Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 47 Rasa Kecewa


__ADS_3

Pulang ke rumah dari rumah **Pak Rangka** saat waktu hampir Maghrib. Badanku begitu sangat lelah. Saat mau masuk pintu rumah, berpapasan sama Bapak yang sudah rapi pakai sarung dan peci. "Baru pulang Teh, lembur lagi ya?" sapa Bapak seraya menatapku intens.



"Iya, Pak. Lembur," jawabku sembari berjalan masuk.


"Bapak habis Maghrib, langsung ke rumah Pak Adenium, anaknya yang teman kamu itu sebentar lagi lamaran, malam ini Pak Adenium mengadakan acara syukuran di rumahnya," berita Bapak membuatku terhenyak, pasalnya anaknya Pak Adenium adalah teman masa kecilku, yaitu Anggrek Moemun.


Setelah memberi kabar anaknya Pak Adenium mau lamaran dan syukuran, Bapak pamitan dan mengucap salam. "Jangan lupa shalat Maghrib ya, Teh. Bapak pamit dulu. Assalamualaikum."0


"Waalaikumsalam," sahutku lemas. Berita dari Bapak barusan sedikit banyak mempengaruhi pikiranku, sebab Anggrek Moon merupakan teman masa kecilku yang terkenal dekil, culun, ingusan dan sedikit tengil. Tapi, kini dia malah lebih dulu akan menikah. Sedangkan aku masih jalan di tempat, masih memikirkan siapa jodohku?


"Ehhhh Teteh, baru pulang?" Suara cempreng Aloe mengagetkan lamunanku. Aku langsung tersadar dan segera melangkahkan kaki menuju kamar.



"Kemana Ibu, Al, kok sepi?"


"Ibu lagi bantu-bantu masak di rumah Teh Anggrek Moon," jawab Aloe seraya mengikutiku dari belakang.


"Beruntung banget ya, Teh Anggrek. Dia sekarang mau lamaran. Padahal beberapa tahun yang lalu Teh Anggrek masih culun, ingusan dan tengil lagi. Sekarang udah mau nikahan saja. Cantik lho teh, kata Ibu dandanannya mirip artis senior Desy Ratnasari. Calon lakinya juga tampan pegawai di Pertamina," puji Aloe kepada Anggrek Moon teman masa kecilku dahulu.


Hatiku semakin panas dan sedih mendengar Aloe menyampaikan pujian melambung terhadap Anggrek Moon. Benar apa yang dikatakan Aloe, Anggrek Moon merupakan salah satu teman masa kecilku yang lumayan culun, ingusan, dekil dan tengil itu kini akan dilamar sama pria tampan dan mapan. Ternyata nasib cintanya lebih bagus daripada aku. Saat adikku Aloe memperlihatkan foto temanku tengah bersanding dengan calon suaminya, rupanya apa yang dikatakan Aloe benar. Anggrek benar-benar bermertamorfosa menjadi gadis cantik, anggun dan mempesona.



"*Beruntung sekali kamu Ang, dulu kamu tengil* *sekarang kamu sangat cantik. Selamat Ang, aku* *ikut bahagia*," kataku dalam hati membatin.



Aku tidak iri dengki sama Anggrek, aku hanya tidak sangka Anggrek si gadis tengil itu kini sebentar lagi akan bersanding dengan pria tampan dan mapan, sedangkan aku? Aku masih setia dengan statusku yang masih jomblo bersegel.

__ADS_1



"Cantik kan, Teh?" tanya Aloe meminta pendapatku. Aku mengangguk lemah. "Terus, kapan dong Teteh diajak lamaran oleh kekasih Teteh?"



"Kekasih, siapa yang punya kekasih? Kamu itu ngawur saja. Sudah ah, teteh mau mandi," ujarku seraya menutup pintu dan mencegah adikku masuk kamar. Ternyata kabar dari Bapak dan adikku cukup membuatku gelisah dan hilang semangat.


***


Pagi menyapa, bunyi WA dari HPku berulang kali terdengar. Aku belum sempat melihat maupun memegang HP. Terpaksa Hpku terabaikan. Jam tujuh kurang lima belas menit aku beranjak pergi untuk bekerja.


