Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
NBBGYSA#Season 2#SetelahJadiIstri#Latihan Nyetir 1 (Gagal)


__ADS_3

   Setelah melihat pada kenyatannya selama Rangka harus disibukkan dengan pekerjaan di kantor. Akhirnya Rangka mengambil keputusan untuk mengajari Sensi belajar nyetir mobil. Rangka ingin Sensi bisa mandiri jika nanti dirinya sibuk dan tidak bisa mengantar Glassy maupun dirinya kemana saja.


   Jika harus membiarkan Sensi bepergian dengan motor, Rangka tidak ikhlas dan terlalu khawatir dengan keselamatan Glassy dan Sensi. Padahal menurut pengamatan di lapangan mobil ataupun motor sama saja, yang membedakan hanyalah mobil lebih tertutup sedangkan motor tidak.


   "Ok, mungpung aku saat ini tidak sibuk, pagi setelah mengantar Glassy kita latihan nyetir," ujar Rangka seraya memperlihatkan mobil baru sebagai hadiah kecil buat Sensi. Sensi cukup senang dihadiahi mobil yang harganya tidak seberapa bagi Rangka yang penting Sensi bisa latihan dan dalam waktu paling lama seminggu Sensi harus bisa menyetir dengan lancar.


   "Ayo, kamu perhatikan aku dulu. Selama aku menjalankan mobil ini, kamu lihatin apa-apa saja yang tekan, pencet, pukul atau apapun itu," ujar Rangka memberi aba-aba. Sensi hanya senyum-senyum entah kemana fokusnya, rupanya dia masih belum berhenti mengagumi mobil pemberian Rangka.


   "Sayanggg, kamu kesambet?" gertak Rangka menyadarkan Sensi yang kagum.


   "Apa, Mas? I~ini pakai gigi, kan? Maksudnya manual bukan auto?" tanya Sensi gugup saat dirinya tersadar dari gertakan Rangka.


   "Iya, memangnya kenapa? Bukankah kamu pernah bilang suka dengan mobil yang pakai gigi dan bukan automatic? Katamu yang gigi lebih asik dan terlihat tangguh."


   "Iya, Mas, aku senang banget. He, he, he," ujarya diiringi tawa senang. Rangka geleng-geleng kepala melihat reaksi Sensi seperti itu, seakan tidak meyakinkan.


   "Ayolah, kamu naik duluan." Sensi naik duluan seraya mengamati semua pretelan di dalam mobil. Kopling, gigi, dan lain sebagainya diamati semua dengan heran.


   Rangka memasuki mobi dengan menutup pintu mobil perlahan. Dia percaya diri dalam waktu yang singkat Sensi pasti bisa menyetir dengan paham.


   "Bagaimana, Sayang, kamu siap dengan semua ini? Ok kita mulai ya, kamu perhatikan selama aku menyetir. Sekarang kita ke taman di komplek sebelah saja, di sana jalannya masih sepi dan lengang, bagus untuk latihan mobil."


   "Tapi Mas, itu kan perumahan yang masih dibangun. Nanti kalau kita kenapa-kenapa bagaimana?" tanya Sensi membuat Rangka tidak paham.


   "Kenapa-kenapa gimana, maksudnya?"


   "Tempat itu, kan masih sepi, Mas. Jika kita kenapa-kenapa dan dijahati orang, lalu kita akan minta tolong sama siapa?" Sensi nampak khawatir, wajahnya memperlihatkan kekhawatiran yang lumayan tegang.


   "Ya ampun Sayang, kamu belum apa-apa sudah takut. Komplek perumahan itu memang masih sepi sebab kompleknya masih belum rampung 100 persen. Tapi bukan berarti di sana tidak orang, di sana banyak orang kok, contohnya para pegawai kuli bangunan yang bekerja. Jadi kamu jangan merasa takut. Di sana juga banyak yang sama seperti kamu latihan menyetir," terang Rangka menghapus galau di dalam diri Sensi.


