
Sebulan kemudian acara pernikahan aku dan Pak Rangka akan digelar di sebuah gedung ternama tempat para orang kaya kota ini menyewa untuk acara pernikahannya. Gedung itu sudah didisain semegah mungkin untuk acara pernikahan kami. Para tamu undangan sudah mulai berdatangan.
Aku dan Pak Rangka duduk di atas pelaminan layaknya raja dan ratu. Setelah gelaran acara akad nikah dilaksanakan tadi di rumah orang tuaku, aku dan Pak Rangka digiring ke gedung ini untuk acara resepsi.
Saat acara akad nikah tadi, entah kenapa aku sangat sedih dan terharu. Tepat setelah Pak Rangka selesai mengucapkan ijab qabul, aku menangis tiada henti sehingga make upku sempat luntur dan di touch up kembali. Namun Pak Rangka yang sudah sah menjadi suamiku saat itu, dengan besar hati menghiburku dan menguatkanku lagi supaya jangan menangis terus karena terlalu terharu, sebab aku bisa menikahi pria dewasa impianku yang tampannya tidak kalah dari Lee Min Jo.
"Sudah, jangan nangis terus dong sayang. Ada yang bakal menguras air mata lebih dari ini nanti malam, dan bisa jadi akan menyakitkan. Makanya air matanya kamu simpan untuk nanti malam saja, ya. Tapi kamu jangan takut, sakitnya hanya sekali. Setelahnya kamu akan menikmati kenikmatan dunia yang tiada tara," ujar Pak Rangka setengah berbisik sembari mengedipkan sebelah matanya, maksudnya ingin menghiburku, tapi rasanya aku malah menjadi takut untuk menghadapi nanti malam.
Acara resepsipun sangat meriah. Para tamu undangan mulai memenuhi ruangan yang kapasitasnya mampu menampung 1000 lebih tamu undangan. Aku dan Pak Rangka masih saling lempar pandang sambil sesekali Pak Rangka mencolek pinggangku sambil berbisik. Aku yang tegang, perlahan mulai rileks kembali gara-gara sikap genit Pak Rangka yang kini sudah sah menjadi suamiku.
"Saya sudah tidak kuat ingin menikmatimu malam ini." Semua kalimat itu sudah beberapa kali terucap dari bibirnya. Aku tersipu malu padahal Pak Rangka sudah menjadi suamiku.
Sore menjelang, para tamu undangan sudah mulai menyurut, dan acara resepsipun sebentar lagi berakhir. Kakiku terasa pegal, pundakku juga. Pak Rangka sepertinya paham apa yang aku rasakan. "Nanti, saya pijit kamu dulu sebelum kita memulai." Itu lagi, itu lagi yang dibahasnya, sepertinya memang Pak Rangka sudah tidak sabar ingin menikmati malam pertama pernikahan kami. Jantungku pun semakin deg-degan dibuatnya.
__ADS_1
Malam pun menjelang, semua tamu undangan sudah benar-benar menghilang. Aku berharap dalam situasi ini Glassy datang dan menggagalkan niat Pak Rangka yang ingin segera menikmati malam pertama. Dan sepertinya nasib baik sedang berpihak padaku. Glassy tiba-tiba muncul dan memeluk kami berdua.
"Papa, Tante Sensi," teriaknya sembari memeluk kami.
"Aku mau ucapkan selamat sama Papa dan Tante," ucapnya sembari mencium tangan kami berdua.
"Ayo, Sayang. Papa dan Tante Sensi masih ada urusan yang perlu diselesaikan malam ini. Jadi kita tidak boleh ganggu, Glassy harus bersama Nene dan Tante Aleo malam ini," ajak Bu Catly mengajak Glassy yang tadi sempat membuat aku senang akan kehadirannya.
"Asikkk, ada Tante Aloe, ya, Ne?" soraknya bahagia setelah mendengar nama Aloe adikku disebut. Bu Catly mengangguk. Glassypun beralih pada Bu Catly dan meninggalkan kami berdua yang kini akan bersiap ke dalam kamar pengantin.
Perlahan kami berdua memasuki kamar pengantin yang didisain sangat megah dan mewah. Jantungku seketika berdebar tidak karuan saat kami benar-benar berada di depan pintu. Aku berharap pintu itu susah dibuka atau macet, sebab kini aku mengalami gugup yang mendalam.