Sepanjang jalan panggilan di Hpku berbunyi terus, yang ini alasan yang benar untuk mengabaikan Hp, yakni dalam perjalanan. Dan akupun sukses mengabaikan sampai tiba di depan kantor Kertassindo Gemilang. Naik tangga untuk menuju lantai tiga, bunyi Hp itu menyala kembali. Sebenarnya ada apa dengan Hpku kok hoby banget menghubungi?



Tiba di lantai tiga, aku mulai melangkah menuju kubikelku. Beberapa meter dari mejaku, pemandangan yang tidak indah langsung menusuk indra penglihatanku. Keberadaan Kak Tari dekat mejaku yang sudah mencak-mencak, membuat mentalku jatuh saat itu juga.




"Tari, biarkan dia mengerjakan map-mapnya di ruangan saya!" Suara bass khas milik Pak Rangka tiba-tiba menggema memenuhi ruangan kubikel itu. Seketika aku melihat ke arah Pak Rangka dengan ujung mata. Sorot matanya tajam dan memancarkan rasa marah. Aku tidak paham kenapa pagi ini Pak Rangka terlihat marah.



Langkah kaki Pak Rangka semakin dekat, sementara aku semakin cemas. Pak Rangka berdiri tepat di samping kursi yang aku duduki lalu berkata, "kenapa Hp kamu tidak diangkat? Apakah tanganmu kurapan sehingga tidak bisa sejenak saja mengangkat panggilan saya?" ujarnya mempertanyakan aku yang tadi pagi abai akan panggilan telpon. Jadi rupanya yang tadi menghubungi adalah Pak Rangka?


***


Dengan bawaan map yang banyak dan deru nafas yang memburu, akhirnya aku tiba di ruangan Pak Rangka, lalu seger menuju sofa dan melepaskan semua map di atas meja. Aku langsung terkapar di atas sopa.

__ADS_1


"Ehemmmm." Deheman keras menyadarkanku. Aku meperbaiki dudukku dan segera berdiri.


"Kenapa kamu kemarin tidak memberitahu aku bahwa kamu tidak ke kantor lagi?" Di sini aku baru ingat, kemarin aku benar-benar lupa memberitahu Pak Rangka saking asiknya dilayani Mbok Dorawati dan diajak ngobrol sama Bu Catly.


Todongan pertanyaan itu langsung membuatku ciut, terlebih aku masih kesal dengan Pak Rangka membuatku semakin dilanda down.


"Hp kamu memangnya tidak dikasih bunyi yang keras supaya bisa mengangkat panggilan dariku? Dan tugas kamu tiap pagi apakah sudah lupa? Datang di kantor ini jam setengah tujuh. Tugas pertama kamu, sudah berhasil kamu abaikan begitu saja sehingga anak saya tidak ingin masuk sekolah." Deggg, jantungku seketika langsung berdetak kencang. Aku baru ingat tugasku yang satu sudah terlewatkan, dan aku merasa bersalah.



"Saya minta maaf, Pak. Saya benar-benar lupa," ucapku meminta maaf.


"Apa sih yang kamu pikirkan sehingga kamu tidak fokus begitu?" Sejenak Pak Rangka menatapku lalu geleng-geleng kepala.


"Sudahlah, kerjakan tugas kamu. Rasanya sia-sia saya memperingatkan kamu panjang lebar kalau akhirnya tetap diabaikan," ucap Pak Rangka seraya beranjak menuju mejanya dengan riak wajah yang kecewa.



Semula aku merasa bersalah dan tidak enak hati. Namun lama-kelamaan aku seakan mendapatkan berkah. Berkah rasa kesalku pada Pak Rangka seakan terbalaskan. Dan hatiku seketika menjadi puas dan tersenyum penuh kemenangan. Pak Rangka sekilas menatap ke arahku yang tengah tersenyum bahagia.



"Ada apa lagi? Apa kamu mau ditambah lagi tugasnya?"


"Ahhhh ti-tidak, Pak. Hari ini saya begitu kagum dengan Pak Rangka," celetukku asal.


"Kagum, kagum kenapa?"


"Kagum kenapa, ya?" pikirku seakan menjadi linglung untuk memberikan jawabannya pada Pak Rangka yang kini terus menatap meminta jawaban.


"Kagum dengan teman saya yang dulunya culun dan dekil, tapi kini tiba-tiba dilamar seorang pria tampan dan mapan," jawabku asal.

__ADS_1


"Jadi, kamu ingin dilamar juga?" Pertanyaan Pak Rangka sukses membuatku tersadar dari lamunanku.


__ADS_2