   Mobil pun mulai melaju pelan memasuki kawasan komplek perumahan yang masih belum selesai tahap pembangunannya. Tiba di portal perumahan, Rangka sengaja turun dulu untuk meminta ijin pada Satpam atau pihak Kontraktor atau terkait lainnya untuk latihan menyetir di lingkungan komplek perumahan ini.


   Rangka bersyukur karena mendapat ijin. "Silahkan saja, Mas. Kami justru senang komplek ini tidak sepi, terlebih kami bisa sekalian promosi perumahan ini, siapa tahu salah satu pengunjung komplek yang sedang belajar menyetir ada yang tertarik membeli perumahan ini," ujar salah seorang Satpam dengan sopan. Rangka mengangguk sembari bergegas memasuki mobilnya kembali dan menjalankan mobil itu dengan perlahan.


   "Sayang, kita mulai dari sini latihannya, ya. Kamu perhatikan semua arahanku." Rangka tidak bosan-bosan mengarahkan Sensi untuk memahami pretelan yang ada di dalam mobil berikut fungsinya. Dari yang tidak boleh dilakukan dan yang boleh sampai apa yang harus dilakukan jika tiba-tiba ada mobil di depan mobil harus ngapain, juga jika disalip juga harus ngapain.


   "Bagaimana, apakah secara teori sampai sini kamu dapat memahami?" tanya Rangka meyakinkan. Sensi manggut-manggut dengan meyakinkan, sehingga Rangka percaya akan kemampuan yang akan ditunjukkan Sensi.


   "Sayang, sekarang giliran kamu di belakang setir. Terapkan apa-apa yang aku arahkan tadi, kamu pasti masih hafal. Nanti aku arahkan sambil berjalan," ujar Rangka sambil bertukar posisi.


   "Kamu santai saja jangan tegang, apa yang aku arahkan kamu tinggal ikuti dan perhatikan marka jalan. Kapan kamu boleh menyalakan lampu atau klakson, nanti semua aku arahkan. Sekarang kamu fokus dulu di setir dan kaki kamu siapkan dengan benar."


   "Sayangggg, apakah kamu paham?" gertak Rangka yang lagi-lagi melihat Sensi hanya fokus dengan dirinya bukan mendengarkan apa yang dikatakan Rangka.


   "Sayang, apa yang kamu perhatikan? Kamu mendengar aku bicara atau tidak?" seloroh Rangka heran dengan Sensi yang hanya memperhatikan bibirnya bicara. Tiba-tiba Sensi menghampiri wajah Rangka dan membenamkan ciuman di bibir Rangka sembari ditahannya tengkuk Rangka beberapa saat sehingga terdengar decapannya.

__ADS_1


   Rangka kaget dan melotot. "Ya ampun Sayang, apa yang kamu lakukan? Ini hari pertama kamu latihan menyetir lho, kamu harus serius. Aku yang sejak tadi berbusa memberikan arahan tapi kamu fokusnya malah keluyuran," omel Rangka sedikit kesal, terlebih ini di jalan umum yang ada saja mobil lain lewat yang sama seperti mereka, latihan menyetir mobil.


   "Habis aku kangen Mas, dari pagi aku belum dicium kamu, terlebih saat melihat bibir kamu bicara terus, aku pengennya mengecup terus," ungkap Sensi jujur sampai Rangka geleng-geleng kepala. Giliran diajak serius, istrinya ini malah pikirannya kemana-mana.


   "Sayang, jangan mikirin itu dulu. Itu nanti bisa kita lakukan di rumah, kamu sabarlah dulu," peringat Rangka sembari melihat Sensi yang senyum-senyum.


   "Kapan lagi dong Mas aku manja-manja begini? Di rumah, kita hanya bisa malam saja bermanja-manjaan setelah Glassy tidur. Lagipula sayang banget bibir ini dari sejak subuh dianggurin belum disentuh-sentuh," Sensi berbicara di dalam hatinya dengan gembira.


   "Ck, ck, ck, apa lagi yang kamu pikirkan? Ini sejak datang ke jalanan di komplek ini, kamu belum satupun mengikuti arahanku," protes Rangka memperlihatkan ketiksenangannya atas sikap Sensi yang seolah belum serius. Namun Rangka masih mencoba sabar, anggap saja ini cobaan dari sang istri yang sepertinya sedang rindu belaian dari Rangka.


