ruang make up, memakai baju santai dan sudah membersihkan wajahnya.
Aza melamun, memikirkan sesuatu sedari tadi. Ucapan Sarah. Ya, wanita itu memberi sedikit pelajaran kepada Aza bagaimana melayani suami yang baik, padahal temannya itu belum menikah tapi sudah bisa mengajari orang yang menikah. Dan ada satu hal yang membuat Aza kepikiran sampai sekarang.
"Azaaaa!"
"Ahh, iya..." Aza tersentak dan langsung berdiri. Dirinya benar- benar tak tahu jika Aksa berdiri di sampingnya.
"Ngelamunin apa sih?"
"Nggak ada, ayo pulang. Aku ingin tidur secepatnya." Aza berlalu terlebih dahulu meninggalkan Aksa. Lelaki itu hanya menggeleng menatap istrinya yang tak peka itu.
"Harusnya kita keluar bareng, Za. Kamu gandeng tangan aku, biar bener- bener kaya pengantin baru yang nggak bisa lepas gitu!" ucap Aksa menggelengkan kepalanya.
"Za..." panggil Aksa. Ia sedikit heran dengan wanita di sampingnya karena keluar dari hotel Aza masih saja melamun entah apa yang ada di pikiran istrinya itu.
__ADS_1
"Ah, iya?"
"Kamu nyesel ya nikah sama aku?" Aksa menanyakannya, karena ia pikir itu yang sedang Aza rasakan hingga membuatnya melamun terus dari tadi.