
Mereka pun segera pulang karena jam sekolah telah usai. Tanpa disangka, ternyata Bu Devi masih berada di parkiran menunggu Aksa dan juga Aza.
Wanita itu langsung bersimpuh di kaki Aksa dan juga Aza. Aksa hanya menyunggingkan senyum melihat wanita yang berhati Dajjal itu. Sedangkan Aza terheran- heran mendapati Bu Devi sujud di kakinya.
"Maafkan saya..." lirihnya.
"Hello, Sultan, kenapa Anda sujud di kaki saya? Bangunlah, Sultan kok sujud di kakinya kaum miskin sih!" seru Aksa yang ditertawakan Aza, Aiden, dan juga Ailee.
"Jangan pecat suami saya. Saya mohon..." Bu Devi mengatupkan kedua tangannya benar- benar memohon. Air matanya menetes membuat Aksa semakin jijik dengannya. Entah itu air mata palsu atau asli.
Sebelumnya, Bu Devi mendapat kabar dari suaminya jika suaminya itu yang notabennya menjadi Direktur di perusahaan Singapore dipecat. Dan satu hal yang baru saja ia tahu jika perusahaan suaminya itu berada di bawah naungan Sanjaya Group. Sontak saja sang suami menyuruhnya untuk segera meminta maaf kepada Aksa dan keluarganya.
"Loh, suami Anda yang Direktur perusahaan besar di Singapore itu dipecat?" tanya Aksa pura- pura terkejut.
"Maafkan saya, saya benar- benar tidak tahu. Ini semua salah saya, jangan melibatkan suami saya, dia tidak bersalah dalam hal ini."
"Dia memang tidak bersalah, tapi istrinya yang bersalah. Saya hanya ingin memberi pelajaran pada orang dengan mulut besar seperti Anda, yang berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu! Saya sangat sakit hati saat Anda berkata jika anak- anak saya adalah anak haram!" ucap Aksa dengan tegas.
"Maaf...saya memang bersalah..."
Aksa sudah muak dengan wanita itu, ia lalu masuk ke dalam mobilnya tak lupa mengajak Aiden dan Ailee.
"Bu, mohon maafkan kesalahan saya. Saya janji tak akan mengulanginya lagi, saya tak akan menggangu Anda dan juga anak- anak Anda lagi," ucap Bu Devi mendekap erat kedua kaki Aza. Ia sudah tak peduli lagi apa kata orang-orang yang melihatnya bersujud.
"Bangunlah!"
"Awalnya memang ucapan Bu Devi ini sangat membuat hati saya sakit, sulit sekali untuk dimaafkan. Tapi sebisa mungkin saya akan berusaha memaafkannya, tapi mohon maaf sekali dengan urusan suami Anda. Itu di luar kekuasaan saya. Tenang saja, saya akan berusaha membujuk suami saya untuk mengembalikan jabatannya," ujar Aza panjang lebar, ia kemudian langsung masuk ke mobil suaminya.
Bu Devi semakin histeris, ia tak menyangka jika ternyata suaminya berada di bawah naungan keluarga itu. Ia tak bisa membayangkan jika sang suami benar- benar dipecat dan mereka akan jatuh miskin.
Berulang kali Aza berusaha membujuk Aksa supaya mengembalikan jabatan suami Bu Devi, tapi lelaki itu angkuh dan tak mau melakukannya. Aza memang lemah, ia hanya tak mau jika orang lain menjadi susah gara- gara dirinya.
"Aiden..."
"Iya, Pah?"
"Bagaimana caramu melawan Vero tadi? Katanya kamu sempat berantem ya tadi?" tanya Aksa berusaha mengalihkan perhatian supaya istrinya tak lagi merengek untuk mengembalikan jabatan suami Bu Devi.
Aksa pun tertawa lepas saat mendengar cerita Aiden dan Ailee. Mereka pun kembali mempraktekkan cara mereka berkelahi. Sangat menggemaskan.
*****
Entah sudah berapa kali Aza membujuk suaminya, sejak pulang sekolah tadi hingga malam menjemput. Aza memeluk suaminya dan menyandarkan kepalanya di dada lelaki yang asyik duduk menonton acara televisi.
__ADS_1
"Hubby, kalau dipikir- pikir kamu tampan banget ya?" seru Aza sembari mendaratkan kecupan di pipi suaminya.
"Kalian romantis banget sih, ciyeee...." goda Ailee dan Aiden. Mereka duduk di sofa kecil yang letaknya di tengah- tengah ruang keluarga itu.
"Aiden, duduklah yang benar seperti Ailee," ucap Aza.
"Ini sudah benar, Mah..."
"Perkenalkan, aku adalah calon penerusnya Papa Aksa! I'm the Little Boss!" ucap Aiden menirukan gaya Papanya, ia pun terpingkal- pingkal setelah mengatakannya.
"Ohhh, jadi sekarang sudah berani meledek Papa nih?" ucap Aksa berkacak pinggang.
"Bukan meledek, Pah. Aku hanya menirukan gaya Papa saja."
"Itu sama aja, sini kamu! Papa hukum." Aksa pun mendekat dan bersiap menggelitik Aiden.