   Sepertinya ulah Sensi ini dipicu akibat semalam, Sensi minta jatahnya dua kali, tapi mendadak Rangka sesak dan hanya bisa lakukan itu sekali. Meskipun Sensi malam tadi tidak marah, tapi sepertinya protesnya baru diperlihatkan saat ini di mana dirinya akan serius mengajarkan nyetir mobil.


   "Sayang, sekarang serius, ya. Masa hari pertama belum bisa ngapa-ngapain," ujar Rangka masih dengan suara yang lembut.


   "Ayo, peganglah setir itu!" perintah Rangka yang segera Sensi patuhi. "Ini jalannya lurus panjang sampai hampir dua ratus meter, jadi kamu hanya jalankan pelan-pelan setir dan gas pelan-pelan. Slow saja, di sini belum ada rintangan yang berarti."


   "Ok, Mas," sahut Sensi mulai terlihat serius. Awalan yang mulus dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Giliran belok kiri dan kanan, Rangka mulai bawel lagi. Apa yang harus diinjak dan lampu mana yang harus menyala.


   "Belok kiri," aba-abanya, meskipun saat belok masih kedodoran, begitupun saat belok kanan, Sensi masih saja kedodoran ataupun masih muter-muter lama di sana. Untung saja jalanan komplek ini memang belum produktif, jadi tidak banyak hambatan berarti untuk siapa saja yang latihan menyetir mobil di jalanan sana.


   Hari menjelang siang, tapi kemampuan yang diperlihatkan Sensi belum ada, Sensi sama sekali tidak mencerna apa yang Rangka katakan. Dari sejak awal Rangka mengajarinya, Sensi hanya fokus sama bibir Rangka bukan arahan Rangka.


   "Sudah, besok lagi kita latihannya. Sekarang kita jemput Glassy sekolah." Akhirnya hari pertama latihan menyetir gaga total akibat Sensi yang banyak senyum-senyum dan menciumi dirinya.


   "Mas, cupppp." Setelah bertukar posisi dan kembali duduk di belakang kemudi, lagi-lagi Sensi mencium bibir Rangka dengan agresif.


   "Sayangggg, nanti di rumah saja, ketahuan orang berabe. Lihatlah, sudah berapa kali aku dicium, nanti bibir aku dower, lho," peringat Rangka sedikit kesal tapi hatinya senang mendapati Sensi seagresif ini. Alamat dia ngajak ke hotel untuk menginap kalau begini caranya.


   "Sayang, kenapa sih kamu tidak serius saat latihan mobil tadi, aku, kan jadi kesal? Sia-sia akhirnya waktu kita," tanya Rangka dengan sedikit nada bicaranya protes.


   "Kapan lagi sih Mas bisa berduaan banyak waktu begini? Setelah seminggu kemarin aku sering dianggurin karena Mas Rangka sibuk, aku merasa sangat kangen. Lagipula pertemuan kita hanya malam saja setelah Glassy tidur, lalu waktu kamu buat aku sedikit banget." Sensi protes seraya meraih lengan Rangka dan memeluknya. Rangka merasakan kerinduan yang dirasakan Sensi, diapun sama sangat merindukan istrinya yang kembali genit dan nakal ini, inginnya setelah pulang dari menjemput Glassy, Rangka berharap Glassy segera tidur siang setelah makan. Lalu memberikan nafkah batin kepada Sensi. Tapi sayangnya tidak bisa, sebab siang ini ada pertemuan dengan klien di kantornya.


   "Nanti malam saja, Sayang, ya. Kita habiskan malam sampai subuh. Syukur-syukur kita tidak ngantuk," harap Rangka membujuk Sensi yang semakin manja.


   "Aku salut sama kamu, saat di belakang Glassy kamu bisa semanja ini. Tapi di hadapan Glassy kamu menjelma menjadi sosok ibu peri yang sangat pengertian dan penyayang terhadap Glassy," ujar Rangka sembari fokus dengan kemudinya.


