
Sama seperti biasanya, suara ayam jantan berkokok membangunkan gadis itu. Meskipun tadi dirinya sudah bangun untuk solat, tapi Aza selalu melanjutkan tidurnya lagi. Ia segera bangkit dari kasurnya, meregangkan tubuhnya sekejap dan terdiam mengumpulkan nyawanya.
Lama terdiam, ia segera bangun membersihkan rumahnya setelah itu barulah ia mandi dan bersiap. Wanita itu memilih untuk memakai celana saja karena dirinya akan naik motor bersama Sarah. Celana berwarna begie dan blouse warna denim menjadi outfitnya hari ini.
Ia duduk di kursi depan rumahnya dengan helm bogo berwarna coklat di tangannya menantikan seseorang. Ah, ini mengingatkannya dengan Reyfan. Tiap pagi dirinya memang seperti ini, menantikan lelaki itu menjemput dirinya, memakaikan helmnya, tersenyum lembut, dan mulai melajukan motornya menuju ke kampus atau restoran tempat dirinya bekerja dulu.
Sekelebat kenangan itu membuat Aza tersedu- sedu. Ia merindukan lelaki yang terlebih dahulu dipanggil Sang Maha Kuasa. Ia merindukan bernyanyi bersama saat motor melaju, memeluk lelaki itu dari belakang, menyandarkan kepalanya di bahu sembari berceloteh riang. Ia juga rindu Reyfan mengusap pahanya ketika lampu lalu lintas berwarna merah. Terakhir yang ia rasakan adalah pagi itu, dan semuanya langsung terhenti seketika saat mobil Aksa menabrak mereka dari belakang.
"Rey, aku merindukanmu. Harusnya kamu yang menjemput dan mengantarkanku bekerja. Kamu pasti akan senang karena aku bisa bekerja di perusahaan besar..." lirih Aza terisak. Bedak bayi yang terpoles di wajahnya langsung hilang seketika karena air mata menyapunya.
"Rey, hiks...hiks...hiks..."
Aza masih belum bisa melupakan lelaki itu, mungkin tak akan bisa. Lelaki itu pergi tanpa kata pamit yang terucap dari mulutnya. Lelaki itu pergi begitu saja.
"Za..." Aza terlalu larut dalam kesedihannya hingga tak tahu jika Sarah sudah sampai di rumahnya. Segeralah ia menghapus air matanya, memasang senyum ceria seperti biasanya.
"Maaf ya, aku nggak tahu kalau kamu udah sampai. Kita berangkat sekarang yuk." Aza langsung memasang helmnya dan mengajak Sarah untuk segera berangkat.
Raga Reyfan memang telah tiada, tapi jiwa dan kenangannya masih tersimpan di hati. Aza tak akan melupakan sosok itu, Reyfan tetap di hatinya tak pergi jauh. Dia akan kembali bersama di hari akhir nanti.
Kalut dengan pikirannya, Aza jadi tak fokus berjalan. Ia menabrak tubuh kekar tapi malah dirinya yang terpental. Untung saja Aksa dengan sigap menahannya jadi tak sampai terjatuh.
"Sakit..." cicit Aza mengusap keningnya. "Tubuhmu itu terbuat dari apa sih keras banget!"
"Makanya kalau jalan tuh lihat- lihat! Untung saja yang kamu tabrak itu orang, kalau truk gimana?" Aksa menggerutu kesal dan menyentil kening Aza.
"Sudah sakit malah disentil, dasar!" Aza yang tak terima langsung menginjak kaki Aksa dan berlalu pergi masuk lift.
"Heyy, tunggu..." Aksa mengejar wanita itu tapi sayang, pintu lift sudah tertutup.
"Tunggu pembalasanku," lirih Aksa tersenyum menyeringai. Ia menemukan cara untuk membalas wanita itu.
*****
Aza tengah menyelesaikan pekerjaannya, entah kenapa hari ini malah lebih banyak dari kemarin dan sepertinya di harus lembur hari ini.
"Za, makan siang dulu yuk," ajak Sarah.
"Duluan aja sana, aku lagi mau nyelesein ini dulu biar nggak lembur hari ini, Sar." Aza menolak, ia lebih memilih berkutat dengan pekerjaannya padahal perutnya meminta untuk diisi.
__ADS_1
"Yaudah, nanti aku beliin makanan aja, kamu tuh harus makan biar nggak sakit." Aza tersenyum senang, temannya itu terlalu baik. Senang sekali dia bertemu dengan orang seperti Sarah.
Setelah melakukan rapat di luar, Aksa sengaja kembalinke kantor tanpa makan siang terlebih dahulu. Ia berencana untuk makan siang bersama Aza di kantin. Sudah menunggu lama, tapi wanita itu belum muncul juga.
"Hey..." seru Aksa memanggil Sarah yang hendak membeli makanan.
