
Mama tidak menyayangiku. Mama tidak pernah menyayangiku. Mama hanya sayang sama Kak Aiden. Mama tak pernah menginginkanku, Mama akan senang jika aku pergi dari kehidupannya. Biarkan...biarkan aku pergi selamanya...
Ailee terus berbicara dengan hati kecilnya. Ia begitu sakit ketika dibentak Mamanya tadi. Mamanya yang dulu hangat, lembut, dan tak pernah berbicara kasar itu ke mana?
Anak itu terus berlari, entah hendak ke mana ia sendiri pun tak tentu arah. Yang pasti dirinya harus jauh dari sang Mama supaya Mamanya itu tak marah- marah lagi dan senang karena tak ada yang mengganggu Aiden.
"Aduh, Maafkan tante sayang," seru seseorang yang tak sengaja bertubrukan dengan Ailee hingga anak itu jatuh. Lututnya berdarah karena beradu dengan aspal. Ia langsung berdiri dan kembali berlari.
Rumah sakit masih terlalu dekat, Opa atau Oma akan segera menemuinya jika masih berdiam diri. Banyak jalan setelah keluar dari rumah sakit, ia bingung hendak ke mana.
"Ailee..." seru seseorang memanggil namanya. Ia pun menoleh ke arah jalanan yang ternyata ada mobil berhenti di depannya. Tak lain adalah Sarah dan keluarga yang kala itu hendak menjenguk Aiden.
"Kenapa sendirian? Di mana Papa sama Mamamu?" tanya Sarah. Ia lalu turun dari mobil dan menghampiri Ailee yang berdiri di trotoar jalan.
"Bolehkah aku ke rumah Aunty? Aku nggak mau pulang, Aunty..." ucap Ailee, ia mendekap kaki Sarah erat- erat.
"Aunty mau menjenguk Kak Aiden dulu ya, nanti baru ikut Aunty pulang. Yuk ikut menemui Kak Aiden dulu?"
Sarah tak tahu apa yang tengah terjadi dengan Ailee hingga anak itu pergi sendirian di keramaian kota. Dan tiba- tiba saja Ailee menangis tersedu- sedu. Ia jadi tak tega melihatnya.
"Ailee, kenapa kamu menangis?"
"Cup...cup...Ada apa? Yaudah yuk pulang ke rumah Aunty Sarah..."
"Ajak masuk ke mobil saja biar ngga dilihatin orang- orang," seru suami Sarag dari dalam mobil.
Wanita itu kemudian menggandeng tangan Ailee dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.
"Kenapa kamu menangis, Ailee?" tanya Kimmy ketika Ailee duduk di sampingnya.
"Nggak papa kok. Hm, bolehkah aku tidur di rumahmu?"
"Kamu mau tidur di rumahku? Yeyyy akhirnya punya temen juga. Baiklah, nanti kamu bisa tidur di kamarku. Aku akan meminjamkanmu mainan- mainan baruku," ujar Kimmy girang. Ailee pun jadi tak sedih.
__ADS_1
"Aunty..." seru Ailee, ia mendekat kepada Sarah yang duduk di depan samping suaminya.
"Ada apa sayang?"
"Jangan bilang Papa atau Mama ya kalau Ailee akan ke rumah Aunty Sarah?"
"Memangnya kenapa? Ada apa sebenarnya?" tanya Sarah terheran- heran.
"Jangan banyak bertanya. Kata Papa orang yang banyak bertanya itu umurnya pendek," ucap Ailee yang mampu membungkam mulut Sarah.
Wanita itu pun menggerutu kesal dalam hatinya, Aksa maupun Anak- anaknya sama- sama menyebalkan.
*****
Brakkk!
Pintu ruang perawatan Aiden dibuka dengan kasar membuat Aza dan Aiden berjingkat karena terkejut.
"Hubby..."
"Jangan pura- pura mengkhawatirkannya! Puas kamu membuatnya terluka? Dia sekarang pergi dan aku belum tahu ke mana perginya!"
"Hubby, Maafkan aku..." Aza menunduk tak berani menatap sang suami yang murka. Air matanya mulai berjatuhan.
"Bukankah kamu harusnya senang? Lalu, kenapa menangis? Ailee telah pergi, dia tak akan membuatmu marah lagi. Dia tak akan mengajak Aiden bermain lagi, dan Aiden akan lekas sembuh. Bukankah begitu Nona Aza?" ujar Aksa dengan penuh penekanan. Ia mengangkat dagu istrinya supaya wanita itu mau menatap dirinya.
"Aku memang salah tolong maafkan aku, Hubby..."
"Aku akan mencarinya," seru Aza. Ia lalu mengambil tasnya hendak keluar dari ruangan itu. Tapi sayang, Aksa dengan cepat menahannya.
