Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
NBBGYSA#Season 2#SetelahJadiIstri#Rencana Kencan


__ADS_3

   Sensi terkapar di bangku balkon, tidurnya sangat lelap seperti tidak terganggu apapun. Deru nafasnya turun naik. Kepalanya menyender ke pagar balkon, sedangkan kaki dan tubuhnya bertumpu pada kursi rotan dan bangku yang ada di sana. Sama sekali tidak terganggu. Sekalipun udara dingin menerpa karena tiupan angin, Sensi sama sekali tidak terganggu.


   Rangka kembali ke balkon untuk memastikan sedang apa Sensi saat ini setelah tadi makan yang banyak. Rangka terkejut, saat melihat Sensi tertidur dengan lelapnya di atas bangku dengan kepala bersandar di pagar balkon.


   "Ya ampun, apakah tidak sakit leher istriku nanti dengan tidur seperti itu?" Rangka sangat khawatir dengan keadaan tidur Sensi yang seperti itu. Lalu dia berinisiatif untuk menggendong tubuh Sensi pindah ke kamar.


   Rangka menuju balkon lalu dengan perlahan dia mengangkat tubuh Sensi. Dengan sekuat tenaga, Rangka mengerahkan tenaganya. Meskipun berat akhirnya dia bisa mengangkat tubuh Sensi untuk dipindahkan.


   "Ya ampun berat banget tubuh kamu ini, Sayang," keluh Rangka sembari melangkah terus menuju pintu kamar yang sudah terbuka. Akhirnya dengan susah payah, Rangka tiba di dalam kamar. Perlahan dia membaringkan tubuh Sensi.


   Sensi yang ternyata sudah terbangun karena tidurnya terganggu sejak awal Rangka memangku tubuhnya, pura-pura masih terlelap dan membiarkan Rangka membaringkannya. Dia akan berpura-pura dan ingin tahu apa yang akan Rangka lakukan selama Sensi tidur.


   Tubuh Sensi kini sudah terbaring, Rangka membetulkan kaki Sensi upaya lurus dan membetulkan bantalnya supaya leher Sensi tidak sakit, lalu diselimuti dari dada sampai kaki.


   Ditatapnya wajah cantik sang istri dengan gemas, lalu Rangka menghampiri wajah Sensi lebih dekat lagi. Bibir Sensi yang merupakan pesona terbesarnya membuat Rangka tidak kuasa ingin mengecupnya gemas.


   "Cupppp." Kecupan kasih sayang itu mendarat tiga detik ditahannya. Lalu Rangka mendongak, ditatapnya kembali lekat wajah yang tidak membosankan itu, wajah yang selalu jadi decakan kagum teman-temannya Rangka. Oleh karena itu Rangka ketakutan jika melepas Sensi pergi sendirian keluar tanpa bersamanya, sebab Rangka akan sangat cemburu melihatnya. Cemburu dan marah luber menjadi satu, sehingga dia tidak segan melampiaskan rasa kesal karena cemburu itu pada Sensi sendiri. Padahal Sensinya sendiri bukan tipe perempuan yang suka memancing rasa cemburu.


   "Salah kamu sendiri kenapa kamu begitu dikagumi oleh teman-teman priaku, padahal dulu sebelum menikah setahuku kamu tidak banyak yang mengagumi, tapi kenapa justru setelah menikah pengagummu datang silih berganti, dan itu membuatku sangat cemburu." Rangka berkata-kata dengan suara serendah mungkin, tapi masih didengar oleh Sensi.


   Tatapan mata Rangka tidak lepas dari wajah Sensi yang begitu teduh. Tiba-tiba rasa bersalah itu muncul dalam dada Rangka, dadanya sesak sesaat setelah mengingat kesalahannya pada Sensi. Satu per satu dosa dia ketika memarahi Sensi muncul satu per satu.


   Marah karena cemburu, marah karena latihan nyetir yang tidak serius, semua dia lampiaskan dengan kemarahan. Rangka tidak bisa menahan emosinya.


   "Maafkan aku sayang, selama ini tidak sabar dalam menghadapi kamu. Aku selalu marah karena menganggap kamu terlalu lambat dan tidak fokus." Rangka meminta maaf seraya mencium kembali bibir Sensi yang sensual penuh hasrat dan kasih sayang.