"Ada apa, Pak?" Sarah sedikit takut karena tak biasanya Aksa memanggil dirinya.
"Dimana Aza?" Pertanyaan itu tentu saja keluar dari mulut Aksa.
"Bener- bener udah klepek-klepek nih sama Aza," celetuk Devano yang sedari tadi duduk di sebelah Aksa.
"Aza masih di ruangannya, Pak. Pekerjaannya masih banyak katanya," jawab Sarah. Ia langsung pergi setelah berpamitan dengan Aksa.
*****
Usai makan, Sarah langsung kembali ke ruangannya. Ia lupa untuk membelikan Aza makanan.
"Aduh, Za...Aku lupa beliin kamu makanan, mau balik lagi tapi jam istirahat udah hampir habis," ucap Sarah lirih.
Aza tersenyum, "Nggak papa, nanti aku bisa izin makan siang sama Bu Clara."
"Za, kamu disuruh ke ruangan Presdir," ucap Clara.
"Loh, kenapa emangnya, Bu? Aku punya salah, ya?" tanya Aza kebingungan.
"Ya mana saya tahu, udah cepetan ke sana ke buru jadi kepiting tuh Presdir kalau nunggu lama."
"Oh ya, tolong bawain dokumen ini sekalian ya. Tadi Presdir minta ini." Clara menyodorkan dokumen itu kepada Aza. Aza pun mengangguk dan segera pergi menuju lantai tiga puluh dimana ruangan Presdir berada di sana.
Aza ragu untuk mengetuk pintu, "Aduhh, buka nggak ya..."
Tok-tok-tok !
Aza memberanikan diri untuk mengetuk pintu, ia segera masuk ketika ada sahutan dari dalam. Presdir itu sedang duduk membelakangi dirinya.
"Ini ada titipan dari Bu Clara, katanya Pak Presdir membutuhkannya." Aza meletakkan dokumen di atas meja kaca milik Presdir.
"Ehm, kata Bu Clara, Pak Presdir memanggil saya ya?" Aza meremas jari tangannya karena takut.
__ADS_1
"Iya, memangnya kenapa?" Presdir itu memutar kursinya menghadap Aza.
Wanita itu tersentak dan mengusap dadanya. Betapa kesalnya ia saat tahu yang duduk di sana ternyata adalah Aksa.
"Kamu ngapain sih duduk di sana? Nanti dimarahin Pak Presdir loh," ucap Aza.
Aksa langsung berdiri dan menghampiri Aza. Ia menyentil kening Aza membuat wanita itu mengaduh.
"Kebiasaan!"
"Lihat tuh foto- foto yang tertempel di dinding. Foto siapa?" Aksa mengarahkan jarinya ke dinding yang terdapat foto- fotonya bersama sang Mama dan Papa. Aza pun terkejut melihatnya, ia baru menyadari jika ada foto- foto itu di sana.
"Kalau foto terpajang di sana, artinya apa?" tanya Aksa sembari menunjukkan senyum devilnya.
"Jadi..."
"Jadi kamu beneran Presdir Sanjaya Group?"
"Tentu saja!" gertak Aksa. Aza langsung diam dibuatnya, ia sedikit takut dengan Aksa. Ia jadi merasa bersalah karena bertindak tak sopan selama ini.
Aksa menarik tangan Aza dan mengajaknya untuk duduk di sofa. Ia segera membukakan beberapa bungkus makanan untuk wanita itu.
"Kamu belum makan, kan? Cepat makan, aku nggak mau bawahanku sakit." Ucapan Aksa ini sebenarnya hanya ditujukan oleh Aza saja.
"Kenapa masih diam? Cepat makan!" bentak Aksa membuat Aza patuh dan langsung memakannya.
"Nah, pinter. Makan yang banyak!" Aksa mengacak- acak rambut Aza.
Aksa terus memandangi Aza membuat wanita itu salah tingkah. Tapi Aza mencoba acuh dan cepat- cepat menghabiskan makanannya karena memang dirinya sedang lapar.
"Nanti pulangnya sama aku ya, Za. Pulang ke rumah Mama dulu, dia kangen sama kamu katanya," ucap Aksa dengan manjanya. Lelaki itu menyandarkan kepalanya di bahu Aza. Wanita itu terkejut dengan perlakuan Aksa ini, jantungnya berdetak hebat.
"Za...Kita nikah yuk, Mama mendiamkanku terus. Aku nggak kuat, aku kangen Mama yang dulu," ucap Aksa lirih. Lelaki itu terlihat sendu, ia benar- benar merindukan sikap Mamanya yang dulu. Dan satu- satunya yang bisa mengembalikannya adalah menikah dengan Aza.
"Kita nggak perlu menikah, nanti aku akan bicara sama Mama Aira," balas Aza.
"Nggak bisa, Za. Mama cuma mau kita nikah!"
"Tapi..."
__ADS_1