Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 15 Rencana Pak Rangka


__ADS_3

Aku fokus dengan map-map yang kini ada di mejaku. Aku bertekad harus segera menyelesaikan semuanya sebelum tiba waktunya kepergian Pak Rangka ke Kalimantan. Aku merasa tidak siap jika harus diajak ke Kalimantan, terlebih dadakan begini.


Aku terus fokus dengan map-mapku, satu persatu mulai selesai. Sepertinya jam tanganku juga tidak luput aku usap dan aku lihat. Sehingga aku menjadi tegang sendiri. Dan saat jam menunjukkan tepat pukul lima sore, aku kelabakan dan putus asa.


"Sudah ... tidak perlu tegang dan soak begitu, tugas kamu belum selesai, jadi nanti di pesawat atau di hotel saat di Kalimantan tiba bisa kamu lanjut lagi.



"Apa?" Aku terbelalak kaget dengan apa yang aku dengar barusan dari mulut Pak Rangka yang biasanya terlihat sangat menawan, namun kini berubah bagai kulit *rorombeheun* yang pecah dan rusak, sehingga tidak menawan lagi.



"Kenapa?" heran Pak Rangka.


"Anu, Pak. Saya tidak mau diajak ke Kalimantan. Bukankah ini tugas Mbak Koral sebagai Sekretaris Bapak?" tanyaku heran.


"Iya, betul. Akan tetapi Koral adalah Sekretaris saya di kantor ini, hak saya dong mau mengajak siapapun. Berhubung kamu telah melakukan kebohongan dan belum selesai menyelesaikan tugas kamu, sebagai konsekuensinya kamu harus bisa mengikuti saya dan menjadi Sekretaris dadakan saya," tandas Pak Rangka datar dan santai.



"Tapi, kalau saya pergi bagaimana dengan orang tua saya, ini kan dadakan? Saya harus meminta izin dulu dan memberi alasan yang jelas pada mereka. Saya yakin mereka tidak akan percaya atau mengijinkan saya pergi, terlebih dadakan begini," ucapku memberi alasan.



"Sudah tidak usah takut, kamu persiapkan diri kamu sekarang. Tidak perlu bawa apa-apa lagi, karena semua keperluan kamu sudah dipersiapkan," tegas Pak Rangka semena-mena. Aku sejenak diam dan tidak mengerti apa yang dikatakan Pak Rangka, mentang-mentang Bos dia seenaknya saja bikin keputusan.



"Orang tua kamu juga sudah mengijinkan dan sudah tahu bahwa kamu ada tugas dadakan dari kantor, yang mengharuskan kamu pergi. Kalau kamu tidak percaya hubungi saja orang tua kamu," tukas Pak Rangka santai.


__ADS_1


Aku semakin heran saja dengan ucapan Pak Rangka, kok bisa Ibu dan Bapak mengijinkan begitu saja, lantas kapan Pak Rangka meminta ijin pada Ibu dan Bapak bahwa aku akan pergi ke luar daerah karena tugas kantor?



"Aduh, gimana ini?" Aku tidak bisa berhenti untuk tegang. Setelah tadi siang ketahuan bohong dengan mengaku sedang mengerjakan tugas di ruangan Pak Rangka, ditambah sikap Kak Tari yang semakin sadis, dan bonusnya Pak Rangka yang berubah sinis membuat aku menjadi tegang. Dan anehnya sikap ceplas ceplosku mendadak sembuh. Akan tetapi kini aku malah menjadi aku yang sensitif dan mudah sakit hati.



Perkataan Kak Tari yang sering judes biasanya aku tanggapi datar dan masuk kuping kiri lalu aku keluarkan dari kuping kanan, tapi kini mendadak semuanya serba sakit hati.



"Permisi Pak Rangka, semua sudah siap. Berkas dan map yang tadi saya kerjakan ada di bundel ini. Keberangkatan Bapak dan Sensi beserta tim ke Bandara Soeta lima belas menit siap." Tiba-tiba Mbak Koral masuk dan memberikan informasi mengenai keberangkatan Pak Rangka ke Kalimantan.



