
Seperti pagi biasanya, Aksa selalu memamerkan kedekatannya dengan sang istri. Ia selalu memeluk istrinya ketika sudah sampai kantor, ia memang sengaja supaya para karyawan iri melihatnya.
"Sudah lepaskan, masuk ke lift mu sana!" Aza melepas pelukan Aksa dan berjalan menuju ke lift karyawan. Mereka selalu berpisah di sana.
"Kamu mau kemana?"
"Tentu saja ke ruanganku."
"Ruanganmu sudah aku pindah di sebelah ruanganku, mulai sekarang kamu akan naik lift yang sama denganku," ucap Aksa menunjuk lift presdir.
Aza hanya menyipitkan matanya, ia tak percaya dengan perkataan suaminya. Ia langsung masuk ke dalam lift dan menuju ke ruangannya. Sesampainya di ruangan, ia pun terkejut mendapati ruangan itu kosong. Tak ada meja, komputer, dan dokumen- dokumen satupun.
Aza mengambil ponselnya, menelpon Sarah. "Sar, kamu kemana? Kok ruangannya kosong sih? Barang- barangnya pada kemana?"
"Pindah di samping ruangannya Pak Presdir,, Za. Emangnya suamimu nggak bilang apa? Ini kan ulahnya dia." Jawaban Sarah ini membuat Aza mendengus kesal. Ia segera mengakhiri panggilannya dan segera menuju ke sana.
*****
Aza telah sampai di depan ruangan yang ditunjukkan Sarah tadi. Pintu ruangan bertuliskan Divisi Keuangan. Tepat sebelah ruangan Aksa, apa maksud lelaki itu memindahkan ruangannya?
Ia segera masuk dan teman- teman satu divisi berada di sana. Ternyata benar- benar pindah.
"Kenapa nggak nungguin aku sih? Tau nggak, aku tadi udah ke ruangan kita yang lama," gerutu Aza mendudukkan tubuhnya di kursi samping Sarah.
"Aku pun tadi juga ke sana duluan, terus Mbak Clara ngasih tahu. Tuh, suamimu kebanyakan gaya. Pakai pindah ruangan segala lagi!" gerutu Sarah sembari menunjukkan tangannya kepada lelaki yang tengah duduk membelakangi mereka.
"Ayihh, kenapa dia di sini?"
"Nungguin kamu lah dodol!"
Aza menggelengkan kepalanya, entah apa yang diinginkan suaminya itu. Kelakuannya ada- ada saja. Aza lalu memutar kursi Aksa hingga menghadap ke arahnya.
"Hai, istriku..." sapa Aksa dan langsung memeluk Aza.
"Banyak orang, jangan memelukku..."
"Kami nggak lihat kok mbak Aza," seru salah satu teman divisi.
"Tuh kan mereka nggak lihat." Aksa semakin erat memeluk Aza dan meletakkan kepalanya di perut istrinya. Menggesekkan hidungnya membuat Aza menggeliat karena geli.
"Kenapa kamu memindahkan ruangannya ke sini?" tanya Aza.
"Biar aku bisa melihatmu setiap saat. Ruanganmu yang dulu kan jauh, membuatku susah menemuimu," jawab Aksa dengan manjanya.
__ADS_1
"Huffttt, ya sudahlah. Kembali ke ruanganmu dan biarkan aku bekerja." Aza berusaha menjauhkan kepala Aksa dari perutnya.
"Cium dulu baru aku akan kembali ke ruanganku," ucap Aksa. Sorot matanya penuh dengan harap.
"Banyak orang jangan membuatku malu saja kamu ini..."
Aksa tak peduli, ia lalu berdiri dan mengecup bibir istrinya singkat.
"Aku nggak lihat kok, Za. Nggak usah malu," seru Sarah berpura- pura menutup matanya dengan tangan. Jelas- jelas Sarah tadi melihatnya saat dicium Aksa.
*****
Cuaca begitu terik, dahaga pun sering melanda. Aza merasakan haus, office boy yang biasanya mengantarkan minuman pun belum juga sampai. Aza pun terpaksa menuju ke pantry sendirian. Tak sengaja berpapasan dengan suaminya. Ia pun mencoba menutupi wajahnya, berharap Aksa tak mengenalinya karena Aksa pasti akan mencium atau memeluknya lagi.
"Lihatlah istrimu, untuk apa dia menutupi wajahnya? Semuanya juga udah tahu kali," celetuk Devano menggelengkan kepalanya melihat Aza.