   "Ya iya dong, Mas. Masa di depan Glassy aku harus sama manjanya? Aku, kan hanya manja saat di belakang Glassy."


   Akhirnya mobil baru Sensi tiba di halaman depan sekolah Glassy. Glassy senang dijemput oleh Papa dan Bundanya dengan mobil baru milik Sensi.


   "Bunda, apakah Bunda sudah pandai belajar nyetirnya?" tanya Glassy tiba-tiba.


   "Belum, Sayang. Ini kan baru permulaan, Bunda nanti pasti bisa setelah beberapa hari latihan. Pengajarnya, kan Papa sendiri," sahutnya di sela melajunya mobil yang Rangka jalankan menuju rumah.


   Setelah makan siang, terpaksa Rangka harus ke kantor sejenak untuk menandatangani berkas kontrak dengan seorang klien. Melihat Rangka pergi, Sensi terlihat sedih.

__ADS_1


   Siang itu Glassy pun tidur siang setelah makan siangnya selesai.


   Malam pun tiba, setelah makan malam rencana yang digadangkan Sensi dan Rangka segera menjelang. Untungnya Glassy sudah tidur pulas. Sensi sangat senang, dia menghiasi tubuhnya dengan piyama seksi. Malam ini dia akan membawa melayang-layang suaminya ke surga dunia. Sambil tersenyum bahagia, Sensi menyemprot wewangian yang menyegarkan agar nanti Rangka suka saat menyesapnya.


   "Sayang, kamu sudah siap? Cupppp," tanyanya sambil melabuhkan ciuman di bibir sang istri yang sepertinya sudah tidak kuasa menahan hasratnya. Mereka saling berpelukan, berciuman, dan mengecap, serta menyentuh satu sama lain sebelum mereka menjalankan ritual wajib di atas pembaringan.


   Keringat basah bercucuran dari keduanya, jam tiga Subuh mereka berdua baru selesai menumpahkan rindu. Staminanya sama-sama kuat padahal mereka tidak minim obat kuat.


   "Mas," ucapnya manja sambil mengecup sebelum memejamkan matanya yang lelah dan ngantuk.


   "Kita istirahat Sayang, aku lelah setelah melewati malam panas kita yang bikin melayang tadi. Terimakasih untuk malam ini, kamu sungguh luar biasa," puji Rangka sembari mengecup kepala Sensi begitu sayang. Rangka memeluk tubuh Sensi yang kini rupanya sudah lebih dulu tertidur.


   "Ternyata kerinduannya terbukti, malam ini istriku memperlihatkan nyalinya, dia sungguh hebat bisa membuat aku melayang-layang di udara. Terimakasih sayangku. Semoga kau tetap mencintai aku dan selamanya menemani aku," harap Rangka sembari kembali mengecup ubun-ubun Sensi.


   Pagi menjelang, Sensi dan Rangka kelabakan karena mereka bangun kesiangan. Jam menunjukkan pukul 05.40 pagi. Mereka berdua bersamaan masuk ke dalam kamar mandi membasuh diri dan mandi besar bekas sisa pertautan hebat semalam sampai jam tiga subuh tadi.


   "Ayo, Mas, kita belum sholat Subuh." Dengan gerakan yang super tergesa mereka mengenakan pakaiannya masing-masing, tidak lupa mukena untuk sholat, dan Rangka dengan baju kokonya yang terlihat sangat tampan. Mereka sholat Subuh dengan khusu meski waktu hampir menunjukkan pukul enam pagi.


   "Papa, Bunda, ayo! Antar aku sekolah," ajak Glassy yang menyudahi sarapan paginya dengan cepat.


   "Ayo, sayang." Rangka dan Sensi bersiap mengantar Glassy ke sekolah. Dan rencana mereka setelah antar Glassy tentu saja latihan nyetir mobil di komplek perumahan kemarin.


   "Bye, bye, Sayang. Yang pintar belajarnya, ya. Patuhi Ibu Gurunya dan jangan nakal," pesan Rangka sebelum berlalu dari sekolahan Glassy. Mobil Rangka pun kembali melaju dengan maksud menuju komplek perumahan yang kemarin mereka sambangi untuk latihan menyetir.


