My Presdir

My Presdir
Anak Kucing


__ADS_3

Aksa berpikir sejenak memikirkan makanan apa yang akan ia berikan kepada kucing manis itu. Matanya menatap Mekdi di sampingnya, ia pun tersenyum simpul.


"Kita ke Mekdi saja, ayokkk!" Aksa menarik lengan Aza mengajaknya masuk ke restoran ayam goreng itu.


"Sepertinya makan es krim enak," ucap Aksa.


"Kamu mau beliin kucing ini es krim? Yang bener aja dong, Sa!" Aza menggelengkan kepalanya menatap Aksa yang menyeretnya masuk ke mekdi.


Aksa memesan 5 pcs *Gochujang Chicken dan 2 pcs Ice Cream Cone*. "Za, kucingnya dikasih minum apa ya?"


"Terserah! Dasar orang gila kamu tuh!" Aza berlalu mencari duduk terlebih dahulu meninggalkan Aksa yang masih kebingungan memesan minuman.


"Jadi, Mas pesen buat kucing yang digendong Mbaknya tadi?" tanya mbak- mbak Mekdi menahan tawanya.


Aksa tak menjawab, ia segera menyodorkan beberapa lembar uang kepada mbak- mbak Mekdi dan menghampiri Aza.


"Aku juga mau bermain dengannya, Za. Berikan kucing itu," ucap Aksa dan ia mengambil kucing dari tangan Aza.


"Kok Coca- cola sih minumnya? Nanti kalau kucingnya kenapa- kenapa gimana?" Aza menyolot karena Aksa malah membelikan coca cola untuk si kucing.


"Ya, kan, siang- siang gini enaknya minum minuman soda, Za," tukas Aksa membuat Aza menepok jidatnya. Wanita itu segera membeli air mineral untuk si kucing. Usai air mineral diterimanya, ia kembali ke meja Aksa.


"Biar aku yang pegang, kamu gigit aja. Nanti kakimu kotor loh," ucap Aksa kepada kucing itu. Si kucing langsung mencakar tangan Aksa dan merebut ayam yang dipegangnya.


"Awww, nakal banget sih kamu itu." Aksa yang kesal langsung menjewer telinga si kucing.


"Aksa, jangan nakal!" gertak Aza.


"Lihat nih tanganku berdarah dicakar dia." Perdebatan Aksa, Aza, dan si kucing ini membuat para pengunjung yang lain tertawa melihatnya, tak sedikit pula yang mengira kalau Aksa dan Aza itu sudah gila.


Aksa dan Aza terdiam menyaksikan anak kucing itu makan ayam goreng sembari memakan ice cream tadi. Sudah habis dua ayam, tapi si kucing belum juga menunjukkan tanda- tanda kekenyangan. Si kucing benar- benar kelaparan.


"Hey, kamu belum kenyang? Kalau sudah, ini minumnya." Aksa membukakan tutup botol dan menyodorkan air mineral itu ke depan kucing yang masih asyik menjilat tulang ayam.


"Mas, pakai sedotan sekalian!" seru bapak- bapak yang duduk di meja belakang mereka. Mungkin mereka benar- benar berpikiran kalau Aza dan Aksa adalah pasangan yang tak waras.


Aza terpingkal- pingkal mendengar perkataan bapak itu. "Sa, bapak itu bener deh kayanya. Cariin sedotan dulu sana," ucap Aza disela tawanya.

__ADS_1


Aksa hanya mencebikkan bibirnya kesal, ia juga masih waras untuk itu. Kucing mana bisa pakai sedotan. Ia bergidik ngeri membayangkannya. Tapi sepertinya itu akan trending dan membuat followersnya bisa bertambah, apa dia perlu melakukannya?


Kucing itu berhenti makan, ia langsung tiduran dan menggeliatkan tubuhnya. Aza semakin gemas, ia menggelitik perut sang kucing.


"Perutmu sudah besar, kamu kekenyangan ya? Tidurlah sayang, Mama akan menjagamu di sini." Ucapan Aza ini membuat Aksa tergelak.


"Mama kucing, buahhaaahahaha..."


"Papa kucing diam saja, biarkan dia tidur nyenyak."


Aksa terhenyak mendengar wanita itu menyebut dirinya Papa kucing. Ada perasaan tersendiri bagi Aksa, ia senang mendengarnya. Papa kucing dan akan menjadi papa dari anak- anak mereka kelak.


"Nanti aku bawa pulang ya kucingnya?"