"Malam ini akan menjadi malam yang indah buat kita. Dan saya akan meminta hak saya sama kamu, jadi kamu jangan menolaknya, ya," ucapnya sembari menjawil hidungku dengan wajah yang tersenyum bahagia. Aku hanya membalasnya dengan senyum simpul.
"Sudah dua tahun lebih lamanya saya menahan hasrat ini. Dan kini, saya menemukan kamu perempuan yang mau menerima saya apa adanya satu paket dengan Glassy dan penyakit asma yang saya dera. Kamu sungguh luar biasa, Sayang. Perempuan polos, ceplas-ceplos, tulus dan apa adanya. Akhirnya saya bisa menemukan perempuan unik ini yang kini sudah berada di hadapan saya," ucapnya seraya nyosor dan tiba-tiba sudah mencium bibirku dengan kaki mengunci tubuhku. Mungkin Pak Rangka takut aku akan berontak, sebab Pak Rangka sadar aku terlihat sangat tegang.
__ADS_1
"Tok, tok, tok." Suara ketokan pintu membuyarkan ciuman dalam Pak Rangka, aku sedikit lega. Rupanya Mbak Cempaka datang, dia MUA yang berhasil menyulap wajahku menjadi bak bidadari.
"Silahkan masuk Mbak Cempaka," ujar Pak Rangka mempersilahkan masuk. Mbak Cempaka diikuti dua orang Asistennya memasuki kamar pengantin yang megah dan romantis itu. Kedatangan Mbak Cempaka dan dua orang Asistennya rupanya untuk melucuti baju pengantin yang melekat di tubuh kami. Jika kami yang melepaskan maka akan kesulitan.
"Cepat selesaikan!" titah Pak Rangka. Mbak Cempaka dan dua orang Asistennya segera bertindak dan melaksanakan tugasnya. Sedangkan Pak Rangka membuka baju pengantinnya di ruangan terpisah oleh dirinya sendiri.
Tidak butuh waktu lama, Mbak Cempaka dan dua Asistennya dengan lihai sudah melucuti baju pengantinku. "Nona Sensi, segera ke kamar mandi, dan jangan lupa gunakan paket lengkap dari rangkaian alat mandi ini. Pakai semua rangkaiannya jangan sampai terlewat!" perintah Mbak Cempaka tidak bisa dibantah. "Ingat, waktunya hanya 20 menit, Nona harus segera menyelesaikan ritual mandi." Lagi-lagi Mbak Cempaka memberi peringatan keras yang tidak bisa dibantah.
Dengan patuh dan sedikit takut, aku segera melaksanakan perintah Mbak Cempaka. Sembilan belas menit kemudian aku telah selesai membersihkan diri. Paket lengkap yang diberikan Mbak Cempaka benar-benar membuat tubuhku segar ringan dan bersemangat, terlebih aroma terapi yang ditimbulkan dari rangkaian alat mandi itu membuat suasana hati menjadi romantisme.
"Setelah ini, pakailah ini!" Mbak Cempaka menyodorkan sebuah bungkusan kado berwarna keemasan. "Segera laksanakan!" titahnya lagi tidak bisa dibantah seperti ke anak buah. Ya ampun malam pertamaku begini amat diperintah orang dengan waktu yang terbatas.
Perlahan aku mulai membuka bungkus kado keemasan itu, dan saat dibuka aku sedikit heran dengan isinya. Setelah sepenuhnya paham, aku benar-benar terkejut, rupanya itu gaun tidur persis lingeri akan tetapi panjang namun sangat nerawang, walaupun dipakai pasti \*\*\*\*\*\*\*\*\*\* akan kelihatan.
__ADS_1
"Kalau Nona sudah paham, segera pakailah. Kami akan keluar. Ingat sepuluh menit kemudian Nona harus sudah siap dengan gaun ini menyambut Tuan Rangka yang sebentar lagi akan menuju kemari. Persiapkan diri Anda," perintahnya sedikit menyentak. Aku tidak bisa berbuat apa-apalagi selain mengikuti apa yang dikatakan Mbak Cempaka.