Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
NBBGYSA Season 2 #Setelah Jadi Istri#Cemburu


__ADS_3

   "Mas, Mas Rangka." Sensi duduk mematung di tepi ranjang melihat suaminya tidur mendengkur padahal ini masih siang. Akhirnya Sensi ikut naik ke ranjang, kemudian mencoba menyingkap selimut yang dipakai Rangka, Sensi ikut masuk dalam satu selimut.


   "Hoammm."


   Sore menjelang, Sensi terbangun dari tidurnya. Dia mencoba menggeliatkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Tidur siang yang tadi telah dilewatinya begitu nyaman dan hangat, apalagi di sebelahnya ada sang suami yang bisa dia peluk.


   "Mas, selamat sore." Sensi nyosor mencium pipi Rangka dan menyambutnya. Tapi Rangka menghindar, Sensi jadi sedih dan heran.


   "Sayang, aku sudah berwudhu, kalau kena ciuman kamu nanti wudhu aku batal. Sana, pergi ke kamar mandi, kita sholat berjamaah bersama," ujar Rangka membuat Sensi tersadar bahwa Rangka tidak sedang benar-benar menghindarinya.


   Sensi tersenyum sembari ke kamar mandi, karena telah ditunggu Rangka untuk sholat berjamaah.


   "Mas, kenapa sholatnya tidak di Mesjid? Biasanya Mas Rangka sholat di Mesjid jika kebetulan sedang di rumah?" Sensi bertanya heran.


   "Aku bangun tidur kesorean, tadi saat terbangun kumandang azan sudah diperdengarkan. Terpaksa sholatnya di rumah." Rangka menyudahi bicaranya lalu mengajak Sensi segera sholat.


   Rangka dan Sensi sholat Ashar berjamaah dengan khusu, di sebalik sholatnya hati Sensi bahagia sebab Rangka sudah tidak ngambek lagi pasal di toilet ruko temannya tadi saat Sensi diajak ngobrol oleh Samudera yang merupakan salah satu teman Rangka.


**


   Namun, entah kenapa masalah di toilet tadi malah berlanjut di meja makan. Rangka tiba-tiba mempertanyakan apa yang diobrolkan Sensi bersama Samudera di dekat toilet tadi.


   "Apa yang kalian obrolkan tadi, nanya apa dia?" Rangka bertanya tanpa menatap Sensi, dia sibuk menyuapkan makanan ke dalam mulut dengan sendoknya.


   Sebelum menjawab, Sensi melihat ke arah Glassy, dia takut obrolannya ini ada yang tidak pantas didengar Glassy.


   "Mas Sam, hanya bertanya apa kabar sama 'kamu habis dari kamar mandi juga', hanya itu saja kok, Mas. Setelah itu Mas Rangka keburu datang," jawab Sensi apa adanya. Rangka melihat ke arah Sensi lalu ke arah Glassy yang sisa makanannya tinggal sedikit.


   "Sayang, ayo habiskan cepat makanannya. Setelah makan, Papa sama Bunda mau bicara dulu. Glassy sama Bi Narti segera ke kamar untuk tidur, jangan lupa gosok gigi dulu," titah Rangka.


   "Ok, Papa." Glassy menyahut dengan pintarnya.


   Tidak berapa lama, Glassy pun menyudahi makan malamnya. Dia langsung pamit diekori Bi Narti yang sudah Rangka suruh untuk segera menyusul Glassy.


   "Mas Sam? Mesra banget memanggil nama lelaki lain, sementara dengan suami sendiri penya penye, klamar klemer, celetak celetuk, ceplas ceplos, senyam senyum, nggak jelas mirip orang tidak waras," tekan Rangka membuat Sensi terhenyak saat Rangka mengatainya tidak waras. Baru saja beberapa bulan menikah, Rangka sudah memperlihatkan sifat aslinya, ketus dan galak.


   "Mas Rangka," henyaknya seraya menatap Rangka kecewa sebab Sensi disebut mirip orang tidak waras. Sensi segera berlari menuju ruang tamu, lalu duduk diam di sana seraya menangis. Rangka menatap kepergian Sensi dengan menghela nafas, dia sadar tadi keceplosan saking cemburunya melihat Sensi sok kenal dan sok dekat dengan pria lain.


   Rangka membiarkan Sensi menenangkan diri di situ, dia melanjutkan aktifitasnya dengan merokok sampai asap rokoknya memenuhi ruangan makan.

__ADS_1


   "Mas Rangka, kenapa kamu katain aku mirip orang tidak waras, kan aku sakit, Mas? Aku sejak dulu suka ceplas-ceplos, tapi bukan berarti aku sengaja ceplas-ceplos, lagi pula aku tidak celas-ceplos ngomongi orang lain." Sensi melakukan pembelaan atas dirinya sendiri, meskipun tidak ada Rangka di sisinya.


