
Kontraksi semakin cepat datangnya, rasa sakitnya pun semakin bertambah. Kata dokter, Aza bisa melahirkan secara normal. Tapi, dokter juga tetap khawatir jika Aza tak sanggup, maka ruang operasi sesar juga telah disiapkan untuk berjaga- jaga.
"Operasi sesar saja ya." Aksa tak henti- hentinya berkata seperti itu membuat istrinya jenuh.
"Aku kuat kok, Hubby. Aku bisa melahirkan secara normal."
Ruangan besar dengan fasilitas lengkap itu terasa sepi. Hanya ada Aza dan Aksa saja yang masih terjaga. Malam semakin larut, para keluarga pun sudah terlelap mengarungi mimpi masing- masing di kasur- kasur yang sudah disiapkan di ruangan perawatan Aza.
"Hubby, kamu mengantuk?" tanya Aza karena suaminya itu menguap, matanya pun merah dan menyipit.
Aksa menggeleng, ia berjanji tak akan tidur malam itu karena harus menjaga sang istri. "Kamu tidur ya, ini sudah malam," ucap Aksa.
Aza sendiri dari tadi sudah berusaha memejamkan matanya, tapi tetap tak bisa karena rasa sakit mengganggunya. Di sisi lain, tangan Aksa hampir copot. Ia tak henti- hentinya mengusap punggung Aza.
"Hubby..."
"Aku mau jalan- jalan sebentar."
Aksa pun bangun dan membantu Aza turun dari brankar. Ia mengambil infus yang terpasang di tiang penyangganya. Aza berjalan mengangkang mengingat bagian bawahnya terasa perih dan sangat sakit.
"Mau ke mana? Jangan jauh- jauh ya..."
"Hanya mengitari ruangan ini saja, biar pembukaannya cepat."
Aza berjalan mengitari ruangan itu, entah sudah berapa kali. Tiba- tiba saja ketuban Aza pecah, perutnya mulai melonjong pertanda bayi siap dilahirkan.
"Hubby, ketubannya sudah pecah..."
"Apa?!" Aksa terkejut, ia segera mengajak Aza untuk kembali ke brankar. Tak lupa, Aksa menekan tombol darurat di sampingnya.
Dokter Afifah dan beberapa perawat pun datang ke ruangan itu. Para keluarga jadi terbangun karena Aksa berteriak tak jelas dan membentak Dokter Afifah karena dirasa lambat datangnya.
"Pembukaannya sudah lengkap, kami akan memindahkan ke ruang bersalin," ucap Dokter Afifah.
"Cepat lakukan sesuatu untuk mengurangi rasa sakitnya! Beri suntikan atau apa!" Aksa semakin menjadi- jadi, istrinya semakin kesakitan.
"Hubby, tenanglah. Aku nggak papa kok." Aza malah jadi bingung sendiri, suaminya tak berhenti berteriak.
Keno, Opa Bram, dan Opa Andi menghentikan Aksa sejenak dan memberinya pengertian bahwa tak akan terjadi sesuatu dengan Aza dan anaknya.
"Kalau kamu masih berteriak dan mengamuk pergi saja dari sini!" ucap Keno sembari menyentil kening Aksa.
__ADS_1
"Pah...Istriku..."
"Biarkan aku menemani istriku!" Aksa melenggang masuk ke ruangan lagi. Ia melihat Aza sudah mulai mengejan untuk melahirkan buah hati mereka.
"Mengejan jika kontraksi datang, jika tidak maka jangan mengejan," seru Dokter Afifah.
Aza pun mengerti, ia kembali mengatur napasnya. Anandhi yang berdiri di sampingnya pun mengusap peluh yang keluar dari kening Aza.
"Aku tak akan membuatmu seperti ini lagi, sudah cukup. Aku tak sanggup melihatmu kesakitan lagi," seru Aksa mendekap tubuh istrinya dan mengecupnya bertubi- tubi.
"Hubby, jangan menangis. Jangan khawatir." Aza mulai kesal dengan suaminya yang terus saja berceloteh hal- hal yang membuatnya pusing.
"Nona Aza, ayo mengejanlah lagi. Jangan terputus- putus."
Satu ejanan panjang membuat kepala bayi pertama mereka menyembul keluar, tinggal beberapa ejanan lagi untuk mendorong tubuh bayi.
"Mah...sakit sekali..." Bagian bawahnya terasa terbelah, rasanya perih, panas, dan sangat sakit.
"Mama yakin kamu bisa sayang..." Anandhi mengecup kening anaknya memberinya kekuatan.
