My Presdir

My Presdir
Jangan Marah


__ADS_3

Tatapannya kosong, tak ada semangat dalam dirinya. Ia menatap ruangan suaminya yang masih tertutup rapat pertanda sang pemilik belum kembali. Lelaki itu masih sibuk rapat. Rapat atau selingkuh? Hatinya sangat sakit saat melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain.


Tak terasa bulir air mata menetes ketika mengingat kejadian tadi. Tapi sebisa mungkin ia menepis hal- hal buruk yang bersarang di kepalanya. Bertahun- tahun menikah, Aksa tak pernah mengkhianatinya. Pasti ada alasan yang jelas di balik semuanya.


Ia berusaha mengembalikan semangat dalam dirinya lagi. Aza memasuki ruangan kerjanya dan duduk di tempatnya. Kursi sebelahnya kosong, Sarah telah mengambil cuti.


"Hey, kok kelihatan ada masalah sih?" seru Clara menepuk bahu Aza dari belakang.


"Enggak kok. Halo, Bryan, kamu ikut Mama kerja ya?" Aza berpaling dan mengajak Bryan, anak Clara yang kala itu tengah digendong.


"Iya nih, dia rewel tadi. Mau aku titipin ke neneknya nggak mau."


"Halo, Bryan. Sini sama aunty..." Aza mengulurkan tangannya mengambil alih Bryan dari gendongan Clara. Bermain dengan Bryan membuatnya lupa dengan hal yang membuat hati sesak.


*****


Aksa sampai di kantor pukul delapan, ia langsung menuju ke ruangannya. Terdengar suara istrinya yang sedang cekikikan di ruang devisi keuangan, Aksa pun tak jadi membuka pintu ruangannya, ia malah menuju ke ruangan istrinya yang kala itu tak tertutup.


"Apa yang membuat istriku ini tertawa lepas hingga terdengar di ruanganku?" tanya Aksa mencubit pipi Aza.


Wanita itu pun berhenti tertawa, wajahnya langsung murung ketika mengingat kejadian tadi pagi. Aza tak menjawab suaminya, matanya langsung tertuju pada beberapa berkas yang ada di hadapannya.


"Kenapa sih? Ditanya tuh dijawab, Sayang..." Aksa kesal karena Aza mengacuhkan dirinya. Ia menangkup kedua pipi istrinya hingga wanita itu menghadap dirinya.


Lagi- lagi Aza kembali dibuat sakit, terdapat noda lipstik di kemeja Aksa. Wanita tadi pasti mencium dada suaminya saat berpelukan. Noda lipstik itu terlihat jelas, merah maroon, kecupan bibirnya pun terlihat seksi.


Tangan Aza pun terulur mengambil selembar tisu dan membersihkannya. Senyum tipis menghiasi wajahnya, tapi hatinya sakit tak terkira.


"Lain kali bilang sama wanitamu itu untuk tak memberi bekas kecupannya," ucap Aza yang membuat Aksa semakin merasa bersalah. Ia menebak jika Aza pasti melihat dirinya bersama Bella.


"Za, dengarkan penjelasan dariku. Kamu pasti sudah salah paham..." Aksa menahan tangan Aza yang berusaha menghilangkan noda lipstik.


"Sepertinya semuanya sudah jelas, tak ada yang perlu dijelaskan lagi."


"Tapi, Sayang..."


"Aku tadi melihatmu, Aiden dan Ailee pun juga melihatmu. Tapi tenang saja, aku telah berhasil membohongi mereka bahwa tak ada apa- apa antara dirimu dan wanita cantik yang bergelayut di tubuhmu," ucap Aza. Air matanya menetes, ia segera mengusapnya dan kembali memasang senyuman seolah semuanya baik- baik saja.


"Itu memang benar. Tak ada apa- apa antara aku dan Bella."


"Ohh, jadi namanya Bella. Cantik ya, sama kaya orangnya. Seksi juga, nggak kaya aku yang kerempeng ini." Aza terkekeh mengucapkannya, ia pandai sekali menutupi rasa sakit hatinya.


"Dia itu client-ku, aku dan dia bekerja sama supaya bisa menaklukan Vincent Group."


"Ohh...Jadi hanya client, lalu kenapa dia berperilaku seperti itu? Bergelayut manja, memelukmu, bahkan dia berani mencium mu. Pasti ini juga dicium juga, kan?" ucap Aza menunjuk kedua pipi, kening, dan juga bibir suaminya.


"Please, percaya padaku. Aku mana mungkin berpaling." Aksa terus berusaha meyakinkan istrinya, tapi sepertinya apa yang dilihat Aza itu mampu membuat wanita itu yakin jika dirinya bermain api di belakangnya.


"Please, percaya padaku..." lirih Aksa, ia mendekap istrinya yang masih tak bergeming.

__ADS_1


"Tolong lepaskan! Di sini masih banyak karyawan, jangan memelukku!"


"Aku nggak selingkuh, percayalah!"


Aza yang jengkel pun melepas pelukan suaminya dengan paksa, ia lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Aksa mengikutinya dari belakang, membuat Aza semakin jengkel.


"Sayang, jangan marah ya..."


"Dia itu cuma rekan bisnis saja. Aku nggak mungkin jatuh cinta sama wanita lain," ujar Aksa. Ia memeluk istrinya dari belakang. Sedangkan Aza masih diam, ia menyeduh cokelat panas untuk menenangkan pikirannya.


Lelaki itu hampir gila, ia sangat tak suka jika istrinya mendiamkan dirinya. Ia pun menciuminya, menggelitiknya, dan lain sebagainya.


