My Presdir

My Presdir
Jangan Mengatakan


__ADS_3

Meskipun Aza masih bersikap acuh kepadanya, Aksa tak pernah sedih sedikitpun. Malah ia menjadi lebih semangat untuk membuat wanita itu takluk.


"Akhirnya kamu nyampe juga!" seru Devano yang tengah duduk di kursi kerja Aksa.


"Kenapa? Tumben nungguin."


Devano langsung mendekati Aksa yang kala itu memilih duduk di sofa. Ia lalu menunjukkan beberapa dokumen kepada Aksa.


"Kemarin aku udah cari informasi tentang Tante Anandhi, dan ternyata dia itu emaknya Aza," tutur Devano membuat Aksa terdiam.


Aksa lalu membaca biodata milik Anandhi yang entah darimana Devano itu mendapatkannya. Ia terkejut bukan main, ternyata Aza masih mempunyai seorang Ibu.


"Ini beneran kan datanya?" tanya Aksa yang masih tak percaya.


"Beneran, kemarin tuh aku seharian nyari informasi ini."


"Kalau begini, Aza pasti akan senang." Aksa tersenyum menyeringai.


"Tolong jangan beritahu anak saya!" seru Anandhi membuat Aksa dan Devano tersentak. Wanita itu tiba- tiba masuk dan berbicara dengan nada tinggi.


"Ah, maaf saya sudah lancang memasuki ruangan Anda," lirih Anandhi. Wanita itu memang sengaja datang ke kantor Aksa karena sudah menebak jika Aksa akan menemukan jati dirinya yang sebenarnya.


"Tidak apa, Tante. Silakan duduk..." Devano mempersilakan wanita itu duduk lalu pergi membiarkan Aksa dan Anandhi berdua saja.


"Nak Aksa, Tante mohon jangan beritahu Aza jika aku adalah Mama kandungnya. Aku belum siap karena Aza pasti akan membenciku setelah mengetahui semuanya," ucap Anandhi memohon.


"Saya yakin Aza nggak akan membenci Tante, dia malah akan senang jika mendengarnya."


"Entahlah, aku tetap saja takut. Biarkan Aza mengetahuinya sendiri. Dan biarkan kami dekat untuk sementara waktu, karena jika Aza sudah mengetahui ia pasti nggak mau bertemu saya lagi." Anandhi benar- benar takut jika hal yang selama ini ia takutkan akan terjadi. Ia tidak mau kehilangan anaknya lagi, biarkan takdir berjalan semestinya.


"Tapi..."


"Aku mohon..." Anandhi mengatupkan kedua tangannya dan hendak berlutut kepada Aksa.


Aksa langsung mengajak wanita itu berdiri lagi, ia tidak mau Mama mertuanya itu malah bertekuk lutut di hadapannya.

__ADS_1


"Tapi bagaimana jika Aza menanyakannya? Tempo hari aku sudah bilang sama Aza kalau mau mencari Mamanya."


"Bilang saja kamu tak menemukan informasi apapun. Ku mohon jangan mengatakan hal ini..."


*****


Anandhi cukup tenang karena akhirnya Aksa, menantunya itu mau membantunya untuk tidak mengatakan kepada Aza. Usai berbincang sejenak, Anandhi tak langsung pulang. Ia hendak menemui Aza terlebih dahulu, dengan senang hati Aksa mengantarkannya karena ia juga ingin bertemu Aza. Entah kenapa lelaki itu jadi ingin melihat wajah lucu nan menggemaskan istrinya.


"Hello Aza..." sapa Anandhi. Wanita itu berhambur memeluk Aza dan mengecup wajahnya.


"Hai Mama Anandhi. Loh, hari ini kan nggak ada jadwal kita bertemu? Kenapa Mama ada di sini?" tanya Aza.


"Emangnya nggak boleh ya kalau Mama menemuimu?" ucap Anandhi dengan wajah sendu.


"Tentu saja boleh, tapi Aza nggak bisa nemenin Mama lebih lama. Kerjaan Aza masih banyak."


"Pergilah menemani Tante Anandhi, tinggalkan pekerjaanmu. Kan ada Sarah yang bisa menggantikannya," ucap Aksa.


