My Presdir

My Presdir
Begitu Cepat


__ADS_3

Gelas berisi air putih tiba- tiba saja terlepas dari genggamannya. Pecahannya menyebar ke lantai, air mata pun keluar tanpa permisi, dan firasat buruk juga menghampiri.


"Aza, kamu kenapa?" Sarah jadi panik melihat Aza yang langsung kaku di tempat. Entah kenapa pantry itu rasanya seperti mencekam, suasana menjadi berubah.


"Perasaanku nggak enak," lirih Aza dengan tatapan kosong.


"Kamu tuh sakit! Dibilangin dari tadi juga masih ngeyel. Lihat tuh wajah kamu makin pucat, kepalamu juga masih sakit, kan?" ucap Sarah dengan nada mengomel.


"Enggak, ini tuh biasa. Kecapekan doang, jadi pusing."


"Udahlah, ayo pulang." Aza langsung merangkul Sarah dan mengajaknya menuju ruangan mereka untuk mengambil tas.


"Kamu serius kan nggak papa? Badanmu dingin banget, Za," seru Sarah saat tak sengaja menyentuh telapak tangan Aza yang dingin.


"Jangan khawatir, sepertinya ini tanda- tanda kehamilan. Tadi pagi tuh aku sempet mual- mual, pusing juga. Dan, bulan ini aku belum kedatangan tamu," ucap Aza dengan nada senang. Ia melupakan sejenak kejadian pecahnya gelas tadi. Padahal ia tahu betul, pasti akan terjadi sesuatu yang menimpa. Tapi, ia terus menekankan kalau itu hanya mitos saja.


"Seriusan?" Sarah memekik dan langsung mengusap perut Aza.


"Jangan senang dulu, aku sendiri juga belum yakin. Takutnya hanya masuk angin bukan tanda- tanda kehamilan."


"Ke rumah sakit aja sekarang, aku anterin. Kamu tadi disuruh Aksa pulang sendiri, kan? Nah, kebetulan banget. Nanti aku anterin sampe rumah sekalian kalau udah selesai periksa."


"Emangnya jam segini masih ada dokter kandungan yang praktek?" Aza menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul lima petang.


"Halah nggak usah khawatir. Kita ke rumah sakit keluargamu aja, nanti pasti langsung dilayanin meskipun nggak ada dokter yang praktek."


Aza pun mengiyakan, dirinya juga sudah tak sabar apakah benar dugaannya itu. Kalaupun iya, Aksa pasti akan sangat senang. Tak hanya dia, anggota keluarga yang lain pun sama.


"Sar, biar orang yang di ambulance keluar dulu ya. Aku takut melihatnya," ucap Aza ketika melihat dua ambulance yang datang bersamaan dengan dirinya. Ia yakin kalau orang yang berada di ambulance itu tak baik- baik saja. Pasti korban kecelakaan atau apa. Aza masih takut dengan kejadian yang menimpanya dulu.


"Iya, Za. Aku juga takut kalau orang yang ada di sana berlumuran darah."


Aza mengintip sedikit melihat orang yang baru saja keluar dari ambulance. Ternyata adalah Devano, di mana lelaki itu berlumuran darah dan penampilannya sangat kacau. Aza dan Sarah terbelalak dan langsung mendekatinya.


Sebuah brankar tempat berbaring Aksa pun didorong keluar dari ambulance. Dan seketika itu, Aza langsung lemas tak berdaya mengetahui siapakah orang itu.


"Arghh..."

__ADS_1


"Hubby!"


"Hubby, kamu kenapa? Kenapa seperti ini? Hubby, bangun!" Aza terisak histeris memeluk suaminya yang tertidur di atas brankar.


"Maaf Nona, kami harus segera pergi. Tuan Aksa harus segera mendapat pertolongan!" Dua perawat lelaki itu segera mendorong brankar Aksa dengan kaki yang berlari kecil. Mereka berusaha untuk lebih cepat supaya tak terjadi apa- apa dengan Aksa.


"Hubby..."


Aza ikut berlari mengikuti suaminya. Ia benar- benar terkejut mendapati Aksa yang berlumuran darah dan tak sadarkan diri.


"Maafkan aku, Za. Aku nggak bisa jaga Aksa," ucap Devano. Lelaki itu ikut meneteskan air mata melihat Aza yang menangis meraung- raung.


"Kenapa suamiku bisa seperti itu? Katakan siapa yang melakukannya!"


"Hubby, jangan pergi..." teriak Aza dengan isakan yang semakin memilukan.


"Hubby, huuu...huuu...huuu..."


"Tenang, Za. Aksa akan baik- baik saja," ucap Sarah. Ia memeluk Aza mencoba meredakan tangisnya. Tapi tetap saja tak bisa.


