My Presdir

My Presdir
Biar Cepat Sembuh


__ADS_3

Pasangan itu terlihat akur, mereka berbaring di brankar saling memeluk. Aza terus saja membelai suaminya yang terlelap. Terlihat jelas jika lelaki itu sangat nyenyak.


"Hubby, bangunlah, sudah saatnya makan." Aza mengecup pipi suaminya dengan gemas. Aksa selalu tampan saat tertidur, terlihat polos dan menggemaskan.


"Hubby..."


Sesuatu yang basah dan kenyal yang menyentuh pipinya membuat Aksa menggeliat, berusaha membuka matanya. Pengaruh obat membuatnya sering tertidur, lelaki itu pun merasa tak pernah cukup dengan tidurnya.


"Jam berapa?"


"Jam lima sore," jawab Aza, ia lalu mengambil handuk kecil dan air hangat yang tadi dibawakan suster untuk membersihkan tubuh Aksa.


"Dev, kamu nggak pulang?" tanya Aksa kepada Devano yang baru saja duduk di sofa yang berada tepat di sudut ruangan.


"Ya ampun, baru juga nyampe, Sa!" ucap Devano menggelengkan kepalanya menatap jengkel kepada Aksa yang malah terkekeh.


Aza ikut terkekeh melihat suaminya yang menjengkelkan. Kemudian ia mulai mengelap tubuh Aksa dengan hati- hati. Aksa berjingkat saat Aza tak sengaja menyentuh kulit- kulitnya yang memar.


Baju rumah sakit yang melekat di tubuh Aksa, ia singkap ke atas hingga menampakkan perutnya yang masih diperban karena tusukan dari Farel. Dengan pelan, Aza mengelap sekitaran perban.


"Rasanya pasti sangat sakit ya, Hubby?"


"Enggak kok, kaya digigit semut aja," jawab Aksa dengan senyum lebar.


Cuppp...


Satu kecupan mendarat di perut Aksa yang dibalut perban.


"Biar cepat sembuh!" ucap Aza menyeringai setelah mengecupnya. Aksa tersenyum dibuatnya.


"Eheemm...eheemmm..." Devano berdehem, ia cukup kesal dengan pasutri yang selalu menampakkan kemesraan di hadapannya.


"Hubby, aku lupa kalau ada Devano di sini." Aza dan Aksa lalu tertawa melihat ekspresi Devano.


Ceklek


"PAK PRESDIR!" teriak Sarah, wanita itu berlari masuk ke ruang perawatan bersama Clara.


"SARAH YANG CANTIK JELITA INI DATANG, PAK!"

__ADS_1


"Allahu akbar!" seru Devano memegang dadanya. Ia baru saja merebahkan tubuhnya di sofa, tapi terkejut mendapati suara Sarah yang sangat menyebalkan itu.


"Pak Presdir udah baikan nih? Ya ampun, Pak! Aku sama Aza panik banget dulu pas lihat darah di sekujur tubuh Bapak!"


"Tahu nggak sih, aku jadi bingung harus gimana. Mana Aza dulu nangis- nangis nggak karuan, aku jadi ikut sedih, Pak! Pokoknya Bapak bikin jantungan orang aja nih bisanya!" Sarah berbicara tanpa jeda, membuat siapapun yang mendengarnya jenuh.


"Panggil Aksa! Bapak...bapak..." Aksa tak terima, rasanya begitu kesal ketika dirinya dipanggil bapak.


"Ya kan sebentar lagi bakalan jadi Bapak!" tukas Sarah.


"Iya sih, tapi nggak suka pokoknya kalau dipanggil Bapak sama kamu!"


"Ya udah aku panggil Aksa!"


"Kok kesannya nggak sopan ya? Ah, terserah kamu saja deh mau manggil apa."


Sarah memutar matanya jengah, ia selalu saja dibuat kesal dengan suami dari sahabatnya.


"Lekas sembuh ya, Sa. Selamat juga buat kalian sebentar lagi jadi Papa sama Mama," ucap Clara.


Ruangan terasa ramai saat Sarah datang. Wanita itu selalu bisa membangkitkan suasana, membuat siapapun tertawa. Tapi di sisi lain juga merasa kesal dengan Sarah.


Hamil memang tak mudah, terlebih lagi saat awal kehamilan. Morning sickness pasti dialami, begitu juga dengan Aza. Pagi itu ia kembali merasakan mual.


"Aza..." Aksa sangat panik, cukup lama istrinya berdiam di kamar mandi berusaha mengeluarkan isi perutnya. Ingin sekali rasanya Aksa memijat tengkuk wanita itu, tapi ia tak bisa berlari menghampirinya.