"Aduhh maap, kerjaan Sarah aja belum kelar. Jangan ditambahi lagi, Pak Presdir." Sarah tak terima, sudah berulang kali pekerjaan Aza dilimpahkan kepada dirinya. Ia tak mau ini jadi keterusan, ya walaupun ada uang tambahan untuknya.


"Astaga, pelitnya minta ampun. Uang banyak tapi cuma ngasih permen tiga biji doang." Aza dan Anandhi pun tertawa melihat kelakuan Aksa yang menggelitik itu.


Anandhi mengajak Aza pergi ke taman yang tak jauh dari Sanjaya Group. Sebenarnya tak ada hal penting yang dibicarakan, hanya saja Anandhi ingin menikmati waktunya bersama sang putri.


Mereka mengobrol sembari menikmati rujak es krim, makanan yang wajib dicoba ketika mampir ke taman itu. Potongan- potongan berbagai buah yang dipadu dengan saus gula merah dan es krim di atasnya membuat siang menjadi istimewa. Asam, pedas, dan manis. Menyegarkan!


"Oh iya hampir lupa..." celetuk Aza menepuk keningnya. Anandhi menatap ke arahnya, mengernyitkan dahi bermaksud bertanya.


"Beberapa hari yang lalu aku melihat wanita mirip sekali dengan Mama Anandhi di makam Papa, apa itu benar- benar Mama Anandhi?" tanya Aza menatap lekat wanita di yang duduk di sampingnya.


Anandhi hanya menggelengkan kepalanya, ia tak mungkin jika berkata jujur dengan Aza.


"Aku kira itu Mama Anandhi, maafkan Aza ya..."


"Papa kamu kenapa meninggal? Apa dia sakit atau kecelakaan?" Anandhi berhenti menyantap rujak es krim miliknya, ia hanya ingin mendengar cerita selama dirinya pergi dari anaknya sendiri.

__ADS_1


"Papa sakit kanker otak..." jawab Aza tercekat, wanita itu hampir saja menitikkan air matanya. "Sudah satu tahun beliau mengidap penyakit mematikan itu, kami tak punya biaya lebih untuk berobat. Dan pada akhirnya Papa menghembuskan nafas terakhir beberapa bulan yang lalu," sambung Aza.


Anandhi ingin menangis kala itu, ia benar- benar tak sanggup mendengar kenyataan pahit itu. Harusnya ia datang lebih cepat dan menemani suaminya melawan penyakit itu. Tapi sayang, takdir tak berpihak.


"Apa Papamu tak menikah lagi setelah Mamamu pergi?"


Aza menggeleng, "Papa itu orangnya setia, meskipun Mama nggak ada, Papa nggak pernah dekat ataupun tertarik dengan wanita lain. Papa sangat mencintainya. Tapi, Papa tak pernah bercerita bagaimana Mamaku itu. Seperti apa dia, bahkan namanya saja aku tak tahu."


Anandhi memeluk Aza, ia benar- benar merasa bersalah. Andai saja dirinya dulu tak memilih pendidikan, pasti mereka bertiga akan selalu bersama tak terpecah belah seperti ini.


"Maafkan aku, Mas. Maaf telah menjadi istri yang durhaka, aku benar- benar menyesal..."


"Kenapa Mama menangis?"


"Engga kok, ayo lanjutkan makan rujaknya lagi," ajak Anandhi. Aza pun mengangguk, ia kembali menyantap rujak yang masih tersisa satu cup.


Sinar matahari semakin terik, rujak di tangan mereka juga sudah habis. Begitu juga dengan cappucino cincau yang mereka beli untuk meredakan pedas. Anandhi merasa sudah tak ada yang diobrolkan lagi, sudah cukup untuk hari ini. Ia akan kembali lagi esok, menikmati waktunya bersama Aza.


"Mah, Aza beli rujak dulu ya buat temen- temen di kantor," ucap Aza sebelum mereka kembali ke kantor.


Aza sedikit heran dengan Anandhi yang tiba- tiba mengajaknya mengobrol dan hanya bertanya- tanya perihal Papanya. Ia mulai curiga dengannya, apalagi saat ia bertanya tentang kejadian di makam waktu itu. Aza tahu betul jika wanita yang di makam itu adalah Anandhi.


"Baiklah, aku akan bertanya kepada Aksa. Kemarin kan dia bilang mau menyelidiki wanita di makam," seru Aza.


.


.


.


.


.


Correct me if I have typo❤️

__ADS_1


__ADS_2