"Ayo kita ke ruang operasi saja biar mereka cepat keluar," seru Aksa dengan tangis yang mulai pecah. Entah sudah berapa lama Aza berjuang di ruangan itu.
"Dokter bawa istriku ke ruang operasi sekarang!"
"Hubby, diamlah!" Aza berteriak sembari menjambak rambut Aksa karena lelaki itu sangat menjengkelkan.
"Tapi, Za..."
"DIAM! KELUAR SAJA KALAU KAMU TAK BISA DIAM!" Aza kembali berteriak membuat Dokter Afifah dan asistennya terpingkal- pingkal.
"Eeuuggghhhh..."
Ejanan panjang yang lolos dari bibir Aza membuat bayi pertama mereka lahir. Suara tangis menggelegar di ruangan itu. Tangis haru dari kedua orangtuanya pun memecah, Aza menangis mendengarnya.
"Bayi pertama laki- laki, tampan sekali," seru asisten dokter. Ia membalut bayi itu dengan kain putih dan langsung meletakkannya di dada Aza. Bayi itu menggeliat membuat Aza semakin tersedu- sedu dibuatnya, buah hatinya telah terlahir ke dunia. Sedangkan Aksa tak bisa berkata- kata lagi, hanya tangis haru yang menjadi ungkapan perasaannya kala itu.
"Dokter, sakithhh..."
"Mengejan lagi yah, sekarang tinggal putri Anda."
"Eughhh..."
__ADS_1
Beberapa menit mengejan, bayi kedua pun terlahir. Bayi kedua ini lebih mudah karena telah menemukan jalan lahir tak seperti bayi yang pertama. Bayi perempuan itu menangis tak kalah kencangnya memenuhi ruangan itu.
"Hubby...Bayiku..." Aza menatap haru, di kanan dan kirinya terdapat dua bayi yang ia kandung selama sembilan bulan.
"Bayiku juga, kamu tak bisa membuatnya sendiri," ucap Aksa membuat Dokter Afifah kembali terpingkal- pingkal.
"Biar dibersihkan dulu ya, nanti baru mengumandangkan adzan untuk mereka." Dokter Afifah mengambil mereka dibantu dengan asistennya.
Para keluarga yang menunggu di luar ruangan pun langsung masuk setelah mendengar tangisan bayi kedua.
"Cucuku sudah lahir semuanya!" teriak Aira, Oma Mira, dan Oma Maria memasuki ruangan. Mereka sangat tak sabar menggendongnya.
"Wahh tampan seperti Opa-nya," celetuk Keno membelai pipi bayi laki- laki yang masih menangis.
"Nggak terasa ya, Ndi, kita udah punya cicit," ucap Opa Bram terkikik geli.
"Iya, kita sudah tua tapi jiwa masih tetap muda," sahut Opa Andi.
Keluarga itu menghebohkan ruang bersalin. Semuanya antusias untuk menggendongnya, mereka tak membiarkan Aza dan Aksa untuk menggendong bayi mereka sendiri.
"Siapa nama mereka?" tanya Aira menatap Aza dan Aksa. Aza sendiri tak tahu, ia memasrahkan semuanya kepada sang suami.
"Aiden dan Ailee," jawab Aksa. Entah darimana munculnya ide memberi nama itu, yang jelas itu adalah nama yang bagus dan semuanya pun menyukainya.
******
Aksa dan Aza saling menatap, mereka terkikik saat mengingat hari itu. Malam semakin larut, tapi mereka belum juga tertidur. Ingatan hari lalu itu tak akan terlupakan oleh mereka.
"Hubby..."
"Iya, Sayang..."
"Kalau mereka punya adik sepertinya lucu ya..." goda Aza. Ia memang sengaja berkata seperti itu, padahal ia sudah tahu jika Aksa akan marah.
"Jangan membuatku marah! Mereka berdua saja sudah cukup! Aku tak sanggup melihatmu kesakitan saat melahirkan," ucap Aksa dengan nada penuh keseriusan.
"Iya- iya..." Aza tergelak melihat ekspresi Aksa yang langsung berubah.
"Ayo tidur di sini saja, aku ingin tidur bersama mereka," ucap Aza. Ia langsung mendekap Aiden yang semakin nyenyak tidur.
"Baiklah, selamat malam istriku. Tapi besok kembali ke kamar kita ya biar bisa anu- anu," sahut Aksa membuat istrinya menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Hm, cepat tidurlah, Hubby. Sudah malam..."
Aksa mendekap Ailee yang juga nyenyak sekali tidurnya. Tak lama kemudian, mata mereka pun terpejam mengarungi mimpi masing- masing.