
Wanita itu mengerjapkan matanya, karena merasakan jika tangannya ada sesuatu yang berat menindihnya. Ia menyapu isi ruangannya, baru sadar jika dirinya ternyata sudah berada di kamarnya dan yang menindih tangannya adalah kepala Aksa.
Ah, Aza hampir saja memekik. Dia terkejut dan sedikit takut pasti Aksa akan memarahinya karena dia tidak menurut disuruh pulang kemarin. Aza ingin bersembunyi saat itu juga, dengan perlahan ia menarik tangannya yang ditindih Aksa.
Aksa membuka matanya karena merasa terganggu, ia lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Aza. Wanita itu menghela nafas berpikir jika suaminya masih marah dengan kejadian kemarin.
"Hubby..." ucap Aza sembari menusuk- nusukkan jarinya di ketiak Aksa. Tak ada sahutan, sepertinya Aksa kembali melanjutkan tidurnya.
"Hubby..."
"Hubby, aku ingin berbicara sesuatu. Ku harap kamu mendengarkannya."
"Aku minta maaf soal kejadian kemarin, dan maaf aku nggak nurut sama kamu. Jangan marah denganku ya, Hubby..." Aza berbicara dengan penuh ketulusan.
Wanita itu mendekat dan mengecup tengkuk suaminya, "aku mencintaimu, Hubby..." ucapnya setelah berhasil mengecup tengkuk Aksa.
Mata Aksa terbuka sempurna, tubuhnya merinding mendengar ucapan yang selama ini ia tunggu- tunggu. Ia kembali memastikannya apakah ini mimpi atau bukan. Ia berbalik menatap istrinya yang ternyata memang sedang tidak tidur, dan itu berarti Aza memang sadar saat mengucapkannya. Mereka berdua sama- sama terdiam dan saling tatap.
"Are you seriously?" tanya Aksa yang kemudian diberi anggukan oleh Aza.
"Azalea Tanisha Anandhi benar- benar mencintai Aksa Arion Sanjaya," ucap Aza sembari menunjukkan senyum manisnya.
"Cubit aku, dan beritahu jika aku lagi nggak mimpi saat ini." Aksa masih tak percaya dan Aza pun mencubit lengannya hingga dia memekik.
"Kenapa beneran nyubit aku sih? Sakit tahu!" Aksa mengusap- usap lengannya yang mungkin saat ini sudah memerah karena cubitan Aza memang menyakitkan.
"Tadi kan kamu menyuruhku untuk menyubitmu, Hubby. Kenapa sekarang malah memarahiku," jawab Aza terkekeh.
Tak ada kata yang bisa ia ucap, ia sangat bahagia. Akhirnya wanita yang ia cintai terlebih dahulu bisa mencintainya juga. Cinta yang terbalas memang luar biasa bahagianya. Penantian selama hampir tiga bulan ini akhirnya terbalaskan. Dan kini, mereka saling mencintai.
"Terima kasih, aku juga mencintaimu..."
"Maaf jika sudah membuatmu menunggu lama. Dan terima kasih sudah membuatku jatuh cinta denganmu serta melupakan kisah pilu di masa laluku." Aza memeluk Aksa dan menyusupkan kepalanya di dada lelaki itu.
Aksa mengecup Aza tanpa henti sebagai ungkapan rasa bahagianya. Ingin sekali ia berteriak kepada dunia memberitahukan kebahagiaan ini.
"Hubby, geli...berhentilah menggelitikiku." Aza mulai merasa tak nyaman karena tangan suaminya menelusup ke pinggangnya.
"Aku ingin melakukannya..." ucap Aksa dengan suara parau.
Aza mengangguk, ini sudah saatnya ia memberikan apa yang sudah menjadi hak Aksa.
"Hubby..." seru Aza ketika tangan Aksa mulai bergerilya.
"Aku sayang kamu..." sahut Aksa dengan penuh ketulusan.
Dan mereka pun melakukan apa yang sudah seharusnya dilakukan. Melakukannya tanpa henti hingga waktu menunjukkan pukul enam pagi. Untung saja mereka tadi sempat solat terlebih dahulu.
Aza selalu berteriak merasakan sakit dan perih karena ini adalah kali pertama ia melakukan. Begitu juga dengan Aksa yang mendapat cakaran serta gigitan dari Aza. Entah sudah berapa ronde yang mereka lakukan, hingga Aza dan Aksa benar- benar kelelahan pagi itu. Dan mereka tertidur karena kelelahan. Tidur atau pingsan? Aku pun tak tahu :v
__ADS_1
*****
Keno dan Aira tengah menunggu mereka di meja makan, tapi tak kunjung datang juga. Biasanya Aza selalu bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan, tapi kali ini tidak.
"Sandra, tolong panggilkan Aza dan Aksa ya," seru Aira menyuruh Sandra yang kala itu tengah membereskan dapur.
"Baik, Bu." Sandra pergi setelah meletakkan lap yang ia bawa tadi.
Ia mulai mengetuk kamar Aksa dan Aza tapi tak ada sahutan dari dalam. Ia pun iseng langsung membuka pintu kamar yang ternyata tidak dikunci sang pemilik.
