My Presdir

My Presdir
Pergi Tanpanya


__ADS_3

Ruang perawatan itu senyap. Hanya ada Aiden dan sang Mama. Tak ada keluarga lain malam itu, padahal biasanya salah satu di antara mereka ada yang menemani Aza bermalam di rumah sakit.


Hatinya berkecamuk, ponsel tak lepas dari tangannya berharap ada pesan masuk yang memberitahu jika Ailee sudah ditemukan. Tapi nihil, entah sudah berapa lama ia menunggu tapi suami maupun mertuanya tak kunjung memberi kabar. Apa anak itu belum ditemukan juga?


Hendak bertanya kepada suaminya namun ia takut jika tak ada balasan. Ah, Aza jadi masygul. Ingin sekali ia berlari mencari Ailee, tapi tak ada yang bisa dipercaya untuk menjaga Aiden barang sejenak.


"Hubby..."


"Hubby...Angkat teleponnya kumohon..." lirih Aza, ia memberanikan diri untuk menghubungi suaminya terlebih dahulu.


Sambungan telepon terputus, Aksa me-reject panggilannya. Dua kali sudah lelaki itu menolak panggilannya.


*****


Aksa berdiri di ambang pintu kamar anak Sarah, di mana Ailee berada di sana dan sudah bersiap tidur. Ia menatap sejenak malaikat kecil itu, tak kunjung tidur dan hanya berguling ke sana kemari. Ia tahu betul jika Ailee sulit tidur di tempat baru.


"Papah..." lirih Ailee ketika tak sengaja menatap seseorang di ambang pintu. Dalam hatinya, ia terus saja merutuki Aunty Sarah karena dia pasti yang memberitahu Papanya.


Aksa pun mulai melangkahkan kakinya mendekati anaknya. Ia berjongkok di samping ranjang, dikecuplah kening anak yang masih berbaring itu.


"Pasti Papa mau marahin Ailee juga ya?" tanya Ailee sendu.


"Memangnya wajah Papa terlihat mau marah- marah?" Aksa malah berbalik tanya, ia lengkungkan bibirnya membentuk sebuah senyuman supaya anaknya yang cemberut itu ikut tersenyum juga.


"Pah...Ailee takut..."


"Mama marah sama Ailee huuu...huu...huuuu...."


Tangis Ailee pecah seketika, Aksa pun langsung menggendongnya keluar takut membangunkan Kimmy yang sudah terlelap. Aksa mengajaknya ke ruang keluarga rumah Sarah. Hatinya ikut terluka saat Ailee menangis tersedu- sedu.


"Mama nggak sayang Ailee...Mama cuma sayang Kak Aiden..."


"Sssttt, jangan berkata seperti itu..." Aksa mencoba menenangkan anaknya. Wajah Ailee memerah, air mata masih berderai.


"Mama itu sayang sama Ailee. Mama sayang sama semuanya. Mama lelah karena sedang banyak pikiran dan Mama lagi capek sayang..."


"Yang sayang sama Ailee cuma Papa, Oma, dan Opa saja. Mama nggak pernah sayang Ailee, Mama hanya sayang Kak Aiden."

__ADS_1


Anak itu telah berhenti menangis, ia masih nyaman di dekapan papanya, orang yang tak pernah marah dan dirasa sangat menyayangi dirinya.


"Sayangnya Mama ke kalian berdua itu sama rata. Sama Papa juga, tapi sayangnya Mama ke Papa lebih dari sayangnya Mama ke Aiden dan Ailee," ucap Aksa bermaksud menggoda, ia pun mendapat cubitan di pipinya.


"Jangan bercanda! Ailee serius!"


"Papa juga serius kok," jawab Aksa mengerlingkan matanya.


Ailee sangat gemas dengan papanya, ia pun mencubit kedua pipi lelaki itu. "Papaku sangat menyebalkan sekali..."


"Aduhh, sakit sayang. Masa cubit- cubit sih, nakal banget."


"Biarin! Papa tuh yang nakal."


"Dielus- elus aja pipinya, jangan dicubit."


Ailee berhenti mencubit pipi papanya, ia kembali mengalungkan tangannya di leher Aksa. Ia menatapnya yang ternyata juga sedang menatap dirinya.


"Papa jangan pernah berhenti menyayangi Ailee ya? Jangan seperti Mama..." ucapnya sendu.


"Hufftt, kenapa kamu berbicara seperti itu? Kapan Mama berhenti menyayangimu? Mama tak akan bisa berhenti menyayangimu, Papa pun sama. Kami akan menyayangimu dan juga Kak Aiden selama- lamanya."


