
Beberapa hari di rumah sakit cukup membuat jenuh. Dokter belum memperbolehkannya pulang, tapi Aksa terus saja meminta untuk pulang. Aksa dan Aza kala itu tengah berjalan menuju ke parkiran mobil. Aza dengan setia mendorong kursi roda suaminya.
"Sayang, kamu pasti capek ya?" tanya Aksa sendu. Mengingat istrinya tengah hamil muda dan harus mengurus dirinya membuat Aksa sangat sedih.
"Enggak kok, Hubby."
"Biar Mama yang mendorongnya," ucap Aira dan langsung mengambil alih kursi roda Aksa. Aza memang terlihat letih, tapi wanita itu selalu menepisnya.
"Terima kasih, Mah..."
Keno dan Pak Aryo berusaha membantu Aksa masuk ke dalam mobil. Aksa selalu merasa tak enak karena menyusahkan banyak orang. Kaki yang saat ini tak bisa dibuat apa- apa membuatnya kesal. Ia teringin cepat pulih supaya tak lagi menyusahkan istri dan keluarganya.
"Pah, Maafin Aksa ya..." lirih Aksa ketika dirinya berhasil duduk di dalam mobil.
Keno mendengus kesal. Aksa selalu meminta maaf kepadanya. Ia jengkel, berulang kali kalau dirinya mengatakan jika Aksa tak perlu sungkan. Tapi tetap saja Aksa begitu.
"Sayang, bilang sama anakmu. Lebaran itu masih lama, masa iya anakmu itu tiap hari meminta maaf padaku," cicit Keno kepada Aira.
Aza dan Aira terkekeh mendengarnya. Mereka juga kesal dengan Aksa yang seperti itu, entah kenapa lelaki itu tak pernah bosan mengucapkannya. Padahal itu sudah kewajiban keluarganya dan tak perlu sungkan atau apa.
"Aksa...Kamu itu nggak salah kenapa harus meminta maaf?" Aira membelai kepala putranya yang sedikit menunduk karena sedih.
"Aku menyusahkan kalian, untuk itu aku meminta maaf..."
"Nggak ada yang disusahkan di sini. Semuanya dengan senang hati membantumu, kami sangat menyayangimu untuk itu kami akan melakukan apapun demi kamu."
"Iya, Hubby. Kamu tak perlu merasa bersalah seperti ini terus. Yang terpenting sekarang kamu harus rajin terapi biar lekas membaik," timpal Aza.
"Beruntung sekali diriku diberi keluarga yang sangat baik."
"Baru tahu kamu? Dan yang paling baik itu adalah Papa," ucap Keno kepedean.
"Huffttt, baiklah- baiklah. Tuan Keno Arka Sanjaya memang yang terbaik." Aksa mengacungkan kedua jempolnya tepat di wajah Keno.
"Untung mata Papa nggak kecolok! Awas saja kamu!"
Semuanya pun tertawa. Anak dan Papa itu memang membuat geleng- geleng. Baru saja akur tapi sudah kembali lagi.
*****
Mobil mulai meninggalkan parkiran rumah sakit Sanjaya. Pak Aryo melajukan mobilnya dengan pelan dan hati- hati. Keno dan Aira duduk di bangku paling belakang sedangkan Aza dan Aksa duduk di bangku tengah.
Tak lama kemudian, mobil sampai di tempat persemayaman Farel yang terakhir. Aksa teringin untuk mengunjungi Farel sebentar.
"Kita kembali besok saja!" ucap Keno. Di makam Farel terdapat wanita yang sangat ia benci, yang tak lain adalah Tania. Oleh sebab itu Keno mengajak untuk kembali.
"Tunggu!" Tania langsung mendekati mereka. Aza menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Tania yang berlari kecil menghampiri mereka.
"Aza, ayo sayang..." ajak Aira.
Tania berlari cepat dan menghalangi jalan keluarga itu. Ia langsung bersimpuh di hadapan mereka dengan air mata yang berurai. Tangannya pun mengatup bermaksud meminta maaf.
"Kesalahanku memang sulit untuk dimaafkan. Aku benar- benar menyesal telah berbuat jahat pada kalian," ucap Tania tersedu- sedu.