"Ayo, Pah! Hukum Kak Aiden jangan berikan ampunan hahaha..." Ailee malah mengompori papanya. Anak itu duduk bergaya bak model saja. Cantik.
Aiden berlari sekuat mungkin mengindari papanya, tapi ternyata Aksa bisa menangkapnya. Ia pyn terpingkal- pingkal menerima gelitikan Aksa.
"Siapa, Pak?"
"Katanya Direktur perusahaan Pak Aksa yang di Singapore," ucap Pak Aryo. Ia sempat menanyakannya terlebih dahulu kepada tamu tadi sehingga dirinya tahu.
"Oh, biarkan mereka masuk dan suruh menunggu di ruang tamu ya."
Aksa dan dua anak- anaknya pun menuju ke ruang tamu menemui Direktur yang tak lain adalah suami Bu Devi. Aksa tahu betul apa yang diinginkannya.
Di sofa ruang tamunya telah terisi Pak David, Bu Devi, dan juga Vero anak mereka. Sepertinya Pak David langsung ke Indonesia setelah dipecat dan mendengar permasalahan sang istri.
"Atas nama istri saya, saya mohon maaf yang sebesar- besarnya, Tuan," ucap David dan terlihat bersungguh- sungguh.
Aza baru saja menemui mereka dengan nampan berisikan teh hangat serta kue untuk tamunya. Ia pun duduk di samping anak- anaknya.
"Apa kamu sudah tahu apa yang istrimu lakukan? Lalu, bagaimana jika kamu berada di posisiku? Anak dan istriku dihina, dicaci, dan diperlakukan secara tidak sopan, siapa yang akan menerimanya?" seru Aksa.
"Hubby..." Aza mengusap punggung tangan suaminya, memberinya ketenangan supaya amarah tak meletup lagi.
"Saya yang salah, bukan suami saya. Hukumlah saya saja, jangan keluarkan dari perusahaan Anda, Tuan." Kali ini wanita yang duduk di samping David angkat bicara. Ia terus saja menunduk, tak berani menatap Aza maupun Aksa.
__ADS_1
"Memang hanya Anda yang salah, tapi saya sengaja melakukan ini. Karena Anda juga harus tahu jika sesuatu itu tak hanya berimbas pada diri Anda sendiri, melainkan juga orang sekitar. Jika tak seperti ini, bisa saja Anda mengulang kejadian itu dan tak hanya kepada keluarga saya saja!" ucap Aksa secara tegas. Aza terkagum- kagum dibuatnya. Presdir somplak itu ternyata juga punya kebijaksanaan yang selama ini tersimpan rapat.
"Hubby, mari berdamai. Semuanya biarlah berlalu, tak baik jika kita seperti ini terus."
Aksa hanya diam, sejenak memandang Pak David yang terlihat sedih dan juga Bu Devi yang ketakutan. Ia kemudian berlalu meninggalkan ruang tamu.
Pak David dan Bu Devi pun putus asa. Mereka sedih sekali karena permintaan maaf tak diterima. Mereka pun segera berpamitan pulang, tak ada yang bisa diharapkan lagi. Nasi telah menjadi bubur. Apa yang diperbuat istrinya sangatlah mengecewakan, hingga kata maaf berulang kali tak diterima.
"Saya mohon maaf tak bisa berbuat lebih untuk kalian. Semoga Pak David segera mendapatkan pekerjaan pengganti yang lebih baik dari sebelumnya," ucap Aza. Ia turut sedih saat mengantarkan Pak David dan Bu Devi keluar.
"Bu Aza...Terima kasih telah memaafkan kesalahan saya. Bu Aza sangatlah baik, terima kasiiiih, Bu..." Bu Devi terisak memeluk Aza. Tak menyangka jika perempuan yang sempat ia hina itu berhati mulia.
"Tunggu..."
Baru saja melangkahkan kaki hendak pergi dari rumah Aksa, terdengar suara yang membuat mereka terhenti dan kembali berbalik. Aza yang kala itu masih berada di ambang pintu pun ikut menoleh, suaminya berjalan menghampiri.
"Anda masih mau bekerja di Singapore atau pindah di perusahaan cabang yang ada di kota ini?" seru Aksa membuat Pak David mengangah tak percaya.
"Kalau Anda mau di kantor cabang kota ini, saya akan segera mengurusnya," tambah Aksa.
"Terserah Anda saja mau menempatkan saya di mana," jawab Pak David dengan mata yang berkaca- kaca.
"Terima kasih, Pak!" Dengan tangan mengatup, David dan sang istri hendak bersujud di kaki Aksa tapi lelaki itu buru- buru melarangnya.
"Kalau begitu di Mars saja bagaimana?"
"Hubby, memangnya perusahaanmu bercabang sampai ke Mars ya?" tanya Aza.
"Enggak sih, tapi aku akan segera membuatnya," jawab Aksa terkekeh. Aza menepuk keningnya, kesomplakkan sang suaminya kembali lagi.
.
.
.
.
.
Maaf ya baru update🤧
Baru sempet gengs, aku sibuk banget apalagi mau UAS dan banyak tugas² akhir.
__ADS_1