My Presdir

My Presdir
Budak Cinta


__ADS_3

Aza nampak sudah siap mengawali harinya ini. Entah mau kemana suaminya akan mengajaknya pergi hari ini, yang penting mereka akan menghabiskan hari dengan berkeliling Bali.


Wanita itu duduk terdiam di depan meja rias setelah selesai mengepang rambutnya. Ia mengamati ponselnya yang mati dan belum dijamah seharian.


"Hubby, bolehkah aku menyalakan ponselku?"


"Nanti mereka mengganggu kita, lebih baik matikan dulu," jawab Aksa. Lelaki itu sedang memakai kaosnya dan berjalan menghampiri istrinya.


"Sebentar saja, Hubby. Hanya menelpon seseorang." Aza lalu menyalakan ponselnya, menunggunya beberapa menit hingga ponsel siap digunakan. Ponsel menyala terang, ia segera mengatur WiFi, memasukkan password WiFi hotel supaya ponselnya bisa digunakan. Aza memang tak pernah mengisi kuota, ia hanya mengandalkan WiFi di tempat yang ia pijaki. Hemat uang katanya.


Nampaklah notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab yang banyak sekali dari sana. Ia menggelengkan kepalanya menatap siapa saja yang mencoba menghubunginya. Sarah, Clara, Devano, Mama Aira, Oma berlipstik tebal, dan masih banyak lagi. Ia mengabaikannya, jika menjawab pesan satymu persatu maka nanti malah akan berlanjut dan tak ada habisnya.


Aza lalu membuka kontak WhatsApp milik seseorang. Anandhi. Ya, Aza hanya ingin mendengar kabarnya. Ia menatap foto profil Anandhi yang menampakkan fotonya dengan Aza. Aza tersenyum kecil melihatnya. Ia lalu menekan tombol panggilan video kepada wanita yang ternyata adalah ibu kandungnya.


Dengan cepat panggilan video itu terjawab, nampaklah wajah Anandhi yang tersenyum ceria. Sepertinya dirinya sangat senang karena Aza menghubunginya terlebih dahulu setelah sekian lama. Aza jadi bingung, ia tak tahu harus berbicara apa dengan Anandhi.


"Halo, Sayang? Ada apa pagi- pagi nelpon Mama?" tanya Anandhi dengan senyum yang tak surut.


Aza menggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan tangan kirinya, ia jadi salah tingkah. Sedangkan Aksa, sedari tadi memperhatikan istrinya ia jadi gemas, istrinya pasti canggung.


"Ah itu tadi kepencet kok, jangan kepedean dulu ya mentang- mentang aku nelpon duluan," jawab Aza sekenanya.


"Bohong, tadi Aza memang sengaja menekannya. Dia mungkin kangen sama Mama Anandhi," sahut Aksa.


Anandhi yang di sana pun tergelak mendengarnya. "Benarkah apa yang dibilang suamimu tadi?"


"Mana ada!" Aza langsung memberikan ponselnya kepada sang suami dan dirinya beranjak pergi dari sana.


*****


Tepat pukul enam pagi, Aksa dan Aza telah sampai di Pantai Lovina Bali. Salah satu objek wisata Bali yang memamerkan keindahan lumba- lumba, karena di pantai ini kita memang dapat melihat lumba- lumba berenang dan meloncat ke sana kemari.


"Pakai pelampungmu yang benar, Za," seru Aksa ketika Aza terburu- buru untuk naik ke perahu nelayan dan belum selesai memakai pelampungnya.


"Iya, Hubby. Aku sudah tak sabar."


Aksa menggelengkan kepalanya, ia lalu memakaikan pelampung dengan benar pada istri kecilnya itu. Dirasa sudah aman, mereka pun segera naik di perahu yang telah disewa, dengan Aza duduk di depan Aksa.


Pantai Lovina ini terletak di Bali utara dekat dengan Kota Singaraja. Di sini kita bisa melihat atraksi lumba- lumba, tapi harus pagi sekali karena lumba- lumba akan muncul sekitar pukul 06.00 sampai 07.00 pagi


"Hubby, lumba- lumbanya lucu seperti aku ya..."