Aza yang tak tega melihat orang bersimpuh di hadapannya pun hendak membantu Tania untuk berdiri, tapi Aira terus saja melarangnya.
"Aza, aku benar- benar minta maaf. Selama ini hati dan pikiranku benar- benar buta, aku telah salah membencimu," ucap Tania, wanita itu memegang kedua kaki Aza.
"Jangan seperti itu, bangunlah." Aza merasa tak enak, ia pun membantu Tania untuk berdiri.
__ADS_1
"Maafkan aku..." Tania langsung mendekap erat tubuh Aza.
Keno dan Aira segera melepas pelukannya, Tania bisa saja membahayakan janin yang berada di perut Aza.
"Jangan memeluknya terlalu erat! Dia itu sedang mengandung!" gertak Keno membuat Tania bergidik ngeri.
"Kamu nggak papa kan sayang?" tanya Aira yang diberi gelengan oleh menantunya.
"Maafkan aku, aku nggak tahu..." ucap Tania memegang kedua tangan Aza.
"Nggak papa kok."
Tania tersenyum tipis membalas senyuman dari Aza. Ia lalu melirik lelaki yang duduk di kursi roda dan sedari tadi mengalihkan pandangannya. Ia berlutut dan memegang kedua kaki Aksa.
"Lepaskan!"
"Kak Aksa, aku minta maaf. Aku janji tak akan berbuat keburukan lagi. Maaf telah membuatmu seperti ini, Kak," lirih Tania. Ia semakin tersedu- sedu ketika melihat Aksa yang hanya bisa duduk di kursi roda.
Tak ada yang menggubris wanita berbaju hitam dengan kerudung panjang tersampir di kepalanya. Tania sadar, mungkin keluarga itu begitu sulit memaafkan dirinya. Ia pun pamit meninggalkan makam.
"Kasihan sekali..." cicit Aza menatap punggung Tania yang perlahan menjauh.
"Tak perlu kasihan! Kamu itu jangan terlalu baik jadi orang!" perintah Aksa.
"Baiklah, besok aku akan menjadi orang jahat. Tapi kalau aku masuk penjara jangan salahkan aku," jawab Aza.
"Lah, kok masuk penjara?"
"Iya, Mah. Mulai besok aku akan mencuri, memukuli orang, merampok, dan lainnya. Bukankah aku nggak boleh terlalu baik jadi orang? Maka dari itu, aku akan berbuat kejahatan mulai besok!" ucap Aza dengan penuh kesungguhan.
Keno, Aira, dan Aksa saling pandang sebelum menepuk kening mereka. Aza sangat polos, terlalu polos, sangat sangat sangat poloss! Polos atau bodoh? Ya sebelas dua belas lah :")
*****
"Jangan sedih, Hubby. Do'akan saja," ucap Aza.
"Iya..."
Suasana kota di malam hari cukup padat. Jalanan sangatlah ramai. Tangan Aksa tak henti- hentinya mengusap perut datar istrinya. Aza merasa geli dibuatnya, tapi ia tak bisa menghentikannya karena Aksa akan marah nantinya.
"Hubby, ada pasar malam!" seru Aza ketika mobil melintasi area pasar malam.
"Kamu mau ke sana, sayang?" tanya Aira.
"Bolehkah?"
"Tentu saja boleh."
Mereka pun memutuskan untuk mampir sejenak di pasar malam. Aza mendorong kursi roda suaminya memasuki area yang cukup ramai.
"Papa sama Mama ke sana dulu ya, nanti kita bertemu di sini lagi," ucap Keno yang kemudian diangguki Aza dan Aksa.
Aza pun berkeliling menatap makanan- makanan yang berjajar rapi di sekitaran permainan yang ada.
"Hubby, kita beli kembang kapas dulu ya." Aza berhenti di depan penjual kembang kapas. Ia lalu memilih kembang kapas mana yang hendak dibelinya.
"Kembang kapasnya dua ya, Bang," ucap Aza.
"Ini, Nona cantik," ucap Penjual menyodorkan dua kembang kapas berwarna pelangi ke tangan Aza.
__ADS_1
"Hubby, tolong pegangkan dulu ya. Aku mau ambil uangnya."
