Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
NBBGYSA Season 2 #Setelah Menjadi Istri#Marahnya Rangka (Cemburu)?


__ADS_3

Bismillah...


 Assalamualaikum, selamat apa saja Guys, kali ini saya mau melanjutkan kisah Rangka dan Sensi bagian kedua, tapi lebih menceritakan sisi kehidupan setelah menikah. Kecemburuan dan kehidupan sehari-hari lebih mendominasi di season 2. Dan kali ini hampir semua part akan memakai POV 3 alias POV dari sisi Author. Selamat membaca


   "Sayang, cepatlah," ajak Rangka pada Sensi yang kini masih berpakaian dan merias tipis wajahnya yang memang sudah ayu.


   "Sebentar, Mas," tahannya sembari memoles bibirnya dengan lipen warna merah ruby yang super merah. Tap blush on, tap shading, padahal hidung Sensi sudah bangir, tap juga pensil alis, terakhir pensil cela. Lihai Sensi melukis wajahnya, walau tidak menor tapi bagian bibirnya selalu paling kontras dan menonjol di antara yang lain, merah merona alias merah amucuy.


   "Sayang, sudah belum? Mau jemput Glassy saja lama amat dandannya," protes Rangka tidak sabar. Sensi segera berdiri menyudahi riasannya.


   "Ayo, Mas!" Sensi menghampiri Rangka dan menggamit lengan lelaki yang amat dicintainya. Rangka menatap lama ke arah Sensi dari atas sampai bawah.


   "Jangan protes dong Mas, setelah jemput Glassy, bukankah kita akan langsung ke acara undangan makan-makan teman Mas Rangka yang launching rumah makan itu?"


   Rangka mengangguk seraya menatap lekat ke arah Sensi. Sempurna, dandanan yang semakin hari semakin terlihat muda, cantik, fresh, keluar auranya dari dalam diri Sensi. Dandanan ala-ala Korea tapi bibirnya blass merah mencolok.


   "Sayang, cantik banget," puji Rangka gemas.


   "Harus itu, Mas."


   "Tapi kenapa bibirnya merah banget, kontras dengan touch up pipi dan perona lainnya?" komlpen Rangka sok ngerti tentang make up.


   "Ini warna lipstik favorit aku, Mas. Aku sangat menyukainya," jawab Sensi manja.


   "Ya sudah, yok!" Rangka menarik pelan lengan Sensi menuju mobilnya.


   Tidak berapa lama, mobil Rangka meluncur menuju sekolah Glassy.


   "Papa, Bundaaa," teriak Glassy menghampiri mobil Rangka yang baru saja berhenti, Rangka sampai terkejut sebab tubuh Glassy menabrak depan mobil.


   "Sayangggg, Glassy." Bersamaan Rangka dan Sensi berteriak memanggil Glassy. Rangka segera turun dari mobil begitu juga Sensi. Rangka sangat khawatir dengan keadaan anaknya yang nubruk kap mobil. Namun bersyukur Glassy tidak kenapa-kenapa. Dia malah cengar-cengir saat Rangka dan Sensi terlihat sangat panik.


   "Papa dan Bunda kenapa, panik, ya?" Reaksi Glassy mengundang decakan heran, udah mau celaka malah cengar-cengir.


   "Sayang, kalau jalan itu jangan buru-buru kayak tadi. Mobil Papa baru datang lho. Kamu tidak boleh langsung berlari dan menghampiri. Papa takut kamu kenapa-kenapa. Untung saja ini tidak terluka," omel Rangka sembari memeriksa dan membolak-balikkan tubuh Glassy khawatir ada yang sakit.


   "Aku tidak apa-apa, Pa."


   "Sayang, lain kali jangan gitu, ya!" Sensi ikut nimbrung memperingatkan anak sambungnya.

__ADS_1


   "Ok, Papa dan Bunda, tadi aku hanya antusias, lihat mobil Papa langsung gembira dan lari," alasannya tanpa merasa bersalah.


   "Ya ampun, lama-lama sikap kamu malah mirip Bunda kamu yang suka ceroboh," dumel Rangka menyamakan dengan Sensi.


   "Mas, kok gitu, sih." Sensi merajuk dan memonyongkan bibirnya kesal.


   "Baiklah, sekarang, naik. Sebelum pulang ke rumah, kita ke ruko teman Papa dulu," ajaknya seraya masuk ke dalam mobil.


