
Hanya membutuhkan waktu empat puluh lima menit untuk sampai ke rumah Keno dan Aira. Aksa pun segera mengajak Aza untuk turun dan masuk ke rumah. Wanita itu tak henti- hentinya mengamati rumah yang ia tapaki saat ini. Ia merasa insecure memasukinya, mungkin rumah kontrakannya hanya sebesar pos satpam di rumah itu.
Aza menusuk- nusuk lengan Aksa, "rumah kamu besar, aku tak pantas untuk masuk ke dalam," ucap Aza lirih di akhir kalimatnya.
"Bukan rumahku, ini rumah Papa. Kamu kan calon menantu di sini, jadi sangatlah pantas untuk masuk," bisik Aksa menggoda. Aza langsung mencubit pinggang Aksa dengan kuat.
"Berhentilah menyebutku calon istri, menantu, atau apalah! Aku kan sudah bilang kalau nggak akan nikah sama kamu!"
"Jangan galak- galak jadi orang tuh, nanti naksir beneran loh sama aku," ucap Aksa mengerlingkan matanya. Ia sangatlah senang ketika melihat Aza yang marah- marah, Aksa jadi semangat untuk terus menggoda wanita itu.
"Bodoamat, Muhidin!"
"Bodoamat, Markonah!" balas Aksa berkacak pinggang.
Aira dan Keno yang mendengar keributan dari luar pun segera menghampirinya. Aza langsung bersembunyi di belakang tubuh Aksa karena malu dengan kedatangan Aira dan Keno.
"Loh, kok sembunyi gitu sih, Nak? Ayo segera masuk sayang..." Aira menarik tangan Aza tapi Aza tetap memegang erat ujung baju Aksa.
Aksa yang mengerti kalau Aza itu takut dan malu pun mengangguk dan mengisyaratkan tak akan terjadi apa- apa. Akhirnya, Aza mau mengikuti Aira masuk ke dalam.
"Ngapain lihatin Papa?" tanya Keno tatkala merasa kalau Aksa terus saja menatap dirinya.
"Siapa yang ngelihatin Papa sih, jadi orang kok percaya diri banget," sahut Aksa dan ia pun segera masuk mengunci pintunya dari dalam.
"Aksaaaaa!!!" teriak Keno sembari menggedor-gedor pintu.
"Saaaa!!! Bukain dong, masa Papa malah dikunci sih!"
Aksa yang masih berada di belakang pintu pun tergelak, ia sangat suka menjahili sang Papa. Aira yang mendengar gelak tawa Aksa segera menghampirinya karena sudah tahu pasti telah terjadi apa- apa dengan dua lelaki yang ia cintai itu.
"Dasar anak nakal kamu ya, bisa- bisanya Papa sendiri malah dikunci di luar," ucap Aira mencubit perut Aksa. Ia pun segera membukakan pintu untuk suaminya.
"Sayang...Itu anakmu nakal!" rengek Keno memeluk Aira.
"Dasar anak manja," seru Aksa.
"Diam saja kau!" Keno menendang kaki Aksa hingga mengaduh kesakitan.
__ADS_1
Mereka adalah keluarga yang lucu, meskipun sering bertengkar dan menjahili satu sama lain, tapi semuanya terlihat sangat menyayangi. Sungguh, ini membuat Aza iri melihatnya. Air matanya menetes tanpa permisi, Aksa sungguh beruntung memiliki keluarga yang lengkap dan sangat menyayangi dirinya.
"Eh, Aza sayang..." Aira melepas pelukan Keno dan menghampiri Aza yang terlihat mengusap air matanya. Ia membelai kepala Aza lembut, membuat wanita itu malah semakin menangis.
"Aza, kamu kenapa, Nak?" tanya Aira dan langsung mendekap erat tubuh Aza.
"Aza enggak pernah dipeluk, dibelai sama seorang Mama seperti ini, terima kasih Tante. Akhirnya Aza merasakan pelukan dari seorang Mama," lirih Aza dalam dekapan Aira. Keno, Aksa, dan Aira yang melihatnya pun ikut sedih. Aza sungguh kasihan, bahkan dekapan sang Mama saja tak pernah ia rasakan sejak kecil. Berbeda dengan mereka yang kapanpun bisa mendapatkannya.
"Sekarang kamu bisa memelukku kapanpun kamu mau, panggil aku Mama sama seperti Aksa ya..." ucap Aira ikut meneteskan air matanya.
Aza mengangguk, "terima kasih..."