Aza langsung melepas kedua tangan Aksa yang melilit di perutnya. "Pergilah, kembalilah mengurus pekerjaanmu!"


"Aku akan pergi asal kamu nggak marah lagi! Ayo tersenyumlah."


"Males!" Aza berbalik dan hendak meninggalkan pantry, tapi Aksa mencekalnya hingga cokelat panas di tangan Aza tumpah dan gelasnya pecah.


"Hubby, panas..." Aza memekik, cokelat panas itu mengenai tangannya hingga memerah. Sedangkan Aksa jadi semakin panik, ia segera mengajak istrinya itu ke kamar mandi dan menyalakan keran air.


"Maafkan aku..."


"Pak Kis! Tolong ambilkan saleb luka bakar!" teriak Aksa berharap Pak Kis mendengarnya. Ia masih fokus mengaliri tangan istrinya dengan air mengalir supaya tidak melepuh.


"Baik, Tuan!"


"Maafkan aku..." Kalimat itu terus saja terlontar dari bibirnya, ia pun sesekali mengecup tangan Aza.


*****


Saat sudah waktunya pulang, Aksa menuju ke ruangan istrinya untuk mengajaknya pulang. Tapi sayang, Aza sudah pulang terlebih dahulu. Ia yakin jika Aza masih marah atas kejadian tadi pagi.


Sesampainya di rumah, Aksa mencari keberadaan istri dan anak- anaknya. Ternyata mereka berada di ruang bermain dengan Aza yang masih berlarian mengejar Aiden dan Ailee untuk memakai baju karena baru saja selesai mandi.


"Aiden, Ailee...Jangan berlarian terus, ayo pakai bajunya dulu nanti kalian sakit loh," seru Aza. Ia pun kewalahan menghadapi anak- anaknya yang semakin girang berlari menghindarinya.


"Mama...Ayo kejar kami!" ucap Aiden dan Ailee cekikikan.


Aksa pun terkikik, ternyata Aza bisa kalah juga dengan anak yang baru berusia empat tahun. Ia ikut berlari mengejar anak kembar itu.


"Papa jangan ikut- ikutan, biar Mama saja yang mengejar kami," celetuk Ailee.


"Hey, anak kembar! Jangan nakal, kasihan Mama. Ayo segera pakai baju!"


"Nggak mau," jawab Aiden.


Setelah beberapa menit mengitari ruang bermain, akhirnya Aksa berhasil menangkap dua anak itu.


"Ketangkep sekarang! Ayo mau apa coba? Nggak bisa lari lagi, kan?" ledek Aksa.

__ADS_1


"Ah, Papa nggak asyik!" gerutu Aiden dan Ailee.


Aza pun langsung memakaikan baju mereka satu persatu, sedikit kewalahan karena Aiden dan Ailee tak mau lepas dari gendongan sang papa.


"Sudah selesai, kalian kembali ke kamar jangan bermain lagi. Ayo belajar!" ucap Aza.


"Aku sudah belajar, Mah," jawab Aiden dengan senyum yang menggemaskan.


"Ailee juga sudah."


"Papa juga sudah!" Aksa ikut menimpali membuat Aiden dan Ailee terpingkal- pingkal, tapi tidak dengan Aza.


"Nggak nanya kamu!" Aza lalu pergi meninggalkan ruang bermain.


"Huahaha, Papa kasihan banget deh," ledek Ailee.


Hingga malam tiba, Aza masih kesal dengan suaminya. Tak ada obrolan sebelum tidur seperti biasanya. Kamar itu sangat sepi, mereka terdiam menatap ponsel masing-masing.


Aksa pun menggerakkan kakinya menindih kaki Aza untuk mendapatkan perhatian, tapi wanita itu malah semakin asyik menatap ponsel, entah apa yang membuatnya betah dengan ponsel berwarna hitam itu.


Lelaki itu merubah posisinya yang semula duduk bersandar di ranjang menjadi rebahan di samping istrinya yang membelakangi dirinya. Ia memeluknya dari belakang, menyusupkan lehernya di tengkuk sang istri. Tangannya pun tak bisa diam, ia menggelitik perut Aza.


Wanita itu menggeliat merasakan geli karena ulah tangan nakal suaminya. Ia pun menarik tangan itu dan menggigitnya sekuat mungkin membuat sang pemilik mengaduh kesakitan.


"Kenapa digigit sih? Masih lapar? Kan tadi udah makan!" gumam Aksa.


"Iya, masih lapar!"


"Kamu kalau lagi marah tambah cantik ya ternyata," goda Aksa.


Aza kembali memainkan ponselnya dan membelakangi suaminya. Ia membiarkan Aksa berbuat semaunya. Tanpa disadari, tangan Aksa sudah bergerilya membuka bajunya.


"Boleh ya?" tanya Aksa memasang puppy eyes supaya Aza luluh dengannya.


Aza merutuki suaminya, bagaimana bisa ia melakukannya pada saat dirinya masih marah. Aksa memang menyebalkan. Belum sempat melakukannya, suara ketukan pintu terdengar. Aksa pun mendengus kesal.


Sedangkan Aza langsung beriyes- iyes dalam hatinya, ia segera mengenakan bajunya kembali dan membukakan pintu kamar.


"Siapa sih ganggu orang mau mantab- mantab aja!"


Ternyata si pengetuk pintu adalah Mama Aira, ia memberitahu jika ada tamu yang hendak bertemu dengan Aksa.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Wkwkwk


__ADS_2