   "Saat tidur saja kamu selalu membangkitkan hasrat kelelakianku. Tapi, aku tidak akan mengganggumu. Tidurlah, nanti setelah bangun aku harap merajukmu sudah hilang, dan aku bisa mengajakmu kencan sesuai arahan Mama. Mungpung Glassy sedang betah di rumah Neneknya. Lebih baik kita getol bikin dede bayi untuk memberikan adik buat Glassy. Kebetulan Mama sudah ingin mempunyai cucu dari rahim kamu." Ungkapan Rangka barusan sangat jelas, Sensi begitu kesal bahwa semua ini tidak lepas dari arahan mama mertuanya bukan inisiatif Rangka.


   "Ternyata kamu ingin ngajak kencan hanyalah semata-mata arahan mama, kamu tidak punya inisiatif sendiri untuk membahagiakan aku atau merayu aku supaya tidak merajuk lagi. Biarkan saja, nanti malam jika Mas Rangka mengajakku keluar, maka aku akan pura-pura menolaknya." Sensi berbicara di dalam hatinya dengan penuh tekad.


   "Tidurlah dulu sayang, aku akan persiapkan gaun terindah yang kemarin baru saja aku beli. Gaun malam warna hijau toska kesukaanmu. Pasti kamu sangat cantik saat memakainya." Rangka berdiri menuju lemari dan meraih tote bag yang kemarin dia beli sebuah gaun di butik ternama di kota itu.

__ADS_1


   "Mas Rangka membelikanku gaun malam warna hijau toska favoriteku? Asikkkk! Itu, kan warna kesukaanku. Pasti aku akan sangat cantik saat memakainya nanti," ujar Sensi di dalam hati sembari masih berpura-pura tidur.


   Rangka membeberkan gaun malam berwarna hijau itu, dia tidak akan memberitahukan Sensi dulu sebelum tiba saatnya pergi nanti.


   "Mudah-mudahan Sensi nanti mau aku ajak berkencan," harapnya seraya berlalu menuju pintu kamar dan keluar.


   Sore menjelang, Sensi sudah terbangun dari tidurnya yang panjang. Saat itu dia melihat Rangka yang tengah di sofa sibuk dengan laptopnya. Sensi geleng-geleng kepala sekaligus salut dengan imamnya itu, dalam waktu senggang apapun tiada hari tanpa kerja.


   "Sayang, kamu sudah bangun? Mandilah, malam ini kita akan makan di luar. Kamu bersiaplah, aku sudah persiapkan segalanya." Rangka langsung bangkit saat melihat Sensi bangun. Sementara Sensi sedikitpun tidak membalas ucapan Rangka, dia sibuk menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku.


   "Hoammmm." Sensi masih terlihat mengantuk, tapi dia harus bangkit dan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


   Setelah mandi, lagi-lagi Sensi membalut tubuhnya hanya dengan balutan handuk pendek, sehingga pahanya yang mulus jelas terlihat nyata. Sensi berjalan dengan santainya di depan Rangka yang melotot terpana. Sensi sengaja membuat Rangka panas atas bawah.


   "Sayang, habis Isya aku akan mengajakmu kencan ke suatu tempat, aku akan mempersembahkan sesuatu yang sangat beda. Sesuatu yang bisa meluluhkan hatimu untuk tidak marah lagi. Aku ingin menebus kesalahan aku yang selalu memarahimu," ungkap Rangka seraya mendekap dada Sensi dari belakang.


    Sensi tidak menyahut, dia perlahan melepaskan tangan kekar Rangka, lalu duduk di depan meja rias.


   "Sayang, pakailah ini. Bersiap-siaplah, setelah Isya kita akan pergi."


   "Kita? Kita mau kemana, Mas?" kerung Sensi penasaran.


   "Kita akan nikmati malam ini dengan candle light dinner di suatu tempat yang pasti akan kamu suka," yakin Rangka dengan penuh semangat.


   "Tapi untuk apa, Mas?"


   "Quality time buat kita berdua, setelah seharian aku sibuk bekerja dan kamu lelah karena selalu dibikin nangis olehku. Aku malam ini memberi reward buat kamu. Dan aku harap kamu bersedia," ungkap Rangka seraya menatap mata Sensi.


   "Pakailah gaunnya, Sayang," sodor Rangka tidak mau menerima penolakan. Sensi terpaksa meraihnya dan melihat dengan seksama. Sejenak dia berpikir dengan gaun malam yang dibelikan Rangka itu, sangat elegan dengan warna hijau toska yang tidak mencolok. Sensi memuji kemampuan Rangka yang selalu bisa membuat Sensi pantas dan cantik.