   Mobil Rangka meninggalkan parkiran sekolah, dan kini menuju arah barat tempat di mana acara launching rumah makan di ruko temannya.


   "Akhirnya mobil Rangka tiba di depan ruko yang sudah mulai ramai orang dan tamu undangan.


   "Silahkan, di sebelah sini tempat duduknya." Salah seorang kerabat temannya yang mau launching rumah makan, menyambut kedatangan Rangka juga tamu yang lain dengan ramah.


   Tidak lama dari itu puncak acara dimulai. Kawat Baja teman terdekat Rangka yang kini sedang mengadakan syukuran launching rumah makan, berseri bahagia saat akan melakukan gunting pita. Kawat Baja merupakan teman sesama Pengusaha, tapi di bidang yang berbeda dengan Rangka, Kawat Baja lebih memilih bisnis kuliner. Tempat usahanya sekarang sudah banyak cabangnya di mana-mana.


   Kawat Baja bukan saudara atau ada pertalian darah dengan Rangka, nama belakang mereka yang sama sering menjadi bahan gosip teman-temannya, katanya saudara kembar beda rahim dan benih.


   Akhirnya gunting pita itu sudah berlangsung, semua tamu yang hadir bersorak sorai ikut merasakan kebahagiaan si empunya acara. Setelah gunting pita, para tamu undangan dipersilahkan menikmati hidangan yang tersedia.


   "Sayang, biar aku dulu ambil makanannya. Aku ambil dua untuk aku sama Glassy, kamu nanti belakangan, ya," ujar Rangka seraya berdiri dan bergegas menuju meja prasmanan yang sudah berjejer hidangan untuk dinikmati.


   "Glassy tunggu sama Bunda, nanti Papa yang ambilkan makanannya." Sensi membujuk Glassy untuk tidak ikut. Glassy nurut dan menunggu Rangka kembali ke meja.


   "Sayang, pergilah ambil makanannya. Kami tunggu di sini." Kini giliran Sensi yang bergegas mengambil makanan untuk di santap siang ini.


   Lima menit kemudian, dari ujung meja prasmanan, Sensi sudah mulai berjalan menuju meja yang ditempati Rangka. Tidak ada yang janggal atau sesuatu yang membahayakan bagi keselamatan fisik Sensi. Namun, ketika beberapa mata lelaki sedang fokus mengawasi Sensi, Rangka mendadak kesal dan cemburu.


   Dan yang bikin Rangka gedeg adalah, orang yang memperhatikan Sensi tidak lain dan tidak bukan adalah teman-teman sesama Pengusaha. Mereka terlihat mengagumi Sensi. Sampai tiba di meja yang ditempati Rangka, beberapa teman Rangka baru berhenti mengawasi Sensi.


   Rangka gedeg dengan pemandangan tadi yang cukup membuat jantungnya olah raga. "Huhhhhh, rupanya istriku banyak penggemarnya," Raka mendumel dalam hati.


   Mereka kini mulai makan. Suasana syukuran serta launching rumah makan temannya Rangka sukses dan menyisakan kebahagiaan bagi teman-temannya sebab semua teman-temannya Kawat Baja pulang dengan dibekali buah tangan.


   "Perut kenyang, buah tangan dapat," celetuk beberapa teman Rangka yang lain. Rangka hanya bisa tersenyum menanggapi celotehan begitu. Acara selesai, para tamu undangan pun perlahan pamit pada yang punya acara.


   Sebelum ke mobil, Sensi ternyata kebelet pipis. Terpaksa Sensi pamit ke toilet di rumah makan temannya yang letaknya ada di luar bangunan yang dipakai acara syukuran tadi.


   "Mas aku ke toilet dulu, aku kebelet. Glassy mau ke toilet, tidak, Sayang?" tanya Sensi pada Glassy. Glassy menggeleng lemah, matanya sudah terlihat sangat ngantuk. Akhirnya Sensi bergegas sendiri menuju toilet rumah makan yang sebentar lagi buka itu.

__ADS_1


   Di dalam mobil Glassy mulai menguap, tangannya kadang dia letakkan di dekat mulut untuk menutupi nguap yang menyerang terus-menerus. Wajar, sebab setiap hari setelah pulang sekolah, sehabis makan siang, Glassy wajib tidur siang. Dan sudah seperti kebiasaan, Glassy tidak pernah susah jika akan tidur siang.


