
"Memangnya Sekretaris Kak Rangka yang lama mau kemana, Teh?" Aloe merasa heran.
"Dua bulan lagi Mbak Koral mau menikah. Calon suaminya meminta jika nikah nanti Mbak Koral harus keluar dari pekerjaannya, lalu menjadi Sekretaris di perusahaan calon suaminya." Sensi menjelaskan. Aloe manggut-manggut.
"Bagus juga calon suaminya Mbak Koral, dia mau Sekretarisnya istrinya sendiri tanpa ingin melibatkan orang lain. Tipe lelaki setia," puji Aloe.
"Al, sebaiknya kita turun, yuk. Teteh mau cegat tukang jualan pempek keliling. Kebetulan teteh lagi pengen nih."
"Sebentar-sebentar, Teh Sensi tidak sedang hamil bukan, kok tiba-tiba pengen makan pempek?" heran Aloe seraya menatap lekat ke arah kakak satu-satunya itu.
"Ihhh, kamu ini lebay, maksud kamu teteh hamil gitu, ngidam? Nggaklah, teteh belum hamil. Lagipula saat ini teteh lagi datang bulan," tangkis Sensi mengikis kecurigaan Aloe sang adik.
"Kirain. Ya sudah, kita turun kalau gitu, aku juga sepertinya pengen makan pempek." Mereka berdua setuju dan turun ke bawah untuk mencegat tukang jualan pempek keliling.
"Di sini saja, Al tunggunya. Kalau di dalam nanti suara tok toknya tidak terdengar." Sensi duduk di bangku yang berada di depan pintu samping gerbang. Saat mereka sedang menunggu, Pak Mamat menghampiri dan heran melihat majikan dan adiknya Sensi duduk-duduk di depan gerbang.
"Non Sensi dan Non Aloe kenapa duduk di depan sini? Kalian sedang tongkrongin apa?"
"Pak Mamat, kami sedang menunggu tukang jualan pempek, biasanya menjelang siang Pak Sukir lewat sini, kan?" Seni mencoba meyakinkan.
"Iya betul, Non. Pak Sukir sama istrinya biasanya siang-siang melewati jalan ini. Ditunggu saja di dalam, Non. Biar saya yang tungguin, nanti saya kasih tahu Nona jika ada."
"Ah, tidak apa-apa Pak Mamat, hitung-hitung saya mejeng di sini, mejeng tukang jualan baso tahu, sya sepertinya ingin juga makan baso tahu," tepis Sensi.
__ADS_1
"Ohhh, ya sudah, silahkan Nona berdua menunggu," ujar Pak Mamat sembari ke pos jaga. Sensi dan Aloe duduk di bangku itu sembari matanya menatap ke arah timur, arah yang biasa Pak Sukir muncul bersama gerobaknya.
"Sudah lima belas menit, kok belum muncul-muncul Pak Sukir," keluh Sensi tidak sabar.
"Iya nih, tunggu lagi saja sebentar Teh, siapa tahu bentar lagi lewat." Aloe mengusulkan. Akhirnya Sensi dan Aloe menunggu kedatangan Pak Sukir dengan sabar.
Lima belas menit berlalu, lagi-lagi Pak Sukir belum juga muncul. Aloe sepertinya sudah tidak sabar, dia melihat jam di tangannya seperti akan ada janji. Sensi juga sepertinya sudah tidak sabar. Akhirnya dengan berat hati Aloe harus pamit, karena hari sudah siang dan dia ada janji mau ambil jam tangan yang diperbaiki di toko jam jangan karena jam kesayangannya pecah kaca.
"Teh, aku pamit saja, deh. Soalnya ini sudah mau jam 12 siang, kebetulan aku ada janji sama tukang jam. Jam aku rusak kacanya pecah. Hari ini kebetulan selesainya," ungkap Aloe.
"Huhhh, gara-gara Pak Sukir nggak datang, nggak jadi deh makan pempek," sesal Sensi kecewa.
"Ya sudahlah Teh, aku lebih baik pulang, ya. Lain kali aku datang lagi ke sini," pamit Aloe sembari memasuki gerbang menuju motornya yang diparkir di dalam. "Teh, aku pulang, ya. Salamin buat Kak Rangka."
