My Presdir

My Presdir
Cerita Tengah Malam


__ADS_3

Ruangan itu kini hanya menyisakan Aksa dan juga Aza saja. Aksa masih setia di samping istrinya. Tapi lambat laun, kantuk pun menyerang. Ia tertidur dengan kepala yang disandarkan di tangan Aza.


"Aiden..."


"Ailee..." lirih Aza dalam tidurnya. Kejadian itu sepertinya masih membekas hingga menghantui tidurnya. Aksa pun terbangun mendengar rintihan istrinya. Ia segera menyadarkannya.


"Aza..."


"Jangan takut, aku di sini," ucap Aksa mengecup tangan Aza. Wanita itu pun perlahan membuka matanya, ia melihat sekelilingnya mencari kedua anaknya. Ia pun jadi panik karena hanya mendapati suaminya saja.


"Di- di mana baby twins?" tanyanya tak sabaran.


"Mereka..." Aksa memasang raut wajah sedihnya, membuat Aza bertanya- tanya. "Kita harus bisa menerimanya ya, Za..."


"Hubby...katakan!" Aza berteriak, ia hampir menangis melihat raut wajah suaminya yang sedih.


"Mereka baik- baik saja! Kenapa kamu hanya menanyakan mereka sih?" jawab Aksa tergelak. Aza sangat menggemaskan ketika sudah panik seperti tadi.


"Pergi saja kamu! Dasar menyebalkan!"


"Maaf maaf...aku kan hanya bercanda saja," tukas Aksa dan masih tertawa membuat Aza semakin kesal.


"Nggak lucu!"


Tengah malam itu Aza dan Aksa masih terjaga. Mereka saling bercerita dan bertukar pikiran perihal apa saja yang telah terjadi hari itu. Aza masih terlihat lemas, tapi ia bersyukur sekali karena kedua anaknya selamat dari wanita yang sangat jahat itu.


"Lalu, kenapa kamu bisa tenggelam?" tanya Aksa penasaran. Ia sendiri belum tahu kejadian tenggelamnya Aza.


"Kalau aku bercerita pasti kamu akan tertawa dan mengataiku bodoh," ucap Aza mencebikkan bibirnya. Ia tahu betul bagaimana reaksi suaminya nanti.


"Tergantung. Kenapa kamu berkata seperti itu? Memangnya bagaimana kejadian itu?"


"Jadi tuh Bella mencekik Aiden, aku terus menyerangnya dan berusaha menarik Aiden. Dan pada akhirnya si Bella kepeleset dia jatuh, Aiden pun ikut jatuh," jelas Aza. Sang suami masih antusias mendengar kelanjutan ceritanya.


"Aiden sudah lemas, Hubby. Dia bahkan tak ada tenaga lagi untuk berenang menyelamatkan dirinya. Trus aku langsung nyebur deh. Aku panik banget soalnya Aiden udah nggak bisa apa- apa lagi..." Aza mendadak sedih mengingatnya, ia hampir menangis lagi.

__ADS_1


Aksa langsung menggenggam erat tangannya. "Tenanglah, jangan takut lagi. Semuanya sudah baik- baik saja," ucapnya menenangkan Aza.


"Setelah ku tekan dada Aiden, ia pun sadar. Pas aku mau pergi dari sana, si Bella teriak minta tolong. Dia sudah mau tenggelam, hanya terlihat tangannya saja. Jadi, aku nyebur ke danau lagi deh buat nolongin dia."


"Bodoh! Harus berapa kali kubilang kalau jadi orang itu jangan terlalu baik!" gertak Aksa.


"Apa kubilang? Kamu pasti akan mengataiku bodoh hikss..."


Aksa jadi salah tingkah melihat istrinya yang malah menangis. "Cup...cup...Maafkan aku, ayo lanjutkan ceritanya!"


"Dan setelah ini kamu pasti akan tertawa mendengarnya," lirih Aza pilu.


"Dia ternyata pura- pura tenggelam saja, Hubby. Dia sebenarnya bisa berenang. Dan saat aku mau pergi meninggalkannya, dia malah menahanku dan membuatku tenggelam. Aku berusaha memberontaknya tapi si Bella sangat kuat, jadi aku yang kalah," tambah Aza. Ia ingat betul bagaimana cara si Bella membuatnya kehabisan napas dan akhirnya tenggelam.


"Jadi...pfftt..." Aksa sebisa mungkin menahan tawanya. Ternyata istrinya yang terlalu baik itu juga bisa dikelabui seseorang.


"Apa? Tertawalah sepuasmu, dan katakan jika aku memang bodoh sekali."


