
Sensi segera ke kamar mandi dengan menenteng handuk di tangannya. Dia sama sekali tidak peduli akan keberadaan Rangka.
Lima belas menit kemudian, Sensi sudah keluar dari kamar mandi dengan wangi sabun yang menguar di udara. Tubuhnya dililit handuk memperlihatkan paha dan bahu yang mulus. Tidak menelan saliva bagaimana buat Rangka? Tapi dia harus bisa menahannya, sebab Sensi masih dalam keadaan marah.
"Ya ampun aku tidak tahan menjelang Maghrib begini, istriku si gadis ceplas-ceplos itu sudah menggoda imanku biar berontak. Lebih baik aku bersiap sholat Maghrib dulu, biar hasrat ini bisa terkendali. Lagipula masa jam segini sudah meronta? Atau apakah malam ini saja Sensi aku ajak kencan di restoran mewah seperti kata Mama?"
Sensi masih berkutat di depan cermin dengan handuk yang melilit. Dia mencuci mukanya terlebih dahulu seraya mengibas-ngibas rambutnya dengan membungkukkan punggungnya lalu mengangkat lagi punggung itu, otomatis rambutnya berayun-ayun di udara turun naik mengikuti irama punggungnya yang turun naik juga. Sepertinya Sensi sengaja sedang menggoda imannya, saat dia mengibas rambutnya dengan punggung yang turun naik, entah disadari atau tidak oleh Sensi, pantat yang hanya dililit handuk pendek itu terlihat jelas oleh Rangka saat punggung Sensi membungkuk.
"Ya ampun istriku yang tadi pagi aku marahin itu, kini sedang menggoda si Otong. Duhhh, ya ampun, aku harus tobat dulu, harus sholat Maghrib dulu baru terjun merayu Sensi biar mau memuaskan si Otong yang meronta-ronta."
Rangka segera ke kamar mandi, sejenak dia beristighfar meminta ampun pada Yang Kuasa, sebab Maghrib-maghrib sudah tergoda dengan godaan indah sang istri.
Keluar dari kamar mandi sepertinya Sensi sedang melaksanakan sholat Maghrib, Rangka pun segera melaksanakan sholat juga. Tiba-tiba bunyi Hp Rangka berbunyi. Panggilan dari Mamanya memanggil.
"Mama! Jangan-jangan Glassy ingin pulang."
"Assalamualaikum, Ma."
"Rangka, Glassy malam ini tidak mua pulang, dia ingin nginap di rumah Mama. Kalian bersenang-senanglah. Buatlah cucu baru buat Mama. Ajaklah malam ini istrimu kencan. Perlakukan selembut dan seromantis mungkin. Ayolah."
"Ohhhh, begitu, Ma. Ya sudah tidak apa-apa, Ma. Rangka paham."
Setelah menerima panggilan dari mamanya, hati Rangka sudah sangat senang. Malam ini dia bebas bulan madu bersama Sensi tanpa harus membobokan dulu Glassy. "Setelah sholat Isya aku harus siap-siap merayu Sensi dan membuat dia klepek-klepek. Ahahahahha ...."
Rangka menuruni tangga, lalu menuju dapur. Dia akan membuat ramuan telur kampung campur madu. "Biar tambah greng ...." pikirnya tersenyum.
Sementara itu masih di kamar, Sensi yang bertekad malam ini akan sengaja mempertontonkan keindahan tubuh dan keseksiannya di hadapan Rangka, supaya Rangka kejang-kejang menahan hasratnya supaya tersiksa. Sebagai bentuk hukuman yang selalu memarahinya ketika latihan nyetir.
"Tahu rasa nanti Mas, kamu menahan hasrat saat melihat aku memamerkan keindahan tubuhku tapi aku tidak mau disentuh karena masih kesal sama kamu. Akan aku sengaja nanti malam saat tidur memakai lingerie seksi, biar Mas Rangka semakin tidak tahan." Sensi bertekad.
Saat Sensi merencanakan sesuatu untuk Rangka, tiba-tiba dia teringat Glassy. Bocah cantik itu seharian belum ketemu dirinya, dia jadi merasa kangen.
"Dassss." Suara pint yang mulus terdengar dibuka. Sensi sudah bersiap di atas bibir ranjang memainkan Hpnya dengan bersilang kaki. Otomatis keindahan pahanya terekspos nyata di mata Rangka. Rangka menelan salivanya dengan kasar.