"Mau ke mana? Lihatlah Aiden sedang terbaring, bukankah kamu tak tega meninggalkannya sedetik pun? Bahkan kamu tak mau pulang ke rumah tiga hari ini. Ailee selalu kamu abaikan! Dia mencoba mencari perhatianmu tapi kamu tetap acuh dan lebih mementingkan Aiden." Suara Aksa semakin meninggi membuat Aza gemetar ketakutan. Tangisnya pun semakin memecah membuat ruangan yang awalnya sunyi menjadi gaduh.
"Aiden sedang sakit, dia memerlukan perhatian lebih. Aku tak bermaksud mengacuhkan Ailee, aku sangat menyayanginya, Hubby..." ujar Aza membela.
__ADS_1
"Aku tahu Aiden sedang sakit, tapi juga bukan berarti kamu melupakan Ailee. Dia juga membutuhkanmu, Za."
"Cukup!" Aksa menahan istrinya supaya tak bicara lagi. Ia sudah muak dengan semuanya. Perasaannya tak karuan, orang- orang suruhannya pun belum memberi kabar.
"Mahh...Pah..."
"Iya sayang..." Aza langsung menghampiri Aiden ketika anak itu memanggilnya. "Ada yang sakit? Mau minum?"
"Lihat! Betapa paniknya dirimu saat Aiden memanggilmu! Beda sekali kelakuanmu dengan Ailee. Mendengar kabar dia hilang dan jauh lebih penting dari segalanya tapi kamu malah diam saja tak bergeming!" sindir Aksa. Halus namun begitu menusuk relung hati Aza.
"Iya, Hubby. Terus salahkan aku, aku memang Mama yang buruk. Aku selalu saja salah di matamu! Tapi kamu perlu mengingat ini, bahwa aku tak pernah membedakan mereka."
Aksa mengusap wajahnya dengan kasar. Ia memijat pelipisnya sejenak sebelum meninggalkan ruangan itu. Berbagai hal berkecamuk di pikirannya. Ia duduk sejenak di kursi tunggu, menutup wajahnya dengan kedua tangan seraya memikirkan tempat yang mungkin di datangi Ailee.
Tiba- tiba saja ponselnya bergetar. Pesan masuk dari Sarah ia terima. Malas sekali untuk membukanya, wanita itu pasti hanya bercanda seperti sebelumnya. Tapi, Sarah kembali mengirimkan beberapa pesan bahkan ia juga menelpon Aksa. Dengan malas, Aksa pun mengangkatnya. Suasana hatinya langsung membaik ketika Sarah berkata jika Ailee bersama dirinya. Tak menunggu lama, ia pun segera melajukan mobil menuju rumah Sarah.
*****
Ailee berdiri di belakang Sarah saat wanita itu sedang berbicara dengan seseorang di balik telepon. Ia curiga dengan ibu hamil itu, takut kalau Sarah memberitahu keberadaannya. Suara Sarah pun tak jelas, ia berbisik hingga Ailee tak mengerti apa yang sedang dibicarakan. Ailee menarik- narik daster Sarah dari belakang.
"Allahu Akbar!" Sarah terkejut tak mendapati siapapun di hadapannya. Ia jadi merinding, di rumahnya ternyata ada hantu yang senang sekali menarik- narik dasternya.
"Menunduklah Aunty, Ailee di sini," ucap Ailee.
Sarah pun menunduk, ia meringis ternyata ada Ailee di sana. "Ishh, kamu ini nakutin Aunty aja sih."
"Sedang berbicara dengan siapa? Bukan dengan Papa, Mama, Opa, atau Oma, kan?" tanya Ailee menyelidik, ia melipat tangannya di dada. Sudah seperti seorang polisi yang tengah mewawancarai seseorang untuk penyelidikan.
"Kepo banget sih jadi anak. Ayo ke kamar Kimmy, kamu mandi dulu dan pakai baju Kimmy dulu ya," ajak Sarah yang bermaksud mengalihkan perhatian anak itu.
"Awas saja kalau Aunty sampai bilang sama keluargaku."
"Memangnya apa yang mau kamu lakukan jika Aunty bilang sama mereka?" tantang Sarah.
__ADS_1
Ailee tersenyum devil seraya menunjuk perut Sarah yang buncit. "Kalau Aunty sampai bilang, dedek bayi yang ada di sini akan aku ambil dan mengajaknya pergi sejauh mungkin."
"Astauge, anak kecil pinter banget ya ngancemnya." Sarah tak habis pikir dengan Ailee, entah belajar dari mana sampai- sampai Ailee bisa berpikiran seperti itu.