
Malam begitu sunyi, gelap, dan kala itu hanya ada satu bintang menghiasi langit. Bulan pun tak bulat sempurna, hanya membentuk sabit. Dua insan itu sudah terlelap menyelami mimpi masing- masing.
Perut sudah terisi, tapi cacingnya terus memberontak untuk kembali diisi. Ya, Aksa terbangun saat waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Suara dari perutnya sungguh mengganggu.
"Za...Laper..." rengeknya menggoyangkan tubuh istrinya yang sedang tertidur pulas.
"Apa, Hubby? Aku mengantuk!" Wanita itu mengerjapkan matanya menatap wajah sang suami yang sendu.
"Temenin makan yuk," ucap Aksa.
Aza membulatkan matanya. Pasalnya, dua jam yang lalu Aksa baru saja makan dan makanan yang dimakan tak sedikit, tapi sekarang anak itu sudah lapar?
Meski mengantuk, Aza tetap menuruti kemauan sang suami. Ia langsung mengambil jaket, karena Aksa mengajaknya pergi ke angkringan. Aksa pun sama, ia mengambil jaketnya. Lelaki itu tak akan membawa mobil, melainkan ia akan naik sepeda saja ke sana. Aza berdiri di belakang dan mengalungkan tangan di leher suaminya.
Mereka menuju ke angkringan yang tak jauh dari komplek perumahan. Meski sudah jam sepuluh malam, angkringan tetap buka dan sangat ramai. Angkringan itu memang terkenal karena makanan yang dijajakan sangat enak dan ramah di kantong. Aksa juga sering ke sana ketika malam.
"Kamu mau makan juga nggak?" tanya Aksa sebelum memesan makanan.
"Enggak, aku masih kenyang. Mau susu jahe saja..." Aza menggigit sate usus yang ada di hadapannya.
Aksa segera memesan satu porsi nasi kucing untuk dirinya dan dua susu jahe. Mereka duduk di kursi panjang yang langsung menghadap ke makanan- makanan yang tersaji di sana. Sate usus, telur puyuh, tempe dan tahu bacem, serta makanan lainnya khas angkringan tentunya.
Suara radio kecil menemani orang- orang yang sedang menyantap nasi kucing. Lampu petromax tua menerangi angkringan itu. Aroma minyak tanah tercium kuat dari sana, benar- benar angkringan yang sesungguhnya.
Banyak remaja berpacaran di sana, ada juga emak- emak dan suaminya yang sedang berduaan. Mungkin ingin menikmati waktu berdua tanpa diganggu anak mereka. Ada yang duduk di bangku dan ada yang duduk lesehan di karpet yang tergelar di atas rumput hijau.
"Ini, Mas Aksa. Silakan!" Pak Mulyo menyodorkan satu piring nasi kucing yang dilengkapi dengan topping ikan teri dan oseng tempe serta disajikan di piring rotan dengan alas daun.
"Makasih, Pak Mul!" Aksa menerimanya dengan senang hati, ia lalu mengambil dua sate usus dan dua sate ampela untuk temannya. Nasi yang masih hangat itu segera ia santap. Rasanya yang mantap, membuat siapapun ketagihan.
"Mentang- mentang sudah punya istri nongkrongnya ngajak dia, mau pamer ya mas kalau punya istri cantik," celetuk Bu Mulyo. Istri Pak Mulyo yang selalu menemani berjualan.
"Iya dong, biar Bu Mulyo iri sama dia. Kan cantikkan istriku!"
"Sontoloyo! Gini- gini Ibu pas masih muda itu juga sama kaya istrimu." Bu Mulyo tak terima, ia menoyor kepala Aksa. Tapi hanya bermaksud bercanda, bukan yang lain.
"Tapi kan itu dulu, Buk. Sekarang ya gitu..." timpal Pak Mulyo yang langsung mendapat jeweran dari istrinya yang gemuk itu.
Aksa dan Aza tertawa melihatnya. Pantas saja Aksa suka kemari, selain makanannya enak penjualnya pun lucu dan menyenangkan.
__ADS_1
"Kamu nggak mau nyobain nasi kucing di sini? Enak loh, beda sama nasi kucing yang lain," seru Aksa.
"Boleh, tapi satu suap saja ya."
Aksa dengan senang hati menyuapi istrinya, satu sendok nasi dengan berbagai lauk masuk ke dalam mulut Aza.