"Dihh, pd banget sih jadi orang," ucap Aksa mencubit hidung Aza. Ia memeluk istrinya dari belakang, ikut menyaksikan lumba- lumba yang asyik melompat.


"Ihh, itu yang paling kecil..." celetuk Aza layaknya anak kecil.

__ADS_1


"Yang paling kecil tuh semut," sahut Aksa tergelak.


"Kamu itu diam saja, Hubby!"


Perairan laut Lovina yang relatif tenang, sehingga dapat dilewati dengan nyaman dengan menggunakan perahu nelayan.


"Bli, di sini boleh menyelam, kan?" tanya Aksa menoleh ke nelayan yang berada di belakangnya mengemudikan perahu.


"Bisa, di sini biota lautnya beragam dan bagus tak kalah dengan tempat menyelam di Bali yang lain. Jadi, sayang sekali kalau tak mencoba menyelam di sini," jawab nelayan yang berusia sekitar empat puluh tahun itu.


"Hubby, nggak boleh nyelam. Pokoknya nggak boleh." Aza langsung memeluk suaminya, mencegahnya supaya tak pergi untuk menyelam di pantai ini. Ia takut sesuatu terjadi dengan suami yang sangat ia cintai itu.


"Kenapa kamu jadi sensitif gini sih? Ayolah, aku akan menyelam sebentar. Sudah lama nggak menyelam."


"Jangan, Hubby! Tubuhmu itu kan besar sekali, nanti sekali nyemplung pasti langsung tenggelam nggak bisa balik lagi. Pokoknya nggak boleh."


"Iya- iya..."


"Nah, anak pintar. Aku menyayangimu." Satu kecupan mendarat di pipi Aksa sebagai hadiah karena telah menuruti kemauan Aza.


"Aku lebih menyayangimu." Aksa tak mau kalah, ia pun mengecup pipi Aza.


"Uhuuukkk...uhukkk..." Tiba- tiba saja nelayan itu terbatuk, Aksa dan Aza pun menoleh ke arahnya.


"Keselek kebucinan."


Jawaban nelayan itu sontak saja membuat Aksa dan Aza terkikik. Mereka baru tahu kalau kebucinan bisa membuat orang tersedak.


Perahu semakin menengah, lumba- lumba pun semakin banyak. Mereka menghampiri perahu yang sedang Aza dan Aksa tumpangi. Aza semakin girang melihatnya, ia menunduk mencoba mengusap lumba- lumba itu dengan tangannya. Licin dan geli, kesan yang ia tangkap.


Aksa pun tak lupa mengabadikan momen itu, ia memotret istrinya berulang kali.


*****


Puas melihat lumba- lumba, Aksa dan Aza pun menuju ke Kintamani. Butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai ke Kintamani. Cukup melelahkan, tapi tidak bagi Aza. Ia sangat antusias menikmati perjalanannya, ia pun juga tak sabar untuk mengunjungi tempat- tempat yang lain. Hari ini adalah hari di mana ia akan benar- benar liburan, karena besok ia dan suaminya itu hanya akan di hotel saja sesuai dengan ucapan Aksa beberapa waktu lalu.


"Za, aku pup dulu sebentar ya," ucap Aksa memegang perutnya sembari meringis menahan mulas yang teramat.


"Iya, Hubby. Aku akan menunggu di sini."


Aksa langsung melepas topi dan tasnya, lalu memberikannya kepada Aza. Ia pun berlari terbirit- birit menuju ke kamar mandi umum.


Lama Aza menunggu, sepertinya sudah hampir 10 menit. Aksa pun keluar membuat Aza langsung berdiri memakaikan topi suaminya dan menggandeng tangannya meninggalkan kamar mandi.


"Ayo, Hubby..."

__ADS_1


"Tunggu sebentar, aku nggak bisa lihat ini." Aksa tak bisa melihat karena Aza memakaikan topinya asal- asalan hingga menutupi matanya.


