Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
NBBGYSA#Season 2#SetelahJadiIstri#Kejutan di Acara Pernikahan Koral dan Dewa


__ADS_3

   Cakar terus saja mencuri pandang ke arah Aloe yang kini berdiri di samping Sensi yang sesekali bercanda dengan Glassy anak semata wayangnya Rangka. Cakar sangat penasaran, siapakah gadis cantik itu? Apakah dia pernah bertemu? Sebab Cakar merasa sudah tidak asing lagi, seperti pernah ketemu tapi dia lupa di mana.


   "Cantik, mirip Nona Sensi. Apakah ini adiknya? Masih sangat muda. Ya ampun, kenapa jantungku ini tiba-tiba berdebar seperti sedang berpacu dengan detak jarum jam dinding?" Cakar masih membatin dengan mata yang terus mencuri pandang ke arah Aloe.


   Rangka yang menyadari bahwa Cakar sejak tadi mencuri pandang terhadap Aloe, tersenyum penuh makna. Misi dia untuk mendekatkan Cakar dengan adik iparnya itu sepertinya bersambut, sebab jika diperhatikan Cakar memang menyukainya.


   "Salah satu misi utama aku memasukkan Aloe ke dalam perusahaanku tidak lain adalah untuk mendekatkan Cakar dengan adik iparku. Kasihan Cakar, selama ini gagal terus membina hubungan dengan para wanita. Cakar memang selalu saja kena kibul wanita-wanita yang hanya mau hartanya saja. Semoga kali ini aku tidak salah memasukkan Aloe dalam perusahaan ini, supaya mereka lebih dekat, syukur-syukur kalau berjodoh," harap Rangka dalam hati sembari tersenyum.


   "Cak, apa yang sedang kamu pikirkan?" Cakar terkejut saat Rangka tiba-tiba menegurnya, seketika Cakar langsung gugup.


   "Tidak ada Bos, saya hanya sedang berpikir. Eumm, sepertinya saya pernah melihat gadis di samping istri Bos, tapi saya lupa lagi di mana. Hanya saja senyumnya itu mengingatkan saya pada seseorang saat di ...."


   "Tante Aloe, aku ingin ikut Tante Al ke dalam sana supaya aku bisa menangkap bunga yang dilempar Tante Koral dan Om Dewa." Rengekan Glassy terdengar jelas menyebutkan nama Aloe, menghentikan ucapan Cakar, seketika Cakar seperti mengingat nama itu.


   "Aloe? Seperti pernah mendengar, Aloe, A l o e," tekannya berbisik-bisik yang mampu didengar oleh Rangka.


   "Iya, namanya memang Aloe, dia adik iparku alias adik kandung istriku. Itulah makanya kamu tadi menganggap dia mirip istriku, dia memang adiknya," yakin Rangka. Cakar terhenyak setengah mati, antara gembira dan terkejut sama-sama datang bersamaan. Dia merasa diberi jalan untuk bisa mendekatinya. Padahal kalau mau, dari sejak dia mendapatkan nomer Hp dari pelayan toko jam tangan tempo hari, bisa saja saat itu Cakar langsung menghubungi. Namun karena perasaan tidak enak mengganggu, Cakar akhirnya hanya menjadikan nomer Aloe sebagai pajangan di kontak Hpnya.

__ADS_1


   "Gayung bersambut, sepertinya jodohku dengan sendirinya mendekat," sorak Cakar dalam hati.


   "Cak, apa lagi yang sedang kamu pikirkan? Daripada bengong begitu, alangkah baiknya kamu ikutan menangkap bunga yang akan dilempar kedua mempelai, siapa tahu kamu yang mendapatkan lemparan bunga itu, dan pada akhirnya bisa cepat menikah," tutur Rangka mengingatkan. Cakar tersentak saat tubuhnya didorong-dorong ke tengah oleh Rangka. Bersamaan dengan itu seorang Master of Ceremony mengumumkan bahwa acara lempar bunga akan segera dilaksanakan.


   "Kepada para hadirin khususnya pria dan wanita yang sedang jomblo dan ingin segera menikah, dimohon mendekati pelataran di depan panggung ini, karena sebentar lagi kedua mempelai akan melakukan lempar bunga," wawar sang pembawa acara lantang.