"Enggak kok. Makanya, lain kali tuh dengerin perkataan suami. JANGAN TERLALU BAIK JADI ORANG!" ujar Aksa penuh penegasan. Aza hanya mengangguk layaknya anak kecil.


"Tadi aku benar- benar takut..." lirih Aza. Matanya masih asyik menatap cicak yang hinggap di langit- langit ruang perawatan itu.


"Aku juga takut..." jawab Aksa. Ia sendiri masih takut karena tadi tak kunjung menemukan Aza, padahal ia sudah menyelam hingga ke dasar dan mengelilingi danau itu.


Keduanya tersenyum. Berucap syukur karena Tuhan masih mempertemukan mereka. Aksa sendiri tak tahu apa jadinya jika istri dan anak- anaknya benar- benar menjadi korban dari wanita licik itu. Ia akan memastikan orang tersebut tak akan pernah bahagia karena telah mengusik keluarganya.


*****


Sementara itu, di ruangan yang cukup luas terisi seorang wanita yang terbujur lemah dengan balutan kain kasa di lengannya karena luka tembakan. Wajahnya sangat pucat, hampir saja ia mati karena ulahnya sendiri.


"Berapa hari lagi dia akan dirawat di sini?" tanya Devano kepada dokter yang menangani Bella.


"Dua hari saja sudah cukup, tapi untuk lukanya tak bisa sembuh secepat itu. Bisa lebih dari satu minggu," jawab Dokter yang kemudian langsung keluar dari ruang perawatan Bella.


Devano tersenyum sinis meratapi nasib Bella. Ponsel serta barang lain milik wanita itu sudah disita. Dirinya pun dijaga oleh beberapa polisi di sampingnya. Cepat atau lambat pasti akan segera mendekam di penjara menjalani hukuman atas perbuatannya.

__ADS_1


*****


"Mamaaahh..." seru Aiden dan Ailee memasuki ruang perawatan Aza. Mereka datang pagi-pagi sekali karena sudah tak sabar melihat Mamanya.


"Baby Twins!" Aza pun tak kalah senangnya melihat anak- anaknya yang baik- baik saja. Mereka selamat dan tak kurang satu apapun.


"Eitss...Nggak boleh peluk Mama kalau belum peluk Papa," ucap Aksa. Lelaki itu menghalangi anak- anaknya yang hendak berhambur memeluk Aza.


"Papa minggir, kami mau bertemu Mama..." seru Ailee.


"Mama tolong kami..."


Gelak tawa pecah begitu saja ketika baby twins datang. Aksa terus menggoda anak- anaknya membuat mereka kesal dan gemas dengan papanya itu.


"Kamu ini kurang kerjaan banget sih, biarkan mereka bertemu dengan Mamanya. Dasar pelit!" celetuk Opa Keno memarahi Aksa. Ia lalu menggendong cucunya satu persatu naik ke ranjang Mamanya. Sedangkan Aksa hanya bisa diam menatap lelaki yang sudah berumur namun tetap terlihat tampan dan gagah.


"Tuan Keno, Anda terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga saya," ucap Aksa yang sebenarnya hanya bermaksud bercanda.


Opa Keno langsung berkacak pinggang menatap anaknya itu. Ia lipat lengan bajunya seakan siap bertarung dengan Aksa.


"Astaga Papaku sayang, kenapa bergaya seperti itu? Mau berantem? Ah, aku lelah," ujar Aksa. Ia lalu memeluk papanya, sangat manja.


"Heh! Kenapa kamu memelukku, lepaskan aku bukan kekasihmu..." seru Opa Keno memberontak melepaskan dirinya dari pelukan Aksa.


"Kalau begitu jadilah kekasihku biar aku bisa memelukmu," jawab Aksa terpingkal- pingkal.


"Sialan kamu! Dipikir papa udah nggak waras apa suka sama cowok!" tukas Opa Keno tak terima.


"Hufftt, jangan marah- marah mulu dong, Pah. Nanti cepet tua," ujar Aksa memperingatkan.


"Bukannya Opa memang sudah tua?" ucap Aiden dan Ailee menimpali. Semuanya pun langsung tertuju padanya.


"Aiden, lain kali jangan berbicara seperti itu ya," Aza langsung membungkam mulut anak- anaknya dengan kedua tangannya supaya anak itu tak berbicara hal yang tak sopan lagi.


"Anak sama Papa sama aja," ucap Opa Keno terkekeh, ia sama sekali tak tersinggung dengan ucapan Aiden dan Ailee tadi. Ia begitu gemas dengan anak maupun cucunya.

__ADS_1


__ADS_2