
Mobilnya melaju begitu cepat, tak peduli dengan rambu- rambu lalu lintas. Sesekali, ia mengecek ponselnya untuk memastikan pesanan tiket ke luar negeri yang baru saja ia pesan. Mulutnya tak bisa berhenti merutuki lelaki yang baru saja mengalahkannya.
"Tunggu pembalasanku!" ucapnya menyeringai.
Ia membelalak ketika hampir sampai di rumahnya. Banyak polisi berjejer rapi mengawasi rumahnya. Mulai dari depan, belakang, samping, semuanya tak lepas dari pemantauan.
"Sialan!" Bella berteriak seraya memukul kemudinya. Ia pun berbelok sebelum polisi mengetahui keberadaannya. Tak akan mungkin untuk mengambil barang- barang keperluannya selama di luar negeri nanti jika polisi ada di mana- mana. Ia pun memutuskan untuk pergi ke Bandara secara langsung.
"Kalian pikir bisa mengalahkan Bella? Hahaha, itu tak akan pernah terjadi!"
Di tengah perjalanan, ia tak sengaja hampir menabrak dua anak kecil yang berlarian. Ia pun terpaksa turun sejenak memastikan anak- anak itu baik- baik saja. Beruntung anak yang sedang bermain di taman itu tak kenapa- kenapa.
"Kami baik- baik saja, Tante. Maafkan kami karena tak hati- hati saat mau menyeberang tadi," ujar anak lelaki yang tak lain adalah Aiden.
Bella tampak berpikir sejenak dan mengamati anak- anak itu. Ah, mereka pasti adalah anak- anak Aksa. Ya, beberapa hari yang lalu ia sempat bertemu dengan Aksa dan istrinya, juga dengan dua anak itu.
"Apa kalian adalah anak- anak Papa Aksa?"
Aiden dan Ailee saling tatap, waspada dengan orang asing itu. "Dalam hitungan ketiga kita harus lari," ucap Aiden berbisik memberitahu adiknya. Tangannya pun menggenggam erat tangan Ailee.
"Kalian mau ke mana? Yuk ikut Tante..."
"Nggak mau!"
"Aiden! Ailee!" teriak Aza. Ia langsung berlari karena melihat anaknya bersama orang asing.
Bella pun tak mau kalah, ia segera menarik kedua anak itu dan mengajaknya berlari cepat. Ia terus berlari berharap Aza yang juga mengejarnya itu lelah dan berhenti.
"Gara- gara papa kalian, sekarang aku jadi buronan! Aku tak bisa mengalahkan papamu, maka dari itu aku harus membuat harta yang paling berharga miliknya musnah terlebih dahulu!"
"Tante lepaskan kami..." Aiden dan Ailee terus memberontak. Mereka sendiri tak tahu apa yang dimaksud dengan ucapan Bella.
"Mah...Tolong kami!" teriak Aiden dan Ailee. Mereka cukup lega karena ternyata Mamanya masih mengikuti mereka meskipun terlampau jauh.
"Bella! Tolong lepaskan anak- anakku! Kenapa kamu melakukan ini!" teriak Aza sekeras mungkin. Ia ingin menangis saat itu juga. Taman itu sangatlah sepi, tak ada orang. Dan Bella hampir sampai di sebuah danau yang tak jauh dari taman itu. Ia takut jika Bella akan berbuat nekad.
__ADS_1
Sedangkan Bella mulai terusik dengan teriakan dari Aza maupun anak kembar itu. Tapi ia tak menyerah meskipun Aiden dan Ailee juga telah berkali- kali menggigit tangannya supaya melepaskan mereka. Kalau ia harus masuk penjara, sebelum itu dia harus membuat keluarga Aksa menderita terlebih dahulu.
Bella dan anak kembar itu telah sampai di tepi danau, Aza semakin mempercepat larinya tapi kemudian ia terhenti karena Bella mengisyaratkan untuk berhenti dengan mengancam Aiden dan Ailee.
"Jangan mendekat!" Bella semakin gencar. Ia mencekik Aiden dan Ailee, membuat Aza panik tak karuan.
"Kita bisa bicara baik- baik. Tolong jangan perlakukan anakku seperti itu, kumohon..." seru Aza dengan tangan mengatup, ia benar- benar memohon kepada wanita jahat itu.
"Mamah...tolong kami...." Tak bisa dibiarkan, tangisan anaknya yang juga diselingi meminta pertolongan membuat hatinya begitu sakit. Ia pun memberanikan diri melangkah kembali.
"Kubilang jangan mendekat!" seru Bella ketika Aza melangkah mendekatinya. Cekikannya pada Ailee dan juga Aiden semakin diperkuat, hingga dua anak itu terbatuk- batuk dan hampir kehabisan napas.
"Cepatlah mati anak- anak...Setelah ini aku akan menyerahkan diriku ke penjara..." Bella benar- benar sudah gila, ia berjiwa psikopat. Entah apa yang membuatnya bisa berpikir seperti itu.
Dan Aza tak peduli lagi, ia segera berlari dan berusaha menarik anak- anaknya. Perkelahian pun tak bisa terhindarkan.