"Mas, kemanakah Glassy, aku sejak tadi tidak mendengar suaranya? Aku kangen dengan Glassy." Tiba-tiba Sensi menanyakan Glassy dengan nada yang benar-benar kangen. Sejak tadi Rangka baru kali ini mendengar Sensi bersuara.
__ADS_1
"Glassy sedang menginap di rumah Nenenya."
"Ohhhh." Sensi hanya mengguman lalu beranjak menuju pintu.
"Mau kemana kamu, Sayang?" Rangka berhasil meraih tangan Sensi lalu menguncinya di dinding pintu. Deru nafas Sensi sudah tidak beraturan, dia benar-benar tersentak. Bisa-bisa pertahanannya jebol gara-gara pesona ketampanan Lee Min Jo KW yan tidak kalah tampan.
"Aku mau ke dapur ambil minum, a~aku haus."
"Cup." Rangka melancarkan aksi pertamanya , tidak penting Sensi lagi marah atau kesal padanya. Yang penting saat ini hasratnya yang menggebu segera tersalurkan.
Sensi berontak maju mundur, dengan begitu keuntungan bagi Rangka. Dia semakin mengunci tangan Sensi yang meronta ingin lepas, sementara bibirnya ingin bicara stop tapi tidak bisa sebab Rangka terus menerus menyalurkan birahinya yang menggebu. Kalau seperti ini gagal sudah pertahanan Sensi membuat Rangka tersiksa gara-gara menahan hasratnya.
"Sayang, sudah dong ngambeknya. Kamu hanya dimarahin gara-gara nyetir yang tidak fokus saja marah sampai mau menghukum suamimu ini. Ayo, benarkan dulu posisi baring kamu ini." Sensi tidak menjawab sepatah katapun, sudah jelas malam ini dia akan gagal mempertahankan gengsinya.
"Aku akan membawamu bulan madu di sini, mungpung Glassy nginap di neneknya. Kata mama, kita harus quality time. Bagaimana jika malam ini kita makan di luar, kita kencan malam ini?"
"Aku nggak mau, aku tidak mood. Mas Rangka yang membuat moodku hancur," rajuknya. Raka tidak peduli dengan rajukan atau protesan Sensi yang penting malam ini dia akan puas berdua dengan Sensi.
"Sayang, ayolah, kita arungi malam ini," ajaknya seraya tidak meminta ijin dulu merangsek melucuti apa-apa yang menjadi tirai tubuh Sensi dan dirinya.
Malam yang indah ini sangat panjang bagi Sensi dan Rangka, mereka memadu kasih di balik rasa marah dan juga kesal. Namun, berakhir romantis dan berbalas kasih, sehingga malam ini menjadi malam yang paling romantis bagi keduanya.
Besoknya pagi sekali Rangka sudah bersiap ke kantor dengan baju kantor yang sudah disiapkan Sensi.
"Sayang, apakah kamu mau ikut ke kantor pagi ini?" Sensi menoleh lalu kembali ke depan cermin menyapukan skincare di wajahnya.
"Ingin sih Mas, tapi aku mendadak kepikiran hal yang membuat hatiku jadi sedih dan takut," ungkap Sensi sedih. Memang dari semalam juga Sensi sudah sedih. Namun, karena Rangka yang berhasil meluluhkan Sensi, akhirnya Sensi yang akan jual mahal alah juga dengan pesona Rangka.
"Ada apa lagi sih, Sayang. Kenapa kamu bisa sedih dan kepikiran?" Rangka penasaran.
"Aku mau jujur Mas, kemarin saat aku di taman, aku membuka facebook aku. Dan membuka notif permintaan pertemanan, ternyata Mbak Delana meminta pertemanan lagi dengan akun yang baru. Lalu di sana dia bikin status yang terasa misteri." Rangka menghentikan sejenak kegiatannya menyemprotkan parfum di tubuhnya.
"Lalu apa yang terjadi, kamu tidak menerima pertemanan dia, kan?" tanya Rangka penasaran.
"Tidak," ucap Sensi seraya menggeleng.
__ADS_1
"Lantas, kenapa kamu sangat begitu sedih? Bukankah kamu tidak menerima permintaan pertemanan?" Rangka heran dengan perubahan yang terjadi pada Sensi.
"Mbak Delana membuat status seperti ini." Sensi memperlihatkan status Delana saat Sensi sengaja membuka kembali akun facebooknya.
"Yang penting duit banyak, cinta? Hanya dia yang masih saja ada di hatiku si "penyakitan". Tapi sayang dia sudah punya Satpam."
Rangka membaca dan tertegun sejenak sebelum memberikan komentarnya pada Sensi.
