My Presdir

My Presdir
Duka Mendalam


__ADS_3

Wanita itu terlihat sendu, air mata yang mengering menghiasi wajahnya. Matanya membengkak karena cukup lama menangis. Tapi ia cukup senang, karena suaminya masih diberikan kesempatan oleh Tuhan. Aksa belum membuka matanya karena obat bius yang disuntikkan ke tubuhnya supaya lelaki itu beristirahat terlebih dahulu.


Waktu telah menunjukkan pukul delapan malam, Aza pun baru saja terbangun dari pingsannya. Ia langsung berhambur menghampiri suaminya.


"Hubby, bangunlah...Ada kabar bahagia yang ingin kusampaikan. Kebahagiaan yang kita nanti- nantikan..." lirih Aza. Wanita itu duduk di kursi samping brankar suaminya dengan tangan yang terus membelai pipi Aksa.


Aza kembali menangis, melihat kondisi Aksa yang sangat menyedihkan. Kening dan perut terbalut perban, juga luka- luka kecil yang membuat kulit Aksa ternoda.


"Hubby, andai saja takdir tak mempertemukan kita. Pasti kamu dan Tania bisa bersatu dan Tania tak akan melakukan hal ini..."


"Aza, sudah, Nak. Jangan menyalahkan dirimu terus, pikirkan kondisimu juga. Ini sudah takdir, janfan menyalahkan siapapun," ucap Anandhi membelai rambut putrinya.


"Ini semua gara- gara aku, Mah. Tania membenciku, dia menginginkan Aksa. Oleh karena itu dia menghalalkan berbagai cara, bahkan dia juga memperalat adiknya sendiri untuk melakukan kejahatan. Itu semua tak akan terjadi kalau tak ada aku, Mah..."


Perasaan Aza sangatlah kacau. Hari ini sangatlah menyeramkan, bahagia dan juga sedih datang beriringan. Aza juga tak menyangka jika harus ada orang yang kehilangan nyawanya hari ini.


Hanya ada Anandhi dan Devano yang masih di rumah sakit menemani Aza, keluarga yang lain ikut mempersiapkan pemakaman Farel yang akan berlangsung besok pagi.


"Tante, ini aku belikan makan malam," ucap Devano menyodorkan kantung plastik berisikan makanan untuk Aza dan Anandhi.


"Makanlah, Mah. Jangan sampai melewatkan makan malam," ucap Aza.


"Kamu juga makan, Ayo Mama suapi."


"Nanti saja kalau Hubby sudah bangun," ucap Aza tersenyum tipis. Ia sudah mulai tenang, kondisi suaminya tak terlalu parah.


"Aksa akan bangun besok pagi, lebih baik kamu segera makan dan tidur. Kalau Aksa tahu kamu tak tidur dan hanya menjaganya, dia pasti akan marah," ucap Anandhi yang kemudian langsung menyuapi Aza.


*****


Tania tiba pukul sembilan malam di Indonesia bersama para bodyguard yang menjaganya selama ini. Ia begitu terpukul mendapat kabar duka yang menimpa keluarganya. Ia langsung bersimpuh di lantai, tak kuat menatap jenazah sang adik. Seseorang yang selama ini tumbuh bersamanya, selalu ia sayangi dan cintai. Lelaki itu pergi karena dirinya.


"Farel bangun! Maafkan Kakak, maafkan kakak..."


"Harusnya aku tak memintamu membalaskan dendamku pada keluarga itu, kamu pasti masih tersenyum di sini bersamaku. Ayo bangunlah...huu...huu...huu..."


"Cinta telah membutakan hati dan pikiran, hingga adikmu sendiri kau jadikan alat untuk mengikuti hatimu yang busuk itu!" seru Alfa dengan tatapan kosong. Ia sangatlah kecewa dengan anak perempuannya itu.

__ADS_1


"Maafkan Tania, Pah. Aku sadar yang aku lakukan ini salah. Maafkan aku, aku benar- benar menyesal..." Tania bertekuk lutut di hadapan Alfa dan Vera. Ia kemudian berpindah di hadapan Aira dan Keno.


"Maafkan aku, Om, Tante. Aku benar- benar menyesal."


Menyesal? Ya, wanita itu benar- benar menyesal. Kebodohannya berimbas pada orang yang tak berdosa untuk hal ini. Harusnya ia tak meracuni otak Farel supaya anak itu tak berbuat hal nekad. Rasanya, ia ingin sekali menggantikan posisi sang adik. Farel layak hidup, dirinyalah yang harus mati. Kesalahan berulang kali tapi tak kunjung membuatnya sadar. Kematian Farel cukup membuatnya merasa menyesal.


"Kak Alfa, Kak Vera, kami izin pamit. Kami ingin menemui Aksa, besok kami akan kemari lagi," pamit Aira kepada Alfa dan Vera yang kala itu masih berduka.


"Hati- hati di jalan. Sekali lagi aku benar- benar minta maaf atas kelakuan anak- anakku," cicit Alfa. Lelaki itu sangatlah malu, berulang kali dirinya meminta maaf atas kelakuan anaknya yang mengecewakan.


"Jangan bersedih lagi, Tuhan sangat mencintai Farel oleh karena itu Dia mengambilnya lebih cepat," ucap Keno yang kemudian langsung beranjak meninggalkan rumah duka tanpa menggubris Tania yang masih berlutut di hadapannya.


Malam itu hanya ada air mata penyesalan dari seorang wanita yang begitu jahat hatinya. Cinta benar- benar membutakannya. Harusnya ia sadar jika orang yang kita cintai tak menginginkan kita, lebih baik mengikhlaskannya.