Hanya itu yang bisa Aza ucapkan, ia benar- benar senang bisa seperti ini dengan Aira. Aksa dan Keno jadi kalut dengan suasana, tak disangka, mereka saling memeluk tubuh satu sama lain.
"Sa..." lirih Keno.
"Iya, Pah..."
"Kamu ngerasain ada yang beda apa nggak?"
"Ihhh, najis!" seru Keno.
"Papa ngapain sih meluk aku, nggak banget deh!"
"Yang ada tuh kamu yang meluk Papa."
Aira dan Aza yang melihatnya pun terkekeh, dua lelaki itu sangatlah lucu dan menggemaskan.
*****
Mereka telah berkumpul di meja makan, dengan posisi Aira di samping Aza dan Keno duduk di samping Aksa.
"Bu Presiden, aku duduk di sampingmu saja. Aku nggak mau duduk di samping cowok nakal ini," celetuk Aksa membuat Keno semakin geram dengan anaknya.
"Aksa..."
"Duduk yang manis dan nikmati makananmu dengan tenang!" seru Aira. Ia masih saja kesal dengan anaknya.
__ADS_1
"Aza, makan yang banyak ya sayang. Ini Mama yang masak loh, pasti kamu suka." Aira mengambilkan nasi dan berbagai macam lauk ke piring Aza membuat Aksa dan Keno iri melihatnya.
"Sa..."
"Apa, Pah?"
"Saingan kita bertambah, Mamamu jadi perhatian sama si Aza," bisik Keno.
"Biarkan saja, aku tetap akan mendapat perhatian dari Mama kok," jawab Aksa dengan santainya.
Usai makanan habis, mereka masih berada di meja makan dan berbincang- bincang sedikit. Aza yang tak pernah merasakan kehangatan keluarga akhirnya bisa merasakan malam ini juga. Ia juga merasa sangat disayang oleh Aira dan Keno.
Keno dan Aira pun juga senang dengan kedatangan Aza. Mereka memang mendambakan seorang anak perempuan, tapi Keno tak mau istrinya kesakitan lagi saat melahirkan, akhirnya ia memutuskan untuk memiliki Aksa saja.
"Sayang, kamu mau konsep pernikahan seperti apa?" tanya Aira membelai kepala Aza.
Mata Aza pun membulat sempurna, kenapa tiba- tiba Aira membahas tentang pernikahan? Pasti Aksa sudah bilang yang tidak- tidak dengan Aira. Aza menoleh ke arah Aksa, dan benar saja, Aksa langsung menghindari tatapan Aza. Dalam hatinya, ia sudah menggerutu kesal dengan lelaki yang baru dikenalnya beberapa minggu ini.
"Aza nggak tau, Tante. Ehm, ini sudah malam. Lebih baik Aza pulang sekarang," ucap Aza.
Aira dan Keno pun mengiyakan. Toh, masalah pernikahan bisa dibahas lain waktu. Aksa segera bersiap untuk mengantar Aza. Hatinya berkecamuk, Aza pasti akan memarahi dirinya. Aksa segera melajukan mobilnya menuju rumah Aza.
"Kamu bilang apa sama mereka, hihhhh dasar anak nakal..." Aza mencubit pinggang Aksa dengan keras, dan lelaki itu hanya bisa membisu sembari mengusap pinggangnya yang sakit.
"Kamu pasti bilang sama mereka kalau aku mau menikah kan sama kamu? Hishhh, dasar lelaki menyebalkan!" Aza kembali mencubit pinggang Aksa.
"Za...please bantuin aku. Sejak kecelakaan waktu itu, Ibu Presiden mendiamkanku dan jarang sekali mengajakku berbicara. Dia marah karena aku tak mau bertanggung jawab. Dia hanya ingin aku menikah denganmu, Za," ucap Aksa menunduk.
"Sikap Mamamu tadi biasa saja, aku bisa melihatnya sendiri," tukas Aza.
"Itu gara- gara ada kamu. Kalau nggak ada, Mama nggak mungkin ngajak aku berbicara. Sungguh, aku nggak bohong. Aku capek diginiin terus sama Mama. Aku menginginkan Mama yang dulu, Za. Menikahlah denganku." Aksa berucap dengan nada sendu dan tetap fokus mengemudikan mobilnya.
Aza hanya diam tak menanggapi perkataan Aksa. Lelaki itu hanya bersandiwara saja, pikirnya. Hingga tak disadari, mobil Aksa telah sampai di depan rumah Aza. Saat Aza ingin keluar dari mobil, Aksa langsung mencekal tangannya.
"Bagaimana keputusanmu? Apa masih sama seperti hari- hari sebelumnya?"
"Ak- aku..."
__ADS_1