Aza lalu mengambil satu lembar uang dua puluh ribu dan sepuluh ribu untuk membayar kembang kapasnya tadi. Kemudian, mereka kembali berkeliling memilih makanan apalagi yang hendak di beli.
"Aza, kondisiku seperti ini, kita nggak mungkin bermain di wahana- wahana ini," ucap Aksa dengan nada yang sendu menatap kakinya.
"Aku ke sini nggak mau main kok, Hubby. Aku hanya ingin membeli makanan saja. Lagipula aku kan lagi hamil, jadi mana mungkin mau bermain wahana- wahana ini."
Aksa menarik tangan istrinya dan mengecupnya. Ia beruntung sekali dipertemukan dengan orang yang sebaik dan penuh perhatian seperti Aza.
Bakso bakar, sosis bakar, dan martabak telur telah berada di tangan Aza. Mereka pun sudah siap untuk pulang, tapi Aira dan Keno tak kunjung muncul juga.
Hoekkk...hoekkk...
Suara orang yang sedang mual terdengar jelas mendekati Aksa dan Aza. Mereka pun menoleh, ternyata itu adalah Keno dan Aira.
"Papa kenapa muntah- muntah?" tanya Aksa ketika melihat wajah Papanya yang pucat pasi dan lemas.
"Tadi Mama ajakin naik bianglala sambil makan kembang kapas biar kaya film- film korea gitu. Tapi Papa kamu malah malu- maluin, muntah terus dari tadi," gerutu Aira. Adegan makan kembang kapas saat bianglala berputar akhirnya gagal karena sang suami malah pusing dan mual.
Aksa dan Aza tertawa lepas mendengar penjelasan wanita itu. Mamanya memang lucu, tak tahu umur.
"Ah, Mama kamu ini nyebelin banget deh. Udah tahu aku takut naik bianglala masih aja dipaksa," ucap Keno.
"Sudah- sudah, ayo kita pulang. Kasihan cucuku kedinginan nanti. Ayo Opa kita pulang," ajak Aira sembari merangkul tangan suaminya.
"Kok Opa sih?" sembur Keno. "Nggak mau nggak mau!!!"
"Lah, sebentar lagi kan kita bakal punya cucu. Jadi, mulai sekarang aku akan latihan memanggilmu Opa. Bukankah begitu, Aza sayang?" Aira mengusap perut datar Aza dengan senyum yang mengembang.
"Iya, Oma Aira."
Aira langsung mengentikan tangannya, ia lalu menatap menantunya dengan bibir yang manyun. Ia tak suka dipanggil Oma.
"Panggil Mama, jangan Oma," cebik Aira.
"Sebentar lagi kan kita bakal punya cucu. Jadi, mulai sekarang aku akan latihan memanggilmu Oma. Bukankah begitu, Oma Aira?" Keno mengulang perkataan dan berlenggok seperti istrinya tadi.
"Ah, aku nggak suka dipanggil Oma. Aku kan masih muda, nggak mau nggak mau..."
Keno mencubit kedua pipi istrinya yang menyebalkan itu. Dirinya saja tak mau dipanggil Oma tapi berlagak memanggil suaminya Opa. Apa itu tak menyebalkan?
Lagi- lagi Aksa dan Aza terpingkal- pingkal melihat kedua orangtua itu.
*****
Aksa dan Aza sudah sampai di kamar. Mereka sengaja pindah di kamar bawah supaya lebih mudah. Semua barang mereka pun telah dipindahkan oleh Bi Mona dan Sandra.
"Maaf, ak-" ucap Aksa terpotong saat bibir Aza menyentuh bibirnya.
"Jangan berkata maaf lagi, kamu tuh nggak salah dan nggak menyusahkanku," seru Aza dengan mata melotot membuat Aksa mendelik menelan ludahnya.
"Tapi kan aku benar- benar menyusahkanmu," tukas Aksa.
"Bicara sekali lagi aku akan membuatmu tak bisa bicara untuk selamanya," ucap Aza dengan penuh penekanan.
"Heyyy, itu kan sloganku kenapa kamu menggunakannya."
"Hehehe, maafkan aku, Hubby."
__ADS_1