"Buat apa kamu buka-buka akun facebooknya membuat kamu sakit hati saja? Apalagi kamu tidak berteman? Lalu apa pentingnya status dia itu untuk kamu atau bahkan aku? Kalau seperti ini, kamu nanti yang malah kepikiran. Menurut aku, kamu mulai saat ini jangan memiliki akun facebook, tutup akun facebook kamu!" respon Naga bernada kurang senang dengan sikap Sensi yang kepo dengan status Delana. Dan sekarang akibatnya dia sakit hati.
Sensi diam mendapat respon tidak respek dari Rangka seperti itu, inginnya Sensi Rangka itu bersikap ikut simpati dan mencoba meraba perasaan Sensi dengan membujuk atau menghiburnya.
"Tapi status itu sepertinya ditujukan untukmu, Mas, aku takut kamu ataupun Glassy kembali pada Mbak Delana. Aku tidak mau kehilangan kalian berdua. Aku menyayangi kalian," ungkap Sensi sambil terisak. Rangka menghampiri Sensi yang kini tiba-tiba menangis.
"Itu tidak mungkin, aku tidak mau kembali pada masa lalu. Terlebih masa lalu itu menyisakan rasa sakit hati yang mendalam. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Itu akan membuatmu sakit hati. Salah sendiri mengapa kamu iseng melihat-lihat status dia. Tidak penting banget," ucap Rangka seraya berjalan menuju meja rias.
"Kamu responnya seperti itu sih, Mas. Kamu tidak merasakan ketakutan aku."
"Harusnya seperti apa aku merespon? Rumah tangga kita sedang tidak ada masalah, tiba-tiba kamu membuka-buka status facebook orang lain yang isinya belum tentu juga ditujukan buat kita. Lagi pula setahu aku dia sudah menjadi peliharaan lelaki lain, mana mungkin aku mau kembali pada dia. Aku sudah ada kamu. Alasan apalagi yang membuat aku harus kembali padanya? Tidak ada," tandas Rangka seraya bersiap pergi.
Sensi terhenyak mendengar respon Rangka seperti itu. Benar juga kata Rangka, tapi mengapa hati ini terasa sakit hati saat Rangka bicaranya ketus seperti itu, inginnya Sensi berkata padanya dengan lembut. Sensi menangis, dia saat ini begitu sensitif dan merasa rapuh.
Tiba-tiba Rangka yang tadi sudah keluar kamar, kembali lagi ke kamar dengan keadaan Sensi yang sedang menangis. Rangka sedikit kaget dan khawatir, lalu dia menghampiri Sensi dan meraih Hp Sensi.
"Sayang, kenapa kamu menangis? Kenapa harus dipikirkan status dia itu. Sini Hp kamu." Rangka meraih Hp Sensi lalu membuka aplikasi Facebook. Rangka membuka notifikasi pertemanan, dia melihat siapa-siapa yang meminta pertemanan pada Sensi.
Rangka terhenyak melihat akun baru Delana yang memakai foto profil dirinya bersama Delana. "Apa-apaan sih dia, kurang ajar," umpatnya kesal dalam hati, lalu tanpa segan Rangka memblokir akun Delana.
"Supaya pikiran kamu sehat, mulai sekarang aku larang kamu buka akun facebook kamu yang ini lagi. Dan aku beritahukan, aku akan menghapus akun kamu di facebook supaya orang-orang toxic itu tidak bisa menghubungi kamu lagi," putus Rangka seraya memulai aksinya menghapus permintaan akun facebook.
"Sensi masih terisak, dia tidak tahu harus berkata apa saat Rangka berhasil menghapus akun facebooknya. Tanpa respon, Sensi meninggalkan kamar. Dia menuruni tangga lalu ke dapur dan keluar dari dapur menuju taman bunga yang berada di belakang rumah. Tempat ini biasanya yang paling favorite dijadikan Sensi sebagai tempat menghibur hati.
Rangka heran dan penasaran kemana Sensi perginya? Rangka mengawasi kemana Sensi pergi, ternyata Sensi pergi ke taman belakang. Rangka tidak khawatir jika melihat Sensi di sana, tempat itulah yang selalu dijadikan Sensi sebagai tempat menenangkan diri.
"Aku tidak terlalu khawatir jika kamu ada di sana, Sayang." Rangka menatap sedih kepergian Sensi ke taman belakang, dia sedih karena Sensi membebani pikirannya sendiri dengan kepo melihat status Delana.
__ADS_1