*****


Aza masih setia duduk di samping brankar suaminya, berulang kali Anandhi mengajaknya pindah ke ruangan yang dipersiapkan untuk beristirahat keluarga, dan Aza selalu menolak.


"Kamu nggak mau bayimu kenapa- kenapa, kan?"


"Nanti kalau Hubby sudah sadar bagaimana? Dia pasti akan mencariku."


"Ada aku yang akan menjaganya, kamu istirahatlah. Pikirkan dirimu dulu, kalau kamu ikut sakit pasti Aksa akan kecewa," seru Devano. Lelaki itu masih setia di sana, ia menyesal karena bergerak lambat sehingga kejadian ini tak terelakan.


"Tolong jaga dia, ya. Kalau sudah bangun, segera beritahu aku," ucap Aza sebelum meninggalkan ruangan itu.


*****


Pagi menyingsing, langit tak cerah seperti biasanya. Awan mendung menghiasi pagi itu, seakan ikut merasakan duka yang tengah dialami keluarga Alfa Danendra. Para pelayat datang silih berganti, mengucap duka dan memberikan kekuatan untuk keluarga yang ditinggalkan.


Semuanya sudah bersiap mengantarkan Farel Danendra ke tempat peristirahatan terakhirnya. Banyak teman sekolah, para guru, dengan pakaian serba hitam mengantarkan lelaki pandai yang selalu mengharumkan nama sekolah dengan segudang prestasinya. Mereka tak menyangka jika Farel akan pergi secepat ini.


Aira mendekap tubuh Vera yang lemas dan seakan tak berdaya untuk mengantarkan putra tercinta. Tangis tak terhenti, malah semakin menjadi tatkala suara Adzan berkumandang mengantarkan lelaki itu.


"Farel..."


Alfa tak lagi kuat mengumandangkan Adzan untuk sang putra, ia segera keluar dari liang lahat dan digantikan Keno. Alfa dan Vera terduduk lemas menatap jenazah Farel. Lelaki yang sangat dinantikan kelahirannya, berulang kali mereka berkata "Sudah tak sabar" saat Vera mengandung Farel. Dan kini, mereka harus mengikhlaskan Farel pergi untuk selamanya. Tak akan ada lagi senyum dan kejahilan anak itu.

__ADS_1


Perlahan, tanah mulai menutup tubuh lelaki itu. Tangis dari Alfa, Vera, maupun Tania semakin keras dan memilukan mengingat besok sudah tak ada hari bersama Farel.


Taburan bunga mulai menghiasai gundukan tanah yang diberi nisan bertuliskan nama Farel. Do'a dari pelayat yang ikut mengantarkan pun tak henti- hentinya terucap. Satu persatu dari mereka pergi meninggalkan pemakaman dan hanya menyisakan Keno, Aira, dan keluarga Alfa.


"Putraku pergi..."


"Farel tunggu Mama, Nak. Mama tak sabar untuk bisa bersama denganmu lagi. Mama menyayangimu, Nak."


"Biarkan Farel pergi dengan tenang, do'akan saja dari sini. Kita pasti akan dipertemukan lagi dengannya," ucap Alfa mengusap bahu istrinya. Ia menguatkan Vera, orang yang sangat terpukul dan kehilangan Farel.


Clara dan Devano kala itu juga ikut mengantarkan Farel. Aksa, Devano, Clara, Tania, dan Farel tumbuh bersama sejak kecil. Mereka selalu bermain bersama dan sudah seperti keluarga. Clara dan Devano sedih jika mengingat kenangan masa kecil mereka, di mana Farel adalah yang paling kecil di antara mereka semua. Mereka sangat menyayangi lelaki itu.


"Aku nggak nyangka kalau kamu pergi secepat ini, Farel. Tenanglah di sana, kami akan selalu mengingatmu. Kami menyayangimu," ucap Clara mengusap nisan Farel.


Devano menatap sendu ke makam yang masih basah itu. Teringat betul, beberapa minggu yang lalu mereka sempat bermain futsal bersama. Tak menyangka jika itu adalah futsal terakhir mereka.


"Aku benar- benar kehilanganmu adik kecilku," lirih Devano tersenyum getir.


Meskipun perlakuan Farel cukup mengecewakan, mereka semua bisa memaafkannya. Karena itu murni bukan inisiatif Farel sendiri, melainkan ada seseorang di balik itu semua.


Matahari mulai merangkak menggantikan posisi awan- awan hitam di langit, cuaca mulai cerah tak seburuk tadi pagi. Mereka pun meninggalkan makam, meninggalkan Farel yang telah dijemput maut.


*****


Tania : "Author, kenapa elu jahat sama gue? Hiksss...hiksss...hiksss..."


Author : "Jahat gimana Bang Jago? Bukannya elu yang jahat selama ini?"


Tania : "Harusnya gue yang mati, Thor! Bukan adek gue huu...huuu..."


Author : "Jangan kebanyakan drama! Renungkan semuanya! Kelakuan elu malah berimbas pada orang lain. Coba kalau elu tuh sadar dari dulu kalau Aksa itu nggak cinta sama elu harusnya ikhlas, bukannya malah sok- sokan balas dendam dan merasa paling disakiti! Cinta emang harus diperjuangkan, tapi kalau memperjuangkan orang yang salah itu nggak bener! Aksa bukan jodoh elu, dan itu udah diatur sama yang Maha Kuasa."


Tania : "Gue bener- bener nyesel. Gue di sini juga sakit hati, Thor. Ngertiin gue dikit hiks..."


Author : "Ngertiin gimana lagi? Gue lama- lama juga muak sama elu. Lihat noh gara- gara elu Aksa belum sadar!"


Tania : "Maafin gue thor..."

__ADS_1


__ADS_2