   "Bagaimana, apakah kamu menyukainya?" tanya Rangka. Sensi menggeleng. Rangka terkejut, bukankah warna hijau toska merupakan favorit Sensi?

__ADS_1


   "Kenapa kamu tidak suka, ini warna favorit kamu, bukan? Ini sangat cantik dipakai di tubuh kamu yang ramping dan indah itu," ucap Rangka memuji.


   "Tapi aku tidak suka."


   "Kenapa?"


   "Karena aku tidak mau pergi," jawab Sensi membuat Rangka terbelalak.


   "Apa? Kamu harus mau, Sayang. Ayolah! Aku sudah reservasi tempat untuk kita makan malam romantis. Ok, aku minta maaf atas salah aku sama kamu, pernah bentak kamu, pernah ngatain kamu." Rangka terus membujuk tanpa kenal lelah.


   Sensi diam, dia tidak menjawab. Mukanya dia buat sedingin mungkin.


   "Sayang, sekali lagi aku mohon. Waktu kita tinggal satu jam lagi, kita harus sudah berada di sana," bujuk Rangka terlihat putus asa, sensi masih diam, kali ini dia ingin tahu reaksi suaminya jika dia kerjain bahwa dia tidak ingin ikut.


   "Ok, aku tunggu kamu setengah jam lagi di luar. Aku mohon, aku hanya ingin menyenangkan hatimu. Kapan lagi kita jalan berdua, mungpung Glassy ada di rumah Mama," bujuknya lagi seraya meninggalkan Sensi di kamar seraya berharap Sensi akan mempersiapkan dirinya.


   Lima belas menit kemudian, Rangka sudah sangat gelisah dengan Sensi yang entah sudah siap atau belum. Masih ada waktu untuk menunggunya. Rangka masih bersabar dan berharap Sensi sedang bersiap-siap.


   Sementara itu di dalam kamar, Sensi terpaksa mempersiapkan dirinya. Memakai gaun pemberian Rangka yang benar-benar elegan dan sejujurnya dia sukai. Di depan Rangka dia hanya berpura-pura saja tidak suka demi membalas perbuatan Rangka yang mudah memarahinya jika sedikit saja melakukan kesalahan.


   Walaupun begitu, Sensi tetap berdandan dengan totalitas. Dia memoles wajahnya dengan skincare yang biasa dia pakai dengan tambahan blush on, celak mat, shading dan tentunya lipstik red ruby andalannya yang merahnya menyala. Setelah terlihat sempurna, sejenak Sensi bercermin melihat pantulan dirinya di cermin yang dirinya sendiri sampai berdecak kagum. Ditambah dengan gaun malam yang elegan tidak terbuka dan tidak terlalu menonjolkan lekuk badan. Rangka tahu betul dengan selera Sensi, dia menjelma bak perempuan yang mempesona bukan wanita sosialita yang gaya wah dan glamour.


   "Ya ampun, apakah Sensi sudah berdandannya atau belum? Kalau belum, terpaksa aku batalkan makan malamnya. Aku sungguh-sungguh kecewa jika Sensi tidak mau pergi." Rangka mondar-mandir dengan hati yang tidak tenang.


   Perlahan Rangka memasuki kamar dengan perlahan. Dia berharap Sensi sudah bersiap. Akan tetapi, Sensi tidak ada di dalam kamar. Rangka terkejut. "Sayang, kamu di mana? Jangan main-main, kalau kamu tidak jadi berangkat, ok, tidak apa-apa, tapi jangan sembunyi seperti ini," teriak Rangka bimbang.


   Sementara Sensi yang sejak tadi bersembunyi di balik pintu lalu berhasil menyelinap keluar kamar saat Rangka sedang mencarinya di seluruh ruangan kamar, tersenyum sinis melihat Rangka yang kebingungan mencari dirinya.


   "Ya ampun, sayang, kamu di mana sih? Kenapa kamu membohongiku? Haahh ... Sensi memang tidak patuh," dengusnya kesal seraya membalikkan badan dan keluar kamar.


   Ketika tubuh Rangka sudah melewati pintu, tiba-tiba dia dikejutkan sebuah penampakan indah. Berdiri sambil memangku tangannya menatap Rangka dengan bingung.

__ADS_1


   Siapakah penampakan itu?


__ADS_2