"Kalau yang punya nyariin gimana? Sepertinya dia kehilangan sang pemilik, kucing itu terlihat terawat jadi tak mungkin jika tak mempunyai tuan." Aksa ada benarnya juga, kucing itu bersih dan terawat pasti memiliki tuan. Tapi, siapakah pemiliknya?


"Makanya kalau pergi ke Mall jangan bawa kucing, sekarang hilang baru tahu rasa kan," suara samar- samar seorang ibu memarahi anaknya yang tengah menangis terdengar jelas di telinga Aksa dan Aza.


Mereka segera mencari sumber suara itu, yang tak lain berada di samping mereka. Baru saja duduk dan hendak menyantap makan siang. Anaknya menangis tersedu- sedu dan enggan makan. Tadi ibu itu menyebut kucing? Ah, pasti kucing yang dimaksud adalah kucing yang berada di hadapan Aza dan Aksa.


Aksa langsung menghampiri mereka, "Apa kamu kehilangan anak kucing?" tanyanya pelan dan mendapat anggukan dari anak yang tengah mengusap air matanya.


"Itu sedang bersama calon istri saya." Aksa mengarahkan tangannya ke Aza dan si kucing.


Anak laki- laki berbadan gendut yang tadi menangis langsung tersenyum sumringah dan menghampiri si kucing. Dia memeluk dan menciumi kucing itu.


"Kucing Aksa...Akhirnya kamu kembali padaku..."


"Aksaa...Aksa...Aku menyayangimu, jangan pergi lagi ya..." ucap anak itu. Ia membawa kucing ke dalam pelukan dan tak melepasnya.


"Siapa nama kucingmu tadi?" tanya Aza membelai lembut kepala anak itu.


"Aksa!"


Aza terkekeh mendengarnya, sedangkan Aksa sendiri mencebikkan bibirnya karena nama kucing itu sama dengan namanya.


"Gantilah namanya, jangan memanggilnya Aksa lagi," cibir Aksa.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Kamu pikir mengganti nama kucing semudah itu, dia sudah mempunyai 'akte' sejak lahir!" tukas anak itu tak kalah ketusnya dengan si Aksa.


"Kakak cantik, makasih ya udah menjaga Aksa selama aku nggak ada. Aku pergi dulu, sampai bertemu lagi," seru anak itu melambaikan tangannya dan kembali duduk di samping ibunya.


"Oh ya, makasih juga ya, Om!" tambahnya berteriak kepada Aksa.


"Dek, kucingnya tadi makan ayam belum minum!" seru Aza.


"Iya, nanti aku kasih minumanku aja!" sahut anak itu.


Aza lalu menoleh ke arah Aksa, "Om Aksa..." cicitnya, ia tak bisa berhenti tertawa sedari tadi.


"Ah, ayo pulang!" Aksa menarik tangan Aza dan mengajaknya keluar dari Mall.


"Lama sekali jalannya!" gertak Aksa. Ia berjongkok dan menyuruh Aza untuk naik ke punggungnya.


"Naiklah cepat!"


"Aku bisa jalan sendiri!"


"Mau dipecat?" tanya Aksa, yang sebenarnya bermaksud mengancam. Aza langsung naik ke punggung Aksa dan melingkarkan tangannya di leher lelaki itu.


"Pegangan yang erat!" Aza menurut. Ia menatap wajah lelaki itu dari belakang.


Aksa terlihat tampan dari segi manapun ternyata. Aroma tubuh lelaki itu tercium kuat di indra penciumannya, aroma citrus yang mampu membangkitkan semangat siapapun. Aza menempelkan hidungnya di kaos yang tengah Aksa pakai saat itu.


"Aksaaa jangan cepat- cepat! Nanti bisa jatuh!" teriak Aza ketika Aksa tak lagi jalan pelan melainkan berlari.


"Kamu aman jika bersamaku! Jangan takut!"


"Aksaaaaa!!!!"


Mereka berdua menjadi pusat perhatian di Mall. Berlari- lari seraya menggendong wanitanya. Sungguh, ini momen romantis yang menjadi impian setiap wanita. Terlebih lagi saat menatap wajah Aksa yang tampannya tiada tara.


"Nakal!" cebik Aza mencubit pinggang lelaki itu saat Aksa sudah menurunkan dirinya.


"Capek juga ternyata, Za. Tubuhmu terlihat kurus dan kecil, tapi aslinya berat!" ucap Aksa mengatur nafasnya. Lelaki itu kelelahan setelah berputar di Mall yang sangat besar.

__ADS_1


"Salah sendiri gendong aku!"


"Tapi, kamu suka, kan?" Aksa mengerlingkan matanya menggoda wanita di hadapannya.


__ADS_2