Pikiran Aza sudah ke mana- mana. Ia sangat takut jika kejadian dulu terulang lagi. Wanita itu tak mau kehilangan orang yang dicintainya untuk ke sekian kalinya.


"Pasien memerlukan satu kantung darah lagi. Apa ada yang bergolongan darah AB?" tanya suster yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan Aksa.


"Saya! Ambil darah saya cepat! Selamatkan nyawanya!" Devano langsung beranjak mengikuti suster itu.


"Suster, suamiku baik- baik saja, kan? Katakan kalau dia akan baik- baik saja! Katakan! Huu...huuu...huu..." Aza menahan langkah suster itu dan mengamuk memukulinya.


"Aza, biarkan suster itu bertindak dulu. Kamu mau Pak Presdir baik- baik saja, kan? Ayo, jangan halangi dia," ucap Sarah. Ia segera menahan Aza supaya tak memukuli suster itu lagi.


"Sarah...Suamiku di dalam, dia berdarah...Dia pasti sedang kesakitan..."


"Aku nggak mau kehilangan dia. Dia pasti selamat, kan? Huu...huu...huuu...."


"Pasti selamat. Tuhan sangat menyayangi kalian, dia tak akan memisahkan kalian. Berdo'a saja untuk kebaikannya."


Kesadaran Aza tiba- tiba hilang, wanita itu pingsan.

__ADS_1


"Astaghfirullah, Aza sayang..." pekik Oma Maria dan Oma Mira. Para keluarga sudah datang ke rumah sakit ketika mendapat kabar buruk dari Devano. Mereka sama seperti Aza, terkejut bukan main. Terutama Aira, ia lemas tak berdaya mendengar kabar itu.


Opa Bram dan Opa Andi segera mengambil brankar, tak lupa memanggil dokter untuk segera memeriksa Aza. Aira sudah tak bisa berbuat apa- apa lagi, ia hanya bisa menangis di pelukan sang suami.


"Bagaimana keadaan putraku? Kenapa dia bisa bersama Aksa dan kecelakaan?" tanya Alfa menghampiri Keno dan Aira yang kala itu duduk di kursi ruang tunggu.


Keno langsung bangkit, menatap Alfa dengan tatapan tak ramah. Sedangkan istri Alfa ikut duduk di samping Aira, berusaha saling menguatkan.


"Ini semua gara- gara anakmu!"


Bughh...


Satu pukulan mendarat di wajah Alfa, lelaki itu langsung tersungkur. Keno sangatlah emosi mendapat penjelasan Devano tadi.


"Aku pikir pelajaran yang kuberikan untuk anakmu akan membuatnya jera! Tapi malah semakin menjadi- jadi!"


"Aku sudah muak dengan semuanya!"


Dan di sini, Alfa mulai mengerti kenapa Keno begitu marah dengannya. Keno hampir saja memukul Alfa lagi, tapi pintu ruangan UGD yang terbuka menghentikannya.


Semuanya tertegun mendapati brankar didorong keluar dengan orang yang di atasnya tertutup kain putih. Aira dan istri Alfa semakin meraung- raung.


"Nak Farel tak bisa kami selamatkan. Terjadi benturan keras di paru- parunya hingga mengakibatkan beliau kehilangan nyawanya," jelas Dokter berkacamata dengan nada sendu.


"Anakku...huu...huu...huu..." Vera semakin tersedu- sedu melihat anaknya yang terbujur kaku. Ia benar- benar tak menyangka jika hari ini adalah hari terakhir anaknya di dunia.


Alfa terduduk lemas di lantai, anak kebanggaannya yang diharapkan akan menjadi penerusnya kelak tapi malah pergi untuk selamanya.


"Farel bangun! Jangan pergi, jangan tinggalkan Mama..." Vera berteriak memeluk jenazah putranya. Kecupan demi kecupan mendarat di wajah pucat Farel.


Aira dan Keno juga sedih, mereka sudah menganggap Farel anak mereka sendiri. Semua sama- sama terkejut dengan kejadian tak terduga ini.


"Farel, kenapa pergi secepat ini? Ayo bangunlah, Tante akan membuatkanmu cupcake cokelat yang lezat," ucap Aira tersedu melihat jenazah Farel. Ia ingat betul sejak kecil Farel selalu bermain bersama Aksa dan selalu menyukai cupcake cokelat buatannya.


"Farel, jangan tinggalkan Mama. Bangunlah, Nak..."


Alfa mulai berdiri perlahan menghampiri jenazah anaknya. Ia terdiam membeku melihat orang yang ia sayangi tak bernyawa lagi. Air matanya pun menetes, ia menangis dalam diam. Tak rela jika harus kehilangan putranya secepat ini.

__ADS_1


__ADS_2