"Pergi dari sini! Biarkan aku membunuh anak- anakmu terlebih dahulu!" seru Bella.
"Tidak!" bantah Aza. Ia berhasil melepaskan Ailee, sedangkan Aiden masih berada di tangan wanita itu.
Bella terus berjalan mundur, ia pun semakin mencengkram leher Aiden supaya lekas mati.
"Tidak akan!"
Aiden hampir kehilangan napasnya, ia pucat sekali dan matanya hampir menutup. "Aiden, bertahanlah, Nak..."
"Aaaa!"
Bella terpeleset karena dia sampai di tepi danau. Wanita itu dan juga Aiden tercebur ke danau yang begitu dalam dan luas.
"Aiden!"
"Kak Aiden..."
Aza dan Ailee memekik. Aiden sudah terkulai lemas karena cekikan Bella tadi sehingga meskipun anak itu juga pandai berenang dia tak bisa menyelamatkan dirinya. Tak berpikir panjang, ia langsung masuk ke danau berusaha menyelamatkan Aiden.
__ADS_1
Anak itu sudah jatuh terlalu dalam hingga Aza cukup kesusahan. Tapi beruntung, Aiden masih bisa ia peluk dan ajak ke tepian. Sedangkan Bella? Dia belum berhasil menyelamatkan dirinya, Danau terlalu dalam hingga wanita itu kesulitan berenang dan mengatur napas.
"Aiden...Aiden...Aiden bisa mendengar Mama?" seru Aza. Ia berusaha membuat anaknya sadar. Dada Aiden ditekan supaya air yang masuk bisa keluar, tapi sudah berulang kali Aiden tak terbangun juga.
"Kak Aiden...Bangun kak..." Ailee ikut cemas melihat kakaknya yang tertidur dan pucat sekali.
Uhuukkk...uhukkk...
Akhirnya anak itu terbangun juga. Air yang tadi masuk ke tubuhnya keluar beringingan saat ia batuk. Cukup banyak air yang masuk, anak itu masih terkulai lemas dan berusaha bernapas.
"Aiden, syukurlah kamu sudah sadar..." Aza bernapas lega, ia langsung memeluk anaknya.
"Siapapun tolong!" Teriak Bella tersengal- sengal. Tubuh wanita itu tenggelam dan menyisakan kedua tangannya yang terus melambai bermaksud meminta bantuan.
"Kalian tunggu di sini, Mama akan menolong Tante Bella," ujar Aza sebelum dirinya kembali masuk ke danau. Bella sudah berada di tengah danau, dan itu pasti jauh lebih dalam dan susah. Sekuat mungkin ia berenang menghampiri Bella yang kini sepertinya benar- benar sudah tak sadarkan diri karena suara serta lambaian tangannya tak ada lagi.
"Bella, pegang tanganku..." seru Aza. Ia berusaha mengatur napas dan menarik tubuh Bella.
Tapi, siapa sangka jika Bella ternyata hanya berpura- pura saja. Wanita itu masih sadar, ia langsung mencekal Aza yang hampir meninggalkannya.
"Kamu terlalu baik ya ternyata. Tapi lain kali kamu jangan sampai tertipu dengan orang sepertiku," ujar Bella.
"Lepaskan tanganku!" Aza berusaha menarik tangannya.
Bella malah semakin gemas dengan Aza. Ia mendorong kepala wanita itu hingga terlelap ke semakin dalam. Aza terus memberontak dan berusaha naik ke permukaan mengambil napas. Bella membiarkannya mengambil napas, tapi kemudian ia kembali membuat Aza tenggelam.
"Ahhhh..."
"Ucapkan selamat tinggal pada dunia, Nyonya Aza Sanjaya, istri Tuan Aksa yang terhormat..." ujar Bella menyeringai.
"Hubby...Tolong aku akhhh..." Aza benar- benar kesusahan mengambil napas. Tubuhnya yang mulai lemas malah semakin dimanfaatkan Bella untuk menenggelamkannya.
"Suamimu tak akan datang ke sini! Lebih baik kamu cepat mati, biar tak ada yang menghalangiku untuk membunuh anak- anakmu yang sangat menggemaskan itu."
"Suamiku akan datang! Dia akan menyelamatkan kami!" cetus Aza. Ia yakin betul jika suaminya akan segera datang karena saat Bella menarik Aiden dan Ailee membawanya ke tempat ini, ia sudah menghubungi Aksa terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan membuatmu mati lebih cepat!" Bella mendorong tubuh Aza hingga tenggelam sepenuhnya, ia menahannya sampai Aza benar- benar kehilangan napas dan tertidur selamanya.
Awalnya ia yakin jika dirinya pasti akan selamat. Tapi Tuhan bisa saja berkehendak lain. Tubuhnya melemas, tak ada tenaga lagi untuk melawan Bella. Air yang ia hirup seakan telah memenuhi dadanya. Tangis anaknya yang berada di tepi danau masih bisa terdengar jelas. Dan apakah ini adalah tangis terakhir yang bisa ia dengar? Ia benar- benar sudah tak bisa berbuat apa- apa lagi. Dirinya terkalahkan oleh air danau yang begitu jernih itu.