   Sementara itu Rangka yang baru saja menyudahi merokok, segera bergegas menuju kamarnya di lantai atas tanpa menoleh ke arah Sensi yang masih sedih di ruang tamu.


   Rangka memasuki kamar, tidak lupa dia ke kamar mandi dulu untuk membersihkan wajahnya dan sikat gigi. Rangka seakan lupa akan Sensi, dia sama sekali belum mengingat Sensi sama sekali." Tiba-tiba sebuah pesan WA masuk dari seseorang, rupanya Dian sang sepupu mengundang ke acara pertunangannya lusa di sebuah gedung ternama di kota ini.


   Rangka merebahkan tubuhnya di ranjang sambil membuka media sosial yang sudah lama tidak dibukanya. Tiba-tiba sebuah pesan masuk di messenger menarik perhatiannya. Dibukanya pesan itu yang rupanya sudah dikirimkan orang itu seminggu yang lalu.


   "Rangka, aku Delana, aku rindu Glassy. Tolong pertemukan aku dengan anakku. Jika kamu sudah baca pesan aku ini tolong hubungi aku di sini 098765543**. Aku kangen banget dengan anakku." Begitu isi pesan dari Delana yang ternyata mantan istri dari Rangka Baja yang berhasil pergi dari sisi Rangka demi lari dengan lelaki lain.


   Jantung Raka tiba-tiba berdebar kencang, sesak nafasnya kembali menyerang. Nasib baik di atas meja rias di dalam kamar itu, inhaler miliknya teronggok di sana. Rangka segera bangkit sembari menahan sesak di dadanya.


   Inhaler berhasil Rangka ambil, lalu Rangka segera menghisapnya dalam-dalam untuk melepaskan sesak di dadanya yang melanda.


   Rangka termenung setelah sesak nafasnya reda dengan inhaler. Dia teringat kembali masa-masa sakit hati saat ditinggalkan Delana sang mantan istri yang meninggalkan Rangka gara-gara alasan penyakit Rangka yang sering kambuhan.


   "Percuma ganteng, tapi asma. Aku tidak sudi punya suami penyakitan," hardik Delana dua tahun yang lalu. Rangka hanya diam, dia hanya bisa menatap lekat dan sedih ketika Delana memutuskan pergi dengan meninggalkan luka hati dalam dadanya.


   Tiba-tiba sebuah pesan masuk kembali semenit setelah Rangka membaca messenger dari Delana.


"Tolong Rangka, pertemukan aku dengan anakku, aku sangat merindukannya."


   Sepertinya Delana sejak seminggu yang lalu selalu memantau akun media sosial Rangka untuk mencari tahu kabar anaknya, Glassy Baja.


   "Sialan," umpatnya saking kesal seraya membaringkan kembali tubuhnya di atas ranjang king size yang biasanya menyamankan tubuh Rangka kalau sudah berbaring di atasnya.


   "Ya ampun, Sensi!" Rangka terkejut saat di sisi kirinya tidak ada Sensi. Sepertinya Rangka baru ingat kalau Sensi tidak berada di dalam kamarnya, setelah tadi sebuah messenger dari Delana mengusik dirinya.


   Rangka segera keluar kamar dan menuruni tangga menuju ruang tamu menghampiri Sensi yang sejak tadi berada di dalam ruang tamu.


**


#Bertemu Krisna


 "Ayo ke kamar." Sebuah tangan menelusup masuk ke dalam pinggang Sensi sambil menenggelamkan kepalanya dengan manja di leher Sensi.


   Sensi serta merta terkejut dan kaget dengan kedatangan suaminya yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. "Mas Rangka," lirihnya seraya meraba tangan Rangka yang kini sudah melingkar di pinggang ramping Sensi. Berulang kali Rangka mencium pipi Sensi dan sesekali menyesapnya sehingga membuat Sensi geli.


   "Mas, geli," cegah Sensi malu seraya melepaskan cengkraman Rangka perlahan.

__ADS_1


   "Ayo kita naik, ini sudah larut malam. Kita merenda mimpi yang indah," ajak Rangka seraya menarik lengan Sensi sehingga Sensi terpaksa mengikutinya.


   "Sayang, aku minta maaf, ya. Sudah berkata kasar tadi sama kamu," ucap Rangka seraya mencium bibir Sensi yang kini sudah dalam kuasanya. Akhirnya malam ini kekecewaan Sensi dan kemarahan Rangka akibat cemburu pada Sensi, kini lebur menjadi satu dalam sebuah rasa cinta yang membara.


   Dua hari kemudian, acara pertunangan Dian akan digelar hari ini.


   Rangka segera mengajak Sensi turun kebawah dan menaiki mobil. Kali ini Rangka dan Sensi pergi tanpa Glassy, sebab Glassy sudah bilang tidak ingin ikut dengan alasan takut kelamaan di tempat acara.