"Pak Presdir, ajak ke kamar saja. Sarah sudah menyiapkan kamar untuk Pak Presdir bermalam di rumah kami," ucap Faris menghampiri Aksa yang duduk mendekap Ailee yang sudah tertidur.


"Maaf ya jadi merepotkan," ucap Aksa tak enak hati.


"Ah, Pak Presdir nggak perlu minta maaf gitu, kan nggak ada yang direpotin. Anggap saja seperti rumah sendiri," sahut Sarah.


"Kalau begitu ganti sertifikat rumah ini menjadi namaku, katanya suruh menganggap seperti rumah sendiri?"


"Bukan gitu juga kali!" ucap Sarah dan juga suaminya serempak. Aksa terpingkal- pingkal melihat mereka berdua yang langsung emosi.


"Jangan berteriak, nanti anakku bangun."


Aksa membaringkan buah hatinya di atas ranjang pelan- pelan. Ia tarik selimutnya menutupi tubuh mungil itu. Air mata Ailee masih membekas, anak itu benar- benar sedih.


*****

__ADS_1


Semalam lelaki dua anak itu telah berjanji kepada Ailee akan membawanya pergi ke puncak. Mereka telah bersiap pagi sekali. Aksa hanya ingin anaknya itu tak sedih lagi.


"Papa, let's we go!"


"Cantik sekali kamu," puji Aksa kepada anaknya yang sudah siap pergi ke puncak.



"Yuk, langsung pergi!" Aksa lalu menggendong anaknya menuju mobil. Senyum ceria kembali tersungging di wajah anaknya. Cukup mudah mengembalikan mood anak itu.


Perlahan mobil melaju menuju puncak yang juga kerap dikunjungi. Dan kali ini akan terasa berbeda karena hanya ada Aksa dan juga Ailee.


Sementara itu, di rumah sakit, Aza tengah membereskan barang- barang Aiden. Mereka akan segera pulang karena kondisi Aiden sudah pulih. Benar- benar menyedihkan, sejak semalam hingga pagi itu tak ada keluarga yang datang. Terpaksa Aza pun memesan taksi online untuk pulang.


"Kenapa Papa nggak jemput kita?" tanya Aiden saat dirinya sudah duduk di dalam taksi.


"Papa lagi sibuk sayang."


Aza kembali sedih saat mendapatkan pesan dari suaminya bahwa ia dan Ailee akan pergi ke puncak tanpa dirinya dan juga Aiden. Aza yakin sekali jika suaminya itu masih marah karena membuat Ailee terluka.


"Akhirnya cucu Oma sudah sembuh..." Oma Aira menyambut Aiden di depan pintu. Peluk cium pun turut menyambut kepulangan Aiden.


"Jangan sakit lagi ya..." tambah Opa Keno yang juga menyambutnya dengan sebuah pelukan.


Usai mengantarkan Aiden ke kamarnya, ia kemudian menuju kamarnya sendiri. Masih terlihat rapi seperti tak ada yang menghuninya semalam. Apakah suaminya tak pulang semalam? Lalu, tidur di mana?


*****


Puncak merupakan alternatif pilihan untuk berlibur. Udaranya yang sejuk dengan paparan perbukitan dan lahan hijau membuat ketenangan. Suasana yang sangat berbeda sekali dengan ibukota.


Vila milik keluarganya pun terlihat nyaman, bersih, dan terawat. Bangunan khas puncak itu membuatnya selalu rindu. Bi Maryam dan juga Mang Ikin telah berada di ambang pintu menyambut sang pemilik vila. Cukup heran karena yang datang hanyalah Aksa dan juga Ailee.


"Bi Ayam! Aku merindukanmu," seru Ailee yang langsung berhambur memeluk wanita paruh baya penjaga vila.


Bi Maryam pun membalas pelukannya. Sudah lama ia tak bertemu dengan Ailee. "Bibi juga merindukanmu putri kecil. Lain kali panggil Bi Maryam ya jangan Bi Ayam," ucapnya memperingatkan. Ailee memang selalu saja merubah nama seseorang.


"Ah, sama saja! Bi Ayam, apakah strawberry yang bibi tanam sudah berbuah?"

__ADS_1


"Sudah dong, mau memetiknya? Ayo ikut bibi." Bi Maryam lalu menggandeng Ailee mengajaknya pergi ke kebun strawberry miliknya.


Aksa sendiri langsung duduk di kursi depan vilanya membiarkan anaknya bersama Bi Maryam. Banyak pemetik daun teh yang berlalu lalang hendak menyetorkan hasil mereka. Ramah tamah masih terjalin erat.


__ADS_2