Motor Aloe melaju sedang menuju toko jam besar yang dia sambangi kemarin. Toko itu tidak susah untuk orang mencari, sebab letaknya hanya di pinggir jalan dan sudah terkenal di mana-mana.
Tiba sudah motor Aloe di depan toko jam yang dia sambangi kemarin untuk memperbaiki kaca jamnya yang pecah. Aloe memarkirkan dulu motornya diparkiran. Setelah itu dia menghampiri pelayan toko yang ada di situ.
"Mbak, saya mau ambil," ucap Aloe seraya memberikan secarik kertas tanda bukti pembayaran lunas. Pelayan toko itu sejenak melihat surat tanda bukti lunas itu kemudian menggantinya dengan jam tangan Aloe yang sudah diperbaiki dan dipajang di etalase perbaikan.
"Dengan Mbak Aloe?" sebut pelayan toko meyakinkan yang segera diangguki Aloe. Pelayan itu memberikan jamnya dan mencoret kertas bon yang diberikan Aloe, tanda sudah diambil. Aloe membuka jam tangannya dari plastik transparan, lalu dilihatnya dengan teliti. Sepertinya jam kesayangannya itu sudah kembali bagus seperti sedia kala. Hati Aloe bahagia, dia bisa memakai jam itu lagi, sebab jam itu kesayangannya.
Aloe hendak membalikkan badan. Namun sial tubuhnya bertubrukan dengan tubuh seseorang yang sangat keras dan kekar serta wangi saat secara tidak sengaja Aloe menghisap parfum di tubuh lelaki itu.
__ADS_1
Tubuh Aloe merunduk dengan posisi tangan yang hendak meraih jam tangan kesayangannya yang akan jatuh. Namun beruntung, jam itu ditangkap dengan tepat oleh orang yang bertabrakan dengannya. Segera Aloe berdiri dengan benar, memundurkan kakinya satu langkah memberi jarak tubuhnya dengan orang yang barusan bertabrakan.
Ketika Aloe berdiri sempurna dan wajahnya menatap tepat menuju wajah lelaki berperawakan kekar dan tinggi serta tampan itu, dengan cepat Aloe mengalihkan tatapannya ke arah lain. Aloe malu dan tersipu. Lelaki di hadapannya sungguh tampan dengan tubuhnya tinggi sempurna idola setiap kaum hawa.
Tidak ingin terlalu jauh mengagumi, Aloe menatap ke arah tangan lelaki di hadapannya, dia melihat jam tangannya masih berada di tangan lelaki itu. Aloe harus segera mengambilnya.
"Maaf, jam aku," pinta Aloe seraya menengadahkan tangannya. Lelaki tampan di hadapan Aloe diam terpaku, dia pun seakan terpesona melihat Aloe. Meskipun memakai helm. Namun wajah Aloe yang menarik dan masih jelas terlihat, sehingga lelaki di hadapan Aloe terpana tiada kata.
"Maaf, jam aku, Mas," sapa Aloe menyadarkan lelaki di hadapannya kini. Dia terperangah dan sedikit malu saat kedapatan oleh Aloe sedang memperhatikannya.
"Maaf, ini." Lelaki itu memberikan jam tangan itu ke tangan Aloe yang sejak tadi sudah tengadah.
"Terima kasih, Mas," ucapnya sopan membuat lelaki di hadapannya semakin terpesona dengan pesona yang diperlihatkan Aloe secara alami saat ini.
"Sama-sama," ucap lelaki itu dengan mata yang masih tidak lepas dari perempuan muda di hadapannya.
"Ya ampun cantik banget, dia masih sangat muda, tapi sopan santun dan sepertinya tidak pemarah," tebak hati lelaki di hadapan Aloe memuji.
"Permisi," ucap Aloe seraya menuju motornya yang diparkir di pinggir ruko. Lelaki itu menatap lekat kepergian Aloe, saat itu juga dia merasa menyesal sebab tidak berusaha menahannya. Padahal hatinya ingin berkenalan.
"Wahhh, pergi dia," ujarnya kecewa. Namun dia berhasil mengantongi plat motornya sebelum motor gadis muda itu pergi jauh.
"Untung saja aku berhasil mengantongi plat nomer polisinya," gumannya senang.
__ADS_1
"Mas Cakar," panggil pelayan jam tangan memanggil nama lelaki tampan yang bertabrakan dengan Aloe tadi.