   Rangka melihat jam tangan, sepertinya Sensi sudah lama ke toilet. Dia sampai kesal menunggu. Sepuluh menit kemudian, Rangka sudah tidak sabar lagi, dia menghubungi Hp Sensi. Namun sayang, Hp Sensi rupanya ditinggalkan di dalam tasnya.


   "Huhhhh, ya ampun, Sensi lama banget. Ngapain saja di toilet?" gerutu Rangka kesal. Dengan mengucap istighfar Raka masih sabar menunggu kedatangan Sensi dari toilet.


   Rangka geleng-geleng kepala setelah hampir 15 menit Sensi yang ditunggu tidak kunjung datang. Rangka mengunci pintu mobil sejenak dan nekad membiarkan Glassy tertidur di dalam mobil yang terkunci.


   Rangka berlari kecil menuju toilet, dan alangkah seakan dibuat gedeg, ternyata Sensi yang ditunggunya malah asik ngobrol bersama salah seorang teman Rangka.


   "Sensi, sudah buang airnya?" tanya Rangka datar dengan muka yang kesal.


   "Rangka?" kejut lelaki yang baru saja ke gap sedang ngobrol bersama Sensi.


   "Halo Sam, ngapain lu di sini? Ini bini gua, gua mau nyusul dia sebab buang airnya lama tidak muncul-muncul," jelas Rangka sembari melirik ke arah Sensi kesal.


   "Gua tahu ini bini baru elu. Barusan dia keluar toilet sebab toilet ngantri, kebetulan ketemu gua. Jadi gua tegur bini elu di sini, baru saja." Teman Rangka yang bernama Samudera itu menjelaskan seperti tidak ingin Rangka salah sangka.


   "Gua pamit, Sam," ucap Rangka seraya menarik lengan Sensi.


   "Mas Sam, kami duluan, ya." Sensi ikut-ikutan pamit membuat Rangka merasa gedeg. Sam tersenyum dan membalas dengan lambaian.


   Rangka menarik lengan Sensi sedikit kuat sehingga lengan Sensi terasa sakit, saat itu juga Sensi meringis dan protes.


   "Mas Rangka, hentikan. Sakit, Mas."


   "Kamu ini, ditungguin dari tadi malah asik-asik ngobrol sama teman aku yang jelalatan. Apakah kamu senang ngobrol sama dia?" tuding Rangka seraya membuka pintu mobil, lalu melepaskan lengan Sensi sedikit kasar, memberi kode supaya Sensi memutar dan naik mobil.


   "Lihat anakku, dia tertidur di dalam mobil ini kepanasan gara-gara aku khawatir menunggu kamu. Ehhh kamu yang aku tunggu malah asik-asik ngobrol dengan lelaki lain. Dasar gatal," dumel Rangka berlanjut setelah mereka berada di dalam mobil.


   "Aku minta maaf, Mas. Tapi, maaf, aku tadi bukan asik-asikan ngobrol sama teman Mas Rangka, tapi tadi lama karena memang ngantri. Toiletnya hanya satu tapi pengunjung banyak. Dan kebetulan tadi aku baru keluar, begitu keluar aku secara tidak sengaja bertemu temannya Mas Rangka," alasan Sensi jujur. Rangka tidak mau tahu yang jelas hari ini Sensi sudah bikin dia dua kali gedeg.


   Mobil pun melaju dengan kencang dari parkiran gedung ruko itu. Rangka marah, mukanya ditekuk.


**


   Kemarahan Rangka berlanjut ke rumah. Rangka langsung meraih Glassy dan membawanya masuk, lalu menaiki tangga untuk mencapai kamar Glassy. Glassy dia tidurkan, dan Glassy sama sekali tidak terganggu oleh suara apapun.


   Rangka segera bergegas ke dalam kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Glassy lewat pintu penghubung. Pintu itu dia tutup kembali dengan perlahan. Rangka bergegas ke kamar mandi tanpa menghiraukan Sensi yang kini berada di dalam kamar juga.

__ADS_1


   "Mas," tegur Sensi yang tidak mendapat sahutan dari Rangka. Bahkan saat Rangka kembali ke dalam kamar, tanpa basa-basi dia naik ke atas ranjang dan berbaring dengan berselimut sekujur badan.


   Sensi bingung dengan sikap Rangka yang marah, karena hal yang tidak sepenuhnya dilihatnya dari awal seperti apa. Sensi menatap tubuh Rangka yang mulai mendengkur kasar saking lelahnya. Hari ini Rangka tidak kembali ke kantor, sebab di kantor sudah di handle Cakar dan Koral.


__ADS_2