   Mobil Rangka tiba di depan gedung yang suasananya sudah riuh oleh tamu undangan.


   Di dalam acara pertunangan Dian, banyak tamu undangan yang Rangka kenal, hampir semua tamu merupakan teman-temannya sesama pebisnis, termasuk Krisna sesama pengusaha kayu asal Kalimantan.


   Semua mengenal Rangka dan menyapa Rangka. Rangka tidak lupa memperkenalkan Sensi pada teman-temannya yang kebetulan berpapasan dengannya.


   Tiba saatnya bertemu Krisna, Rangka sedikit berubah lebih cool dan penuh kharisma.


   "Haiiii, Sayang kita bertemu di sini. Apa kabar? Apakah kita dipertemukan di sini adalah cara Tuhan untuk membuat kita jodoh?"


   Jlebbbbb, ucapan Krisna barusan membuat jantung Rangka seakan mau copot dari tempatnya. Dia tidak menduga bakal ditodong oleh sebuah pertanyaan Krisna seperti itu pada Sensi yang jelas-jelas sedang bersamanya. Rangka melotot tidak suka, begitu juga Sensi, tubuhnya mendadak lemas hilang tenaga, untung saja dia berpegangan pada lengan Rangka kuat.


   "Maaf Pak Krisna yang terhormat, sebelumnya saya mau memperkenalkan diri terlebih dahulu. Perkenalkan nama saya Rangka Baja, seorang Pengusaha di bidang perkayuan. Kebetulan malam ini dalam acara pertunangan saudara sepupu saya, saya bersama seorang perempuan cantik yang dulu pernah Anda taksir. Perkenalkan perempuan di samping saya ini adalah ISTRI sah saya. Kami baru menikah dua bulan yang lalu. Apakah Anda tidak pernah mendengar rumor tentang kami yang sudah menikah?" jelas Rangka menjelaskan sejelas-jelasnya hubungan dirinya dengan Sensi pada Krisna yang beberapa bulan lalu pernah bertemu di Kalimantan.


   Jlebbbbbm, kini giliran Krisna yang bagaikan dihantam ombak batu karang, sekali kena langsung terjatuh.


   "Apa? Kalian sudah menikah? Yang benar? La~lalu kapan kalian menikah?" Krisna terlihat sangat pucat dan hancur saat mendengar pengakuan Rangka begitu. Dia berpikir saat dipertemukan lagi dengan Sensi itu merupakan pertanda bahwa mereka akan berjodoh.


   "Iya, kami sudah menikah, Mas. Lalu kapan Mas Krisna akan menyusul kami ke pelaminan?" Tiba-tiba Sensi berkata dan mengakui bahwa dirinya adalah istri dari Rangka Baja.


   "Ohhh, ya ampun. Saya tidak tahu bahwa kalian sudah menikah. Saya pikir Sensi masih lajang sehingga saya berpikir akan melamarnya juga setelah acara pertunangan Dian ini," kilah Krisna sedikit gugup dan salah tingkah, tapi tetap memperlihatkan sikap yang santai.


   "Sayang sekali Anda terlambat, sebab Sensi sudah menjadi hak paten saya," ucap Rangka seraya meraih jemari Sensi kemudian merematnya di depan Krisna.


   "Ohhh, bagus itu Pak Rangka, saya turut senang mendengarnya. Dan selamat, ya, Sensi. Kamu sudah jadi seorang istri," ujar Krisna entah sungguh-sungguh atau tidak, sebab saat kalimat yang terakhir, Krisna terlihat seperti sangat menyayangkan dan menyesal.


   "Kalau begitu, alangkah baiknya saya permisi dulu Pak Krisna. Semoga setelah selesai menghadiri acaranya sepupu saya ini, Pak Krisna segera mendapatkan gadis yang diharapkan."


  Krisna sedikit tercengang dengan ucapan Rangka barusan. Sekilas dia melihat ke arah Sensi yang menunduk serba salah.


   "Baiklah kalau begitu saya permisi dulu," ucap Krisna seraya membalikkan badan lalu menjauh dari Rangka dan Sensi.

__ADS_1


   Setelah Krisna pergi, Rangka melepaskan rematan tangannya di tangan Sensi. Jiwa kelelakiannya sedikit terusik baru saja oleh lelaki tengik itu. Dia sangat cemburu.


   "Ayo ikuti aku. Sebaiknya kita pulang duluan. Lama-lama di sini bisa bikin stress. Kepala dan jantungku bisa pecah dan copot dari tempatnya," ajak Rangka judes sambil beranjak dari gedung itu dengan menghentak kaki. Sensi mengelus dada, sungguh semua itu bukan keinginannya. Sensi mengikuti Rangka dari belakang. Lagi-lagi di jalan saat dia lewati, hampir semua teman Rangka menatap kagum ke arah Sensi, membuat Rangka gedeg.


__ADS_2