"Ternyata mereka masih tidur..." lirih Sandra menatap dua orang yang masih meringkuk di bawah selimut dan berpelukan dengan mesranya.
"Beruntung sekali Mbak Aza. Punya suami tampan, baik, penyayang lagi. Ah, aku jadi iri dengannya..." Sandra lalu menutup pintu kamar dan memberitahu Aira serta Keno jika mereka berdua masih tertidur.
"Mungkin semalaman mereka melakukannya hingga kelelahan, Pah. Wahh, aku sudah tak sabar menimang cucu dari mereka," ucap Aira.
"Itu tandanya aku harus ke perusahaan untuk menggantikan Aksa. Ah, anak itu selalu menyusahkanku," gerutu Keno sembari menyeruput kopi di cangkirnya.
"Tak apa, yang penting kita akan segera mendapat cucu. Aku menginginkan bayi mungil di rumah ini."
"Aku juga. Tapi..."
"Sudahlah, aku akan menemanimu nanti."
*****
"Hubby, bangunlah..."
"Heuhmm..." Aksa hanya menggeliatkan tubuhnya dan enggan bangun.
"Aku lapar..."
"Kalau lapar ya makan."
Aza mencebikkan bibirnya, bagaimana bisa suaminya itu tak mengerti dirinya.
"Aww..." pekik Aza yang mampu membuat Aksa terbangun.
"Sakit..."
Aksa menepuk keningnya, ia lupa jika telah melakukan itu semalam dan pasti istrinya itu sangatlah kesakitan. Ia segera bangun dan menggendong Aza turun ke bawah.
"Makasih, Hubby..."
Sandra yang kala itu sedang tak ada jadwal kuliah dan melihat mereka pun semakin iri. Aza benar- benar beruntung bisa mendapatkan lelaki sebaik Aksa.
"Loh, Mama sama Papa kemana, Sand? Tumben belum sarapan?" tanya Aksa setelah mendudukkan istrinya.
"Mereka sudah pergi, lagipula ini sudah siang, Mas," jawab Sandra.
__ADS_1
Aksa dan Aza langsung melirik jam dinding yang ternyata memang menunjukkan pukul sepuluh pagi.
"Oh my god, aku harus bekerja sekarang. Ini sudah terlewat berjam- jam. Mbak Clara pasti akan mencariku!" Aza kalang kabut, ia bingung harus bagaimana sekarang.
"Hey, tenang- tenang. Nggak berangkat bekerja satu hari nggak masalah, kan? Ini bukan hal serius, jangan takut gitu..." ucap Aksa menenangkan istrinya.
"Tapi..."
Aksa tak mau mendengar sepatah kata lagi dari istrinya, ia segera memasukkan roti ke mulut Aza supaya tak bicara lagi.
"Katanya lapar, sudahlah makan saja. Tak perlu memikirkan kantor."
Aza pun mengangguk, ia segera menyeruput susu yang sudah dingin.
"Tapi, Hubby. Kalau aku nggak-" ucapan Aza kembali terputus karena Aksa telah memasukkan roti lagi ke mulutnya.
Aksa terkekeh melihat ekspresi kesal Aza yang tak bisa menyelesaikan ucapannya. Suara bel rumah terdengar, Sandra langsung membuka pintunya dan mempersilakan orang itu masuk.
"Kak Aksaaaa..." teriak seorang wanita dan langsung memeluk Aksa. Yang tak lain adalah Tania.
"Tania, tolong jaga sikapmu. Kamu nggak boleh sembarangan meluk aku gini, aku sudah punya istri!" ucap Aksa tegas, ia lalu melepas pelukan Tania.
"Iya kak, maaf. Abisnya aku kangen banget nih, udah berapa lama nggak ketemu? Acara pernikahanmu dulu aku juga nggak bisa hadir."
Tania memang sudah lama tak bertemu dengan Aksa, saat pernikahan Aksa pun dirinya tak datang karena disibukkan koas.
"Jadi ini istri kakak?" Tania melirik Aza yang kala itu tengah menikmati roti. "Cantik sekali, pantas saja kak Aksa lebih memilih dia daripada Tania."
Aksa terdiam, Tania tak sedih atau merasa apa saat bertemu dengan Aza. Ia malah sangat senang, sepertinya dirinya bisa menerima jika Aksa bersama wanita lain.
.
.
.
.
.
Aksa : "Author cantik, makasih ya akhirnya gue enak- enak juga sama Aza😍Author baik, author cantik, author pinter."
Author : "Hylyh! Kemarin marahin gue gara- gara gagal mulu, sekarang sok- sokan baikin gue🙄"
Aksa : "Alamak, serba salah! Dahlah, aku gajadi do'ain author jomblo terus. Semoga cepet dapet pacar ya wkwkwk."
Author : "Nggak usah ngeledek, mentang- mentang punya Aza jadi sombong ama gue😒"
Aksa : "Ah, sudahlah. Aku mau lanjut enak- enak lagi. Jangan iri ya, Thor😍"
__ADS_1