
Pak Rangka menghampiri sofa setelah mengakhiri pembicaraannya di telpon dengan anaknya. Dia sepertinya bahagia setelah berbicara dengan anaknya.
"Tadi itu yang nelpon adalah anak saya. Dia menunggu saya pulang, sekarang jika saya belum pulang dia selalu menunggu." Pak Rangka tiba-tiba berbicara tentang anaknya. Sejenak aku alihkan fokusku ke arah Pak Rangka.
"Menggemaskan, ya, Pak punya anak perempuan? Pasti sangat lucu dan cantik anak Bapak. Apakah anak Bapak di rumah ditinggal sendiri atau dititipkan?" tanyaku memberanikan diri. Sepertinya mendadak keibuan deh aku.
"Benar, dia sangat menggemaskan, lucu dan pintar. Kalau saya belum pulang, pastinya saya titipkan pada pengasuhnya dan Asisten rumah tangga yang lain," jawab Pak Rangka.
"Sensi, apakah kamu lapar?" Pak Rangka tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
"Oh, tidak Pak, saya hanya haus. Di sini sudah ada minuman dispenser, saya bisa minum air itu jika haus."
"Oh, ya sudah, kamu selesaikan pekerjaan kamu, kalau ada yang tidak mengerti, kamu tanyakan saya saja," ujarnya dan kembali ke mejanya. Sedikit kecewa saat Pak Rangka kembali ke mejanya, padahal wangi parfumnya bikin aku tenang. Sejenak aku melihat jam di dinding ruangan Pak Rangka.
Waktu menunjukkan pukul 18.30 menit. Aku seketika was-was, sebab belum memberi tahu Ibu dan Bapak jika aku telat pulang karena lembur. Biasanya aku, kan tidak pernah pulang melebihi jam lima sore, pasti Ibu dan Bapak serta adikku Aloevera khawatir.
"Pak, maaf, apakah saya boleh minta ijin sebentar untuk menelpon orang tua saya di rumah, supaya mereka tidak khawatir karena saya pulang telat?" tanyaku sedikit ragu. Pak Rangka sejenak melihat ke arahku.
__ADS_1
"Oh, Ok, silahkan! Kamu hubungi orang tua kamu, mereka pasti khawatir."
Setelah mendapat ijin dari Pak Rangka, aku segera menghubungi nomer adikku Aloe. Untuk beberapa detik panggilanku belum diangkat Aloe. Aku masih bersabar dan sampai detik ke 60 panggilanku baru diangkat.
"Halo, Assalamualaikum, De! Ini, teteh, kasih tahu Bapak dan Ibu kalau teteh malam ini telat pulang karena ada lembur. Jadi, bilang Bapak sama Ibu, jangan khawatir sama teteh, teteh masih di kantor," jelasku pada Aloevera adikku satu-satunya yang imut dan cantik sama denganku.
Setelah memberi tahukan adikku bahwa aku pulang telat karena lembur, aku kembali meraih map yang tadi aku garap. Dan kini aku bermaksud menyelesaikannya.
"Sepenting itu, ya, kamu memberitahukan kabar kamu pada orang tua kamu?" Aku menghentikan pulpenku untuk menulis karena pernyataan Pak Rangka barusan, aku mendongak dan menatap Pak Rangka.
"Sangat penting, Pak, dan itu penting banget. Sebab saya masih tanggung jawab keluarga saya, meskipun saya sudah dewasa dan bekerja, masalah kasih sayang dan perhatian masih wajib dalam pengawasan orang tua, dan saya sebagai anaknya wajib memberi kabar supaya mereka tidak khawatir, " jelasku lancar jaya, mirip jalan tol. Pak Rangka diam sejenak namun kemudian berbicara.
Tepat jam sembilan malam pekerjaanku baru selesai, rasa lelah dan lapar langsung mendera. Untuk menghilangkan rasa lapar, aku meraih gelas yang masih ada air beningnya lalu aku minum. Rasa haus seketika menghilang. Sementara Pak Rangka masih serius dengan laptopnya, sehingga tidak sadar aku sudah menyudahi pekerjaan dan menatapnya dengan intens.