"Permisi, Pak. Ini pesanan Bapak yang tadi Bapak pesan." Tiba-tiba OB Rando masuk susul menyusul dengan Mbak Koral, memberikan sebuah kantong guddie bag dengan merek toko pakaian ternama.




"Pak, euhhh, anu," ucapanku tercekat dan tidak dilanjutkan saat bunyi Hpku terdengar memanggil. Rupanya nomer Ibu memanggil.


"Sebentar, Pak, saya permisi dulu mau angkat telpon," ijinku seraya menatap Pak Rangka meminta ijinnya. Pak Rangka mengangguk setuju. Aku segera berlalu keluar ruangan Pak Rangka dan mengangkat telpon dari Ibu.


"Halo, Assalamualaikum, Bu," jawabku.


"Waalaikumsalam, Neng, hati-hati ya perjalanannya, jangan lupa berdoa sebelum berangkat. Oh iya, Ibu sama Bapak tadi sudah dihubungi langsung oleh atasan kamu, Nak Rangka meminta ijin membawamu ke luar daerah dalam rangka tugas." Ibu tanpa ditanya sudah mengatakan panjang lebar tentang aku yang akan pergi ke luar daerah karena pekerjaan.


Pak Rangka sepertinya telah menyusun rencana dari awal mengatur keikutsertaan aku ke Kalimantan bersamanya. Kenapa giliran aku ada kesempatan berdekatan dengan Pak Rangka yang sama sekali tidak aku rencanakan, justru aku merasa tidak suka. Benar-benar apa yang aku rasakan kini tiba-tiba berbanding terbalik. Aku tidak suka ketidaksewenangan yang dibuat Pak Rangka kali ini.

__ADS_1



"Mbak Koral!" Aku memanggil Mbak Koral yang tengah sibuk menyiapkan berkas yang akan dibawa Pak Rangka. Mbak Koral menoleh dengan wajah yang ceria.



"Kenapa, Sen?" Mbak Koral menghampiri dan menyentuh pundakku.


"Anu, Mbak, euhhh .... "


"Ohhh, mengenai keberangkatan kamu ke Kalimantan bersama Pak Rangka yang mendadak ini? Kamu jangan khawatir, ini semua memang sudah tugas kamu untuk mendampingi Pak Rangka, anggap saja hitung-hitung latihan honeymoon," serobot Mbak Koral tidak memberikan aku kesempatan untuk bicara.


Aku langsung terbelalak tidak menyangka dengan ucapan Mbak Koral yang ngawur.


"Si-siapa yang bulan madu Mbak?" tanyaku kaget.


"Hehe, tidak ada Sen. Aku kan hanya bilang 'hitung-hitung latihan honeymoon', tapi nggak bilang siapa-siapanya. Ya, mana tahu di sini ada yang tiba-tiba nikah dan pengen bulan madu. Kalimantan juga bagus tuh menjadi destinasi untuk bulan madu," ujar Mbak Koral semakin ngawur. Aku rasa sikap ceplas ceplos aku malah pindah ke Mbak Koral. Tapi kok bisa?


"Koral, sudah kamu jangan banyak berdebat perihal yang tidak jelas! Ayo simpan berkas penting di koper yang akan saya bawa!" titah Pak Rangka menegur Mbak Koral yang ngawur.



Aku tidak bisa berkutik, hanya pasrah dan menerima nasib yang bisa aku lakukan saat ini. Toh semua ini sepertinya memang sudah disetting oleh Pak Rangka yang membalas kebohongan aku siang tadi.



"Huhhh." Aku hanya bisa menarik nafas dalam-dalam menerima permainan Pak Rangka.



Keberangkatan rombongan kami akhirnya tiba. Kami melakukan perjalanan udara dari Jakarta ke Balikpapan. Pesawat yang ditumpangi kami akhirnya mendarat dengan selamat di Bandara udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, dengan jarak tempuh 2.28 menit. Waktu yang lumayan lama untuk perjalanan udara bagiku, sebab selama perjalanan aku sangat tidak menikmati. Hanya rasa takut yang menyelimuti, mungkin karena aku baru pertama kali naik pesawat, jadi reaksinya norak.

__ADS_1


rorombeheun \= khusus untuk menyebutkan kulit kaki yang pecah-2 dan rusak.


__ADS_2