Daerah kawasan pariwisata Kintamani berada di bagian timur laut pulau Bali dan berada di bawah kaldera Gunung Batur, salah satu gunung berapi yang masih aktif di Bali. Selain terdapat gunung Berapi, di kawasan pariwisata Kintamani wisatawan juga dapat melihat pemandangan danau alami yang bernama danau Batur.


Di dalam area kawasan pariwisata terdapat beberapa desa. Seperti desa Penelokan, desa Abung, desa Songan, desa Toya Bungkah, desa Batur, desa Kedisan, dan desa Kintamani yang masuk dalam pemerintahan kabupaten Bangli. Sebagian besar wisatawan yang liburan ke salah satu desa lebih mengenal dengan sebutan Kintamani, walaupun sebenarnya wisatawan berlibur di desa Penelokan atau desa lainnya.


Mereka mengunjungi Desa Penelokan, salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi wisatawan saat liburan. Alasannya yaitu karena Desa Penelokan sangatlah sejuk serta banyak restoran buffet dengan akses langsung untuk melihat pemandangan gunung Batur dan Danau Batur dari ketinggian.


"Sangat luar biasa!" cetus Aza sembari melayangkan pandangannya menikmati keindahan alam yang sangat sulit dijumpai di Ibukota.


"Sangat indah, tapi wanita di sampingku jauh lebih indah," sahut Aksa tersenyum lebar menatap istrinya.


"Hubby, kenapa kamu sekarang jadi budak cinta?"


"Ini gara- gara ketularan drama Thailand yang sering kamu dan Mama tonton." Aksa terkekeh sembari merangkul istrinya. Mereka kembali menatap pemandangan, menikmati udara yang sejuk dan terbebas dari polusi. Bali memang jauh berbeda dari Ibukota.


Baru saja menatapnya tiba- tiba awan mulai menutupi pemandangan itu. Waktu terbaik untuk menikmati Desa Penelokan adalah pukul 09.00 karena jika siang hari menjelang pukul 12.30 awan mulai menutupi daerah itu. Aksa dan Aza sedikit terlambat datang ke sana, jadi hanya bisa menyaksikan pemandangan indah itu dalam sekejap.


"Yahh..." Aza nampak sedih karena tak bisa berlama- lama di sana.


"Masih ada tempat lain, ayo kita ke Danau Batur Kintamani dan Gunung Batur."


Aksa dan Aza menyewa perahu untuk berkeliling di tengah Danau Batur. Danau yang sangat indah, saat dilihat dari ketinggian, bentuknya menyerupai bulan sabit. Danau ini sering disebut kaldera terindah di dunia oleh sebagian besar wisatawan asing karena tempatnya memang sangat indah.


"Hubby, berdiamlah di sana. Aku akan mengambil gambarmu!" seru Aza memerintahkan suaminya untuk tetap berdiri dan berpose, pemandangannya sangat indah jadi sayang untuk dilewatkan.



Beberapa momen telah terabadikan, Aza menatap hasil tangkapannya sejenak.


"Hubby..."


"Kenapa, Za? Sini aku lihat fotonya, seberapa bagusnya kalau kamu yang ambil. Pasti jelek," ledek Aksa.


Aza menyodorkan kameranya kepada sang suami, "Hasilnya sangat bagus. Hubby, kenapa kamu sangat tampan? Pasti banyak wanita yang suka denganmu, dan kamu akan-"


"Jangan dilanjutkan! Kalaupun ada yang suka biarkan saja, toh aku tak menyukai mereka. Tak ada yang bisa membuatku jatuh cinta selain wanita yang ada di depanku ini," potong Aksa. Ia berkata dengan tulus membuat Aza terbuai apalagi dengan suasana yang romantis seperti ini. Alam pun juga berpihak kepada dua insan itu.


"Janji nggak akan ninggalin aku ya?"


"Iya, kamu juga janji untuk tetap setia denganku."


"Iya, Hubby. Apapun keadaannya, kita akan tetap bersama sampai ajal menjemput."


Mereka lantas memeluk tubuh satu sama lain. Bahagia yang teramat tengah mereka rasakan, semoga Tuhan terus menghadirkannya. Semoga ini tak kunjung usai.

__ADS_1


__ADS_2