Kunikmati wajah Pak Rangka dari arah samping, hidung yang mancung serta tulang rahang yang tegas, menandakan betapa disiplin dan penuh wibawa seorang Pak Rangka Baja. Ditunjang wajah tampan yang menawan dihiasi bibir tipis dan bermisai tipis itu, ibarat sebuah ukiran yang sempurna. Tidak hentinya aku mengagumi ciptaan Tuhan yang satu ini. Namun tidak ada manusia yang sempurna, meskipun fisik sempurna, satu kekurangan Pak Rangka yaitu dia memiliki sakit asma yang bisa kumat kapan saja.
"Ehemmm." Tiba-tiba suara deheman keras mengejutkanku yang tengah intens menatap dan mengagumi keindahan Tuhan yang satu ini. Sepertinya rasa lapar dan hausku langsung hilang jika sudah menatap wajah tampan Pak Rangka.
__ADS_1
"Sensi, apa yang kamu lihat? Apakah kamu sudah menyelesaikan semua pekerjaan kamu?" tanya Pak Rangka menatapku dengan heran. Aku sungguh gelagapan dan benar-benar malu karena telah ketahuan memperhatikan Pak Rangka.
"I-iya, su-sudah Pak, semua sudah selesai," ucapku gelagapan. Ya ampun benar-benar malu, mau disimpan di mana mukaku ini kalau sudah begini?
Perlahan Pak Rangka berdiri dari kursinya dan berjalan ke arahku. "Coba saya lihat!" ujarnya seraya mengulurkan tangannya ke arahku. Map-map itu kemudian dilihatnya satu persatu.
"Ok, bagus. Kamu sudah selesai mengerjakannya. Sekarang berkemaslah, kita akan pulang," ujarnya. Tanpa berpanjang-panjang lagi aku segera membereskan mejaku dan merapikan map-map tadi.
"Map-mapnya letakkan di meja saya, biar besok Koral yang ambil ke mejanya," titahnya. Aku patuh tanpa berlama-lama lagi. Jam semakin bergulir. Kini hampir menginjak angka 21.20 menit, semakin malam dan rasanya aku tidak mungkin pulang naik motor sendiri.
"Ayo, ini sudah sangat malam. Kamu dan saya harus segera pulang," ajaknya sembari menungguku yang masih di sofa. Aku mengikuti Pak Rangka dari belakang. Kami keluar dari ruangan Pak Rangka. Suasana kantor begitu sepi dan tiba-tiba horor. Aku seketika merasa ketakutan, Pak Rangka sepertinya menyadari ketakutanku. Lantas dengan tanpa basa-basi dia meraih tanganku dan memegangnya lalu menarik membawaku ke dalam lift.
Di dalam lift, Pak Rangka masih tidak melepaskan pegangannya. Dia malah semakin erat memegang tanganku. "Saya tahu kamu pasti ketakutan di dalam kantor yang sepi seperti tadi. Saya bisa melihat ketakutan kamu pada saat kamu keluar ruangan saya. Harusnya kamu jangan membesarkan rasa takut, sebab hantu itu sendiri berasal dari diri kamu sendiri," jelasnya sembari mendekatkan tubuhnya di sampingku.
"Kamu harusnya tadi fokus berdoa, usir rasa takut itu dengan berdoa," ujarnya lagi tanpa melepaskan rematan tangannya. Jika seperti ini terus, rasa takut yang aku rasakan bisa-bisa hilang dan aku justru betah berada didekat Pak Rangka yang super wangi. Andai kami sepasang kekasih, mungkin saja aku saat itu aku sudah bersandar di bahu Pak Rangka untuk meredam rasa takutku.
"Ok, kita sudah sampai." Rupanya lift sudah berada di lantai dasar, membangunkan khayalanku. Pak Rangka langsung melepaskan rematan jemarinya di tanganku, sejenak aku merasa tidak rela. Tapi mau bagaimana lagi, kami memang tidak boleh lama-lama meremat tangan satu sama lain, kalau tidak, bisa-bisa kami jadi bahan gosip Pak Satpam di pos jaga.
__ADS_1