Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 22 Dansa


__ADS_3

Kami berjalan menuju restoran hotel itu. Pak Rangka dan Rudi berjalan di depan aku dan Mbak Dian. Sepanjang menuju resto, Mbak Dian tidak lepas dari senyum bahagia. Aku akhirnya ikut tersenyum, sebab Mbak Dian terlihat lucu dan sering kepentok gara-gara high heelnya terlalu tinggi.


"Aku sebelum pulang besok, hari ini sekalian akan ketemuan dengan seseorang Sen, dia Pengusaha muda yang kebetulan punya perusahaan di Jakarta," ujar Mbak Dian gembira. Aku jujur saja ikut senang.


"Gimana, ganteng nggak Mbak orangnya?" tanyaku penasaran.


"Uihhhh, so pastilah Sen. Selera aku kan yang ganteng-ganteng sekelas Chef Firhan. Kamu pasti tidak tahu kan Chef Firhan? Kamu tahunya Lee Min Jo, sih," ejek Mbak Dian bangga.


"Saya tahu kok Mbak, Chef Firhan yang tampan pintar masak itu kan, vidio reelnya juga suka ada di facebook, saya juga suka selain pintar masak dia juga ganteng."


"Benar, kan, ganteng, masih muda lagi. Aku tuh sampai nggak bosan lihatnya, daripada aku lihat Song Joong-ki, aku lebih baik lihat Chef Firhan masak, aku pelototin HP sampai acara dia habis, puas deh," ujarnya lagi antusias.


"Kamu suka tipe cowok kaya gimana sih, Sen?" Mbak Dian sepertinya penasaran dengan tipe cowok yang aku sukai.


"Ya, sama sih, ganteng dan baik," ungkapku.


"Ganteng dan baik seperti apa, sih?" Mbak Dian penasaran lagi.


"Seperti siapa yaaa," saat sedang mikir begitu, Mbak Dian malah memotong pikiranku.


"Ya, sudah deh daripada bingung nanti kalau sempat aku kenalkan sama salah satu teman cowok teman aku yang Pengusaha juga. Dia tampan dan keren deh pokoknya," janji Mbak Dian semangat.


Di tengah perbincangan kami, tiba-tiba Pak Rangka menghentikan langkahnya dan sengaja membalikkan badan. Otomatis aku dan Mbak Dian tersentak kaget.

__ADS_1


"Kalian jika tujuan malam ini hanya mau mencari jodoh, silahkan jangan ikuti kami," timpal Pak Rangka nampak tidak senang. Wah, sepertinya Pak Rangka marah dan kilatan matanya terlihat kesal. Aku jadi bingung kenapa Pak Rangka tiba-tiba marah?


"Nggak, kok Pak, kami ikut. Kami sekalian cari jodoh deh kalau bisa, kan ini hari santai, kenapa Bapak marah?" sergah Mbak Dian cuek. Sikapnya melawan dan tidak takut. Lagipula kenapa harus takut, orang tidak ada yang salah dengan omongan Mbak Dian.


"Saya tidak marah, silahkan saja kalau kamu mau cari jodoh, itu hak kamu. Tapi kalau kamu cari jodoh di saat jam masih kerja itu yang tidak boleh." akhirnya Pak rangka memberi ultimatum demikian.



"Nah, ini baru sip. Nanti sehabis makan malam saya boleh memisahkan diri kan, Pak. Sekalian bawa Sensi untuk saya kenalkan pada Pengusaha muda di sini," ujar Mbak Dian senang, sikapnya kini kembali tidak merasa takut lagi pada. Pak. Rangka.



"Sensi tidak boleh kamu ajak, nanti penyakit tidak warasnya bisa nular ke dia," peringat Pak Rangka sembari melotot.


"Sudahlah, jangan bikin gosip tidak benar lagi. Sekarang kita makan malam dulu, setelah itu terserah kamu mau kemana, asal besok pulang kamu sudah lengkap tidak kurang tangan dan kaki," peringat Pak Rangka pada Mbak Dian.



Makan malam yang dihadiri para pengusaha kertas dan kayu se Kalimantan ini masih berlanjut pada sebuah permainan. Permainan memutar benda, saat benda itu berhenti di tangan satu orang peserta maka peserta itu harus menunjuk salah satu teman untuk mengambil sebuah amplop.



Dan permainan pun dimulai, benda itu memutar seiring musik yang dimainkan. Dan benda itu berhenti untuk pertama kalinya di tangan Pak Rangka saat musik berhenti. Wahh semua orang heboh dan berteriak meneriaki Pak Rangka serta orang yang akan ditunjuk Pak Rangka.

__ADS_1



Tidak disangka Pak Rangka menyebutkan namaku dengan langtang aku sontak terkejut. Lalu kami berdua harus mengambil sebuah amplop yang di dalamnya ada sebuah tulisan. Setelah amlpop itu diambil, Pak Rangka segera membukanya dan tulisannya mencengangkan 'dansa diiringi musik, saat musik berhenti yang mendapatkan hukuman harus mencium pasangan yang dipilihnya'. Aku ternganga dan rasanya ingin pergi saja dari tempat yang banyak Bos-bos besar ini.



Saat musik diperdengarkan, mulailah kami berdansa. Pak Rangka berusaha mengimbangi gerakan kakiku yang belibet dan berulang-ulang hampir jatuh.


"Sensi, nanti saat musik berhenti saya akan mencium kamu. Kamu pilih dicium apa, pipi atau ...."


"Pipi saja, Pak," potongku cepat dengan perasaan tersipu.


"Baiklah, akan saya lakukan sesuai permintaan kamu. Tapi apakah kamu tidak ingin yang lebih?"


"Maksud, Bapak?" Pak Rangka malah tertawa kecil sembari menatapku intens.


"Kapan dong saya bisa mencium selain pipi?" Pak Rangka malah bertanya yang diluar jalur. Musik pun berhenti dan kini Pak Rangka mulai bersiap akan menciumku, seketika aku merasa malu karena semua orang melihat dan meneriaki kami untuk segera mencium.



Perlahan Pak Rangka menatapku, lalu mendekati wajahku. Dan ciuman di pipi akhirnya mulus mendarat. "Jangan panik Sen, rileks saja toh saya bukan mencium selain pipi," ucap Pak Rangka sembari melabuhkan kembali ciumannya.


__ADS_1


Walaupun awalnya panik, namum karena Pak Rangka selalu bikin ketawa dan rileks akhirnya ciuman di pipi itu berhasil. Pak Rangka begitu wangi saat berdekatan tadi, yang berhasil kuhidu wangi parfumnya.


__ADS_2