   Semua pria dan wanita yang masih lajang terutama yang merasa jomblo akut berhamburan ke depan menuju pelataran khusus untuk acara saweran dan lempar bunga.


   "Ayo Al, kamu cepat maju. Yang lain juga pada maju. Tidak apa-apa, ini kan hanya seru-seruan saja," bujuk Sensi mendorong tubuh Aleo ke depan.


   "Ayo tante Al, tante bisa." Glassy juga ikut-ikutan memberi semangat pada Aloe supaya maju. Walaupun ogah-ogahan, tapi akhirnya Aloe mengikuti arahan kakaknya juga Glassy.


   Semua jomblo dan jomblowati berkumpul dengan tangan tengadah serta mata melotot ke arah kedua mempelai yang sedang bersiap-siap akan melemparkan buket bunga dengan cara membelakangi para jomblo dan jomblowati.


   Dengan mengikuti arahan pembawa acara, kedua mempelai mulai mengayun-ayunkan buket bunga yang siap akan dilemparkan ke belakang. Pada hitungan ketiga buket bunga itu siap melayang pada si jomblo dan jomblowati yang mujur.


   "Satu, dua, tiga, lemparrrr," jerit sang pembawa acara. Seketika kedua mempelai melemparkan buket bunga dengan lega.

__ADS_1


   Sekali lemparan, lalu buket bunga itu sekai hap ditangkap oleh dua orang yang berlawanan jenis. Suara riuh teriakan saling bersahutan nyaring, mereka mencari kemana arah bunga jatuh. Dan."


   "Hap." Bunga itu tepat ditangkap oleh tangan Aloe dan Cakar. Mereka berdua tersentak juga kaget saat bersamaan tangan mereka saling bertaut hanya untuk menangkap buket bunga yang dilemparkan kedua mempelai.


   Keduanya saling adu tatap tidak percaya, ada desir aneh yang tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam dada Aloe, begitu juga dengan Cakar, desir aneh yang sejak tadi dia rasakan kini semakin menjadi,


   "Aloe," bisik Cakar tanpa sadar.


   "Kak, eum ... sebaiknya buat Kakak saja bunganya. Ini untuk Kakak," ujar Aloe memberikan buket bunga itu pada Rangka. Sementara sang pembawa acara menyoraki dan memberi semangat pada si penangkap bunga dengan harapan jodohnya akan segera datang.


   Rangka maupun Sensi juga Glassy tersenyum gembira melihat penampakan tadi saat tangan Cakar dan Aloe saling kompak menangkap buket bunga yang dilemparkan pengantin.


   "Aku harap kalian berdua pengantin selanjutnya," harap Rangka tersenyum penuh misteri.


   Sementara Sensi segera mendekati Aloe menepuk-nepuk bahu Aloe dengan wajah yang sumringah. "Selamat ya Al, kamu sebentar lagi akan menikah," ujar Sensi tidak segan.


   "Teteh, menikah dengan siapa? Aku ini jomblo, pacar aku saja ninggalin aku sudah lama," rajuk Aloe kesal. Melihat Aloe kesal, Sensi hanya senyam-senyum tanpa dosa. Untuk menetralkan situasi yang menegangkan, akhirnya pembawa acara mempersilahkan para tamu undangan menikmati hidangan yang tersedia.

__ADS_1


   Rangka dan Sensi serta yang lainnya menuju meja prasmanan mengambil piring dan mengisinya dengan hidangan yang diinginkan. Karena meja yang ditempati Rangka dan Sensi hanya muat seorang lagi, terpaksa Cakar dan Aloe diarahkan untuk menempati meja yang kosong. Dan mereka dengan wajah yang malu-malu, terpaksa menempati meja yang sama dengan duduk saling berhadapan persis pasangan bahagia yang sedang makan bersama. Rangka senang melihatnya. Sementara Sensi ikut senang juga melihat Cakar dan Al saling berdekatan, mereka nampak serasi meskipun Cakar sudah berumur yakni 34 tahun sedangkan Aloe baru akan menginjak usia 22 tahun.


   "Apakah mereka akan berjodoh, mengingat buket bunga itu secara bersamaan bisa ditangkap dengan kompak?" Sensi bertanya-tanya di dalam hatinya tentang kebetulan yang baru saja dilihatnya.


__ADS_2