"Tunggu sebentar, Hubby. Jangan khawatir, aku nggak papa kok..."


Aksa berusaha bangkit dari brankar. Sebisa mungkin dia melawan rasa sakit di kedua kakinya.


"Arghhh..." Aksa memekik, ia jatuh dan terduduk di lantai. Matanya tertuju pada punggung istrinya, wanita itu masih berdiri di depan wastafel dan sedikit membungkukkan badan.


"Azaa..." Aksa menyeret kakinya berusaha menghampiri Aza.


Pintu ruang perawatan terbuka lebar, Keno dan Aira terkejut melihat Aksa yang menyeret- nyeret tubuhnya, terdengar juga orang yang sedang muntah- muntah.


"Pah...Mah..." lirih Aksa, ia menatap istrinya yang masih berada di kamar mandi.


Keno langsung mendekati Aksa dan membantunya kembali ke brankar. Sedangkan Aira menghampiri Aza, ia memijat tengkuk wanita itu.

__ADS_1


"Jangan bergerak dulu!" seru Keno.


"Aku suami yang nggak berguna, harusnya aku berada di samping istriku saat seperti itu. Aku nggak berguna, Pah..." Aksa meneteskan matanya, ia benar- benar sedih karena tak bisa apa- apa saat Aza membutuhkan dirinya.


"Papa akan melakukan yang terbaik untukmu. Papa yakin kalau kamu pasti cepat pulih," lirih Keno.


Keno hanya bisa mengusap punggung anaknya, ia juga sedih melihat kondisi Aksa. Tapi ia sebisa mungkin untuk tak terlihat sedih di hadapan anaknya, ia harus kuat dan terus menyemangati Aksa supaya lekas pulih.


"Mama tadi membawakanmu teh jahe, kamu minum ya biar mualnya hilang," ucap Aira menuntun Aza keluar dari kamar mandi.


"Hubby, kenapa kamu menangis?" Aza langsung memeluk Aksa dan mengecupi wajahnya.


"Maaf, aku suami yang buruk. Aku nggak bisa ngelakuin apa- apa untukmu. Maaf, maafkan aku..."


"Ssssttt...Aku nggak papa, jangan sedih. Kamu itu suami yang terbaik."


Aksa tambah sedih saat melihat wajah pucat istrinya. Aza sangat lemas dan tak berenergi.


"Aza, ayo minum tehnya. Setelah itu kamu sarapan dulu ya nanti minum vitaminnya," ucap Aira menyodorkan tumbler berisikan teh jahe yang ia bawa dari rumah tadi.


"Terima kasih, Mah," sahut Aza. Ia lalu membuka tumbler berwarna biru muda itu dan meneguk teh jahe buatan Mamanya.


"Kamu juga sarapan dan minum obatnya," perintah Keno. Ia mengambilkan sarapan yang baru saja dibawakan perawat.


"Maaf ya, aku jadi merepotkan kalian semua..." Aksa benar- benar tak enak. Kini ia seperti bayi, semuanya memerlukan bantuan orang lain.


Keno menyuapi Aksa dengan penuh kasih sayang. Hingga tak terasa, piring berisikan mashed potato, sosis, dan juga brokoli itu bersih.


"Pah, kok tumben Papa mau nyuapin aku?" tanya Aksa. Ia baru sadar jika Papanya menyuapinya hingga makanan hampir habis hanya menyisakan satu sendok saja.


"Lah, iya ya. Kok Papa nyuapin kamu? Aduhh, udah salah ini mah. Ya udah nih, kamu lanjut sendiri makannya!" Keno pun baru sadar jika dirinya menyuapi anak semata wayangnya, ia jadi gengsi dan salah tingkah.


"Tinggal satu suapan saja, Pah. Ayo suapin lagi..." goda Aksa, Keno semakin salah tingkah. Tumben sekali dirinya dengan Aksa bisa akur, padahal biasanya sering beradu mulut dan berkelahi kecil.


"Wahhh, kalian romantis banget ya. Suap- suapan!" celetuk Aira, ia begitu senang melihat anak dan suaminya yang akur.


"Iya romantis, seperti di film- film ya, Mah," timpal Aza tertawa gemas.


"Enak aja!" ucap Keno dan Aksa serempak. Mereka lalu memasang wajah tak bersahabat seperti biasanya. Dan lagi- lagi, Aira serta Aza dibuat gemas dengan dua lelaki itu.

__ADS_1


__ADS_2