"Haduhhh, dunia serasa milik mereka berdua, Buk!" celetuk Pak Mulyo kepada istrinya.
"Iya nih, Pak. Jadi pengen kembali ke masa muda lagi," sahut Bu Mulyo bergelayut di lengan suaminya membayangkan dan merasakan apa yang tengah dilakukan Aza dan Aksa saat itu.
"Sudah, aku nggak mau lagi." Aza menutup mulutnya dengan tangan dan menggelengkan kepalanya karena Aksa terus saja menyuapinya.
"Baiklah..."
Aksa menghabiskan satu piring nasi kucing dan lauknya, lalu ia meneguk air mineral dalam botol untuk menetralkan mulutnya sebelum meneguk susu jahe di gelas belimbing khas Indonesia itu.
Aza pun sama, ia menikmati susu jahe yang masih mengepulkan uap panas. Menuangkannya ke dalam cawan lalu menyeruputnya. Pedas dari jahe lebih menyeruak dibanding manis dari susu.
"Pedes ya?" tanya Aksa tergelak. Saat menikmati susu jahe, istrinya itu sesekali meneguk air putih.
"Enggak juga sih..."
Orang- orang mulai berhamburan, malam semakin larut dan makanan yang dijajakan di angkringan itu sudah tandas. Tinggal Aza, Aksa, Pak Mulyo dan istrinya yang masih berada di sana. Pak Mulyo dan Bu Mulyo sembari membereskan barang- barang mereka sebelum pulang. Senyum terukir jelas di bibir mereka, tentu saja senang karena dagangannya habis.
"Kalau kamu mau kita bisa ke sini lagi," jawab Aksa.
"Baiklah, besok aku akan makan malam di sini saja."
Aksa segera mengambil beberapa lembar uang dari kantongnya dan memberikannya kepada Bu Mulyo. Selalu dilebihkan, itu sebagai tanda apresiasi dari Aksa karena masakan Bu Mulyo itu sangat enak.
"Yuk pulang...."
"Bantuin mereka dulu, kasihan," ucap Aza. Ia lalu membantu Bu Mulyo meletakkan wadah kotor ke dalam tasnya untuk dicuci di rumah. Sedangkan Aksa bersama Pak Mulyo menaikkan kursi panjang ke atas meja.
"Makasih ya, Nak Aza dan Nak Aksa," seru Pak Mulyo. Dirinya sudah menaiki motor megapro miliknya dan bersiap pulang. Istrinya duduk di belakang dengan tangan kanan dan kiri membawa wadah- wadah kotor yang sudah dikemas di dalam tas besar.
"Sampai bertemu lagi, pasangan unyu..." seru Bu Mulyo tatkala motor mulai melaju.
"Meskipun usia mereka sudah berlanjut, tapi mereka tetap romantis ya," celetuk Aza tersenyum menatap motor yang semakin jauh dari pandangan.
__ADS_1
"Kita juga lebih romantis dari mereka." Aksa lalu memutar sepedanya dan menyuruh istrinya naik.
"Oh iya, aku lupa kalau kita lebih romantis dari mereka," ucap Aza terkekeh. Ia mengalungkan tangannya di leher Aksa.
Aksa mengayuh sepedanya pelan menyusuri jalanan yang sudah sepi. Lampu kuning khas jalanan menemani perjalanan mereka, suara jangkrik pun ikut menemani pasangan itu.
"Aza, jangan tidur ya. Nanti kamu bisa jatuh," seru Aksa.
"Enggak kok."
Aksa kembali mengayuh sepeda lipat berwarna hitam miliknya, lelaki itu memastikan istrinya supaya tidak tidur karena takut jatuh.
"Dingin," lirih Aza, wanita itu semakin erat memeluk suaminya.
"Sebentar lagi sampai..."
"Aku ngantuk, Hubby..."
"Jangan tidur kalau nggak mau jatuh. Lima menit lagi..."
"Tapi aku sudah ngantuk,"
"Jangan!"
Aza tertawa mendengar suaminya yang panik, "Aku tidur ya, Hubby..." wanita itu menyandarkan kepalanya di bahu sang suami membuat lelaki itu semakin panik.
"Za, jangan dong. Nanti saja kalau sudah sampai."
"Aku tuu bercanda, Hubby. Jangan khawatir," sahut Aza terkekeh.
"Ah, dasar!"
.
.
.
.
__ADS_1
.
Correct me if I have typo❤️