   "Hoam, hoam." Berulang kali Rangka nampak ngantuk dan menguap, lalu dengan sengaja dia menepikan dulu mobil warna kuning metalik milik Sensi itu di pinggir jalan. Rangka memijit kepalanya yang berat karena saking ngantuknya. Sensi jadi khawatir, lalu dia mendekat dan berusaha memijit kepala Rangka untuk meringankan beban berat karena ngantuk.


   "Mas, lebih baik kita urungkan saja latihan mobilnya. Aku tidak apa-apa, kok. Besok saja kalau Mas Rangka ngantuk berat," usul Sensi, Rangka tidak menyahut, dia sejenak mengembalikan rasa ngantuk berat itu pada kesadaran yang semula.


   "Sebentar, aku belikan minum kopi dulu biar Mas Rangka ngantuknya berkurang." Sensi keluar mobil lalu menuju warung pinggir jalan yang menjual makanan di etalase. Sensi berharap di warung itu ada menjual kopi panas.


   "Ibu, permisi. Apakah di sini menjual kopi panas?" tanya Sensi. Pemilik warung mendongak seraya melihat ke arah Sensi.


   "Beli apa, Mbak? Kopi panas?" Sensi mengangguk. "Kalau kopi panas saya tidak jual, tapi kalau Mbak perlu biar diseduhkan saja, kebetulan air panasnya ada dan kopi sachetnya juga ada tinggal memilih. Nah Mbak mau pilih kopi apa?" ujar ibu pemilik warung sambil menunjukkan kopi sachet yang bergelantungan. Sensi melihat dan memilih, dia tidak ragu lagi langsung menunjukkan kopi kesukaan Rangka.


   "Itu saja, Bu. Kopi yang rasa Italiano," sahut Sensi. Ibu pemilik warung sigap lalu meraih satu sachet kopi italiano yang bergelantungan. Kemudian diseduhnya. Seketika wangi kopi yang diseduh ibu warung menguar di udara membuat siapapun serasa ingin menyeruputnya.


   "Ini Mbak," sodor ibu warung seraya menatap ke arah Sensi seolah kagum.


   "Makasih Bu, nanti gelas sama uangnya saya antar ke sini lagi. Saya dan suami saya di mobil warna kuning metalik itu." Sensi menunjuk mobil yang tengah berhenti di pinggir jalan.


   "Iya, tidak apa-apa, Mbak," sahut ibu warung seraya sibuk kembali dengan aktifitasnya.


   "Mas, coba minum dulu kopi ini, tadi aku belikan kopi kesukaan Mas Rangka di warung pinggir jalan itu. Semoga ngantuknya Mas Rangka segera hilang," harap Sensi seraya menyodorkan gelas yang berisi kopi rasa italiano ke hadapan Rangka. Rangka meraihnya dan perlahan menyeruput kopi yang berbusa itu.


   "Sruputttt, glek." Pelan-pelan Rangka menyeruput, sebab airnya sangat panas. Seketika pada sruputan pertama seluruh bibir Rangka penuh dengan busa kopi italiano yang diminumnya. Sensi tersenyum merasa lucu, walaupun demikian wajah Rangka tidak berkurang ketampanannya. Sehabis tersenyum lalu tertawa, Sensi mendekati wajah Rangka, lalu perlahan tapi pasti Sensi mengecup bibir Rangka dan menjilat busanya dengan lidah.

__ADS_1


   Rangka terkejut, refleks kopi yang masih panas itu seketika tumpah mengenai pahanya sehingga dia kepanasan. Sensi juga sama dia ikut kepanasan, sebab jemarinya tadi bertumpu di paha Rangka.


   "Sayangggg, apa-apaan kamu ini? Main sosor-sosor segala, nih lihat air kopi yang masih panas tumpah ke paha aku. Kamu ini tidak mikir, di jalan di tempat umum main sosor. Itu ada tempatnya tahu, tidak, di rumah bukan ditempat umum," omel Rangka marah seraya refleks melempar gelas yang masih bersisa itu keluar pintu mobil sehingga pecah.


__ADS_2