"Ohh dia istriku ya? Aduh, kok aku nggak mengenalinya ya. Hebat sekali dia menyembunyikan wajahnya," ucap Aksa berpura- pura. Ia lalu berbalik dan mengikuti istrinya.
"Apa?" tanya Aza sedikit kesal.
"Nggak papa, kamu mau kemana? Bolos kerja ya?"
"Mau ambil minum, haus."
"Pantas saja mereka nggak nganterin minuman, ternyata masih ngecat dinding," seru Aza ketika melihat beberapa office boy sedang mengecat dinding pantry.
"Iya, aku menyuruhnya mengganti warna kesukaan mereka supaya bisa membuat mereka lebih nyaman lagi ketika bekerja," seru Aksa. Aza tertegun mendengarnya, suaminya begitu baik sampai memikirkan bawahannya.
Aza tertarik dengan mereka, ia lalu meminjam alat cat dan ikut mengecat dinding. "Hubby, kemarilah. Ini menyenangkan," serunya memanggil Aksa.
Aksa pun menjadi tertarik, ia lalu meminjam roller cat. Dan ikut mengecat di samping Aza.
"Biar kami saja, Pak. Nanti baju bapak bisa kotor," seru Pak Kis, office boy di sana.
"Sebentar saja, Pak. Aku nggak pernah main gini soalnya."
"Hubby, itu terlewat. Ayo cat lagi," seru Aza menunjuk dinding yang belum dicat.
"Itu juga ada yang belum."
"Mana, Hubby? Sudah semuanya..."
"Ini belum." Aksa mencolek hidung Aza dengan cat yang berwarna biru.
__ADS_1
"Ayihh, kamu nakal ya. Tunggu pembalasanku..." Aza mengambil satu ember kecil cat dan berusaha mengotori wajah Aksa. Tentu saja Aksa menghindar, jadilah mereka kejar- kejaran di pantry membuat dua office boy kebingungan karena melihat mereka.
"Hubby, berhentilah. Biarkan aku membalas perbuatan nakalmu tadi..." Aza hampir frustasi.
"Hufftt, baiklah. Kemarilah, kotori wajah tampanku ini." Aksa berhenti membuat Aza tersenyum menyeringai, akhirnya ia bisa membalas suaminya.
Aza pun mendekat, ia sedikit berlari supaya bisa lebih cepat mengotori wajah suaminya. Namun, ia tak mengetahui jika ada waslap di lantai, ia pun tersandung dan....
Byurrrr .....
Satu ember cat tumpah menyembur ke arah suaminya. Aksa terdiam menatap tubuhnya yang kini berubah menjadi biru. Pak Kis dan temannya tertawa terpingkal- pingkal, mungkin ini sedikit kurang ajar. Tapi mau bagaimana lagi, mereka sudah tak bisa menahan tawanya.
"Hubby, maafkan aku..." Aza lalu berdiri meskipun kakinya sedikit sakit, tapi Aksa lebih penting. Ia lalu mengusap cat yang berada di wajah Aksa supaya tidak masuk ke matanya.
"Hubby, maafkan aku. Aku nggak sengaja..." lirih Aza. Ia semakin merasa bersalah karena suaminya itu dari tadi diam saja. Mungkin Aksa marah besar dengannya.
"Nggak papa kok, asalkan kamu juga kotor..." Aksa lalu memeluk tubuh istrinya. Dan kini, Aza pun juga ikut kotor karena pelukan Aksa tadi.
"Hubby, aku jadi ikut terkena cat, hiks...."
"Pembalasan dariku, Za. Makasih ya, gara- gara kamu aku mandi cat. Aku belum pernah mandi cat sebelumnya. Hiks....makasih banyak..."
"Hubby, ayo kita lanjutin ngecat dindingnya." Aza menyodorkan roller cat ke tangan Aksa. Lelaki itu tersenyum dan mengikuti istrinya.
"Biar kami saja yang lanjutkan, lebih baik kalian mandi. Nanti kalau kelamaan malah takutnya nggak bisa hilang catnya," ucap Pak Kis.
Aksa dan Aza membenarkan ucapan Pak Kis, mereka lalu menuju ke ruangan Aksa untuk mandi di sana. Jalan yang mereka lewati ikut terkena cat.
"Siapa yang akan mandi duluan?" tanya Aza ketika sudah sampai di depan kamar mandi ruangan Aksa.
"Mandi bareng, nanti kalau satu- satu kelamaan," jawab Aksa.
.
.
.
.
.
Correct me if I have typo❤️
__ADS_1